Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Mengenal Sosok Bom Tandan Drel Rusia yang Bisa Hancurkan Puluhan Sasaran Sekaligus

Sosok Bom Tandan Drel Rusia
Sosok Bom Tandan Drel Rusia  

Sputnik (20/2) memberitakan bahwa AU Rusia akan memperoleh bom tandan (cluster bomb) baru dengan kode Drel atau bor. Bom buatan pabrik munisi Techmash ini cocok digunakan untuk fungsi anti infantri yang menyerang secara masif, atau area denial, membuat pihak lawan tidak bisa memasuki wilayah tersebut.
Techmash sendiri adalah perusahaan munisi terbesar Rusia yang mengkhususkan diri pada pembuatan dan produksi senjata untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Drel sendiri awalnya disiapkan untuk menghancurkan kendaraan, radar, atau pos pengendalian.
Bom PBK-500U atau Planiruyushchaya Bombovaya Kasseta, 500 kg, unified ini memiliki sirip kendali yang memanjang sampai setengah badan bomnya sendiri, sehingga bisa ‘terbang’ melayang sejauh 30 kilometer dari titik pelepasan. Bom ini dikendalikan dengan sistem navigasi inersial yang dikoreksi dengan GPS.
PBK-500U sendiri dapat dipasang pada berbagai platform jet tempur mulai dari pesawat khusus serang darat seperti Su-25, sampai dengan jet tempur Su-30 dengan berbagai variannya. Bom ini bisa diisi dengan berbagai tipe munisi bomblet, yang akan terlepas dari badan bom pada ketinggian tertentu.
Puluhan bomblet itu kemudian akan meledak begitu menyentuh tanah, atau bisa dibuat menjadi ranjau. (Aryo Nugroho)

Uragan-1M Sistem Roket Artileri Multilaras Terbaru Rusia

Uragan-1M
Uragan-1M  

Setelah mengabdi selama 43 tahun sejak 1975 sistem peluncur roket multilaras (MLRS) BM-27 Uragan akhirnya harus tunduk oleh waktu. Begitu pula dengan BM-30 Smerch yang lebih muda beroperasi sejak 1987 juga harus dipurnabaktikan.
Kedua sistem roket artileri ini akan segera digantikan oleh Uragan-1M (Hurricane-1M) sistem peluncur roket multilaras buatan Splav State Research & Production Enterprise.
Pengembangan Uragan-1M sendiri sudah dimulai pada tahun 1995. Namun, setahun kemudian dihentikan karena masalah pendanaan. Perkembangan sistem ini agak lamban hingga akhirnya dapat diuji pada 2012 hingga 2015.
Selanjutnya tahun 2017 mulai dievaluasi oleh Angkatan Darat Rusia. Puas dengan kinerjanya, Uragan-1M pun akan segera diadopsi dalam waktu dekat antara 2018-2019.
Sistem roket artileri baru ini sangat efektif terhadap target wilayah, seperti konsentrasi pasukan dan kendaraan lapis baja, baterai artileri atau lapangan terbang. Tembakan salvo penuh dari satu peluncur Uragan-1M mencakup area seluas mulai dari 8 hingga 67 hektar tergantung dengan jenis roket yang digunakan.
Uragan-1M bisa membawa dua kotak tabung utama dengan pilihan utama roket diameter 300mm dari Smerch dan diameter 220mm milik Uragan lama. Kotak tabung (pod) peluncurnya hanya sekali pakai dan diganti satu paket setelah semua roket diluncurkan. Langkah ini untuk mempercepat penembakkan ulang.
Namun begitu, sistem pengisian roket ulang tetap disediakan sebagai alternatifnya meski membutuhkan durasi waktu lebih lama. Bertindak sebagai kendaraan isi ulang (reload) di lapangan adalah truk 9T249 yang dilengkapi derek khusus menggunakan sasis yang sama dengan truk peluncurnya yakni MZKT-7930 berkonfigurasi 8×8.
Awalnya kendaraan untuk Uragan-1M akan didasarkan pada sasis truk BAZ-6910 buatan Rusia untuk menggantikan truk ZiL-135LMP (BM-27) yang sudah tak diproduksi. Namun akhirnya truk MZKT-7930 yang lebih perkasa buatan negara pecahan Uni Sovit yakni Belarusia yang dipilih. Sebagai penghela, MZKT-7930 didukung oleh mesin diesel turbo YaMZ-846 berdaya 500 hp.
Uragan-1M dioperasikan oleh tiga awak yang duduk dalam kabin berbaju zirah untuk memberikan perlindungan terhadap serangan senjata kaliber ringan. Awaknya hanya butuh waktu sekitar tiga menit guna mempersiapkan Uragan-1M dapat melakukan penembakan. Baik dari dalam kabin langsung atau menggunakan remote dari jauh. Dibutuhkan waktu tiga menit pula untuk meninggalkan posisi setelah penembakan.
Bila menggunakan roket 300mm setiap pod berisi enam roket dan 15 roket bila menggunakan roket 220mm. Ini artinya hampir dua kali lipat BM-27 Uragan lama yang hanya membawa 16 roket. Uragan-1M mampu menembakkan roket-roketnya secara tunggal, sebagian, atau salvo penuh.
Roket standar 300mm panjangnya 7,6 m dan berat 800 kg dengan pilihan kepala hulu ledak tersedia berupa HE-FRAG, peledak berbahan bakar udara, pembakar, cluster dengan submunisi antipersonel, dan antitank yang dapat menyebar. Jangkauannya antara 70-90 km. Sebuah salvo penuh dari 16 roket 300mm akan melumat area hingga 67 hektar.
Sedang roket standar 220mm yang panjangnya 4,8 m dan berat 280 kg memiliki pilihan berupa hulu ledak untuk pelatihan, HE-FRAG, bahan kimia, pembakar, peledak berbahan bakar udara dan cluster berisi ranjau anti tank atau antipersonel. Jangkauan maksimum hingga 34 km, dengan tembakan salvo penuh dari 30 roket 220mm dapat membuat kerusakan penuh dalam area seluas delapan hektar. (Rangga Baswara)

Sukhoi Su-57 Rusia Bakal Turun Gelanggang di Medan Perang Suriah!

Sukhoi Su-57 Rusia
Sukhoi Su-57 Rusia  

Sukhoi Su-57 adalah jet tempur generasi kelima milik Rusia, yang selama ini masih ada dalam status pengembangan. Namun dalam suatu perkembangan yang sangat mengejutkan, kantor berita RIA Novosti (22/2) mengumumkan bahwa Su-57 atau T-50 PAK-FA siap diturunkan dalam gelanggang perang Suriah!
Sejumlah aktivis Suriah melaporkan kedatangan dua unit jet tempur Su-57 di Pangkalan Udara Khmeimim yang merupakan pangkalan udara utama Rusia di Suriah. Kedua siluman langit Su-57 itu tiba pada 21 Februari 2018, dan foto yang ada menggambarkan pendaratan kedua Su-57 itu di Khmeimim. Video dari situs berbagi berita sepanjang 7 detik pun membuktikan hal itu.
Kemunculan Su-57 di teater perang Khmeimim bisa jadi adalah ajang ujicoba operasional, mengingat Rusia sendiri saat ini sudah memiliki 12 purwarupa Su-57 yang digunakan untuk berbagai tujuan. Pemerintah Rusia pun sudah memesan 12 unit Su-57 untuk tahap pertama dalam rangka uji tempur.
Namun kemunculan Su-57 di garis depan ini adalah sesuatu yang luar biasa mengingat perang Suriah sangat tidak ramah untuk pesawat tempur. Rusia sudah kehilangan beberapa Su-24 dan Su-25 plus sejumlah helikopter. Akankah Su-57 akan merubah perimbangan ini, termasuk menantang duel F-22 Raptor milik AU AS yang suka mengganggu misi Rusia? (Aryo Nugroho)

Penampakan Sistem Hanud VL MICA Land-based Arab Saudi

Sistem Hanud VL MICA Land-based
Sistem Hanud VL MICA Land-based  

Angkatan Bersenjata Kerajaan Arab Saudi tampaknya telah mengakuisisi sistem pertahanan udara Vertical Launch MICA (VL MICA) land-based (berbasis darat) yang dibuat oleh MBDA.
Pada sebuah media sosial diposting gambar yang tidak diketahui tanggal diambilnya, yang menampilkan sistem pertahanan udara VL MICA berbasis darat yang baru di Jeddah Islamic Port di Arab Saudi.
Kementerian Pertahanan dan Penerbangan Arab Saudi telah menunjukkan ketertarikannya pada sistem pertahanan udara VL MICA berbasis darat yang dibuat oleh MBDA sejak tahun 2010. Vertical Launch MICA (VL MICA) adalah sistem pertahanan udara jarak pendek berbasis darat yang menggunakan rudal fire-and forget MICA, yang mampu dipasangi homing head pencari panas (VL MICA IR) atau dengan radar aktif (VL MICA RF).
Menurut MBDA, pengorganisasian unit VL MICA biasanya berpusat pada kendaraan Tactical Operations Centre (TOC) yang terlindungi yang juga dikenal sebagai Platoon Command Post (PCP). Kendaraan ini mampu melaksanakan semua fungsi komando, pengendalian dan koordinasi, termasuk real-time engagement, perencanaan misi, pemantauan sistem dan hubungan dengan level komando yang lebih tinggi.
TOC mengendalikan radar tiga dimensi yang terpasang di kendaraan terpisah dan tiga sampai enam unit peluncur vertikal rudal yang juga terpasang pada kendaraan sejenis.
Desain sistem VL MICA memastikan kemudahan pengerahan, memfasilitasi integrasi dalam jaringan pertahanan udara global, meminimalkan kebutuhan akan personil dan mengurangi beban logistik dan Life Cycle Cost. (Angga Saja - TSM)

Senapan Serbu Bullpup Baru ST Kinetics BR18

ST Kinetics BR18
ST Kinetics BR18 

Masih dari ajang Singapore Airshow 2018 lalu, perusahaan pertahanan ST Kinetics memperkenalkan senapan bullpup 5,56mm BR18 terbarunya, yang dirancang dan dikembangkan sepenuhnya oleh perusahaan Singapura tersebut dan sekarang siap untuk diproduksi. BR18 dirancang berdasarkan SAR21, senapan serbu bullpup kaliber 5,56mm yang juga dirancang dan diproduksi oleh ST Kinetics.
BR18 adalah sistem senapan yang ringkas yang dioperasikan gas yang dirancang untuk angkatan bersenjata modern. Sistem senjata tersebut sangat fleksibel, sangat mudah dikonfigurasi sesuai misi dengan ukuran yang terpendek, BR18 ringan dan kompak, dengan operasi yang full ambidextrous (fitur-fiturnya dapat dioperasikan dari sisi kiri maupun kanan) untuk meningkatkan kemampuan tempur prajurit dalam operasi di perkotaan.
BR18 adalah senjata yang sangat akurat yang bisa ditembakkan dari sisi kiri dan kanan tanpa modifikasi apapun. Senjata ini memiliki fitur keselamatan yang disempurnakan, dilapisi dengan dry lubrication coating, recoil yang rendah, kemampuan mengunakan magazin standar SAR21 maupun STANAG dan dilengkapi dengan Picatinny rail MIL-STD-1913 untuk sistem pembidik optik dan aksesori taktis lainnya.
BR18 dibuat berdasarkan pada konsep SAR21 yang telah terbukti dengan baik, dan menggabungkan teknologi terbaru di pasar senjata ringan, seperti proses dan bahan manufaktur yang canggih, dry lubrication coating, teknologi heat management dan ergonomi yang disempurnakan. Senjata ini full ambidextrous dengan pegangan kokang di sisi kanan dan kiri senjata, begitu juga dengan tombol firing selector dan tombol pelepas magazin yang ada di kedua sisi senapan.
BR18 tersedia dalam tiga konfigurasi, sebagai senapan serbu, senapan penembak jitu dan senapan mesin ringan. Dalam versi senapan serbu, BR18 memiliki panjang keseluruhan 645mm dengan panjang laras 368mm. BR18 menggunakan amunisi kaliber 5,56x45mm M193 dan NATO SS109 dan memiliki rate of fire 650 sampai 850 rpm. Seperti halnya SAR-21, BR18 menggunakan kotak magazin 30-peluru eksklusif yang terbuat dari plastik tembus pandang. (Angga Saja - TSM)

Rudal Petir Beralih Fungsi Menjadi Target Drone "Jalak" Lansiran PT Sari Bahari

Rudal Petir
Rudal Petir  

Di Indo Defence 2016, pihak PT Sari Bahari telah mengalihfungsikan prototipe rudal Petir sebagai target drone. Dan satu tahun berselang, ada kabar bahwa sosok yang awalnya dibesut sebagai rudal permukaan ke permukaan ini telah berganti nama menjadi “Jalak.” Tentu perubahan nama ini ada maksudnya, sementara pengembangan Petir sebagai rudal permukaan ke permukaan terus dilanjutkan dengan desain dan spesifikasi yang baru.
Persisnya di Rapat Umum Anggota Luar Biasa (RUALB) Persatuan Industri Pertahanan Swasta Nasional (Pinhantanas) yang digelar Rabu (21/2/2018) di Energy Building, Jakarta, PT Sari Bahari memperlihatkan target drone Jalak. Menurut sumber penulis, perubahan nama dari Petir ke Jalak dikarenakan peran ‘rudal’ ini yang kini telah resmi menjadi target drone, lebih dari itu ada kabar bahwa Jalak telah mendapat pesanan dari Kementerian Pertahanan.
Dengan dirilisnya Jalak sebagai target drone, maka nantinya elemen Arhanud akan memiliki sasaran tembak yang lebih menantang di udara, lantaran Jalak yang ditenagai mesin jet ini akan menjadi target drone dengan kecepatan tertinggi di Indonesia, yakni 350 km per jam, meningkat dari kecepatan generasi sebelumnya yang mencapai 260 km per jam.
Dalam spesifikasi yang dilampirkan, target drone Jalak dapat dikendalikan via remote control atau autopilot. Jalak yang dibangun dari material carbon reinforced composite ini punya minimal thrust 16 kgf (kilogram force) dan dapat terbang minimal selama 10 menit.
Meski telah menjadi target drone, Jalak dapat dimuati payload berupa infrared enhancer dan kamera. Untuk meluncurkan target drone ini digunakan catapult, sementara metode pendaratan bisa menggunakan jaring atau parasut. Bobot Jalak tanpa payload mencapai 20 kg, dan panjang keseluruhan 1.850 mm dan lebar bentang sayap 1.550 mm.
Saat ini Jalak dalam proses mendapatkan Sertifikasi Kelaikan Udara Militer dari Indonesian Military Airworthiness Auhority (IMAA) Puslaik Kementerian Pertahanan (Kemhan). Dengan hadirnya Jalak sebagai target drone, maka akan menjadi target drone kedua dengan berbasis non propeller yang digunakan TNI. Sebelumnya ada PMRobotics JT-240 buatan Swiss yang mengggunakan mesin turbin berkekuatan 165N dan mampu melesat dengan kecepatan maksimum 260 km per jam. (Haryo Adjie)

ST Kinetics Singapura Kembangkan Sistem Artileri AMGS 155mm

Ilustrasi 

Perusahaan pertahanan ST Kinetics dari Singapura, yang merupakan divisi sistem darat ST Engineering, menampilkan perkembangan terbaru dari sistem Advanced Mobile Gun Systems (AMGS) kaliber 155mm pada pameran Singapore AirShow 2018 lalu. AMGS adalah howitzer swagerak beroda beroda ban yang membawa sistem meriam kaliber 155mm/52 pada chassis truk militer 8x8.
Pengoperasian AMGS akan lebih aman, efisien dan lebih cepat. Pemuatan proyektil, pemuatan charge dan pemosisian meriam yang otomatis akan saling terkait dengan fire control system, memungkinkan misi penembakan dilakukan dari dalam kabin awak yang berlapis baja.
AMGS 155mm mampu menembakkan tembakan volley dengan dampak simultan. Kemampuan ini akan memberikan unsur kejutan dalam penembakan meriam dengan menghilangkan "early warning" bagi musuh yang terjadi karena penembakan peluru secara tunggal. Meriam 155m-nya memiliki rate of fire 6 peluru per tiga menit dengan jarak tembak efektif 40km dengan amunisi Extended Range Full Bore (ERFB). Meriam ini dapat berputar 30° ke sisi kanan atau kiri dengan elevasi dari -3° sampai +70°.
Sistem pemuatan charge dan sistem pemuatan proyektil yang otomatis akan mengurangi kelelahan awak meriam dengan menghilangkan tugas yang berulang untuk menyiapkan meriam untuk siap tembak. Keamanan awak lebih ditingkatkan dengan mengurangi paparan terhadap ledakan tembakan karena mereka mengoperasikan meriam dari kabin awak berlapis baja.
Sistem artileri AMGS memiliki berat kendaraan kotor 28.000 kg, panjang 11,5 m, lebar 3 m, dan tinggi 3,5 m. Howitzer artileri truk ini dapat berjalan pada kecepatan jalan maksimum 80 km/jam dan kecepatan maksimum cross-country 30km/jam. Sistem meriam dioperasikan dari kabin lapis baja. Untuk meningkatkan akurasi, sistem senjata tengah diusulkan disertai dengan fire control system dengan unit navigasi terpadu.
ST Kinetics AMGS dapat dioperasikan oleh tiga orang awak yang menawarkan kapasitas untuk menembakkan peluru pertama dalam waktu kurang dari 30 detik dari posisi berjalan dan meninggalkan posisi penembakan dalam waktu 30 detik. (Angga Saja - TSM)

TNI AL Serahkan Rencana Pembentukan Komando Armada Tengah ke Presiden

KRI Diponegoro TNI AL
KRI Diponegoro TNI AL 

Jane’s (21/2) memberitakan bahwa TNI Angkatan Laut telah melakukan finalisasi atas sejumlah proposal kajian mengenai reorganisasi komando armada TNI AL yang akan dimekarkan menjadi tiga kewilayahan yaitu Komando Armada Barat, Komando Armada Tengah, dan Komando Armada Timur. Rencana strategis tersebut telah diserahkan ke Presiden Joko Widodo.
Saat ini TNI AL memiliki dua komando yaitu Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar) dengan pangkalannya di Tanjung Priuk dan Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur (Koarmatim) yang bermarkas di Surabaya.
Pembentukan Komando Armada RI Kawasan Tengah ini akan merubah disposisi kekuatan karena Koarmatim akan dipindahkan ke wilayah Papua, yang sempat disebut-sebut akan dipusatkan di Kaimana ataupun Sorong. Penempatan Koarmatim di Papua akan meningkatkan keamanan yang dibutuhkan untuk menjaga investasi di Papua.
Sementara Komando Armada RI Kawasan Tengah sendiri rencananya justru akan ditempatkan ke Makassar, sementara Surabaya akan menjadi Komando Armada Pusat. Penyebaran kekuatan TNI AL ini akan lebih mampu menjangkau tantangan kemaritiman baik dari dalam negeri seperti perompakan dan illegal fishing sampai menjaga kedaulatan wilayah RI dari ancaman negara lain. (Aryo Nugroho)

Artileri Swagerak 2S35 Koalitsiya-SV Sedang Jalani Ujian Akhir

Artileri Swagerak 2S35 Koalitsiya-SV
Artileri Swagerak 2S35 Koalitsiya-SV 

Rusia punya sistem artileri swagerak berbasis roda rantar 2S35 Koalitsiya-SV yang diperkenalkan 3 tahun lalu. Saat ini, program Koalitsiya-SV maju terus, dimana 12 unit kendaraan pra produksi sedang menjalani ujian akhir sebelum Pemerintah Rusia setuju untuk memesan dalam jumlah besar dan pabriknya bisa produksi massal.
Dikutip dari Jane’s (19/2), pada 9 Februari Deputi Menteri Pertahanan Yuriy Ivanovich Borisov mengunjungi pabrik Ural Transmash di Yekaterinburg. Di sana ia mengatakan bahwa 2S35 telah melalui sejumlah pengujian dan ujian negara akan berakhir pada 2020 yang akan menjadi penentuan apakah 2S35 memang akan diproduksi.
2S35 dimaksudkan sebagai pengganti dari 2S19 Msta-S, yang walaupun sama-sama menggunakan meriam howitzer berkaliber 152mm, tetapi 2S35 sudah mengadopsi sasis tank tempur utama T-90S.
Deputi Menteri Yuri Borisov sendiri mengatakan bahwa 2S19 Msta-S sendiri akan terus menjalankan penyempurnaan versi, dimana ditargetkan 36 unit sistem artileri lawas ini bisa masuk lini modifikasi dan peningkatan kemampuan. (Aryo Nugroho)

Nilai Pembelian Alutsista TNI dari Rusia Selama 25 Tahun Terakhir

Mi-35P  TNI AD
Mi-35P  TNI AD 

Media Tass (21/2) memberitakan bahwa badan ekspor strategis Rusia Rosoboronexport telah menjual alutsista senilai lebih dari 2,5 Milyar Dolar AS selama 25 tahun terakhir. Tahun 2018 sekaligus menandai 60 tahun sejak senjata Blok Timur pertama mendarat di Bumi Pertiwi.
“Secara keseluruhan, pengiriman produk militer ke Indonesia telah berjumlah lebih dari 2,5 Milyar Dolar AS sejak November 1992. Selama periode tersebut, Rusia sudah mengirimkan panser BTR-80A dan tank amfibi BMP-3F.
Kemudian untuk senjata ringan ada senapan serbu seri AK-100, di TNI AU ada jet tempur Su-27SK dan Su-27SKM, Su-30MK, dan Su-30MK2, dan di dalam TNI AD heli serang Mi-35P dan heli angkut Mi-17, serta sistem senjata lain dan perangkat militer lainnya seperti disampaikan oleh Direktur Utama Rosoboronexport, Alexander Mikheyev.
Rosoboronexport menyampaikan hal ini untuk merayakan ditandatanganinya kontrak 11 unit Su-35 Flanker-E antara pemerintah Indonesia dan Rusia setelah negosiasi alot yang akhirnya berhasil mencapai kesepakatan seluruh pihak dengan memuaskan. (Aryo Nugroho)

Radar Acak