Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Rantis Turangga 4×4 Buatan Tugasanda Dilirik Paskhas TNI AU

Rantis Turangga 4×4
Rantis Turangga 4×4 

Di Indo Defence 2016, harus diakui rantis lapis baja produksi dalam negeri ini lumayan membetot perhatian pengunjung. Inilah Turangga 4×4 produksi PT Karya Tugas Anda, perusahaan karoseri yang kondang dengan label “Tugasanda.” Dan berselang dua tahun kemudian, ada kabar bahwa rantis APC (Armoured Personnel Carrier) dari Pasuruan, Jawa Timur ini telah dilirik oleh Korps Paskhas TNI AU. Bahkan beberapa hari lalu, serangkaian uji coba lapangan telah dilaksanakan di kawasan Padang Pasir Bromo.
Apa yang khas dari Turangga 4×4 sehingga dilirik oleh Pasukan Baret Jingga? Jawaban pertama terletak dari desainnya yang bergaya robotic, dan Turangga juga punya ground clearance yang cukup tinggi (650 mm) dengan konstruksi V hull. Sasis yang dipakai Turangga mencomot Ford F550. Hampir semuanya adalah milik Ford F550, baik itu sasis, suspensi, setir, rem, girboks dan transfer case, semuanya asli milik Ford F550. Mesinnya adalah mesin turbo diesel 6.700 cc V8 buatan Ford, dengan tenaga 400 hp dan torsi 1.085 Nm yang diteruskan via transmisi otomatis 6 percepatan.
Sebagai rantis lapis baja, sekujur bodi Turangga 4×4 dilengkapi proteksi CEN Level B6, menjadikan rantis 4×4 sanggup menahan terjangan proyektil kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm. Tak cuma itu, Turangga 4×4 dilengkapi proteksi penahan efek ledakan dengan konstruksi V hull. Keempat roda mengadopsi jenis run flat type 20-750 ATR Rubber dengan merek Michelin 333/80R20, artinya roda juga sangup menahan terjangan peluru.
Sebagai kendaraan APC dengan kemampuan serbu, sudah barang tentu tugas utama Turangga untuk angkut pasukan. Dengan dua awak, Turangga dapat membawa 10 pasukan bersenjata lengkap. Turangga dilengkapi dengan (hatch) upper gun mounting yang dilengkapi kubah semi tertutup. Persenjataan yang bisa dipasang mencakup SMB (Senapan Mesin Berat) 12,7 mm dan pelontar granat otomatis 40 mm.
Turangga 4×4 punya panjang 6,47 meter, tinggi 2,48 meter, lebar 2,4 meter, dan wheelbase 4,185 meter. Kapasitas payload Turangga 4×4 sampai satu ton, bergantung pada jenis lapisan armor yang melengkapi. Bobot kosong rantis ini 7.845 kg dan berat penuh mencapai 8.845 kg.
Pihak Tugasanda menyebut bahwa uji coba Turangga 4×4 telah berlangsung sukses dan memuaskan. Kabarnya 13 unit Turangga 4×4 tengah digarap untuk kebutuhan Paskhas TNI AU. (Gilang Perdana)

Pembom B-1B Lancer Mendarat Darurat di Texas, Kursi Lontar Tidak Berfungsi

Pembom B-1B Lancer
Pembom B-1B Lancer 

Sebuah pembom strategis B-1B Lancer milik Angkatan Udara AS (USAF) terpaksa melakukan pendaratan darurat di Texas. Pesawat dari Pangkalan Udara Dyess itu mengalami gangguan teknis dalam penerbangan dan meminta pendaratan darurat di Bandara Internasional Midland Air and Space Port.
Petugas bandara segera bersiap dengan tim penanggulangan termasuk tim pemadam kebakaran berikut mobil dan busa penyemprot api.
Foto dari pendaratan darurat yang terjadi pada awal Mei 2018 ini memperlihatkan satu pintu keluar darurat (escape hatch) di atap kokpit B-1B terlepas. Anehnya, lepasnya penutup akses darurat itu tidak diikuti dengan terlontarnya kursi penyelamat.
Dua foto yang didistribusikan oleh Associated Press dan Midland Reporter-Telegram jelas menunjukkan hal itu. Diasumsikan, kursi lontar yang diduduki kru B-1B semestinya otomatis terlontar. Namun hal itu tidak terjadi dan menimbulkan pertanyaan.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Diberitakan AirForceTimes (19/5), keempat kru B-1B mendarat dengan selamat.
Pembom B-1B diawaki empat kru, terdiri dari pilot, kopilot, dan dua operator sistem senjata yang duduk di ruang belakang kursi pilot. Terdapat pula kursi tambahan di ruang itu. Semua kursi yang diduduki kru merupakan kursi lontar (ejection seat) ACES II generasi ketiga buatan United Technologies Corporation (UTC).
Tahun 1987, sebuah pesawat B-1B jatuh ketika melaksankaan latihan di Colorado. Pada peristiwa yang terjadi akibat serangan burung itu satu kursi lontar yang digunakan kru tidak berfungsi, sementara tiga kursi lontar lainnya berfungsi dengan baik. Kecelakaan menyebabkan tiga orang tewas dan tiga orang selamat. (Roni Sontani)

Destroyer USS Milius (DDG 69) US Navy Bergabung dengan Kekuatan Armada Ketujuh

USS Milius (DDG 69) US Navy
USS Milius (DDG 69) US Navy  

Dalam rangka strategi penyelarasan kekuatan, Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS - US Navy) menggabungkan kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Milius (DDG 69) ke dalam jajaran kekuatan Forward Deployed Naval Forces (FDNF) Armada Ketujuh AS (US 7th Fleet) dengan basis di Yokosuka, Jepang.
Semula, DDG 69 berada dalam jajaran kekuatan Armada Ketiga (US 3rd Fleet) di Naval Base Point Loma (NBPL) dekat San Diego, California, AS. Kapal ini menjadi destroyer terakhir Armada Ketiga yang dipindahkan kedudukannya ke Armada Ketujuh menyusul USS Benfold (DDG 65) dan USS Barry (DDG 52).
Pemindahan kedudukan yang dilakukan AL AS pada 14 Mei ini seiring peningkatan konsentrasi kekuatan dan kehadiran AL AS demi menjaga keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Di Armada Ketujuh USS Milius bergabung ke dalam Skadron Kapal Perusak (DESRON) 15. Bergabungnya DDG 69 dengan kapabilitas sebagai kapal berplatform pertahanan rudal balistik (BMD) ini disambut baik oleh Komandan DESRON 15 Capt. Jonathan Duffy.
“Kapal ini memiliki kemampuan yang tinggi dan akan meningkatkan kekuatan dalam mendukung tugas-tugas di kawasan Indo Pasifik,” ujar Duffy sebagaimana disiarkan Lt. j.g. Michael Barkofski kepada media dari USS Milius.
Tahun lalu di galangan kapal San Diego, USS Milius telah selesai menjalani peningkatan kemampuan dengan penambahan sistem tempur Aegis Baseline 9. Kapal ini juga menjalani upgrade pada sistem pertahanan udara, pertahanan rudal balistik, perang permukaan, perang bawah permukaan, dan lainnya. Sejumlah sistem persenjataan yang melengkapi antara lain peluncur vertikal rudal jelajah Tomahawk, torpedo, peluncur rudal Harpoon, senapan mesin, dan Phalanx CIWS.
Setiba di markas baru Yokosuka, Jepang, USS Milius segera melaksanakan penyesuaian. Demikian juga dengan penempatan para awak dan keluarganya.
USS Milius (DDG 69) dibangun tahun 1994 dan mulai digunakan AL AS pada 23 November 1996. Kapal berbobot mati 9.000 ton dan memiliki panjang 154 m, beam 20 m, dan draft 9,4 m ini dapat memuat 281 orang. Kecepatan laju maksimal di atas 30 knot (56 km/jam) dan dapat menjelajah sejauh 4.400 mil laut (8.100 km) pada kecepatan 20 knot (37 km/jam).
Sepanjang pengabdiannya, Milius telah mendapatkan sejumlah penghargaan. Di antaranya PACFLT Marjorie Sterrett Battleship Fund Award 2002, PACFLT Retention Excellence Award 2003, dan tiga kali mendapatkan Navy Battle “E” yaitu penghargaan tahunan AL AS bagi kapal perang paling efektif pada 2002, 2012, dan 2015. (Roni Sontani)

Jawaban Moeldoko soal Payung Hukum Pasukan 'Super Elite' Koopsusgab

Koopsusgab
Koopsusgab 

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko merespons pro dan kontra pengaktifan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan ( Koopsusgab) TNI.
Salah satu polemik adalah mengenai payung hukum keberadaan gabungan personel dari satuan elite TNI tersebut.
Menurut Moeldoko, pengaktifan kembali Koopsusgab TNI tersebut sudah sejalan dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.
"Ada pertanyaan yang sekarang jadi polemik, apa perlu payung hukum? Lah untuk apa lagi hukum? Wong pembentukan Koopsusgab itu sudah pernah saya bentuk kok, tinggal dilanjutkan," kata Moeldoko di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat (18/5/2018).
"Hukumnya apa? Ya UU Nomor 34/2004 tentang TNI. Itu domain Panglima TNI sepenuhnya," ujar Moeldoko.
Mantan Panglima TNI itu menjelaskan, Pasal 7 UU TNI menjelaskan soal tugas TNI, yakni melaksanakan operasi perang dan operasi militer selain perang (OMSP).
Dalam OMSP, tertulis 14 hal yang dikategorikan sebagai OMSP. Salah satunya soal tugas pemberantasan terorisme.
"Di dalamnya ada macam-macam. Di antaranya penanganan pelaku terorisme. Kapan itu bisa digunakan? Tergantung dari spektrum ancamannya. Kalau tinggi dan memerlukan TNI, ya jalan," ujar Moeldoko.
Dari argumentasi tersebut, Moeldoko berpendapat, seharusnya pengaktifan kembali tim Koopsusgab tidak perlu lagi menjadi pro kontra di masyarakat, khususnya di tingkatan elite wakil rakyat.
"Apalagi kemarin kami minta restu kepada Bapak Presiden dan oke direstui, tinggal saya lanjutkan," ujar Moeldoko.
Selain itu, Koopsusgab tak akan bergerak sendiri. Pergerakannya tetap didasarkan pada permintaan Polri, arahan Panglima TNI yang dipimpin oleh Presiden.
"Yang buat peta tentang situasi kan Kapolri, makanya kami siapkan sepenuhnya. Kapolri minta, mainkan. Kapolri minta, mainkan," ujar Moeldoko.
Diberitakan, Presiden Joko Widodo membenarkan bahwa saat ini pemerintah dalam proses mengaktifkan kembali Koopsusgab TNI.
Hal itu diungkapkan dalam pidatonya di acara buka puasa bersama para menteri Kabinet Kerja dan pimpinan lembaga negara di Istana Negara, Jakarta, Jumat (17/5/2018).
"Pemerintah saat ini di dalam proses membentuk Koopsusgab TNI yang berasal dari Kopassus, Marinir, dan Paskhas," ujar Jokowi.
Presiden menegaskan, pengaktifan kembali Koopsusgab TNI itu demi memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia dari para pelaku teror. (Fabian Januarius Kuwado)

Poseidon, Drone Bawah Laut Rusia akan Bawa Nuklir

Ilustrasi 

Drone bawah laut "Poseidon" Rusia yang saat ini sedang dalam pengembangan akan diproyeksikan untuk membawa hulu ledak nuklir dengan kekuatan hingga 2 megaton TNT untuk menghancurkan pangkalan angkatan laut musuh, sumber di sektor pertahanan Rusia mengatakan kepada TASS pada hari Kamis.
"Akan mungkin untuk memasang berbagai muatan nuklir pada sistem (drone samudra) serbaguna Poseidon, dengan hulu ledak termonuklir yang sama dengan muatan Avangard - kendaraan hipersonik yang dikembangkan Rusia - untuk memiliki kapasitas maksimum hingga 2 megaton setara dengan TNT," kata sumber itu. .
Dengan senjata nuklirnya, drone bawah laut ini dirancang terutama untuk menghancurkan pangkalan angkatan laut musuh yang dijaga ketat," kata sumber itu.
Berkat pembangkit listrik nuklirnya, Poseidon akan mampu mendekati target untuk rentang antarbenua pada kedalaman lebih dari 1 km dan dengan kecepatan 60-70 knot (110-130 km/jam), kata sumber itu. Namun TASS belum mendapatkan konfirmasi resmi mengenai kemampuan ini.
Sebelumnya, sumber lain di sektor pertahanan Rusia mengatakan kepada TASS, bahwa drone bawah laut Poseidon akan bergabung dengan Angkatan Laut Rusia di bawah program persenjataan 2018-2027 dan akan dibawa oleh kapal selam khusus baru yang sedang dibangun di galangan kapal Sevmash.
Proyek pengembangan drone bawah laut Poseidon diungkapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin 1 Maret. Pemimpin Federasi Rusia tersebut mengatakan bahwa drone ini dapat dipersenjatai dengan amunisi konvensional dan nuklir dan akan mampu menghancurkan infrastruktur musuh, gugus tempur kapal induk dan untuk tujuan lain.
Panglima Angkatan Laut Rusia Sergei Korolyov kemudian mengatakan bahwa Poseidon akan memungkinkan armadanya untuk menyelesaikan berbagai misi di perairan yang berbatasan dengan wilayah musuh. Menurutnya, uji coba elemen dasar drone, pembangkit listrik tenaga nuklir berukuran kecil, telah dilakukan. (Efran Syah)

Rusia Ingin Gencarkan Patroli Pembom Supersonik

Patroli Pembom Supersonik
Patroli Pembom Supersonik 

Pasukan nuklir strategis Rusia berencana menggencarkan patroli pesawat pembom supersonik untuk jangkauan global. Wilayah Indonesia ikut disinggung sebagai wilayah yang pernah jadi jangkauan patroli.
Komandan Angkatan Udara Strategis Jarak Jauh Mayor Jenderal Sergey Kobylash mengumumkan rencana patroli global pasukan nuklir Moskow tersebut, Jumat (18/5/2018). Wilayah Kutub Utara menjadi perhatian khusus dalam rencana patroli global tersebut.
"Tahun ini, kami berencana untuk menerbangkan Tu-160 ke Anadyr (kota Arktik paling timur Rusia). Arktik sangat penting bagi kami dan kami telah menjelajahi lapangan udara baru dan cara lain untuk meningkatkan keamanan di perbatasan maritim," ujar Kobylash kepada Krasnaya Zvezda, surat kabar yang dikelola Kementerian Pertahanan Rusia.
Kobylash juga ingat bagaimana pesawat pembom Tu-22M3 melakukan pendaratan di Anadyr di Timur Jauh Rusia untuk pertama kalinya pada tahun lalu, serta di Vorkuta, yang terletak di utara Lingkaran Arktik.
Namun, dia menekankan bahwa patroli pasukan nuklir strategis juga menaklukkan cakrawala baru di perairan hangat di seluruh dunia, termasuk kawasan Indonesia.
"Penerbangan dari awak pembom strategis dan moda misil strategis ke khatulistiwa, ke Indonesia, menunjukkan bahwa berbagai tugas yang meningkat seiring dengan jangkauan penerbangan dan lapangan udara di mana kami diperintahkan untuk melaporkan kehadiran kami," ujar Kobylash.
Pengumuman soal peningkatan patroli global pesawat pembom supersonik itu diumumkan Kobylash setelah bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev pada hari Rabu lalu. (Muhaimin)

USSOCOM, Pasukan Khusus Gabungan AS yang Siap Melibas Aksi Terorisme di Seluruh Penjuru Dunia

USSOCOM
USSOCOM 

Pada Mei 1980, militer AS melancarkan operasi rahasia di Iran untuk menyelamatkan sandera warga negara AS yang terperangkap di Teheran.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan mempersiapkan diri, pasukan gabungan dari US Army Rangers, pilot US Marine dan pasukan super rahasia Delta Force, dikirim dalam misi bersandi Operation Eagle Claw yang kemudian hari sangat bersejarah ini.
Tapi ironisnya misi yang sudah disiapkan secara matang itu gagal karena helikopter pengangkutnya malah saling bertabrakan di udara dan sejumlah heli lainnya rusak akibat diterjang badai pasir.
Setelah kegagalan serangan di Iran itu, AS membentuk tim penyelidik khusus yang dinamai Holloway Commision.
Komisi ini dengan sengaja didirikan untuk mengkaji apa yang salah dalam serangan itu, apa yang diperlukan untuk berubah dan bagaimana perubahan itu terwujud.
Beberapa tahun kemudian, militer AS digerakkan dalam menghadapi konflik di kepulauan Grenada, Karibia.
Mereka kembali dikirim untuk menyelamatkan warga AS dalam operasi militer bersandi Operation Urgent Fury.
Hanya saja kali ini warga AS yang disandera adalah kumpulan mahasiswa kedokteran (medical students) yang ditangkap oleh gerakan revolusioner Cuba.
Sekali lagi, unit-unit pasukan khusus berperan terbesar dalam satuan tugas tempur itu.
Secara umum Operation Urgent Fury terbilang sukses. Sandera berhasil diselamatkan dan pemberontak dikalahkan.
Tapi dari hasil evaluasi terungkap bahwa masalah komunikasi di antara operator lapangan dengan komando pengendali sangat buruk.
Beberapa komunikasi yang dijalin justru bisa mengungkap posisi pasukan sehingga bisa dengan mudah diserang oleh musuh.
Di antara sejumlah isu yang mengemuka dari misi di Grenada adalah, bahwa militer AS mulai memahami secara mendalam keberadaan unit-unit elite dan pasukan komandonya.
Setelah itu, pada 1986, dilakukan reorganisasi struktur lembaga pertahanan lewat Goldwater-Nichols Department of Defense Reorganization Act of 1986.
Tujuan reorganisasi itu adalah dalam lingkup pasukan khusus AS, otoritas operasional dipusatkan di Kepala Joint Chief of Staff (Kepala Staf Gabungan).
Dalam konteks ini, Kepala Joint Chief of Staff bertindak sebagai penasihat militer bagi Presiden.
Aturan baru ini sekaligus mengukuhkan posisi Wakil Kepala Joint Chief of Staff dan memperlancar jalur komando dari Presiden ke Menhan dan akhirnya ke komandan gabungan di lapangan (Unified Combat Commanders).
Departemen Pertahanan AS mendefinisikan komando tempur gabungan sebagai: ‘Operation control dari pasukan tempur AS diberikan kepada Unified Combat Commands’.
Jalur komando bergulir dari Presiden ke Menhan dan diteruskan kepada Unified Commanders in Chief.
Perintah dan dibentuk komunikasi lainnya dari Presiden atau Menhan disalurkan melalui Chairman of the Joint Chief of Staff.
Unified Combat Commands merupakan pasukan khusus yang berasal dari dua atau lebih satuan, mempunyai wilayah dan misi yang berkelanjutan .
Pasukan khusus gabungan itu biasanya diorganisasi di wilayah di mana mereka berada.
Ketika Unified Combat Commands ini dijabarkan, militer AS ternyata memiliki 10 pasukan komando jenis ini.
Di antaranya adalah US European Command, US Pasific Command, US Southern Command, US Central Command, US Joint Forces Command, US Special Operations Command, US Space Command, US Strategic Command, US Transportation Command dan US Nothern Command. Komando terakhir ditambahkan pasca tragedi 11 September 2001.
Khusus untuk US Special Operations Command (USSOCOM) atau Komando Gabungan Pasukan Khusus merupakan organisasi yang dibentuk untuk bertanggung jawab terhadap semua pasukan khusus di AS.
Baik itu dari Army Special Forces, Rangers dan 160th Special Operation Aviation Regiment, Air Forces Special Operations Wings dan Skadron serta Navy SEAL.
Walau AL menempatkan Navy SEAL di bawah komando baru, Marinir tidak termasuk ke dalam formasi awal ini.
Namun pada tahun 2002, ditetapkan bahwa Marines Forces Reconnaissance mempunyai kemampuan operasional setingkat. Dan Detasemen Koprs Marinir khusus (MARCORDET) dijadikan bagian dari USSOCOM.
USSOCOM memiliki tiga komponen komando: Army Special Operations Command (USASOC) bermarkas di Fort Bragg, North Carolina, Naval Special Warfare Command (NAVSPECWARCOM) di Coronado.
Air Force Special Operations Command (AFSOC) di Hurlburt Field, Florida; dan sebuah komando sub-gabungan Joint Special Operations Command (JSOC) juga di Fort Bragg.
Namun markas besar yang disebut Special Operations Command, Central (SOCCENT) mengambil tempat di MacDill AFB, Florida.
Special Operation Forces adalah unit kecil yang bekerja mandiri atau bersama dengan satu unit lain dalam sebuah direct dan indirect military operations.
Seringnya menggunakan taktik unconventional warfare, mengharuskan mereka dilatih dalam metoda terbaru dan diperlengkapi dengan peralatan berteknologi maju dan persenjataan terbaru.
Tujuan latihan-latihan tempur USSOCOM yang biasanya berlangsung sangat keras dan berdisiplin tinggi sangat jelas.
Yakni, agar para personel USSOCOm siap memerangi aksi terorisme di mana saja dan kapan saja. (Agustinus Winardi)

Indonesia Terus Negosiasikan Program Pesawat Tempur KFX/IFX

Pesawat Tempur KFX/IFX
Pesawat Tempur KFX/IFX 

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan kelanjutan program pembuatan pesawat tempur Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang merupakan kerja sama Indonesia- Korea Selatan terus dinegosiasikan.
"Kami negosiasikan terus," kata dia dalam perbincangan dengan Antara di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Jumat.
Beberapa waktu lalu proyek bertotal investasi 8 miliar dollar AS itu diklaim sudah masuk tahap engineering manufactur development (EMD). Namun, kelanjutan program yang dibiayai Korea Selatan 80 persen dan Indonesia 20 persen itu masih dinegosiasikan.
Dari penelusuran Antara, pengembangan pesawat menghadapi kendala pengadaan beberapa komponen yang lisensinya dimiliki Amerika Serikat.
Korea Selatan dan Indonesia sejatinya mencoba menyiasati kendala itu dengan berkolaborasi dengan negara-negara di Eropa untuk pengadaan komponen itu.
Kerja sama pengembangan jet tempur generasi 4,5 ini telah dimulai sejak 2016.
Ditargetkan pada 2019 prototipe pesawat tempur ini sudah diproduksi. Kemudian, pesawat dapat diluncurkan dan bisa terbang pada 2021. Pada 2026, diharapkan pesawat tempur KFX/IFX bisa mendapatkan sertifikat.
"Kita sedang negosiasikan terus, agar dapat segera diputuskan," kata Ryamizard.
Ryamizard mengatakan kekuatan militer yang memadai harus dimiliki Indonesia untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat regional dan global.

China akan Perlihatkan Pesawat Pembom Termutakhirnya

Pesawat Pembom
Pesawat Pembom  

China dikabarkan akan segera mengungkap salah satu pesawat pembom jarak jauh generasi terbarunya. Jika sebelumnya rencana itu masih dianggap omong kosong, namun di awal minggu ini telah beredar sesosok pesawat misterius itu.
Aviation Industry Corp of China, pembuat pesawat terkemuka negara itu, merilis sebuah video profil perusahaan. Di detik-detik akhir video muncul sebuah pesawat yang kemudian disebut sebagai pesawat pembom paling mutakhir.
Video tersebut diterbitkan di akun WeChat untuk menandai ulang tahun ke-60 dari Xi’Aan Aircraft Industry, sebuah anak perusahaan AVIC di provinsi Shaanxi yang merupakan produsen pesawat pembom utama China.
Video ini menunjukkan rendering artistik dari sebuah pesawat berbentuk segitiga. “The Next ……” Demikian tertulis di akhir video. AVIC sendiri tidak menjelaskan makna enam detik terakhir video itu.
Terlepas dari keringkasannya, video ini tampaknya telah mengakhiri perdebatan di kalangan penggemar militer China dan pengamat industri penerbangan soal penampilan pesawat pembom baru China itu.
Jenderal Ma Xiaotian, mantan komandan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat, mengatakan kepada wartawan pada bulan September 2016, “Kami sekarang mengembangkan pembom baru jarak jauh yang akan Anda lihat di masa depan.”
Ucapan Ma itu merupakan pernyataan terakhir yang dikeluarkan secara resmi oleh pejabat China.
Shi Jian, editor senior di majalah Aviation World Monthly mengatakan, langkah AVIC menunjukkan bahwa perusahaan raksasa itu telah membuat kemajuan cukup besar dalam proyek pembom masa depan tersebut sehingga perusahaan ingin memberi tahu orang-orang tentang kemajuan program.
“Saya pikir pesawat pembom baru akan diresmikan kepada publik dalam waktu dekat,” katanya.
Fu Qianshao, seorang ahli pesawat terbang dari Angkatan Udara PLA mengklaim bahwa pembom baru yang sedang dalam produksi itu akan lebih baik daripada B-21 milik AS di dalam jangkauan penerbangan dan daya dukung.
Dia mengatakan, pesawat buatan China itu mungkin akan memiliki jangkauan operasional setidaknya 12.000 kilometer dan muatan maksimum 20 metrik ton bom dan rudal. (Ian)

Memphis Belle, Bomber PD II Dipamerkan untuk Pertama Kalinya

Memphis Belle
Memphis Belle 

Boeing B-17 Flying Fortress Memphis Belle dipamerkan untuk pertama kali di Museum Nasional Angkatan Udara AS, di Dayton, Ohio, 16 Mei 2018. Bomber Perang Dunia II ini dipamerkan untuk pertama kalinya usai mendapatkan restorasi selama bertahun-tahun di museum.
Boeing B-17 Flying Fortress Memphis Belle adalah sebuah pesawat pengebom pengintai (reconnaissance aircraft) sayap rendah (low wing) Amerika Serikat, yang dibuat untuk Pasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army Air Corps).
Sejumlah veteran ikut menghadiri pameran Boeing B-17 Flying Fortress Memphis Belle saat dipamerkan di Museum Nasional Angkatan Udara AS. Memphis Belle terbang perdana pada tanggal 28 Juli 1935, dan dipensiunkan tahun 1968, dengan lebih dari 12.000 Flying Fortress diproduksi.
Hadir juga Robert K. Morgan, Jr., putra dari pilot Memphis Belle, yang menyempatkan diri berpose di dekat pesawat Boeing B-17 Flying Fortress Memphis Belle. Dahulu, pesawat Memphis Belle digunakan sebagai pengebom strategis pada Perang Dunia II melawan Nazi Jerman. Dalam Perang Dunia II, Flying Fortress menjatuhkan lebih dari 500.000 ton bom di Eropa. (Fardi Bestari)
Sumber : TSM

Radar Acak