Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Boeing BTX-1 Berpotensi Menang dalam Kompetisi APT (Advanced Pilot Training)/ TX-1 Kalahkan KAI T-50A

Boeing BTX-1
Boeing BTX-1  

Diberitakan Korea Times (22/6), di tengah menghangatnya kompetisi jet latih lanjut pengganti T-38 Talon yang akan diputuskan bulan Agustus 2018 nanti, nyatanya perusahaan KAI (Korean Aerospace Industries) yang menawarkan produk T-50A bersama Lockheed Martin ada dalam posisi kurang menguntungkan.
T-50A adalah jet latih lanjut/ tempur yang sudah teruji, berbasis dari T-50 yang sudah diproduksi 100 unit lebih termasuk untuk TNI Angkatan Udara. Seharusnya tidak ada masalah untuk menang dalam kompetisi APT (Advanced Pilot Training)/ TX-1 melawan Boeing dengan BTX-1.
Namun begitu, faktor penentunya ternyata tak Cuma soal kemampuan semata. KAI yang terseret kasus korupsi direktur utamanya dianggap kurang punya integritas untuk bisa berbisnis di dalam Amerika Serikat.
Selain itu, ada pula masalah urut kacang. Banyak yang bilang Lockheed Martin sudah terlalu dominan dalam bisnis alutsista AS, oleh karena itu, untuk proyek APT ini justru Boeing yang akan dimenangkan secara politis agar tercipta keseimbangan. (Aryo Nugroho)

Il-78M-90A, Tanker Udara Terbaru Rusia untuk Jet Tempur Su-35 dan Su-57

Il-78M-90A
Il-78M-90A 

Prototipe pertama pesawat tanker udara Rusia, Ilyushin Il-78M-90A, terbang perdana di Lapangan Udara Ulyanovsk, milik pabrik Aviastar-SP, anak perusahaan UAC pada 19 Januari 2018. Pesawat diterbangkan oleh pilot uji Ilyushin, Nikolai Kuimov, peraih penghargaan ‘Hero of Russia’.
Il-78M-90A merupakan turunan pesawat angkut Il-76MD-90A. Pesawat ditenagai empat mesin baru PS-90A-76 dengan kemampuan dorong lebih besar dan tingkat efisiensi lebih tinggi.
Perlu diingat, Il-78M-90A berbeda dengan tanker Il-78 mapun Il-78M yang dibuat oleh Tashkent Aircraft Production Corp periode 1984-1991. Pabrik ini membuat kurang lebih 45 Il-78/Il-78M. Dapat dikatakan, Il-78/Il-78M sangat beda tahun produksi dan beda teknologi dengan Il-78M-90A walau keduanya sama-sama menggunakan basis pesawat angkut Il-76.
Il-78M-90A sebagaimana Il-76MD-90A yang dibuat di Ulyanovsk, dilengkapi perangkat navigasi dan penerbangan terbaru. Ruang kokpitnya telah menganut sistem glass cockpit yang memberi kontribusi mengurangi beban kerja pilot serta meningkatkan keselamatan terbang.
Sebagai jet tanker modern, Il-78M-90A tidak dilengkapi ruang bagi operator pengisian bahan bakar di udara (air refueling) di bagian belakang badan pesawat. Tugas ini digantikan menggunakan kamera video yang dapat dipantau dari kokpit.
Il-78M-90A dilengkapi tiga pod alat air refueling, UPAZ-1M hose and drogue. Yang pertama terletak di bagian kiri ekor untuk pengisian bahan bakar terhadap pesawat-pesawat khusus maupun pesawat penerbangan jarak jauh. Sementara dua lagi terletak pada masing-masing sayap pesawat.
Alat pengisian bahan bakar di sayap dapat digunakan untuk pengisian terhadap dua pesawat taktis secara simultan menggunakan bantuan unit TNA-150M turbo-pump. Misalnya pengisian bahan bakar bagi pesawat pembom taktis maupun jet tempur seperti keluarga MiG-29 dan Su-27/30 termasuk jet tempur terbaru MiG-35, Su-35, dan Su-57.
Kombinasi penggunaan TNA-150M turbo-pump dan pod UPAZ-1M buatan Zevda, mampu mentransfer bahan bakar dengan kapasitas aliran 2.300 – 3.000 liter per menit.
Berbeda dengan tanker Il-78/IL-78M, tanker Il-78M-90A dapat berfungsi multiperan sebagai pesawat angkut. Ini karena tanki bahan bakar di kabin untuk air refueling dapat dengan mudah dilepas dan dikonversi dengan kursi penumpang.
Pesawat juga bisa digunakan untuk fungsi pemadaman api dengan melengkapi peralatan yang dibutuhkan. Konversi ruang kabin dapat dilakukan di pangkalan pesawat.
Pabrik Aviastar-SP mulai membuat prototipe Il-78M-90A pada 2014 silam. Pesawat ini melaksanakan roll-out dari hanggarnya pada 29 November 2017 dan kemudian menjalani uji darat.
Pengujian darat tidak membutuhkan waktu lama karena pada dasarnya sistem avionika pesawat ini sama dengan basisnya yaitu Il-76MD-90A. Demikian juga dengan uji terbang, relatif tidak akan membutuhkan waktu yang terlalu lama.
Pengujian pesawat selama terbang, titik utamanya lebih kepada uji fungsi sistem-sistem untuk pengisian bahan bakar di udara. Maka diharapkan, produksi pesawat ini akan lebih cepat dibandingkan proses yang harus dijalani pesawat yang sama sekali baru desainnya.
Kepala Desainer Ilyushin, Nikolai Talikov, menyatakan, produksi full-rate Il-78-90A termasuk perakitan akhir dan uji pesawat akan dilaksanakan sepenuhnya di fasilitas Aviastar-SP, Ulyanovsk.
Artinya, produksi pesawat tanker ini akan berjalan simultan dengan pembuatan pesawat angkut Il-76MD-90. Ia berharap, pabrik Aviastar-SP dapat memroduksi 12 pesawat Il-76MD-90A maupun Il-78-90A setiap tahunnya.
Il-76 sendiri, sejak penerbangan perdana tahun 1971 hingga saat ini telah diproduksi lebih dari 960 unit dalam berbagai varian termasuk Il-78, Beriev A-50, dan KJ-2000.
Direncanakan, Kementerian Pertahanan Rusia akan membeli 40 unit tanker ini guna mengganti tanker lama Il-78/Il-78M. (Roni Sontani)

Rabdan 8x8, Kuda Pacu Berjubah Baja untuk Angkatan Bersenjata UEA

Rabdan 8x8
Rabdan 8x8 

Diharapkan dalam waktu dekat Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab (UEA) akan menerima batch pertama panser 8×8 yang dinamai Rabdan (kuda pacu Arabia). Kendaraan ini dibeli dari pabrik Al Jasoor Heavy Vehicles Industries, sebuah usaha patungan yang dibentuk oleh Tawazun Holdings dari UEA bersama Otokar Land Systems dari Turki.
Rabdan dikembangkan berdasar panser Otokar Arma 8×8 yang berhasil menyisihkan pesaingnya yakni FNSS Pars 8×8 dari Turki , Patria AMV 8×8 dari Finlandia, dan EDT Enigma 8×8 dari UEA. Pengumuman pemenangnya disiarkan saat pameran pertahanan IDEX 2017 di Abu Dhabi, UEA. Di waktu dan tempat yang sama untuk kali pertama purwarupa Rabdan diperlihatkan kepada publik.
Pengadaan 700 unit panser 8×8 yang bernilai 661 juta dolar AS ini adalah untuk menggantikan sekira 650 unit ranpur roda rantai BMP-3 milik Angkatan Bersenjata UEA yang didatangkan dari Rusia mulai tahun 1992.
Sesuai kontrak, sebanyak 100 unit pertama Rabdan akan diproduksi di pabrik Otokar, Turki. Sedangkan sisanya akan di buat di Tawazun Industrial Park yang terletak di antara kota Abu Dhabi dan Dubai.
Dalam pengembangan Rabdan varian ranpur infanteri (Infantry Fighting Vehicle/IFV), Angkatan Bersenjata UEA mensyaratan penggunaan sistem kubah senjata (turet) yang sama dengan BMP-3 yang akan ditanamkan pada tubuh panser Arma 8×8. Namun, tak dijelaskan apakah sistem kubah tersebut mencomot dari BMP-3 yang lama atau membeli yang baru.
Kubah senjata Rabdan diawaki dua personel, yakni komandan dan operator senjata. Alat penggebuk utama berupa kanon semi-otomatis 2A70 kaliber 100 mm. Kanon ini digunakan untuk menembakkan proyektil standar 3UOF HE-FRAG dan bisa juga dipakai untuk meluncurkan rudal antitank 3UBK10.
Untuk senjata sekunder Rabdan dilengkapi kanon koaksial 2A72 kaliber 30 mm. Senjata ini digunakan untuk membabat sasaran darat sejauh 2 km atau menjatuhkan drone dan helikopter lawan pada ketinggian maksimum 4 km. Tersedia juga senapan mesin koaksial PKT kaliber 7,62 mm untuk menyikat sasaran lunak.
Dimensi dan tampilan Rabdan berubah dibanding Arma. Badannya sedikit lebih lebar yakni 55 cm dan bertambah panjang 15 cm untuk menyesuaikan dengan sistem kubah senjata milik BMP-3. Bobot kendraan juga meningkat dari 24 ton pada Arma menjadi 28-30 ton untuk Rabdan. Selain itu, karakter raut wajah Rabdan juga berbeda dengan tampilan asli Arma.
Berdasar spesifikasi yang dilansir saat pameran, Rabdan memiliki dimensi panjang 8 m, lebar 3,25 m dan tinggi 2,5 m. Panser ini bisa mengangkut 12 personel militer termasuk pengemudi, komandan, dan operator senjata. Tersedia pintu rampa besar di buritan untuk akses keluar masuk para awak dengan mudah dan cepat.
Rabdan ditenagai mesin diesel Caterpillar 12.500 cc berdaya 600 hp yang digabungkan ke transmisi otomatis Allison 4500 dengan 6 gigi maju dan 1 gigi mundur. Panser ini dapat berlari kencang pada kecepatan maksimum 105 km/jam dengan jarak jelajah maksimum sejauh 700 km. Rabdan juga dilengkapi sepasang water jet untuk berenang di atas air dengan kecepatan maksimum 10 km/jam.
Dalam operasinya, dipermukaan jalan rata dan keras Rabdan menggunakan konfiguarsi 8×4 dan dapat beralih ke konfigurasi 8×8 untuk medan off-road. Kedua as roda depan panser ini bisa dikemudikan. Rabdan menerapkan sistem inflasi ban sentral untuk menambah/mengurangi tekanan angin dari kabin dan menggunakan run flat tyres yang masih bisa dipakai berjalan walau tertembus peluru.
Tingkat perlindungan balistik Rabdan yakni STANAG Level 4 yang kebal terhadap peluru kaliber 7,62 mm. Selain itu ada kit proteksi tambahan yang bisa bertahan dari tumbukan peluru kaliber 14,5 mm.
Rabdan juga diberi tingkat perlindungan dari ranjau dan peralatan peledak improvisasi (IED) pada STANAG Level 4a/b atau setara ledakan 10 kg TNT. Panser ini juga sanggup bertahan dari serpihan peluru artileri 155 mm yang meledak sejauh 30 m. (Rangga Baswara)

Tak Mau Kalah dengan Rusia, Jet Serang Darat A-10 Lepas Landas dari Landasan Kasar, Dekat Rusia

A-10 Thunderbolt II
A-10 Thunderbolt II 

Diberitakan The Aviationist (22/6), Angkatan udara AS melaksanakan latihan lepas landas dan mendarat dari jalanan kasar dengan menggunakan A-10 Thunderbolt II alias Warthog. AS nampaknya ingin menyaingi reputasi Rusia sebagai negara yang mampu membuat pesawat yang bandel dan bisa lepas landas dari mana saja.
8 A-10C dari 107th Fighter Squadron yang berpangkalan di Selfridge ANGB Michigan diberangkatkan ke Pangkalan Udara Lielvarde di Latvia untuk ambil bagian dalam Exercise Saber Strike 18. Latihan ini menyiapkan NATO menghadapi agresi Rusia.
A-10C melaksanakan operasi lepas landas dari jalan raya Jagala-Karavete yang merupakan jalan raya terpencil di Estonia Utara, membuktikan keandalan A-10 yang tak membutuhkan banyak dukungan untuk beroperasi dan segera melaksanakan serangan udara yang jadi kemampuan asasinya.
Selain di jalan raya, A-10C juga melaksanakan latihan lepas landas dari landas pacu yang berada di Haapsalu, Estonia, salah satu eks pangkalan Pakta Warsawa yang sudah tak lagi digunakan sehingga landasannya sudah tertutupi rumput. (Aryo Nugroho)

Rahasia Kapal Induk Liaoning AL China (PLAN) Diduga Jatuh ke Tangan Dinas Intelijen AS CIA

Kapal Induk Liaoning AL China (PLAN)
Kapal Induk Liaoning AL China (PLAN) 

Pihak berwenang China menyelidiki perusahaan galangan kapal karena diduga menjual data rahasia tentang kapal induk Liaoning kepada agen Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat (AS).
Perusahaan yang diselidiki itu adalah China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC). Mengutip laporan Asia Times yang dirilis hari Kamis (21/6/2018), penyelidikan menyasar pada salah satu eksekutif top CSIC.
"Manajer umum CSIC Sun Bo adalah subjek penyelidikan kriminal baru karena berpotensi melakukan pelanggaran berat terhadap hukum dan disiplin partai," bunyi laporan tersebut.
Komisi Pusat Partai Komunis China untuk Inspeksi Disiplin dan Komisi Supervisi Nasional juga telah mem-posting pengumuman untuk publik pada tanggal 18 Juni yang menyatakan bahwa eksekutif senior CSIC sedang diselidiki.
Sun diduga menyerahkan informasi rahasia kepada CIA tentang desain dan spesifikasi kapal induk Liaoning setelah bertahun-tahun menjalani modifikasi. Kapal raksasa itu aslinya dibangun Soviet dan dibeli China dari Ukraina yang kemudian dimodifikasi di galangan kapal milik CSIC di Dalian.
China juga telah membuat desain kapal induk buatan dalam negeri pertamanya yang dikenal dengan nama Type 001A. Beberapa media lokal telah mempertanyakan apakah Sun juga memberikan desain Type 001A kepada CIA atau tidak.
Menurut laporan Asia Times, Sun memiliki gelar PhD dalam bidang konstruksi dan desain kapal dari Dalian University of Technology. "Eksekutif berusia 57 tahun ini menghabiskan sebagian besar kariernya untuk Dalian Shipyard ketika Liaoning sedang dibangun kembali di sana," lanjut laporan tersebut.
Liaoning, yang kemudian dikenal sebagai Varyag, tiba di Dalian pada Maret 2002. Kapal induk ini telah menyelesaikan uji coba laut dengan Angkatan Laut Tentara Pembabasan Rakyat (PLAN) pada September 2012. Sejak itu, nama kapal menjadi Liaoning.
CSIC mengatakan pada WeChat Rabu bahwa presiden perusahaan Hu Wenming dalam sebuah rapat telah menekankan pentingnya kesetiaan kepada Partai Komunis China dan menangkis infiltrasi serta korupsi.
Aksi saling memata-matai antara China dan AS telah menjadi isu yang memanas dalam beberapa bulan ini. Pada bulan lalu, Departemen Kehakiman AS menuduh seorang perwira CIA telah menjadi mata-mata untuk pemerintah China. Perwira CIA bernama Jerry Chun Shing Lee, 53, diduga memberi informasi rahasia, termasuk nama, nomor telepon aset dan karyawan rahasia CIA kepada para pejabat intelijen China.
Sedangkan pemerintah Beijing, menurut laporan Axios, juga melakukan "pembongkaran sistematis" jaringan mata-mata rahasia Amerika di China sejak tahun 2010.
New York Times dalam laporannya menulis Lee berada di pusat "perburuan tahi lalat" di mana beberapa pejabat intelijen percaya bahwa dia telah mengkhianati Amerika Serikat. Tapi, pejabat lain berpikir bahwa pemerintah China telah meretas komunikasi rahasia CIA yang digunakan untuk berbicara dengan sumber informasi asing. (Muhaimin)

Bozena 4, Sang Penyapu Ranjau Andalan Yonzipur Kostrad

Bozena 4
Bozena 4 

Sejalan dengan kedatangan tank tempur utama Leopard 2A4 dan ranpur Marder 1A3 dari Jerman, TNI AD pun mulai melingkapi arsenalnya dengan wahana penyapu ranjau tak berawak pada pertengahan tahun 2013 silam.
Keberadaan wahana robot ini sangat penting untuk membersihkan jalur lintasan kendaraan tempur MBT dan IFV dalam sebuah gelaran di palagan agar laju mobilitasnya tak terhambat dan terhenti dari sebaran ranjau darat yang ditanam.
Selain melindungi nyawa prajurit yang mengoperasikan, pastinya harga sebuah MBT dan ranpur IFV bukanlah barang murah dan sangat layak untuk dijaga keselamatannya.
Robot berbentuk bulldozer mini tersebut adalah Bozena 4 buatan WAY Industry asal Slowakia yang mulai diperkenalkan tahun 2002 dan telah digelindingkan sebanyak 80 unit dari pabriknya hingga tahun 2015 silam.
Pada prinsipnya Bozena 4 terbagi menjadi empat bagian utama yakni kendaraan (prime mover), alat pemukul (flail unit) yang terdiri dua bagian, dan sebuah kotak kabin berlapis baja untuk seorang operator.
Aspek remote control dari Bozena 4 memberikan keamanan maksimum karena operator berada pada jarak yang aman. Ia duduk dalam kabin ber-AC yang diletakkan di atas bak truk dengan jarak minimal 20 meter dari ladang ranjau yang akan disapu. Dengan ini tingkat stres operator rendah dan hampir tidak ada bahaya akibat bahaya ledakan yang ditimbulkan.
Sepintas robot ini terlihat bagai traktor pertanian pembajak tanah di mana bagian depannya terdapat flail unit dari baja yang dapat diatur ketinggian dan kecepatan putarannya, mulai dari 350 hingga 500 rpm saat dipergunakan.
Rangkaian bulir rantai baja pemukul yang menggantung dengan gerakan melingkar, berfungsi menggerus ranjau yang biasanya ditanam pada kedalaman 25-30 cm dan memukulnya hingga meledak. Bozena 4 dapat menangani ranjau anti-personel (AP) maupun ranjau anti-kendaraan (AV) dengan ketahanan meredam daya ledak hingga 9 kg TNT.
Bozena 4 tergolong wahana penyapu ranjau kelas ringan. Bentuknya kompak dengan panjang keseluruhan 5,2 meter, tinggi 2,2 meter dan lebar 2,8 meter. Selain dapat dipindahkan menggunakan truk melalui jalan darat, Bozena 4 juga bisa digeser lewat udara masuk ke dalam perut pesawat C-130 Hercules.
Dimensinya yang kecil dan bobot yang ringan (6,9 ton) memudahkannya bermanuver di ruang terbatas dan kondisi yang sulit. Belum lagi ditunjang dengan penggunaan trek baja pembungkus roda yang mudah dilepas-pasang membuatnya tidak mudah terjebak ketika beroperasi di medan berlumpur dan daerah bergenangan air.
Bozena 4 ditutupi perisai baja yang dipasang tepat di belakang poros pemukul untuk menangkis puing ledakan dari ranjau anti-kendaraan yang berhamburan. Pada bagian internal penggerak utama juga ditambahkan pelat baja ARMOX dengan ketebalan 4-6 mm serta kaca polikarbonat LEXAN untuk melindungi sistem hidrolik dan remote control.
Bozena 4 juga ditutupi kerudung khusus untuk melindungi penggerak utama dari debu serta dilengkapi sistem pemadam api otomatis untuk meningkatkan keselamatan dari kebakaran internal.
Sebagai penghela digunakan mesin diesel turbocharged BF 6L914 kapasitas 4.000 cc buatan Deutz. Mesin menyemburkan daya sebesar 110 kW pada 2.500 rpm dan mengembangkan torsi 550 Nm pada 1.600 rpm dengan kecepatan maksimum 9 km/jam saja. Kapasitas tangki 140 liter dengan konsumsi rata-rata 13,2 liter/jam.
Dengan efisien Bozena 4 mampu membersihkan area seluas 500 meter persegi per jam. Kendaraan ini dapat beroperasi sejauh 5 km dengan remote control pada medan rata terbuka dengan daya tahan baterai 11 jam lamanya. Bozena 4 juga mampu memangkas vegetasi tanaman yang menjadi rintangan berdiameter maksimal 30 cm dengan ketinggian 4 meter.
Di Indonesia, Bozena 4 dipercayakan untuk dioperasikan oleh Batalyon Zeni Tempur TNI AD, yakni Yonzipur 9/1 Lang-Lang Bhuana Kostrad yang bermarkas di Ujungberung, Bandung, Jawa Barat dan Yonzipur 10/2 Jaladri Palaka Kostrad di Pasuruan, Jawa Timur.
Untuk menguji kesaktiannya, ‘Sang Penyapu Ranjau’ yang terbilang masih anyar ini pernah dilibatkan dalam latihan perang antar kecabangan (Latancab) TNI AD bertempat di Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Martapura, Baturaja, Sumatera Selatan pada Juni 2015. (Rangga Baswara)
Spesifikasi Bozena 4 :
  • Panjang keseluruhan: 528 cm. 
  • Lebar: 284 cm. 
  • Tinggi: 227 cm. 
  • Berat total: 6,9 ton. 
  • Mesin diesel: Deutz BF 4L913. 
  • Daya: 106 HP. 
  • Kecepatan maksimum: 9 km/jam. 
  • Kapasitas tangki BBM: 140 liter. 
  • Konsumsi BBM rata-rata: 2 liter/jam

Eurosatory 2018: Nexter Perkenalkan “Katana,” Munisi Howitzer 155mm dengan Sistem Pemandu

Katana
Katana 

Bicara tentang Howitzer, maka nama Nexter dari Perancis tak bisa dikesampingkan, maklum manufaktur meriam papan atas ini menjadi pemasok utama sistem Howitzer Tarik (Towed Howitzer) dan Howitzer Swa Gerak (Self Propelled Howitzer) di arsenal Artileri Medan TNI. Terkhusus di kaliber besar (155 mm), produk Nexter yang cukup kondang adalah TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie), yang kini jadi andalan Batalyon Artileri Medan (YonArmed) Kostrad.
Dibanding generasi Howitzer Swa Gerak terdahulu, TRF-1 CAESAR jelas unggul dalam beberapa aspek, TRF-1 CAESAR mengusung kaliber 155/52 mm dengan jarak tembak maksimum 42 km dan jarak tembak minimum 4,5 km. Kecepatan tembak meriam ini dapat memuntahkan 6 proyektil untuk setiap menitnya. Hebatnya sistem pemuatan munisi sudah mengaplikasikan jalur otomatis ala revolver, pengisi tinggal menaruk proyektil ke rak, dan pengisi akan memasukkannya langsung ke dalam kamar peluru.
CAESAR juga sudah mengadopsi sistem munisi tanpa selongsong (caseless), alhasil bobot munisi yang dibawa lebih ringan, dan tentu saja ramah lingkungan.
Nah, terkait munisi di kaliber 155 mm, ada kabar terbaru yang dirilis Nexter dalam ajang Eurosatory 2018 yang berlangsung pertengahan Juni 2018 di Paris, Perancis. Dengan mengambil nama “Katana,” Nexter memperkenalkan sosok munisi 155 mm generasi terbaru precision guided munitions (PGM). Katana disebut-sebut berbeda dengan munisi konvensional, pasalnya proyektil Katana dilengkapi dengan sistem pemandu. Saat proyektil dilepaskan dari laras meriam, maka proyektil Katana dapat menerjang sasaran dengan presisi tinggi.
Presisi tinggi Katana didapat berkat adanya hibridisasi antara penerima sinyal GNSS (Global Navigation Satellite System) dan Inertial Measurement Unit (IMU). Meski masih dalam tahap prototipe, proyektil canggih ini telah diuji beberapa kali. Proyektil generasi pertama disebut sebagai Katana Mk1 dan dilengkapi dengan paket pemandu yang terdiri dari INS/GPS yang diharapkan dapat mencapai jangkauan maksimum hingga 60 km dengan circular error probable (CEP) di bawah 10 meter. Katana MK1 masih terus dikembangkan dan diharapkan prototipe-nya dapat tuntas dalam dua tahun mendatang.
Tidak hanya Katana MK1, Nexter juga sekaligus menggarap Katana MK2a, dengan desain serupa MK1, Katana MK2a disokong teknologi IMU dan GNSS. Nexter mencanangkan Katana MK2a dapat diluncurkan 48 bulan setelah Katana MK1 resmi dirilis ke pasar.
Presisi makin tajam dan jangkauan tembak kian jauh, itulah harapan Nexter, tidak sebatas Katana MK1 dan MK2a, Nexter juga menggadang Katana MK2b yang mampu melesat lebih dari 60 km. Khusus Katana MK2b, proyektil dilengkapi dengan pemandu semi active laser (SAL). Katana MK2b dijadwalkan rilis 48 bulan setelah Katana MK2a dirilis resmi.
Setiap seri proyektil Katana dirancang untuk membawa hulu ledak HE (high-explosive) seberat 6 kg, dan dipastikan nantinya Katana dapat dilepaskan dari Howitzer kaliber 155/52 mm yang berada dalam standar Joint Ballistic Memorandum of Understanding (JBMOU). (Haryo Adjie)

PTDI Akan Serah Terimakan 2 Pesawat NC212i kepada Kementrian Pertahanan Filipina Pekan Depan

 Pesawat NC212i
 Pesawat NC212i 

Pekan depan PT Dirgantara Indonesia (Persero)/PTDI akan menggelar serah terima dua pesawat NC212i ke Kementerian Pertahanan (Kemhan) Filipina. Hal tersebut dilayangkan Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurno hari ini, Kamis (21/6/2018) di Jakarta.
“Minggu depan ini akan diserahterimakan dua pesawat terbang dari PTDI ke Kementerian Pertahanan Filipina,” ungkapnya di Kementerian BUMN.
Menurutnya, hal ini menjadi kabar baik dan catatan prestasi bagi bangsa ini. Sebab, selama ini Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor komoditas.
Terlebih, sambungnya, pesawat merupakan salah satu teknologi tinggi yang ada saat ini.
“Kenapa saya bilang kabar baik, karena namanya ekspor komoditi, timah, batu bara. Nah ini kalau dari PTDI coba bayangin ekspor pesawat, teknologi tertinggi di dunia di bawah ruang angksasa itu kan pesawat,” jelasnya.
Fajar juga menuturkan, pesawat N219 Nurtanio juga telah kebanjiran pesanan. Ia menyebutkan, saat ini sudah ada 104 pesanan pesawat N219.
Namun saat ini pesawat tersebut belum diproduksi massal lantaran harus menjalani sertifikasi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Untuk mengantongi sertifikasi, tentunya N219 harus memenuhi jam terbang.
“Kita punya 104 order permintaan N219, nanti baru bisa jualan kalau sudah keluar sertifikasi,” tutupnya. (Ery)

Bagaimana Indonesia Menyikapi Berbagai Aturan Buatan AS? Cuma Tukang Jualan, Kok Berani Melarang-Larang

 Su-35
 Su-35 

Seperti diberitakan oleh VOA News (21/6), versi NDAA (National Defence Authorisation Act) milik Senat AS akhirnya disahkan hari ini. NDAA 2019 sendiri mengatur mengenai kebijakan pertahanan Amerika Serikat, tidak hanya bagi dirinya tapi juga ke negara lainnya.
Yang parah, versi NDAA 2019 milik Senat ini tidak memasukkan waiver atau "syarat dan ketentuan berlaku" yang bisa mengecualikan sebuah negara dari ancaman sanksi CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanction Act).
Ini artinya, AS dalam berjualan alutsista ke negara lain mewajibkan bahwa negara itu haruslah setia kepada Amerika Serikat saja. Ini akan jadi masalah bagi Indonesia, India, Turki, dan negara-negara lain yang kebijakan pertahanannya menetapkan pengadaan berimbang dari Blok Barat maupun Timur.
Jika NDAA versi Senat ini yang akan dipakai, artinya Negara-negara itu tak punya pilihan selain memensiunkan alutsista made in Rusia jika ingin terus berhubungan dengan AS. Artinya selamat tinggal Su-30, Su-35, rudal S-400, dan alutsista canggih Rusia lainnya.
Situasinya sama seperti judul tulisan ini, AS itu sekedar salesman atau produsen alutsista, tapi kenapa jadi bisa mengatur-atur dengan siapa TNI dan Republik Indonesia boleh memilih alutsistanya, dan bahkan melarang-larang seperti seorang pacar posesif?
Apapun itu, Indonesia perlu mempertajam ujung tombak diplomasinya. Amerika Serikat-lah yang butuh Indonesia dan India, bukan sebaliknya. Artinya jika ikatan Negara-negara besar di Asia Pasifik kuat, kita bisa berbalik menyetir Amerika Serikat. Masalahnya, maukah Republik ini bersusah payah adu siasat diplomatik? (Aryo Nugroho)

Berkat Siasat Pentagon Tembus Celah Hukum, Turki Tetap Terima Jet Siluman F-35

 F-35 Turki
 F-35 Turki 

VOA News (21/6) memberitakan bahwa keputusan Senat AS untuk melarang penyerahan jet tempur siluman F-35 ke Turki ternyata sama sekali tidak digubris oleh Departemen Pertahanan AS atau Pentagon.
Senat AS sendiri geram dengan langkah Turki membeli rudal S-400 dari Rusia sehingga mengenakan sanksi kepada negeri Presiden Erdogan tersebut.
Sumber di Pentagon menyatakan bahwa Turki akan tetap menerima F-35A yang sudah mereka pesan dari perusahaan itu, dan upacara tanggal 21 Juni nanti di markas dan pabrik Lockheed Martin di Forth Worth, Texas akan tetap diadakan.
Pentagon menggunakan celah hukum dimana undang-undang NDAA yang diserahkan oleh Senat AS itu ternyata belum disinkronisasi dengan NDAA milik Kongres AS dan diterbitkan sebagai undang-undang bersama.
Dengan belum mengikatnya undang-undang tersebut sebagai sebuah produk hukum yang berlaku, 2 F-35A akan diterima Turki dan diterbangkan ke Luke Air Force Base dimana pilot-pilot Turki akan mulai berlatih menggunakan dan menerbangkan jet tempur Turki, sementara teknisinya berlatih merawat jet siluman tersebut. (Aryo Nugroho)

Radar Acak