Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

TNI AU Bangun Skuadron 27 di Lanud Manuhua Biak Numfor Papua

CN-235
CN-235 

Markas besar TNI Angkatan Udara membangun fasilitas fisik Skuadron udara 27 yang berisikan pesawat CN-235 di pangkalan udara Manuhua Biak Numfor.
Komandan Pangkalan Udara Manuhua Biak Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto di Biak, Jumat mengatakan kehadiran Skuadron pesawat CN-235 di Kabupaten Biak Numfor diharapkan dapat mendukung kelancaran angkutan udara untuk menunjang pelayanan roda perekonomian masyarakat di tanah Papua.
"Idealnya ada sekitar 12 pesawat CN-235 yang akan mendukung operasional Skuadron 27 Lanud Manuhua Biak, ya untuk tahap awal akan ada tiga atau empat pesawat beroperasi," ungkap Marsma TNI Fajar menanggapi pembentukan Skuadron 27 Biak.
Ia mengakui untuk tahapan pekerjaan fisik pembangunan fasilitas Skuadron 27 akan dimulai pada Senin pekan depan.
Marsma Fajar mengharapkan dukungan semua elemen masyarakat Biak Numfor sehingga pembangunan Skuadron 27 dapat selesai tepat waktu.
Sementara itu, Sekretaris Lembaga Adat Biak (LAB) Yan Rumbarar mengatakan akan mengawal proses pembangunan fasilitas Skuadron 27 di Lanud Mahuhua Biak.
"Saya harapkan pekerjaan pembangunan fisik Skuadron 27 memperhatikan pekerja lokal masyarakat Biak, ya ini bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat adat," ucap Yan Rumbarar.
Ia mengatakan secara kelembagaan dan masyarakat adat mendukung sepenuhnya pelaksanaan pembangunan Skuadron udara 27 Biak.
Pembangunan fasilitas hanggar Skuadron udara 27 di Lanud Manuhua Biak ditandai dengan pembacaan doa bersama dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, Ketua DPRD Zeth Sandy serta komandan satun TNI dna Polri. ( Muhsidin)

Pindad Jalin Kerja Sama dengan Waterbury di Bidang Amunisi

Amunisi Pindad
Amunisi Pindad 

PT Pindad (Persero) menjalin kerja sama strategis di bidang amunisi dengan Waterbury Farrel, salah satu Divisi dari Magnum Integrated Technologies Inc. Kerja sama tersebut, ditandai dengan penandatanganan MoU antara Direktur Utama Pindad, Abraham Mose dan President & CEO Waterbury Farrel, Andre Nazarian, Kamis (11/10) di Inaya Hotel, Nusa Dua, Bali.
Menurut Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose, bentuk investasi Pindad dalam ajang International Monetery Fund (IMF)-World Bank 2018, adalah dengan melakukan strategic partnership dengan Waterbury Farrel dengan nilai investasi 100 Juta Dolar AS untuk pembangunan pabrik amunisi kaliber kecil. Artinya kerja sama ini dengan skema Build Operate Transfer (BOT).
"Harapan kami di 2019 akhir nanti kita sudah mencapai penjualan 350 juta butir per tahun, yang sebenarnya masih di bawah kebutuhan TNI-Polri yang kurang lebih sekitar 500 juta butir per tahun," ujar Abraham dalam siaran persnya.
Kemampuan Pindad untuk memproduksi 350 juta amunisi per tahun bisa mempengaruhi pendapatan Pindad Rp 1,4 triliun per tahun. "Dan sudah melakukan subtitusi impor kurang lebih Rp 342 miliar per tahun," katanya.
Abraham menjelaskan, tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mengembangkan fasilitas lini produksi amunisi kaliber kecil yang berlokasi di Indonesia. Selain itu, kerja sama juga bertujuan membangun program bisnis sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 untuk memenuhi kebutuhan TNI dan membangun kemampuan dan kemandirian industri pertahanan di masa yang akan datang.
Perseroan berharap bisa memaksimalkan kemampuan serta meningkatkan operasional dan menjamin bahwa kerja sama ini dapat meningkatkan kemandirian Indonesia dalam memelihara kualitas produk dan proses kemampuan Amunisi. Tak hanya itu, melalu kerja sama ini perseroan bisa melakukan proses bisnis dan pengembangan industri secara bertahap dan progresif untuk membangun bisnis amunisi yang kompetitif secara internasional di Indonesia dan selanjutnya untuk masuk ke penjualan ekspor global.
Pelaksanaan dari kerja sama ini, kata dia, untuk membangun program akan berdasarkan pada kontribusi utama Pindad yang akan menyediakan wilayah manufaktur dan keahlian tenaga kerja. Waterbury nantinya akan menyediakan lini produksi amunisi, menjamin produk berkualitas tinggi dan harga bersaing untuk pasar Indonesia dan internasional.
"Kedua perusahaan akan menggabungkan kemampuan mereka dalam kerja sama ini serta bersama-sama mencari investor yang sesuai dengan kebutuhan Pindad dan Waterbury membangun program jangka panjang ini," katanya.
Waterbury, perusahaan yang berbasis di Kanada, merupakan penyedia amunisi lengkap dan pabrikan rolling mill. Perseroan memiiki keahlian dalam peralatan untuk membentuk logam, rolling dan produk-produk industri pertahanan. Perusahaan yang berdiri di Ontario ini memiliki lebih dari 160 tahun keahlian dan pengalaman di seluruh dunia. (Arie Lukihardianti)

PT DI Berencana Bangun Sebuah Pabrik di Tahun 2019

PT Dirgantara Indonesia
PT Dirgantara Indonesia 

Guna meningkatkan kapasitas produksi pesawat, PT Dirgantara Indonesia berencana untuk membangun sebuah pabrik di tahun 2019.
Keberadaan pabrik tersebut diestimasi akan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan sebanyak 6 unit pesawat per tahun. Selama ini, perusahaan rata-rata menghasilkan 10 unit pesawat setiap tahunnya.
"[Tahun] 2019, kalau sudah sertifikasi, segera kita bangun fasilitas manufaktur tersendiri," kata Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro, ketika ditemui para jurnalis di Paviliun Indonesia, di sela-sela pertemuan IMF-WB, hari Rabu (10/10).
Elfien berkata dibutuhkan pendanaan sekitar US$90 juta (Rp 1,4 triliun) sampai $100 juta untuk membangun pabrik tersebut. Nantinya, pabrik tersebut akan menghasilkan pesawat militer berjenis N219 yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo.
Saat ini, perusahaan sedang melakukan penjajakan terhadap beberapa institusi keuangan supaya mereka bisa membantu pembangunan pabrik dalam hal pendanaan.
Perusahaan juga terbuka dengan alternatif pendanaan lain seperti partisipasi ekuitas, Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), pembuatan anak perusahaan, maupun perusahaan patungan (joint venture).
Dirgantara Indonesia yang merupakan produsen pesawat satu-satunya milik Indonesia ini juga tidak menutup peluang kolaborasi secara internasional. Meski terbuka untuk bekerjasama dengan asing, Elfien berkata perusahaan akan tetap mempertahankan konten lokal dari segi komponen, desain dan produk.
"Boeing, Airbus, mana ada yang sendiri. Seluruh komponen [mereka] dari luar, kita [juga] kerja sama dari luar. Kalau industri pesawat terbang mau sendiri risiko [dan] modalnya terlalu besar. Kita harus bangun ekosistem dari dalam ataupun luar supaya bisa mandiri," jelasnya.

Sikorsky S-97 Raider, Helikopter Serang Intai Masa depan

Sikorsky S-97 Raider
Sikorsky S-97 Raider 

Prototipe helikopter taktis ringan Sikorsky S-97 Raider berhasil melampaui target yang ditetapkan saat pengujiannya digelar di Pusat Pengembangan Penerbangan Sikorsky pada Kamis (4/10) lalu. Tercatat, helikopter ini mampu melesat pada kecepatan 200 knot, dua kali lipat dari kecepatan helikopter konvensional.
Pencapaian tersebut tak lepas dari teknologi teruji yang diusung Sikorsky untuk S-97, X2 Technology.
“Program uji terbang Sikorsky S-97 Raider melebihi dari yang diharapkan, mendemonstrasikan kecepatan revolusioner Raider, kemampuan manuver dan kelincahan. X2 Technology mewakili seperangkat teknologi yang dibutuhkan untuk pertempuran masa depan, yang memungkinkan para penempur untuk terlibat dalam konflik berintensitas tinggi kapanpun, di manapun,” kata Tim Malia, Sikorsky Director, Future Vertical Lift Light.
Sikorsky dikabarkan sedang mempersiapkan proposal untuk mengikuti kompetisi pesawat serang intai masa depan (Future Attact Reconnaissance Aircraft/FARA) ke Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Sikorsky mendorong AD AS untuk merevolusi armada pesawat mereka sebagai bagian dari wacana yang mereka sebut dengan ‘Future Vertical Lift’.
Raider menggabungkan kemajuan teknologi terbaru dalam kontrol penerbangan fly-by-wIre, sistem manajemen kendaraan dan sistem integrasi. Perangkat X2 Technology memungkinkan pesawat dapat dioperasikan dengan kecepatan tinggi sambil mempertahankan kualitas penanganan kecepatan rendah dan kemampuan manuver rotor utama tunggal helikopter konvensional.
Sumber :  TSM

Thailand Berminat pada BTR-4MV1 Ukraina

BTR-4MV1
BTR-4MV1 

Thailand telah menunjukkan minatnya untuk membeli pengangkut personil lapis baja BTR-4MV1.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan Pertahanan Ukraina Oleksandr Turchynov, dalam rangka pameran Senjata dan Keamanan, membahas masalah kerja sama pertahanan dan keamanan dengan kepala delegasi dari Polandia, Kazakhstan, Arab Saudi, Republik Ceko, Turki, dan Thailand.
Negosiasi dengan Vice Admiral Sangkorn Pongsiri dari Korps Marinir Kerajaan Thailand mencakup isu-isu perluasan kerja sama militer-teknis bilateral.
Para perwira militer Thailand menyatakan minat mereka pada BTR-4MV1 Ukraina yang baru, yang menurut mereka, "bisa menjadi kendaraan tempur utama Korps Marinir Kerajaan Thailand". Menurut pejabat tinggi Thailand, peralatan militer dan senjata yang diperoleh dari Ukraina, khususnya tank dan pengangkut personel lapis baja, "berhasil melewati semua pengujian dan masuk dalam inventaris persenjataan Thailand".
BTR-4MV1, dikembangkan oleh spesialis dari UOP SE “Kharkiv Morozov Machine-Building Design Bureau” sesuai dengan standar NATO.
Berkat perubahan di bagian depan kendaraan lapis baja, serta solusi teknologinya, sesuai dengan tren persenjataan NATO terbaru, para spesialis berhasil mencapai tingkat perlindungan baru bagi BTR-4.
Ketika membuat BTR-4MV1, pengembang menggunakan pendekatan modular untuk membangun armor kendaraan tersebut dengan menggunakan spaced armor. Pendekatan modular seperti itu memungkinkan untuk dengan cepat mengganti elemen lapisan luar armor di lapangan.
Ini memungkinkan untuk meningkatkan perlindungan BTR-4MV1 secara signifikan melebihi APC model lama yangkini dioperasikan oleh Ukraina.
Solusi teknologi yang diadopsi oleh para spesialis Kharkiv Morozov Machine-Building Design Bureau memungkinkan penambahan berat BTR-4MV1 hanya menjadi 24-25 ton, yaitu 2-3 ton lebih berat dari BTR-4.
Penggerak roda 8×8 dengan mesin Deutz Jerman dan transmisi Alisson dari AS tetap tidak berubah, kecepatan tertinggi adalah 110 km/jam. Selain itu, BTR-4MV1 mempertahankan kemampuan untuk melintasi air dengan berenang dengan kecepatan hingga 10 km/jam. (Angga Saja - TSM)

Jepang Tawarkan Australia Bantuan untuk Bangun Kapal Selam Jika Negosiasi Kontrak Berlarut-Larut dengan Naval Group Perancis Tak Berhasil

Soryu Class
Soryu Class 

Menteri Luar Negeri Jepang mengatakan negaranya akan tetap siap untuk mengekspor kapal selamnya ke Australia jika negosiasi kontrak yang berlarut-larut antara Departemen Pertahanan Australia dan perusahaan Perancis, Naval Group, akhirnya tak berhasil.
Dalam wawancara dengan ABC sebelum berangkat ke Sydney, Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono, juga mengisyaratkan bahwa Jepang akan bersedia melakukan patroli maritim bersama dengan Australia di Laut China Selatan, dan menyampaikan harapan agar rotasi pasukan akan terjadi "sesegera mungkin".
Bulan lalu, ABC mengungkap frustrasi yang dirasakan Pemerintah Australia terhadap Naval Group atas proyek kapal selam di masa depan senilai $ 50 miliar (atau setara Rp 500 triliun), dan kekhawatiran bahwa perjanjian kemitraan strategis kunci tak mungkin ditandatangani sebelum akhir tahun.
Dalam satu-satunya wawancara yang dilakukan setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, dan Menteri Pertahanan Australia, Christopher Pyne, Kano mengatakan Tokyo akan bersedia untuk masuk jika Australia memutuskan untuk melihat pilihan lain sebagai pengganti armada Collins Class yang menua.
"Itu mungkin tetapi terserah kepada pemerintah Australia untuk memutuskannya," kata Kano.
Pada tahun 2016 Tokyo mengungkapkan kekecewaan yang mendalam setelah pemerintahan Turnbull memberi kontrak kapal selam yang menguntungkan bagi Perancis ketimbang tawaran Jepang dan Jerman yang bersaing.
Kano menekankan ia tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Jepang untuk mempersiapkan penawaran lain jika Australia kembali mendekati pemerintahnya.
"Ya, saya harus mengecek dengan Departemen Pertahanan dan industri terkait," katanya.
Minggu lalu Jepang merayakan peluncuran kapal selam kelas Soryu terbaru, Oryu, yang pertama dari armada yang akan didukung oleh baterai lithium-ion.
Menurut Euan Graham, seorang peneliti senior dari Lowy Institute, tawaran asli Jepang untuk membangun kapal selam masa depan Australia tak memenuhi standar teknis Departemen Pertahanan Australia, meskipun kapal selam kelas Soryu saat ini adalah kapal selam terbesar yang dioperasikan secara konvensional.
"Jika negosiasi dengan Perancis tak berhasil, Departemen Pertahanan menghadapi keputusan yang menakutkan tentang apakah akan kembali ke langkah awal, termasuk mungkin meninjau kembali opsi kapal selam bertenaga nuklir," kata Graham.
Patroli gabungan
Dalam pembicaraan tingkat tinggi pada hari Rabu (10/10/2018), Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Jepang serta Australia membahas opsi untuk kerjasama militer dan keamanan yang lebih dekat sebagai bagian dari strategi Tokyo dalam "Strategi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka".
Kano mengatakan hal yang mungkin bahwa Jepang akhirnya bisa melakukan patroli maritim bersama dengan Australia di perairan yang diperebutkan dari Laut China Selatan.
"Kekuatan Bela Diri maritim kami menimbulkan pelabuhan strategis di negara-negara ASEAN dan ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama," katanya.
"Laut China Selatan jelas merupakan wilayah yang sangat kontroversial, kami akan mempertimbangkan apa yang bisa kami lakukan bersama."
"Kami tidak melakukan pengawasan permanen saat ini, tetapi kami bisa memikirkan banyak hal yang bisa kami lakukan bersama di banyak tempat."
Menteri Luar Negeri Jepang juga menegaskan bahwa perjanjian "Status of Forces" dengan Australia hampir selesai.
Kesepakatan itu akan memungkinkan personel militer untuk melakukan perjalanan ke kedua negara untuk melakukan latihan bersama.
"Perjanjian ini sangat penting untuk kerja sama kami. Kami telah membuat kemajuan yang signifikan, hanya ada beberapa masalah yang tersisa untuk diselesaikan, jadi kami berharap pada akhir tahun ini kita pada dasarnya bisa mendapatkan kesepakatan," katanya.
Sumber : TSM

Menhan James Mattis Serukan Empat Pesawat Utama Militer AS Harus 80 Persen Siap Tempur

F-35
F-35 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Norman "Mad Dog" Mattis telah meminta Pentagon agar 80 persen pesawat jet utamanya dalam kondisi siap tempur.
Dilansir dari Russia Today, 10 Oktober 2018, James Mattis telah memerintahkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk meningkatkan tingkat kemampuan misi mereka untuk empat pesawat utama menjadi 80 persen selama dua belas bulan ke depan. Memo yang dirilis pertengahan September dilaporkan secara eksklusif oleh situs militer Defense News.
Pesawat-pesawat utama yang dimaksud, yakni F-35, F-22, F-16 dan F/A-18, yang saat ini berada dalam kondisi kurang siap tempur. Tahun lalu, kurang dari separuh F-22 Angkatan Udara memiliki kemampuan misi, dan F-35 yang terkenal mahal mengalami kecelakaan pertama bulan lalu, hanya beberapa hari setelah armada mengangkasa untuk pertama kalinya.
Kantor Akuntabilitas Pemerintah sudah memperingatkan masalah ini pada 2016, ketika merilis laporan tentang kesiapan terbang 12 pesawat Angkatan Laut dan Angkatan Udara pada 2011. Pengawas menemukan bahwa kemampuan terbang setengah pesawat menurun selama periode tersebut, sementara sembilan dari 12 pesawat tidak memenuhi target pada 2016.
Menurut angka-angka yang dirilis Angkatan Udara setiap tahun, di seberang armada, kemampuan misi rata-rata menurun 0,8 persen dari 2016 hingga 2017, bahkan penurunan kecil ini menutupi penurunan dramatis yang terjadi pada F-22, yang kehilangan kemampuan misi 11,17 persen hanya dalam satu tahun. Dari 2013 hingga 2017, kecelakaan penerbangan meningkat 39 persen, menurut analisis oleh Times Militer.
"Keterbatasan anggaran dan kekurangan dalam skuadron penerbangan menyebabkan kinerja yang kurang optimal, kelebihan kapasitas dan kapasitas yang tidak terealisasi dalam armada," aku Mattis.
James Mattis sebelumnya telah menyalahkan kurangnya kesiapan tempur militer di Kongres, meskipun AS menghabiskan lebih banyak anggaran untuk militernya daripada gabungan anggaran tujuh negara.
Mattis telah menyerukan untuk mengurangi biaya operasi dan pemeliharaan armada selama tahun mendatang. Ini adalah sasaran yang logis, karena lebih banyak pesawat berkemampuan misi berarti lebih sedikit pesawat yang diperlukan dan lebih sedikit pesawat yang harus dibeli.
Sementara itu, mengesampingkan seruan James Mattis, Pentagon masih berencana untuk meluncurkan F-35 sebagai pesawat tempur utama untuk semua cabang militer Amerika Serikat, yang membebani pembayar pajak sebesar US$ 350 miliar atau Rp 5.300 triliun.
Sumber : TSM

Palestina Bantu Rekonstruksi Pasca Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah

Palestinian International Coorperation Agency (PICA)
Palestinian International Coorperation Agency (PICA) 

Direktur Palestinian International Coorperation Agency (PICA), Imad al-Zuhair menyatakan, pihaknya akan turut membantu dalam proses rekosntruksi pasca gempa di Sulawesi Tengah.
Berbicara saat menggelar jumpa pers di kantor Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Imad menyatakan, PICA akan mengirimkan 24 anggota untuk membantu rekonstruksi di Palu dan Dongala.
"Kami siap untuk membantu membangun kembali Sulawesi Tengah. Rencananya, kami akan mengirimkan sekitar 24 orang, yang masing-masing dengan keahliannya untuk membangun kembali Sulawesi Tengah," ucap Imad.
"Tim yang akan kami kirimkan merupakan tim profesional di bidangnya. Kami tahu bagaimana membangun kembali dengan didukung sejumlah ahli," sambungnya pada Kamis (11/10).
Sebelumnya, PICA juga telah mengirimkan bantuan darurat ke Sulawesi Tengah. Imad mengatakan, pemberian bantuan ini adalah arahan dari Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Dia mengatakan, pada awalnya PICA ingin langsung bertolak ke Palu dan menyampaikan bantuan itu secara langsung. Namun, karena situasi tidak memungkinkan, PICA akhirnya menyerahkan bantuan itu kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian akan disalurkan ke daerah terdampak gempa.
"Nantinya, setelah kondisi sudah kondusif barulah kami akan berangkat ke Palu untuk membantu proses pembangunan kembali," ucapnya dan menambahkan bantuan yang diberikan berupa makanan, minuman, obat-obatan, air, genset, tenda hingga keperluan bayi. (Victor Maulana)

Kunjungan Kedua Delegasi Militer Indonesia, Peluang Akuisisi Frigat Iver Huitfeldt Class Kian Terbuka

 Frigat Iver Huitfeldt Class
 Frigat Iver Huitfeldt Class  

Dikunjungi sampai dua kali oleh pejabat pertahanan, tentu membuat sosok kapal perang andalan Denmark ini menjadi topik perhatian di kalangan pemerhati alutsista di Indonesia. Ya, kapal perang yang dimaksud adalah frigat Iver Huitfeldt Class, frigat ‘kelas berat’ dengan bobot mencapai 6.645 ton ini digadang sebagai kandidat pengganti frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) yang akan purna tugas pada tahun 2024.
Setelah pada 7 Maret 2016 lalu sempat dikunjungi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di fasilitas pangkalan AL Denmark. Menhan saat itu melihat frigat Peter Willemoes, kapal kedua dari tiga unit Iver Huitfeldt Class yang telah beroperasi. Maka kabar terbaru yang dikutip dari Twitter KBRI Kopenhagen, menyebutkan pada 8 Oktober 2018 telah dilakukan kunjungan delegasi dari TNI AL, Kementerian Pertahanan RI dan Duta Besar Indonesia untuk Denmark, Muhammad Ibnu Said ke Pangkalan AL Korsør untuk melihat langsung frigat Iver Huitfeldt Class.
Sebagai mitra diskusi adalah DALO (Danish Acquisition Logistic Acquisition) dan prinsipal kapal perang Odense Maritime Technology. Namun belum diketahui jelas, apa hasil dari pertemuan tersebut. Selama ini berita pengadaan Iver Huitfeldt Class sudah berhembus di dalam negeri, meski belum dapat dikonfirmasi malah disebut keinginan Indonesia untuk bisa mengakuisisi dua unit Iver Huitfeldt Class, yang akan dibangun di galangan PT PAL, Surabaya.
Tentu Iver Huitfeldt Class tak melenggang sendiri untuk menggantikan singgasana Van Speijk Class, pasalnya ada dua nama besar lain yang jadi kompetitor, yaitu De Zeven Provincien Class dan Bergamini Class FREMM. Yang disebut pertama adalah lawan terberat Iver Huitfeldt Class, pasalnya frigat buatan Belanda dipandang lebih punya sejarah penggunaan oleh TNI AL, maklum pembuatnya adalah Royal Schelde, yang memproduksi korvet SIGMA Diponegoro Class.
Dalam pertemuan penulis bersama Casper Klynge, Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia (10/8/2016), disebutkan bahwa Denmark sangat serius untuk menawarkan frigat ini ke Indonesia. “Kami menawarkan frigat Iver Huitfeldt Class dalam fleksibilitas terkait perlengkapan senjata dan sensor yang dibutuhkan Indonesia. Kami juga menawarkan untuk pembangunan kapal perang ini di fasilitas galangan Indonesia, dan ini akan menjadi peluang positif bagi industri di dalam negeri, dan tentunya skema ToT (Transfer of Technology),” ujar Casper Klynge kepada penulis.
Odense Maritime Technology selaku principal Iver Huitfeldt Class memberikan beberapa opsi bila nantinya frigat ini diakuisisi oleh TNI AL. Yang pertama adalah solusi ‘plug and play,’ dimana persenjataan dan sensor dibangun melalu modul-modul. Tentunya muatan disini dapat disesuaikan dengan keperluan misi. Masa pakai yang berbeda dari komponen-komponen dapat diatasi secara individual sistem per sistem. Pola ini dipercaya dapat menghilangkan periode “off hire” yang panjang, dan secara praktis mampu meningkatkan usia pemakaian kapal. Dalam hal perawatan, muatan dan platform dapat dirawat secara independen, ini bisa memperdendek periode proses perawatan dan memperpanjang jam operasional.
Opsi kedua terkait ToT, Odense Maritime Technology selaku perancang menawarkan kerjasama yang erat dengan pihak galangan kapal dan TNI AL sebagai user. Dimana semua pihak bekerja dengan mengacu pada database yang sama, sehingga memaksimalkan proses ToT dari mulai tahap perancangan hingga tahap perakitan kapal di Indonesia.
Kemudian yang terakhir adalah muatan konten lokal, dimana sebagian pembangunan dan perakitan dapat dilakukan oleh galangan kapal Indonesia. Odense Maritime Technology menawarkan keterlibatan perancang kapal lokal dalam tahap rancangan dan rekayasa, serta prinsipal akan membantu galangan kapal lokal selama fase konstruksi di Indonesia. (Haryo Adjie)

Lockheed Martin Tawarkan Untuk Produksi Lebih Dari 400 Pesawat F-16 di India

Pesawat F-16
Pesawat F-16 

Lockheed Martin telah menawarkan untuk melakukan produksi di fasilitas India, lebih dari 400 pesawat tempur F-16 Blok 70 baru dan melakukan upgrade sekitar 400 pesawat untuk pelanggan internasionalnya.
Namun, pendirian pabrik manufaktur itu akan tergantung pada apakah Lockheed Martin akan mendapatkan kontrak Kementerian Pertahanan India untuk memproduksi lebih dari 100 pesawat tempur untuk Angkatan Udara India. Lockheed Martin dan Tata Advanced Systems Limited (TASL) mengumumkan pada tahun lalu bahwa kedua perusahaan berniat untuk bekerjasama untuk memproduksi pesawat tempur F-16 Blok 70 di India jika pesawat itu dipilih oleh Angkatan Udara India.
Mengenai mentransfer teknologi penting yang berkaitan dengan radar, sistem persenjataan dan komunikasi, dia mengatakan sebagian besar teknologi ini adalah dengan vendor yang memasok komponen tersebut ke Lockheed Martin dan setelah pembicaraan berjalan, pemerintah AS dan India akan mengatasi masalah ini.
Teknologi baru utama dalam F-16V meliputi radar AESA APG-83, yang juga dikenal sebagai Scaleable Agile Beam Radar (SABR). F-16V juga dilengkapi dengan Multifunctional Information Distribution System Joint Tactical Radio Systems (MIDS-JTRS) Link-16.
Lockheed Martin akan bergerak maju dengan mengidentifikasi vendor yang akan memasok ke perusahaan patungan yang akan dibentuk tersebut. Sekitar 70 vendor telah diidentifikasi, sejauh ini, kata Randall Howard, F-16 Business Development Lockheed Martin pada konferensi pemasok yang diadakan di Bangalore, India, Selasa (09/10).
"Pabrik India yang akan dibangun tersebut akan memasok sistem lingkungan F-16 global dari waktu ke waktu sampai fasilitas tersebut matang dari membuat bagian pesawat hingga memproduksi seluruh sub-sistem dan komponen penting," kata Howard pada November tahun lalu.
"Lockheed Martin memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam hal bekerjasama dengan mitra internasional melalui kurva manufaktur dan akan melakukan hal yang sama dengan mitra India-nya."
Lockheed Martin sudah mengantongi penjualan, upgrade dan prospek pemeliharaan F-16 senilai $ 10 miliar untuk Bahrain, Slovakia, dan Yunani.
Bahrain melakukan pesanan senilai $ 1,1 miliar untuk versi baru F-16V Block 70 yang kemudian dapat berkembang nilainya hingga $ 3,3 miliar. Yunani kemungkinan akan mengupgrade armada 80 pesawat F-16-nya ke versi yang lebih baru dan Slovakia telah memilih F-16V mengalahkan Saab Gripen dengan estimasi nilai $ 1,8 miliar untuk 14 pesawat. (Angga Saja - TSM)

Radar Acak