Story : Peran Penerbad di Operasi Pembebasan Sandera Mapnduma Papua Ternyata Sangat Besar

Operasi Pembebasan Sandera Mapnduma Papua
Ilustrasi Operasi Pembebasan Sandera Mapnduma Papua

8 Januari 1996, Kodim Jayawijaya, Irian Jaya, menerima laporan dari Mission Aviation Fellowship cabang Wamena, bahwa sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz ’95 disandera kelompok OPM Kelly Kwalik di desa Mapnduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Ekspedisi ini sendiri sudah berada di Mapnduma yang berjarak sekitar 160 km di barat daya Wamena, sejak 18 November 1995.
Beberapa hari kemudian disampaikan bahwa jumlah sandera 26 orang termasuk seorang bayi berusia sekitar enam bulan. Tujuh sandera adalah warga negara asing (empat Inggris, dua Belanda, dan satu Jerman). Dalam perkembangannya kemudian, kelompok penyandera diduga membawa sandera ke arah Wamena.
Menyikapi kondisi ini, Mabes ABRI segera mengambil langkah-langkah penanggulangan. Sekitar bulan Maret, dua Bell-412 serta satu heli serang BO-105 diberangkatkan dari Semarang ke Wamena dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules. Para penerbangnya di antaranya Mayor CPN Pujono, Mayor CPN Nyoman, Kapten CPN Joko Tamtomo, dan Lettu CPN Heru Subarmanto.
Bersamaan dengan pengiriman kedua heli ini, Penerbad juga mengirim kru pengganti heli Bell-205 yang sedang penugasan di Dili, Timtim dengan penerbang Lettu CPN Eko Priyanto dan kopilot Lettu CPN Slamet Riyadi. Tugasnya memperkuat Satgas Rajawali.
Kedatangan kedua heli di Wamena memang segera disambut perintah operasi. Setidaknya kedua heli dua kali melaksanakan serbuan dari Kodim Wamena ke Mapnduma. Serbuan ini memang tidak berhasil, karena lokasi yang didatangi didapati sudah ditinggal pergi oleh OPM.
Rupanya situasi di Irian terus memanas. Berbagai upaya damai yang diupayakan Pemerintah Indonesia tidak ditanggapi balik oleh Kwalik. Namun hasilnya tetap nihil, karena sampai bulan Maret, kelompok penyandera bergeming tidak akan melepaskan sandera sebelum mendapat pengakuan pemerintah RI terhadap keberadaan negara Republik Papua Barat.
Berpacu dengan waktu, Danjen Kopassus Brigjen TNI Prabowo Subianto sepertinya sudah tidak sabar. Cara-cara kuno negosiasi dengan maksud mengulur-ulur waktu supaya mendapat perhatian lebih luas lagi, sangatlah menjemukan bagi pasukan ABRI yang sudah disiagakan.
Saat itu seperti banyak kemudian dikutip media massa, Prabowo banyak mengambil inisiatif operasi dengan melakukan berbagai upaya pembebasan. Apalagi sebelumnya sudah diketahui bahwa para sandera yang berasal dari Inggris, Jerman, dan Belanda, sudah berkirim surat ke negaranya masing-masing melalui misionaris Frank Momberg. Ada reputasi dan harga diri bangsa yang juga harus diselamatkan, selain tentu para sandera. Jangan sampai surat dari para sandera itu menjadi semacam “undangan” kepada negara yang warganya disandera untuk mengirimkan assault team. Laporan terakhir menyatakan bahwa kelompok Kwalik tengah menggiring para sandera ke arah Geselama.
Karena situasi yang semakin tak menentu inilah, dua Bell-412 yang berada di Wamena diperintahkan untuk menggeser posisi ke Timika. Begitu juga kru Bell-205 yang baru seminggu bertugas di Dili, juga diperintahkan segera ke Timika untuk memperkuat. Sebuah Hercules dikirim khusus untuk memindahkan heli ini beserta seluruh krunya. “Hercules itu hanya diisi sebuah heli, kami para kru dan sejumlah personel Satgas Rajawali untuk memperkuat operasi di Papua, umumnya dari 328 (Batalion Infanteri Linud 328 Kostrad),” ujar Eko. “Itu benar-benar penerbangan khusus,” kenangnya.
Hampir bersamaan dengan itu, dari Semarang dikirim heli tambahan ke Timika, juga diterbangkan dengan Hercules. Saat itu, ingat Eko, Hercules menjadi tulang punggung utama dengan melakukan operasi jembatan udara secara besar-besaran. Menggeser personel beserta alat peralatan dari berbagai tempat ke Irian.
Satu hal yang dicatat Letkol CPN Eko Priyanto, perwira penerbang Puspenerbad, dari proses pergeserannya dari Baucau ke Timika adalah, prestasi Penerbad karena berhasil merakit dan menerbangkan tiga heli sekaligus dalam satu hari. Di Bandara Timika mereka memanfaatkan fasilitas milik Airfast, sehingga secara tidak langsung Penerbad banyak terbantu. Karena mendapat bantuan dari para teknisi Airfast, bahkan beberapa heli Bell-205 performanya menjadi lebih bagus.
“Mereka melakukan tracking sehingga 205 yang biasanya speed hanya sampai 100 knot, waktu itu bisa 110. Dalam waktu empat hari, sembilan heli sudah serviceable,” kata Eko.
Hingga saat itu sudah terkumpul empat Bell-412, lima Bell-205, satu BO-105, dan satu lagi Bell-412 milik Airfast sebagai back up. Sekitar satu bulan kemudian Satgas mendapat perkuatan satu unit heli SA-330 Puma milik TNI AU. Boleh dikata sejak kedatangan seluruh helikopter di Timika, bandara yang menjadi basis operasi Airfast ini dijadikan posko utama Satgas.
Semua heli dan pasukan yang umumnya dari Kopassus sudah berkumpul di sini. Pada suatu hari Prabowo memberikan taklimat bahwa seluruh pasukan harus bersiap melaksanakan operasi pembebasan sandera jika dibutuhkan. Disampaikan juga bahwa kelompok OPM ini membekali dirinya dengan senapan dan sebagian besar menggunakan panah dan senjata tajam lainnya.
Sementara itu memang upaya persuasif tengah dilakukan yang tidak hanya melibatkan ABRI, tapi juga Palang Merah Internasional (ICRC), PBB, Paus Johanes Paulus II, dan Presiden Parlemen Uni Eropa. Dalam proses negosiasi yang alot itu pula, penyandera akhirnya bersedia melepaskan beberapa sandera, khususnya seorang ibu dan bayinya. Sehingga tersisa 11 sandera yang terus dipertahankan hingga detik terakhir.
Insiden Timika
Sambil menunggu negosiasi yang menjemukan itu, Satgas Pembebasan Sandera memulai langkah persiapan dengan melaksanakan sejumlah latihan. Latihan dilakukan mulai dari tingkat perorangan, kelompok hingga gabungan. Baik oleh pasukan penyerbu dari Kopassus dengan kekuatan inti dari Den-81, maupun detasemen Penerbad. Termasuk satu heli serang BO-105 yang diterbangkan Lettu CPN Wahyu Jatmiko, yang pada bulan April sudah naik pangkat menjadi kapten. Namun karena di Timika tidak ada yang menjual pangkat ABRI, selama itu Wahyu akhirnya tetap menggunakan pangkat lettunya. BO-105 melaksanakan latihan penembakan roket secara terpisah di tempat khusus.
Medan berat yang menanti sangat disadari oleh segenap pelaku. Semua tahu bahwa Irian Jaya adalah medan yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Tidak hanya oleh pasukan darat tapi juga oleh para “Prajurit Terbang” Penerbad. Karena itu latihan menjadi satu-satunya cara untuk membiasakan diri dengan medan berat ini. Karena baiknya dukungan logistik selama masa persiapan di Timika, moril seluruh pasukan tetap terjaga.
Selama persiapan di Timika, latihan dilaksanakan setiap hari. Setelah dilaksanakan secara parsial, dimulailah latihan bersama antara Penerbad dan Kopassus. Secara kebetulan, hampir seluruh tim yang terlibat baik dari Penerbad maupun Kopassus adalah personel yang sama saat melaksanakan demo pembebasan sandera di Halim beberapa bulan sebelumnya. Sebagai komandan detasemen Penerbad adalah Kapten CPN Catur Puji Santoso. Sehingga begitu saling bertemu di lapangan, chemistry di antara mereka langsung tersambung antara satu dengan yang lain. Latihan yang dilaksanakan di antaranya fastrope dan rappelling dari heli.
Beberapa insiden mewarnai suasana latihan. Beberapa personel mengalami cedera karena jatuh saat fastrope dari heli. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, diduga bahwa beban terlalu berat yang dibawa personel saat latihan menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Awalnya prajurit Kopassus yang melaksanakan latihan sudah dengan full gears seperti senjata perorangan, ransel berat, dan rompi antipeluru. Demi alasan keamanan, sebagian dilepas selama pelaksanaan latihan sehingga tidak ada lagi kecelakaan.
Medan latihan dibuat dalam beberapa skenario. Mulai dari medan berumput, lapangan terbuka, sungai-sungai, hutan belukar hingga di ketinggian. Sebuah pelajaran lagi diperoleh dari latihan di medan berhutan ini. Salah satu heli mengalami insiden karena tali rappelling yang mereka bawa melilit di sebuah pohon. Kemudian dibuat protap bahwa jika ada kejadian seperti itu lagi, maka disepakati untuk pasukan yang talinya terlilit harus memberikan aba-aba kepada kru di atas heli agar memotong tali. Waktu briefing simpel, namun saat dilaksanakan dan terjadi, ternyata sangat berbahaya. Begitu tali di potong dari heli, prajurit Kopassus yang tergantung langsung jatuh. Peristiwa ini sempat menimbulkan trauma kepada kru Penerbad yang bertugas memotong tali karena merasa bersalah.
Selain berlatih, segenap pelaku juga tak lupa melaksanakan doa selamat.
Meski telah berlatih dengan keras dan mendapat masukan dari para penerbang yang biasa beroperasi di Irian, toh tetap saja masih banyak “ruang misteri” di belantara Irian. Tidak mau mengambil risiko, Prabowo pun meminta bantuan geolog asal Bandung yang juga dikenal di kalangan penempuh rimba, yaitu Tedy Sutadi Kardin. Dedengkot Wanadri ini dijadikan analis khusus untuk memberikan gambaran kondisi medan dan membuatkan semacam peta operasi. Walaupun Penerbad sudah memiliki alat navigasi berbasis satelit GPS, namun karena masih dinilai “barang aneh”, penggunaannya belum maksimal. Umumnya penerbang belum terbiasa mengoperasikannya sehingga harus belajar terlebih dahulu.
Pada bulan April di saat Satgas Pembebasan Sandera tengah memantapkan koordinasi lewat latihan, di sebuah tempat lain di Irian Jaya yaitu perbukitan di wilayah Alama, 45 menit penerbangan menggunakan heli dari Timika, sebuah Pos TNI AD dari Yonif 753 mendapat serangan dari orang tidak dikenal. Dua personel ditembak hingga gugur, dan senjatanya dirampas. Laporan ini sampai ke Timika, disusul turunnya perintah operasi.
Sebuah Bell-412 yang diterbangkan Kapten Catur dan Lettu Ginting, diberangkatkan ke lokasi. Sejak lepas landas dari Timika, kedua penerbang ini sudah ekstra hati-hati karena dilaporkan bahwa senjata kedua personel tersebut dirampas. Mereka hanya diperintahkan untuk mengevakuasi korban, sehingga tidak membawa pasukan.
Betul saja. Mendekati daerah kejadian, heli mendapat tembakan dari bawah sehingga menimbulkan kerusakan di beberapa bagian termasuk tangki bahan bakar. Tentu saja kondisi ini langsung mempengaruhi performa heli. Kapten Catur langsung memutuskan mencari lapangan terbang terdekat, hingga akhirnya mendarat darurat di Alama.
Laporan pendaratan darurat heli ini yang diterima posko di Timika segera menimbulkan kegelisahan. Pasalnya heli ini tidak membawa pasukan bersenjata, sehingga sangat rentan jika mendapat serangan. Karena itulah, dari Timika segera diberangkatkan empat heli yang membawa Satgas Rajawali. Jenazah berhasil diselamatkan, namun karena hari sudah sore, maka diputuskan evakuasi dilaksanakan esok paginya dengan tujuan Timika. Misi tambahan ini seperti ajang pemanasan bagi Penerbad dan pasukan yang akan melakukan pembebasan sandera.
Pemulangan jenazah prajurit Yonif 753 akan dilaksanakan dari Bandara Timika. Kesibukan sudah mulai terlihat sejak subuh itu, 15 April 1996. Di antara petugas yang mengurus pemulangan jenazah ini adalah Letda Inf Sanurip, seorang perwira Kopassus dari Grup 1. Dikisahkan pada saat itu Sanurip tengah membicarakan sesuatu dengan Letkol Inf Adel Gustinigo, Komandan Den-81. Entah apa yang terjadi, tak lama kemudian terdengar suara tembakan berkali-kali dari senapan laras panjang. Semua yang bergerak mendapat tembakan, termasuk seorang bule yang ingin melihat kejadian itu. Si penembak kemudian diketahui adalah Letnan Sanurip. Setelah semua reda, mereka menemukan Letkol Adel terkapar dengan kepala bersimbah darah.
Dari penelusuran di sejumlah situs web, diketahui Letda Sanurip menembak mati 16 orang, termasuk di antaranya tiga perwira Kopassus, delapan pasukan Kostrad dan lima warga sipil, salah satunya pilot Airfast Michael Findlay dari Selandia Baru, dan melukai 11 lainnya. Prajurit yang berada di sekitar lokasi kejadian berusaha menghentikan aksi Sanurip dengan menembak kakinya lalu melumpuhkannya. Banyak versi yang mengatakan kenapa Sanurip kalap. Di antaranya karena malaria, stres, dan masalah pribadi. Tanggal 23 April 1997, Letda Sanurip dihukum mati.
Situasi memang berubah chaos dan mengguncang emosi seluruh pasukan yang terlibat. Padahal operasi belum dilaksanakan, mereka sudah harus kehilangan sejumlah sejawat karena kondisi mental dari salah seorang anggota yang tidak stabil. The show must go on. Itulah dinamikanya.
Hantam Geselama
Memasuki bulan ketiga penyanderaan, keadaan memang menjadi semakin genting. Ada unsur ketidaksabaran, namun masih ada harapan untuk menyelesaikannya tanpa sebutir pun peluru. Harapan itu terus dipegang segenap pimpinan ABRI dan Pemerntahan, demi menjaga nama baik Bangsa di mata dunia internasional. Namun di sisi lain, tindakan konyol para penyandera ini tetap harus diberi ganjaran karena telah menentang keberadaan Negara Republik Indonesia. Sementara waktu berjalan, latihan terus dilaksanakan dengan sudah menerapkan taktik dan strategi yang akan digunakan pada Jam “J”. Perlengkapan pun begitu, seperti yang nanti akan digunakan saat raid.
Laporan terakhir yang diterima posko Satgas, kelompok penyandera telah membawa sandera ke arah Desa Mapnduma di Kecamatan Tiom, Jayawijaya. Guna mendekatkan Satgas ke posisi sandera di Mapnduma, Satgas pun memutuskan untuk menggeser posko ke daerah terdekat yaitu Kenyam, sebuah kampung kecil di pinggir hutan, 15 menit naik helikopter dari Mapnduma dan 1 jam 5 menit dari Timika.
Kampung kedua adalah Akimuga, yang masih bertetangga dengan Timika. Di kedua DP (daerah persiapan) ini Satgas menempatkan heli dan pasukan, serta mulai mendorong logistik utamanya BBM untuk keperluan refueling. Sampai sebuah laporan memastikan bahwa sandera telah dipindahkan ke Geselama, yang masih di wilayah Tiom. Geselama adalah sebuah daerah pengunungan yang bersebelahan dengan Mapnduma.
Penantian pun dimulai di Kenyam, yang hanya 20 menitan ke Geselama. Di sini tidak ada lagi latihan seperti yang dilakukan di Timika. Masing-masing elemen Satgas bersiap di tempat masing-masing dengan status scramble.
Memasuki pekan kedua Mei 1996, ICRC angkat tangan dari kegiatan mediasi antara Satgas dan kelompok OPM. Sementara di Jakarta, ABRI menyatakan bahwa setelah empat bulan ditempuh upaya persuasif tidak membawa hasil, pihak ABRI telah memutuskan untuk membebaskan sandera dengan operasi militer.
Suatu siang di bawah rindangnya pohon di Kenyam, Brigjen Prabowo memimpin briefing bersama beberapa perwira dan komandan regu. Layaknya sebuah briefing operasi, Prabowo membeberkan situasi terkini berdasarkan data intelijen yang berhasil dikumpulkan. Prabowo juga menekankan tindakan yang akan diambil terhadap kelompok pembangkang ini. Saat itu disampaikan bahwa posisi penyandera berada di sebuah tebing dengan tempat persembunyian berupa tenda-tenda darurat. Target ini akan menjadi sasaran heli serang.
Sejenak kemudian, Prabowo terlihat menelepon seseorang, sepertinya petinggi ABRI di Jakarta atau mungkin Panglima ABRI. “Siap,….. siap, nanti kami akan menelepon Bapak.” Kira-kira begitu sedikit kutipan pembicaraan Prabowo melalui telepon. Entah siapa yang dimaksud. Kemudian Prabowo menelepon lagi, dan sepertinya menerima restu untuk melaksanakan operasi militer.
Pagi itu 9 Mei 1996, tim negosiator ICRC yang meminta izin Prabowo untuk kembali menemui kelompok Kwalik di Geselama, akhirnya kembali selepas siang dengan tangan hampa. Mereka pun menyerahkan sepenuhnya ke ABRI untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu.
Maka siang itu, lampu merah pun menyala di Kenyam. Perintah operasi turun dan pasukan penyerang segera bersiap, merapat ke heli masing-masing sesuai pembagian kelompok. Delapan heli gabungan Bell-205 dan Bell-412 lepas landas dengan dikawal satu heli serang BO-105 yang dilengkapi roket FFAR (Fin Folding Aerial Rocket) kaliber 2,75 inci . Satu heli lagi berlakon sebagai heli komando, yaitu Bell-412 yang diterbangkan oleh Kapten CPN Aris Supangkat. Setiap heli serbu membawa 10 pasukan bersenjata. Beberapa personel terlihat membawa granat kejut (flashbang). Untuk kepentingan taktis, BO-105 berada di posisi tengah namun lebih tinggi supaya bisa mengamati posisi di depan.
Heli serang ini diterbangkan oleh Lettu CPN Wahyu Djatmiko dengan Kapten CPN Agus Siswanto. Meski Agus sudah kapten namun karena baru konversi dari heli Allouette, pilot in command diserahkan kepada Wahyu yang memang sudah terlatih menembak dari BO-105.
“PiC di tangan saya karena beliau baru konversi dari Alloutte jadi tidak yakin bisa nembak. Jadi arm on yang klik itu saya,” ujar Letkol Wahyu Djatmiko yang saat ditemui pada tahun 2013 menjabat Komandan Skadron 31 Penerbad di Semarang.
Eselon pertama delapan heli terbang dalam formasi trail dengan teknik Mobud (mobile udara) dan dikawal gunship BO-105. Mereka terbang cukup rendah sambil menyusuri lembah dan anak sungai. Tujuan mereka adalah Geselama. Penerbangan terasa begitu sunyi karena memang diperintahkan untuk silent. Ketenangan itu di sisi lain terasa bagaikan penantian di pintu Illahi yang kudus. Wajah para pilot beserta kru dan pasukan penyerang terlihat menegang, meski berusaha untuk rileks.
Sesuai skenario yang diujikan dalam latihan, heli serang akan melambung ke kiri sambil menambah ketinggian sesaat sebelum mencapai sasaran. Dengan manuver tinggi untuk mengambil posisi, Lettu Wahyu menukikkan hidung helinya searah dengan sebuah tebing. Wussss… wussss… dua roket melesat menggempur tebing.
“Saya tidak sembarangan nembak, sudah ditentukan titiknya. Sudah ada GPS namun belum seperti sekarang sehingga kami pakai peta dan hitung sendiri,” beber Letkol Wahyu. Menurut Wahyu, ia melakukan rocketing dalam tiga run. Penembakkan tebing ini dilakukan sebenarnya bukan bermaksud untuk membunuh para penyandera, tapi menutup jalur pelarian yang mungkin mereka lakukan. Tembakan ini diharapkan akan mengagetkan dan membuat mereka tidak berusaha lari.
“Roket saya tembakin sampai habis sebanyak 24 dalam 3 run. Sekali tembak dua roket. Terus muter lagi. Ketinggian diatur di 500 kaki. Bell di bawah, saya di atasnya, di atas saya heli Kodal, di atasnya lagi heli cadangan. Usai nembak saya muter dulu, begitu mulai ada yang kembali (ke Kenyam) baru saya ikut formasi lagi,” tutur Wahyu.
Seperti sudah dilatihkan berulang-ulang, sedetik setelah penembakan, formasi delapan heli serbu segera mendaratkan pasukan penyerang dari Kopassus. Tidak mudah mendaratkan seluruh pasukan karena banyaknya heli yang harus mengambil posisi. Apalagi medan yang akan didarati berkontur miring, sehingga akan makin menyulitkan bagi heli yang berada di urutan belakang. Beberapa kali terdengar ledakan keras dari flashbang, yang menurut Eko, cukup mengagetkan karena memang belum pernah mendengar sebelumnya sehingga tidak menyangka suaranya yang cukup keras.
Di sinilah petaka itu bermula. Heli keenam yang berada persis di sebelah kanan Lettu Eko, kesulitan menjaga posisinya. Heli ini terjebak di kemiringan sehingga sepertinya terkena turbulensi yang membuat pilot kesulitan mengendalikan heli. Mungkin saja pada saat approach, rate of descend heli ini terlalu tinggi dan kondisi tail wind, sehingga heli masuk ke dalam turbulensi yang disebabkan oleh putaran main rotor blade. Heli naas yang diterbangkan Lettu CPN Agus Riyanto dan Lettu CPN Tukiman itu pun semakin turun dan terus turun sampai akhirnya terjerembab ke bawah. Ekornya menghantam pohon dan terbalik. Namun karena misi belum selesai, kecelakaan ini tidak menghentikan jalannya operasi.
Eko yang berada persis di samping heli naas itu, sempat melihat heli rekannya jatuh dan kemudian terbakar. Situasi emerjensi ini membuatnya membatalkan pendaratan. Heli Tango 5 dibawanya kembali terbang, kemudian berputar untuk melihat crash site dan baru masuk ke titik pendaratan. Sekali lagi situasinya tidak memungkinkannya untuk mendaratkan heli atau menurunkan pasukan dengan tali. Sehingga pasukan harus dipaksa melompat dari heli. Cukup tinggi, seingat Eko, untung saja tidak ada yang cedera.
Selepas itu kesemua heli kembali ke Kenyam untuk mengambil pasukan sorti kedua. Saat itu mereka sempat melihat heli Airfast berputar-putar di atas lokasi jatuhnya Tango 6. “Helinya kebakar habis, mas,” ujar sang pilot melaporkan pantauan visualnya. Tangan pun serasa tak kuat lagi mengangkat collective pitch dan cyclic pitch yang berfungsi sebagai pengatur gaya angkat dan pendorong heli untuk melaju ke depan. Tapi demi misi, mereka berusaha mengacuhkannya sesaat.
Pasukan tambahan diturunkan dengan tali. Karena ternyata kelompok Kwalik yang dicari tidak ada di lokasi yang diburu, heli pun mendarat karena dinilai sudah aman. Kondisi ini sangat mengecewakan bagi segenap pelaku dan Prabowo sendiri, karena awalnya data posisi mereka sudah sangat akurat sehingga Prabowo berani memutuskan untuk melakukan aksi. Apakah ada kebocoran informasi?
Hari pun sudah mulai sore, sehingga akhirnya misi pengejaran dibatalkan. Pasukan yang sudah di lokasi memutuskan untuk bermalam di situ sambil menjaga reruntuhan pesawat dan mengevakuasi korban. Sementara heli kembali ke Kenyam.
Dari laporan Kapten Inf Made Agra dari Kopassus, lima orang dinyatakan gugur dalam kecelakaan itu. Yaitu pilot Lettu Agus Riyanto, Serka Suparlan (teknisi), Lettu Inf Umar dan dua bintara dari Kopassus. Malam itu mereka lalui dalam kesedihan sambil memanjatkan doa kepada Tuhan untuk mereka yang gugur. “Malam itu cukup hening karena operasi pembebasan sandera tidak berhasil, tempat yang dicari sudah kosong, malah kami kehilangan teman dan heli crash. Kami bersedih sambil menyusun rencana besoknya,” kata Eko.
Tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi, besoknya pagi-pagi sekali operasi kembali dilakukan. Satgas akan membuat pagar betis dan menutup jalur-jalur yang kemungkinan menjadi akses pelarian bagi OPM. Karenanya, hari itu, menjelang pertengahan Mei, heli-heli Penerbad akan melaksanakan operasi yang cukup sulit, yaitu menurunkan pasukan di ketinggian di atas 6.000 kaki. Satu regu akan melanjutkan evakuasi dibantu tim dari Airfast, sementara yang lain yaitu gabungan Kopassus dan Satgas Rajawali akan melanjutkan pengejaran. Operasi di ketinggian ini berjalan sekitar beberapa hari.
Pengalaman cukup menegangkan bagi segenap kru adalah saat menurunkan pasukan di ketinggian gunung dengan daerah pendaratan apa adanya. Mereka harus mencari-cari medan paling aman di antara tebing-tebing yang menciutkan nyali itu. Ini bukan latihan, sehingga tidak ada waktu untuk yang tidak profesional. Meski tidak menguasai medan sepenuhnya, beberapa heli yang ditugaskan menurunkan pasukan di pegunungan itu berhasil melaksanakan tugasnya.
Karena beratnya medan yang akan ditutup, heli kemudian diperintahkan mengirimkan pasukan tambahan dari Rajawali yang sudah disiapkan. Pasukan-pasukan inilah yang menjepit posisi kelompok Kwalik dari berbagai arah sehingga terkonsentrasi di sebuah tempat. Menurut analisa pasca kejadian, Kwalik dan kawan-kawan beserta para sandera sepertinya berusaha menghindari pasukan dari ketinggian yaitu Kopassus dan Rajawali, sehingga memilih maju ke depan. Di situlah mereka berpapasan dengan tim dari Yonif 330 yang dipimpin Kapten Inf Agus Rohman, yang baru saja sehari dikirim dengan heli sebagai pasukan penutup. Hari itu, 15 Mei 1996, pasukan pemburu berhasil menyelamatkan sembilan sandera.
Kaget karena bertemu pasukan pemburu Kostrad, sebagian gerombolan memilih kabur termasuk Kwalik sendiri. Namun beberapa orang meregang diterjang timah panas sebelum sempat menghilang. Malang bagi dua sandera. Mereka dibacok oleh beberapa anggota OPM. Keduanya, Navy Panekenan dan Yosias Mathias Lasamahu, keduanya warga negara Indonesia, meninggal kemudian dan ditemukan esok harinya. Berita ini langsung diterima Prabowo yang menunggu di Kenyam.
Sandera yang selamat kemudian diterbangkan ke Kenyam dan disambut langsung oleh Prabowo. Demikian pula pasukan penyerang yang berusaha turun ke dataran rendah, dijempat heli belakangan. Esok harinya, Kamis 16 Mei, para sandera sudah diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat Hercules dan mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma. Rombongan disambut oleh Kasum ABRI Letjen Soeyono.
Combat fatigue
Bagi Eko, hari-hari itu sungguh melelahkan, menguras tidak hanya tenaganya tapi juga mentalnya. Di antara ke delapan heli serbu yang dilibatkan, hanya Tango 5 yang single captain. Ia hanya berdua dengan kopilot yang kebetulan teman satu angkatan. Sementara heli yang lain diterbangkan oleh double captain atau setidaknya captain supervisi. Akibatnya selama penerbangan, karena ini adalah misi yang berat dan berbahaya, Eko tidak berani berbagi tanggung jawab dengan kopilotnya. Meski kopilot tetap membantu, tetap saja kendali di tangan Eko.
Kelelahan yang dialami Eko mencapai puncaknya setelah pada hari kedua usai melaksanakan sorti ketiga, ia merasa tidak sanggup lagi melaksanakan misi selanjutnya. “Saya putuskan menghentikan dan bilang ke kopilot. Saya merasa sudah tidak mampu, karena semua full di tangan saya sebagai PiC. Saya bilang ke dia, saya tidak sanggup lagi dan memutuskan ke DP di Akimuga. Terus terang saya takut. Saya bilang ke mekanik, kita trouble,” tutur Eko yang mengalami combat fatigue.
“Nggak apa-apa kok,” mekanik menyela. “Kamu turun dan lihat ke bawah heli, ada kebocoran nggak. Ada atau tidak ada kau bilang ada kebocoran,” perintah Eko kepada mekaniknya. Eko pun memutuskan terbang ke Akimuga, pangkalan aju kedua selain Kenyam.
Di Akimuga ternyata ada Kapten CPN Burhanudin. Tango 5 refuel. “Bang heli saya transmisinya bocor, jadi saya mau bawa ke Timika,” ucap Eko kepada Burhanudin. “Loh transmisi bocor malah kau bawa ke Timika, biar aja di sini,” balas Burhanudin yang karena sama-sama penerbang jadi mengerti kondisinya. Tapi Eko berusaha ngotot, bahwa helinya masih mampu diterbangkan ke Timika. “Ya sudah hati-hati, sebelum kau sampai saya tidak akan terbang,” ujar seniornya ini. Saat itu di Timika bertepatan proses evakuasi korban heli Tango 6 ke Jakarta. Eko mengaku masih melihat kopilot Tango 6, Lettu Tukiman, dengan separuh wajahnya memerah. Di situ juga ada Kadispenerbad Brigjen TNI Joko Setyomartono.
Tahu ada heli kembali ke Timika dalam kondisi emerjensi, Kadispenerbad segera menghampiri. “Heli mu trouble, Ko,” tanya Kadis yang dijawab “siap”, oleh Eko. “Apanya,” tanya Danpus kembali. “Transmisi komandan, olinya bocor.” Sambil berdehem sejenak, “Tapi kamu masih siap terbang, kan,” sergap Kadis lagi.
“Siap, tidak siap terbang,” jawab Eko.
“Kamu tidak siap terbang,” ujar Danpus dengan wajah bertanya.
”Ya sudah, kamu istirahat saja dulu,” balas Danpus.
Kopilotnya kembali bertanya kepada Eko, “Kenapa sih sampeyan.” Kepada rekannya ini Eko pun berkata jujur bahwa ia tidak siap terbang. “Daripada kita celaka!”
Esok harinya, pagi-pagi sekali Eko sudah tiba di bandara. Kebetulan Kadis masih ada.
“Kamu masih siap terbang kan,” tanya Kadis.
“Siap, tidak,” kata Eko.
“Untuk kamu ketahui, saya sudah berusaha mencari ganti, tapi masih belum ada, jadi sabar saja. Tapi benar kamu ga siap?”
“Siap, tidak komandan.” Mekaniknya masih berusaha menyela dengan mengatakan bahwa heli tidak apa-apa.
Akhirnya sambil duduk di apron menyaksikan heli yang lainnya, batinnya bergejolak. Hanya duduk menyaksikan heli-heli Penerbad datang dan pergi, dan rekan-rekannya menyabung nyawa di Mapnduma, apakah pantas bagi dirinya untuk bersantai-santai. Sekitar pukul 10, keberaniannya tiba-tiba muncul lagi. Eko pun segera menyampaikan kepada kopilot Slamet Riyadi, “Kita berangkat lagi.” Eko lalu mendatangi Kadispenerbad dan menyampaikan kesiapannya. “Saya dipeluk oleh beliau.” Bersama helinya, mereka membawa logistik tambahan untuk teman-temannya di garis depan yang mungkin sudah kelelahan.
“Saat itu saya betul-betul down karena takut dengan medan yang begitu tinggi dan tantangannya begitu berat. Apalagi dengan kopilot, saya tidak berani melepaskannya. Sehingga itu menekan saya hingga down. Saya mengerti kemampuan saya dan batas kemampuan, kalau saya paksakan mungkin bisa celaka,” Eko mengenang keputusan beraninya 17 tahun silam itu.
Selepas menyelesaikan tugas berat membebaskan sandera di Mapnduma ini, kesemua pelaku yang terlibat dalam operasi ini mendapat hadiah istimewa yaitu Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB). Beberapa orang di antaranya menjadi sangat beruntung karena sebelumnya baru saja mendapat kenaikan pangkat reguler. Sehingga mereka naik pangkat dua kali dalam satu tahun. Mereka adalah Lettu CPN Wahyu Djatmiko, Lettu CPN Cahaya Ginting, dan Lettu CPN Heru Subarmanto. Kesemua pelaku dari Penerbad juga mendapat penghargaan dari Kopassus dengan menerima brevet Komando kehormatan.
Operasi pembebasan sandera di Mapnduma memang telah lama berlalu. Namun sebagai sebuah operasi militer yang melibatkan begitu banyak helikopter, operasi ini terbilang istimewa dari berbagai aspek. Bagi Penerbad dan mungkin juga Kopassus, ini adalah operasi Mobud terbesar yang pernah mereka laksanakan secara bersama. (Beny Adrian)
Sumber : http://angkasa.co.id/

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak