Penampilan Publik Pertama M2A2 Bradley Lebanon

M2A2 Bradley Lebanon
M2A2 Bradley Lebanon 

Kendaraan tempur infanteri M2A2 Bradley buatan Amerika Serikat milik Angkatan Darat Lebanon tampil didepan publik untuk pertama kalinya pada latihan parade militer untuk Hari Kemerdekaan Lebanon yang akan berlangsung pada tanggal 22 November. Pada bulan Agustus 2017, Amerika Serikat secara resmi menyerahkan M2A2 Bradley untuk Angkatan Bersenjata Lebanon.
Menurut sebuah pernyataan dari kedutaan AS di Lebanon, Amerika Serikat akan menyerahkan total 32 M2A2 Bradley. Kontribusi untuk Angkatan Bersenjata Lebanon ini merupakan investasi senilai lebih dari 100 juta dolar. Ini akan memberi Angkatan bersenjata Lebanon kemampuan baru untuk melindungi Lebanon, untuk melindungi perbatasannya, dan untuk melawan teroris.
Selama 12 bulan terakhir, Amerika Serikat telah menyerahkan berbagai jenis senjata dan kendaraan tempur ke Angkatan Darat Lebanon, termasuk 40 howitzer M198, 50 kendaraan Humvee, pesawat Cessna, 55 mortir, 50 peluncur granat otomatis Mark-19, 1.100 senapan mesin 12,7 mm, 4.000 senapan serbu M4, lebih dari setengah juta amunisi, 320 peralatan penglihatan malam dan 360 radio komunikasi.
Kendaraan tempur infanteri lapis baja M2A2 Bradley diperkenalkan ke Angkatan Darat AS pada tahun 1988, yang mana kendaraan ini merupakan versi perbaikan dari kendaraan standar M2A1 Bradley.
M2A2 Bradley dipersenjatai dengan kanon ATK Gun Systems Company M242 25 mm Bushmaster Chain Gun dengan senapan mesin M240C 7,62 mm yang terpasang secara koaksial di sebelah kanan persenjataan utama. Di sisi kiri turret terdapat dua peluncur rudal anti tank TOW dan TOW 2. (Angga Saja - TSM)

Setelah Tertunda, Eks KRI Karimata-960 Karam Dihantam Rudal C-705 dan Torpedo SUT

Eks KRI Karimata-960 Karam Dihantam Rudal C-705 dan Torpedo SUT
Eks KRI Karimata-960 Karam Dihantam Rudal C-705 dan Torpedo SUT 

Seharusnya eks KRI Karimata-960 sudah ‘dikaramkan’ dalam sesi uji tembak rudal anti kapal dan torpedo SUT (Surface and Underwater Target) pada 14 September 2016 di Laut Jawa. Dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi dalam puncak Latihan Armada Jaya XXXIV/2016, pun dalam kondisi cuaca cerah, uji coba penembakkan rudal anti kapal C-705 dari KRI Clurit-641 dan torpedo SUT 533 mm dari KRI Ajak-653 pada sasaran eks KRI Karimata-960 dinyatakan gagal mengenai sasaran.
Akibat rudal C-705 telat meluncur, tembakkan ke rudal C-705 ke eks KRI Karimata-960 menjadi meleset, tidak mengenai sasaran. Padahal KRI Karimata-960 merupakan obyek statis di tengah laut. Posisi KRI Karimata ditempatkan di Selat Karimata, atau 55,5 Km dari Perairan Banongan.
Nah, satu tahun berselang, tepatnya pada Jumat, 17 November lalu, TNI AL berhasil menjawab keraguan banyak kalangan akan kemampuan rudal anti kapal buatan China tersebut. Seperti dilansir dari tnial.mil.id, berlangsung di Selat Bali, penembakan rudal C-705 berhasil diluncurkan dari KRI Kujang-642 Satuan Kapal Cepat Koarmabar (Satkat Koarmabar) dengan berhasil mengenai tepat pada sasaran eks KRI Karimata-960.
Kemudian untuk pelucuran torpedo SUT, tak lagi dilakukan lagi oleh kapal perang permukaan, melainkan oleh kapal Selam KRI Nanggala-402 dari Satuan Kapal Selam (Satsel) Koarmatim, dimana tembakan torpedo berhasil menenggelamkan sasaran. Kegiatan uji coba tersebut disaksikan langsung oleh KSAL Laksamana TNI Ade Supandi diatas geladak KRI Teluk Bintuni-520.
Sebelum penembakan, Satgas telah melaksanakan persiapan secara matang dari mulai persiapan teknis peralatan serta persiapan kemampuan prajurit dengan melaksanakan latihan-latihan taktis berupa Prosedur penembakan Rudal dan Torpedo, prosedur pengoperasian Fire Control sistem yang terdapat di KRI Nanggala 402, KRI Clurit-641 dan KRI Kujang-642 serta melaksanakan Tactical Floor Game (TFG) dalam rangka memantapkan rencana taktis yang telah disusun pada saat tahap persiapan.
Rudal C-705 serta Torpedo SUT merupakan senjata strategis yang saat ini dimiliki oleh TNI AL, dimana Rudal C-705 memiliki kemampuan menghancurkan sasaran kapal permukaan dan sasaran di daratan sejauh 80 km tanpa booster, sementara jika dengan booster jarak tembak bisa mencapai 170 km. Sementara Torpedo SUT 533 mm punya kemampuan untuk menghancurkan sasaran kapal permukaan maupun sasaran kapal selam. Dalam menuju sasarannya torpedo SUT digerakkan dengan motor listrik yang dapat memberi daya dorong hingga kecepatan 35 knot dengan tingkat kebisangan rendah dan menggunakan sistem pemandu sonar pasif dan aktif.
Selain dalam rangka menguji kehandalan dan daya hancur kedua senjata tersebut, Satkasel sekaligus menguji kemampuan integrasi peralatan sensor dan sistem kendali senjata yang baru buatan Norwegia CMS (Combat Management System) MSI-90U MK Kongsberg.
Tantang KRI Karimata-960, KRI Karimata-960 mauk jajaran TNI AL pada tanggal 18 Maret 1965 dan dioperasikan langsung oleh Kolinlamil. Jika dilihat dari tahun kedatangannya, kapal ini dikirim ke Indonesia setelah Operasi Trikora ditutup, karena telah tercapai kesepakatan damai dengan Belanda atas Papua.
Dirunut dari fungsinya, kapal ini masuk dalam jenis BU (Bantu Umum) dan logistik/cargo. Meski operasinya berada dibawah Kolinlamil, namun pembinaannya dibawah Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Jakarta. Dalam definisi internasional, KRI Karimata-960 dimasukkan sebagai jenis kapal Coaster dari Tizla Class. Kapal ini dibuat di galangan Hungaria Shipyards and Crane work Budapest Angyafold pada tahun 1964.
Setelah mengalami musibah kebakaran pada bulan Mei 2016, akhirnya kapal perang KRI Karimata-960 dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) TNI AL resmi dipensiunkan pada 15 Agustus 2016. (Gilang Perdana)

AI AX308, Juara AASAM dan Andalan Sniper TNI dalam Operasi Pembebasan Sandera di Papua

AI AX308 (kiri)
AI AX308 (kiri) 

Seiring dengan selesainya operasi pembebasan sandera desa Kimbely dan Banti yang dilaksanakan dengan gilang-gemilang oleh satuan tugas TNI sehingga para prajurit mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa langsung dari Panglima TNI, detail-detail kecil pun bermunculan, seperti jenis senjata yang digunakan oleh para sniper, khususnya dari Raider dan Tontaipur.
Jika sebelumnya admin menurunkan HK416 dengan laras 20 inci, rupa-rupanya ada satu lagi senapan runduk yang digunakan oleh sniper Kostrad. Kali ini senjata yang digunakan murni senapan runduk alias sniper betulan, atau memang diciptakan untuk operasi pasukan khusus. Tipe senapan yang nampak dalam foto adalah Accuracy International AX308 buatan Inggris yang mengadopsi peluru .308 atau setara dengan 7,62x51mm NATO.
Jika pembaca masih ingat, AI AX308 adalah andalan tim penembak runduk TNI dalam kompetisi menembak kelas dunia AASAM 2017 dimana Indonesia keluar sebagai juara di kelas sniper dan juga menjadi juara umum. Senapan ini diciptakan untuk melanjutkan kiprah sang legenda AI Arctic Warfare Police dan Magnum. Jadi tidak salah bila kemudian AX308 diturunkan dalam tugas perburuan separatis OPM/KKB dan pembebasan sandera di Mimika-Tembagapura.
Varian AX308 yang diturunkan pun juga tidak main-main, yakni varian dengan peredam integral, atau seluruh larasnya adalah peredam suara. Varian khusus dari AX308 ini bisa menyamarkan dan menurunkan bunyi tembakan sehingga hanya setara dengan proyektil .22LR, dan musuh akan kesulitan menerka-nerka arah dan sumber datangnya tembakan. Dampak negatif dari penggunaan peredam suara integral ini adalah jarak efektif tembakan yang menurun.
AX308 sendiri dibangun dengan receiver yang menempel pada rangka dan sasis alumunium secara permanen, menghasilkan senapan yang sangat rigid dan akurat tanpa perlu proses bedding tradisional. Sasisnya sendiri dicetak menyatu dengan gagang pistol dan rumah magasen. Popornya sendiri didesain dengan model lipat, untuk memudahkan dibawa bermanuver.
Varian AX308 yang dipilih TNI AD adalah model dengan popor berbentuk L terbalik dengan bantalan bahu yang bisa disesuaikan panjangnya, serta bantalan pipi yang bisa disetel ketinggiannya menggunakan mur setelan, semua disesuaikan dengan postur penembaknya. Warna senapan yang dipilih adalah warna hitam dengan aksesoris polimer yang dilabur dengan lapisan Cerakote berwarna hijau.
AX308 dalam varian standar mampu menjangkau sasaran sejauh 800-1.000 meter dengan mudah di tangan seorang sniper berpengalaman. Untuk membantu menyesuaikan senapan dengan karakter penembak, beban tarikan pelatuk pada AX308 dapat dibuat lebih berat atau ringan hanya dengan menyetel baut di pangkal pelatuk, sesuai pilihan penggunanya.
AX308 dipasok dengan magasen berbahan baja dengan kapasitas 10 butir peluru. Pasokan peluru yang naik dari magasen ke kamar dibuat minim gesekan untuk mencegah perubahan bentuk peluru, yang dapat menyebabkan pengaruh negatif ke akurasi. Untuk melepas magasen tinggal mengungkit tuas yang terletak di depan pelindung pelatuk (trigger guard).
Bagian terbaik dari AX308, dan menjadi kunci dari akurasinya, tentu adalah pada sistem gerendel dan larasnya. Gerendel pada AX308 menggunakan model 3 kaki (lug) pengunci yang tebal untuk mengunci peluru di kamarnya. Untuk mengangkat gerendel pengokang hanya butuh ayunan ke atas sejauh 60 derajat. Tarikannya sudah pasti mantap tanpa gesekan berlebihan, dan juga tanpa goyang sama sekali sehingga apabila dibutuhkan tembakan kedua, maka gambar sasaran tidak akan bergeser jauh karena pengokangan. (Aryo Nugroho)

Litbang Kemenhan Laksanakan Uji Dinamis Radar Pasif di Lanud Sulaiman Margahayu, Bandung

Litbang Kemenhan
Litbang Kemenhan  

Litbang Kemenhan melaksanakan uji dinamis radar pasif tahun 2017 yang dilaksanakan di gedung balai Prajurit Cendrawasih Lanud Sulaiman, Margahayu, Bandung, Jum’at (17/11).
DR.Joko Suryana dari LAPI ITB memaparkan tentang penelitian dan Pengembangan Radar Pasif : Demo Dinamis yang mengatakan bahwa radar pasif adalah memampuan mendeteksi dan mengidentifikasi objek di sekitar lingkungan yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik.
“Radar pasif tidak memancarkan gelombang elektromagnetik untuk melakukan fungsinya. Akan tetapi memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang ada disekitar atau yang dipancarkan oleh objek itu sendiri, “ Jelas DR. Joko Suryana.
Dijelaskan pula fungsi-fungsi yang ada di radar pasif antara lain adalah PCL ( (Pasive Coherent Location) yang berfungsi untuk mendeteksi dan mengidentifikasi objek dengan memanfaatkan pantulan gelombang elektromagnetik yang ada di lingkungan sekitar. Selanjutnya adalah PET (Passive Emmiter Tracking) yang fungsinya untuk mendeteksi dan mengidentifikasi objek dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh objek itu sendiri. Sedangkan IFF/ADS-B berfungsi mendeteksi dan mengidentifikasi objek di udara dengan memanfaatkan transmisi/pertukaran informasi IFF/ADS-B.
“Komponen utama radar pasif terdiri dari antenna system, Mast and Traier, Digital Signal Processing (DSP), dan Display. Keuntungan radar pasif adalah tidak perlu memancarkan sinyal sendiri (silent) untuk mendeteksi target. Selain itu, biaya lebih murah karena tidak memerlukan transmitter,” kata DR. Anne Kusmayati selaku Kabalitbang Kemenhan.
Pada kesempatan tersebut hadir pula Kepala Dinas Operasi Letkol Lek Imam Bintoro mewakili Komandan Lanud Sulaiman Kolonel Pnb Tyas Nur Adi, Ir. Budi Harja Raden (Ses balitbang) dan Bpk. Abdullah Sami (Kapuslibang Alpalhan). Acara tersebut diikuti pula para instruktur dan siswa yang sedang melaksanakan pendidikan di Lanud Sulaiman dengan kejuruan teknik radar.

Aneka Senjata Canggih Milik OPM untuk Melawan TNI dan Polri, Datangnya dari Mana?

Pemberontak
Pemberontak 

Saat menyebut kelompok separatis OPM (Organisasi Papua Merdeka), maka sesungguhnya kita menyebut suatu kelompok besar yang terdiri dari faksi-faksi yang menginginkan pemisahan tanah Papua dari bumi Indonesia, sesuatu yang sudah final diputuskan saat Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tetapi kini mulai digoyang-goyang oleh banyak pihak dengan kepentingan tertentu.
Dalam bukunya, Perjalanan Seorang Prajurit Komando, Letjend (Purn) Sintong Panjaitan pernah menyebutkan jika kelompok OPM pada 1970an menggunakan senapan yang pelurunya menggunakan proyektil yang dilantak sendiri dan diisikan ulang, atau bahkan panah untuk menyerang tentara yang menjaga keamanan di Papua.
Jika OPM yang mulai beraktifitas pada 1970-an awalnya hanya menggunakan panah atau senapan tua, saat ini dari foto-foto yang beredar terungkap bahwa mereka sudah mulai dilengkapi dengan berbagai senjata canggih. Sumber dari senjata tersebut, tak bisa dipungkiri, datang dari personil TNI/Polri yang berhasil dijebak, gugur, dan senjatanya dirampas paksa. Namun sebagian lagi adalah selundupan dari pihak-pihak yang tidak menyukai adanya kedamaian di bumi Papua.
Berikut adalah beberapa senjata canggih yang tampak digunakan oleh separatis OPM.
1. Steyr AUG A2/A3
Dalam salah satu foto, Nampak dua pucuk senapan serbu Steyr AUG dalam varian A2 dan A3 dengan receiver polimer berwarna hitam legam, mirip milik Brimob Polri, walaupun admin tidak bisa memastikannya. Yang jelas, Mabes Polri menyebutkan bahwa memang ada senjata yang dirampas dari personil Polri yang gugur dalam kontak tembak di tahun 2015.
Bagaimana OPM bisa memiliki Steyr AUG A3 yang canggih dan relatif baru adalah sesuatu yang cukup mengejutkan, karena di kawasan Asia Tenggara, memang hanya Indonesia yang menggunakan Steyr AUG dengan kelir seperti ini.
2. Winchester Model 37
Senapan tabur Winchester Model 37 adalah senapan tabur model lawas, sudah digunakan sejak 1950an. Senapan ini dioperasikan dengan ‘mematahkan’ larasnya dan mengisikan peluru dari arah belakang. Shotgun ini kemungkinan sudah digunakan oleh tentara Belanda pada era Trikora dan diwariskan atau dirampas dari Gudang senjata saat Belanda angkat kaki dari Papua. Dengan amunisi slug Model 37 bisa efektif sampai jarak 100 meter.
3. PKM
OPM yang bisa memiliki senapan mesin sedang PKM (Pulemyot Kalashnikova) dari Rusia adalah suatu hal yang mengherankan, karena di Indonesia senapan ini jarang ditemui. Dengan peluru 7,62x54mmR yang digunakan PKM, senapan mesin ini sanggup menyediakan sebaran tembakan yang efektif sampai jarak 1.000 meter. Menghadapi lawan yang memiliki senapan mesin macam PKM dan jarak jangkau efektif yang besar, TNI dan Polri harus benar-benar waspada karena sangat tidak menyenangkan kalau dihujani timah panas dari arah atas.
4. AK-47
AK-47 yang merupakan ‘menu wajib’ medan konflik pun nampak dimiliki oleh OPM. Model yang digunakan dan dimiliki oleh OPM mulai dari model lawas yang terlihat sudah bulukan sampai dengan model baru yang plastiknya berwarna oranye terang. Sulit menentukan asal-usul AK-47 tersebut mengingat ada banyak negara yang masih memproduksi AK-47, dari Rusia sendiri sampai dengan China.
5. SS1
Senapan SS1 buatan Pindad nampak terlihat dipegang oleh OPM. Bagaimana OPM bisa memiliki SS1 tak dipungkiri sumber dari senjata tersebut, datang dari personil TNI/Polri yang berhasil dijebak, gugur, dan senjatanya dirampas paksa. (Aryo Nugroho)

Senapan SIG 552 Commando Batal Dipakai Tontaipur, Oleh Kopassus Diandalkan untuk Pembebasan Sandera

Senapan SIG 552 Commando
Senapan SIG 552 Commando  

Pada saat Jenderal Ryamizard Ryacudu masih menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), beliau memvisikan pendirian unit khusus Tontaipur atau Peleton Intai Tempur Kostrad sebagai elemen tim kecil Kostrad yang bertugas untuk melakukan operasi berkategori khusus seperti patroli jarak jauh, pengintaian, dan penjebakan lawan. Sebagai pasukan berkualifikasi khusus, mereka pun dipersenjatai dengan senjata yang berbeda dengan yang digunakan oleh infantri.
Senjata utama yang dipilih untuk Tontaipur haruslah senjata yang kompak, ringan, berkapasitas besar dan memiliki kemampuan tembak otomatis. Dari sekian banyak kandidat, terpilihlah SIG 552 Commando, varian dari senapan serbu SIG 550. Senapan ini berukuran kompak, memiliki keandalan yang sama dan bahkan lebih dari AK-47, dan ergonominya sempurna. Namun sayang, karena ketika itu kemampuan negara masih terbatas akibat dampak krisis ekonomi, akhirnya Tontaipur pun terpaksa menggunakan senapan seperti AK-101 dan AK-103 serta Galil.
Melihat sekujur tubuh SIG 552, orang akan merasakan aura senjata yang kokoh. Bagaimana tidak, dimulai dari laras saja, SIG sudah memasangkan laras model cold hammer forged alias tempa dingin. Proses hammer forged ini dilakukan secara simultan mulai dari bore sampai ke chamber (kamar peluru), sehingga kesejajaran antar bore dan chamber dimaksimalkan untuk menjaga akurasi.
Biarpun dari segi biaya pembuatan terhitung mahal, namun laras yang dibuat dengan teknik ini akan memiliki daya tahan yang lebih lama, plus tidak mudah memuai saat digunakan untuk tembakan rentetan panjang. Dihitung-hitung, rata-rata usia pakai laras SIG 552 bisa melewati jumlah 15.000 peluru sebelum mulai kehilangan akurasinya.
Beralih ke soal pisir, SIG 552 memang mengadopsi bentuk pisir model drum - ghost ring ala keluarga HK G3 atau MP5, satu nilai plus bagi kesatuan khusus yang juga menggunakan MP5. Pisir belakang yang berbentuk drum memiliki empat setelan, masing-masing untuk kelipatan 100 meter. Harus diakui, pisir ini memang unggul karena memiliki profil yang rendah, sehingga posisi kepala penembak relatif lebih terlindungi dibandingkan dengan, katakanlah, M16 yang menempatkan posisi pisirnya di carry handle yang tinggi.
Tentu saja sebagai pabrikan ternama , SIG tidak mau dituduh sekedar menjiplak. Untuk menyempurnakannya, SIG menambahkan fitur night sight ke dalam pisir SIG 550 pada posisi 1 untuk jarak 100 meter. Jika milik G3 pada posisi ini hanya berupa open sight, maka SIG mengubahnya menjadi model sharpshooting cup ala M16 plus dua titik tritium di kanan-kirinya.
Bila mau digunakan, operator tinggal mengeset pisir belakang ke posisi 1 dan menaikkan pisir night sight di bagian depan. Dengan bantuan tiga titik tritium yang berpendar di kegelapan malam, pengguna tidak perlu memakai night vision goggles yang belum tentu tersedia. Sebagai pelengkap terakhir, pisir milik SIG 550 dapat disesuaikan untuk elevasi dan pengaruh angin dengan bantuan dua sekrup yang disediakan.
Untuk urusan magasen, teknisi SIG Bruno Schwaller merancang magasen polimer untuk dipasangkan ke SIG 552, sama seperti keluarga besar SIG 550 lainnya. Kekuatan magasen ini tidak kalah dari magasen alumunium, karena ketika diuji dengan dibanting ke beton dari ketinggian 1,5 meter sebanyak 45 kali, magasen SIG 550 ini tidak pecah ataupun berubah bentuk. Selain itu, magasen polimer ini tahan api dan tidak membeku di suhu sampai minus 30 derajat celcius.
Dengan kode paten #4.484.403, magasen ini juga dirancang transparan, sehingga penembak bisa melihat langsung jumlah peluru yang tersisa tanpa repot mengira-ngira. Penghitungan bahkan tidak perlu dilakukan satu-persatu, karena ada pula marking di magasen untuk jumlah 10 dan 20 peluru. Yang lebih hebat lagi, SIG memperkenalkan sistem Multipack di mana pengguna bisa menempelkan tiga atau lebih magasen sekaligus berkat adanya pengait (clamp slot-stud) di sisi kiri-kanan magasen.
Berpindah ke bagian belakang, kita akan melihat popor lipat milik SIG 550 yang terbuat dari hi strength polymer. Popor ini akan melipat ke arah kanan dan menempel ke lubang yang ada di receiver kanan. Untuk melipatnya pun terhitung sangat mudah. Operator tinggal memencet tombol yang ada di pangkal popor, lalu secara bersamaan melipat popor ke arah kanan.
Pada akhirnya, SIG 552 tetap menemukan pengguna di dalam TNI AD yakni Detasemen 81 Penanggulangan Teror, kesatuan khusus dari Kopassus yang disiapkan untuk melaksanakan operasi khusus seperti pertempuran jarak dekat dan operasi pembebasan sandera. Kopassus tidak hanya menggunakan SIG 552, tetapi juga generasi penerusnya seperti SIG SG 552-2 yang sudah dilengkapi sistem rel untuk pegangan tangan depan. (Aryo Nugroho)

Polandia Belanja Sistem Rudal Pertahanan Udara MIM-104 Patriot Senilai USD10.5 Miliar untuk Lawan Rusia

MIM-104 Patriot
MIM-104 Patriot 

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengotorisasi penjualan paket sistem pertahanan rudal udara MIM-104 Patriot ke Polandia senilai sekitar USD10,5 miliar atau sekitar Rp142 triliun. Menteri Pertahanan Polandia Antoni Macierewicz mengatakan, negaranya kini memperkuat aset militernya untuk melawan Rusia dalam upaya mempertahankan diri.
Polandia membeli empat sistem pertahanan rudal MIM-104 Patriot dari AS. Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan dengan Pentagon yang menerapkan penjualan senjata asing mengumumkan bahwa Departemen Luar Negeri telah menyetujui kesepakatan jual beli senjata canggih antara AS dan Polandia.
Jika proses penjualan itu rampung, Polandia akan bergabung dengan lima anggota NATO lainnya yang mengoperasikan sistem rudal Patriot, termasuk AS, Belanda, Jerman, Spanyol dan Yunani.
Raytheon, kontraktor utama dalam kesepakatan tersebut, mengatakan bahwa sistem rudal MIM-104 Patriot yang mereka bangun untuk 13 negara dapat dioperasikan bersamaan dalam pertempuran.
Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA) mengatakan bahwa penjualan tersebut akan menyediakan sekutu NATO sebuah sistem pertahanan modern yang akan meningkatkan interoperabilitas dan meningkatkan keamanan.
”Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu memperbaiki keamanan sekutu NATO yang telah dan terus menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Eropa,” kata DSCA dalam pengumumannya.
Rusia telah berulang kali mengkritik penumpukan militer NATO di sepanjang perbatasannya sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Moskow juga telah mengecam sistem pertahanan rudal berbasis darat AS yang baru ditempatkan di Eropa Timur dan pengerahan kapal NATO di Laut Hitam.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Kolonel Aleksandr Emelyanov mengatakan bahwa sistem pertahanan rudal buatan AS untuk seluruh dunia telah memprovokasi perlombaan senjata baru, yang merupakan ancaman bagi kemanusiaan.
Emelyanov mengklaim bahwa sistem pertahanan rudal tersebut bagian dari rencana “prompt global strike” Washington untuk meluncurkan serangan yang melelahkan terhadap pasukan strategis Rusia atau pun China. ”Washington-lah yang akan memutuskan, sistem siapa yang akan melindungi,” kata Emelyanov.
Namun, Menteri Pertahanan Polandia Antoni Macierewicz mengatakan bahwa Rusia siap berperang dan NATO harus siap juga.
”Sekarang Polandia akan memiliki militer yang benar-benar dapat membela negara kita dari serangan apapun,” kata Macierewicz dalam sebuah wawancara dengan New York Observer, yang dilansir Russia Today, Minggu (19/11/2017).
“Kami berkomitmen untuk menghabiskan 2,5 persen dari PDB kami dan melipatgandakan ukuran militer kami hingga 200.000 tentara. Baru setelah itu kita akan bisa membela diri dan membantu sekutu kita secara efektif,” ujarnya. (Muhaimin)

Lagi, Kapal Perang AS USS Benfold (DDG 65) Tabrakan dengan Kapal Jepang

Tabrakan
Tabrakan 

Kapal perang Amerika Serikat (AS) jenis perusak bertabrakan dengan kapal tunda (tugboat) Jepang di Teluk Sagami, kawasan lepas pantai timur Jepang, pada hari Sabtu. Tabrakan ini tercatat sebagai insiden kelima yang melibatkan Armada Pasifik AS sepanjang tahun ini.
Armada ke-7 Angkatan Laut AS mengatakan, kapal tunda itu kehilangan tenaga penggeraknya dan bergerak menuju kapal perang USS Benfold (DDG 65). Tabrakan pun tak terhindarkan.
Kapal perang USS Benfold (DDG 65) mengalami kerusakan ringan. ”Tidak ada yang terluka di salah satu kapal dan USS Benfold menderita kerusakan kecil, termasuk goresan, sambil menunggu pendataan kerusakan secara lengkap,” bunyi pernyataan armada tersebut, seperti dikutip Reuters, Minggu (19/11/2017).
Kapal USS Benfold (DDG 65) tetap berada di laut, sedangkan kapal Jepang ditarik ke pelabuhan di Yokosuka. Angkatan Laut Amerika mengatakan bahwa insiden ini akan diselidiki.
Sepanjang tahun ini, sudah ada lima insiden yang dialami kapal-kapal perang AS. Dua dari lima insiden itu berakibat fatal.
Pada 31 Januari ketika kapal The 31 USS Antietam (CV 36) kandas dan menumpahkan 1.100 galon minyak ke Teluk Tokyo. Kecelakaan ini menyebabkan kerusakan senilai USD4,2 juta.
Kecelakaan kedua terjadi pada tanggal 9 Mei, di mana kapal USS Lake Champlain (CG 57) bertabrakan dengan kapal penangkap ikan Korea Selatan di Laut Jepang.
Pada 17 Juni, tujuh pelaut Angkatan Laut AS tewas saat kapal USS Fitzgerald (DDG 62) bertabrakan dengan sebuah kapal kontainer Filipina pada tengah malam di barat daya Yokosuka. Kapal perang itu bocor dan tujuh pelaut tenggelam. Tiga dari komandan di kapal tersebut kemudian dicopot dari tugasnya.
Pada tanggal 21 Agustus, kapal USS John S McCain (DDG 56)menabrak sebuah kapal komersial di Selat Malaka di lepas pantai Singapura. Sepuluh pelaut AS tewas dan lima pelaut lainnya menderita luka serius. (Muhaimin)

Panglima TNI : Pembebasan Sandera di Tembagapura Papua Merupakan Operasi Gabungan TNI-Polri

TNI - Polri
TNI - Polri 

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan keberhasilan pembebasan sandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KKB-TPNPB) di Desa Banti dan Kimbel, Distrik Tembagapura, merupakan operasi gabungan TNI-Polri. Aparat gabungan TNI-Polri yang diterjunkan ke lokasi sesuai fungsi dan tugas masing-masing.
"Ini adalah berkat rahmat Allah SWT, berkat kita semua, sehingga berjalan dengan luar biasa menyelamatkan sandera," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam wawancara dengan sebuat TV nasional, 19 November 2017.
Gatot mengatakan, operasi pembebasan sandera ini sudah direncanakan cukup lama, sejak disandera mulai tanggal 1 November 2017 lalu, Kapolda telah melakukan upaya negosiasi kepada kelompok bersenjata untuk membebaskan para sandera. Upaya negosiasi juga melibatkan tokoh agama, kepala suku, Komnas HAM hingga surat edaran atau pamflet. "Mereka (tetap) bergeming," ujarnya.
Selama menyandera warga, kata Gatot, para penyandera itu melakukan kekerasan seksual kepada 12 wanita, merampok uang warga senilai Rp107,5 juta. Kemudian emas 254,4 gram dan 200 handphone. Kesehatan warga semakin memburuk, kelompok bersenjata itu juga melarang warga melaksanakan ibadah keagamaan.
"Maka urgensi ini lah harus dilakukan, karena tidak boleh ada sejengkal tanah pun boleh dikuasai siapa pun juga di NKRI," tegas Panglima.
Pasca pembebasan dan evakuasi warga korban sandera, Panglima memastikan jajaran TNI-Polri masih tetap berada di lokasi untuk pengamanan dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan lanjutan. Disamping itu, aparat juga melakukan pengejaran kelompok bersenjata di Papua.
"Upaya pengejaran tetap dilakukan sampai saat ini walaupun dengan tim kecil, tim lainnya fokus mengamankan tempat ini," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 344 warga yang sempat diisolasi oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Desa Banti dan Kimbeli Distrik Tembagapura berhasil dievakuasi oleh personel TNI-Polri, Jumat, 17 November 2017.
Operasi senyap ini yang merupakan gabungan TNI dan Polri itu melibatkan 300 personel. Di pihak TNI dikerahkan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Batalion Infanteri Raider 751, dan Peleton Intai Tempur Kostrad.
Semua unit, termasuk pasukan polisi, memiliki fungsi dan peran masing-masing. Misalnya, polisi menyiagakan dan mengamankan warga yang disandera. Sementara TNI melumpuhkan para penyandera. Operasi berhasil tanpa ada korban di pihak warga yang disandera.

Sinyal Kapal Selam Milik AL Argentina yang Hilang Terdeteksi

Kapal Selam Milik AL Argentina
Kapal Selam Milik AL Argentina 

Harapan ditemukannya kapal selam Angkatan Laut Argentina dan ke-44 krunya dalam kondisi hidup membuncah. Pasalnya, Kementerian Pertahanan Argentina pada Sabtu malam mengatakan bahwa mereka berhasil mendeteksi tujuh upaya komunikasi dari kapal selam tersebut.
"Kami menerima tujuh sinyal dari panggilan satelit yang berasal dari kapal selam San Juan," kata Menteri Pertahanan Argentina, Oscar Aguad, di Twitter.
"Kami bekerja keras untuk menemukannya dan kami mengirimkan harapan kepada keluarga dari 44 awak kapal tersebut: bahwa mereka akan segera bisa mendapatkannya di rumah mereka," sambungnya seperti disitat dari New York Times, Minggu (19/11/2017).
Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan perusahaan Amerika yang mengkhususkan diri dalam komunikasi satelit untuk menentukan lokasi sinyal yang tepat.
"Ini mengubah segalanya. Ini tanda yang sangat penuh harapan karena ini menunjukkan setidaknya beberapa anggota awak masih hidup," kata Fernando Morales, pakar angkatan laut dan wakil presiden Navy League Argentina.
Morales lantas mengungkapkan untuk melakukan usaha komunikasi, kapal selam harus cukup dekat ke permukaan air untuk mengeluarkan antena.
"Ini harus bergerak relatif cepat sekarang," kata Morales, yang mencirikan upaya komunikasi tersebut sebagai berita optimis pertama sejak laporan kapal selam yang hilang mulai menguap di Argentina pada Jumat pagi.
Sebuah pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), sebuah pesawat tempur NASA dan kapal patroli kapal selam Inggris pada hari Sabtu bergabung dengan mencari kapal selam yang hilang, ARA San Juan.
Pencarian tersebut terhalang oleh angin kencang di perairan lepas pantai Patagonia, di mana kapal selam tersebut diyakini terdampar, kata beberapa pejabat.
Posisi kapal selam yang hilang itu berada di 240 mil laut dari pantai saat terakhir dilacak. Mereka melakukan perjalanan dari kota Patagoni Ushuaia ke Mar del Plata, di Provinsi Buenos Aires, untuk melakukan patroli keamanan rutin. Tiga kapal selam Argentina biasanya digunakan untuk memerangi penangkapan ikan secara ilegal.
Kapal selam tersebut meninggalkan Ushuaia pada 8 November dan dijadwalkan tiba di Mar del Plata pada hari Minggu, menurut Angkatan Laut.
Ombak 6 Meter Ganggu Pencarian Kapal Selam Argentina yang Hilang
Badai dan ombak 20 kaki (6 meter) di Atlantik Selatan menghalangi upaya pencarian kapal selam militer Argentina dan 44 awaknya yang hilang misterius. Misi menyisir dasar laut disiapkan militer setelah jejak kapal selam itu belum diketahui.
Kru kapal selam ARA San Juan buatan Jerman terakhir melaporkan lokasinya berada 432 km (268 mil) dari pantai Atlantik selatan Argentina pada Rabu pagi. Tak lama setelah itu, kapal tersebut hilang kontak yang memicu pencarian besar-besaran pada hari Jumat.
Namun badai dan ombak ganas setinggi 6 meter terus mengganggu visibilitas dan upaya untuk mengeksplorasi laut selatan Argentina. Kesulitan medan pencarian itu disampaikan juru bicara angkatan laut, Enrique Balbi.
Meski demikian, pihak berwenang menggandakan usaha pencarian di atas dan di bawah permukaan air laut. Kepala pangkalan angkatan laut di pelabuhan Mar del Plata, Gabriel Gonzalez, mengatakan bahwa tim pencari dan penyelamat bersiap melakukan operasi penyisiran bagian bawah samudra.
Kapal selam yang hilang itu awalnya sedang menuju ke Mar del Plata dari Kota Ushuaia.
”Pencarian di bawah laut jelas jauh lebih rumit daripada pencarian di permukaan, karena memerlukan kombinasi alat berteknologi tinggi,” kata Gonzalez dalam sebuah konferensi pers, yang dikutip Reuters, Minggu (19/11/2017).
Pejabat angkatan laut yang berbicara dalam kondisi anonim mengatakan, cuaca buruk diperkirakan akan berlanjut sampai Minggu (19/11/2017) siang.
Carlos Zavalla, seorang komandan angkatan laut, mendesak kerabat dan teman dari 44 awak kapal selam yang hilang agar tidak menyerah. ”Sejauh ini, satu-satunya hal konkrit adalah kurangnya komunikasi,” kata Zavalla di stasiun televisi A24. ”Itu saja,” lanjut dia.
Pesan dukungan juga muncul dari pemimpin Vatikan Paus Fransiskus, yang merupakan penduduk asli Argentina. Menurut Vatikan, Paus berdoa agar para awak kapal segera kembali ke keluarga mereka.
Argentina juga menerima tawaran bantuan dari Amerika Serikat (AS) untuk mencari kapal selam tersebut. AS menawarkan diri untuk mengirim pesawat penjelajah NASA P-3 yang telah ditempatkan di Ushuaia. (Berlianto, Muhaimin)

BTR-58, Varian Terbaru APC Amphibi Produksi Dalam Negeri

BTR-58
BTR-58 

PT Wirajayadi Bahari, perusahaan swasta asal Surabaya terbilang gigih menelurkan inovasi di rancang bangun alutsista. Terkhusus pada pembuatan prototipe ranpur APC Amphibi yang telah dirintis sejak tahun 2011, yang puncaknya ditampilkan ke publik dalam ajang Indo Defence 2012 di Kemayoran. Meski masih berstatus prototipe, dalam beberapa kali defile Marinir, APC Amphibi kerap disertakan, bahkan sudah pernah diajak dalam latihan tempur.
Musim berganti, kabar selanjutnya tersiar di Desember 2016, ranpur lapis baja amfibi ini unjuk kebolehan saat berlaga melakukan manuver di perairan Dermaga Satuan Kapal Amfibi (Satfib), Surabaya. Dan ada kabar terbaru datang dari ajang Marinir Fair 2017 yang berlangsung 16-19 November di Kesatriaan Marinir Hartono di Cilandak, PT Wirajayadi Bahari memperkenalkan varian terbaru ranpur APC Amphibi, yang kali ini dijuluki “BTR-58.”
“Sekedar untuk mempermudah penamaan saja, varian prototipe terbaru ini kami sebut BTR-58,” ujar Bintoro, pemilik PT Wirajayadi Bahari kepada penulis. Tapi jangan salah persepsi, BTR-58 bukan berarti Bronetransporter seperti halnya BTR-50, melainkan BTR-58 adalah singkatan dari ‘Bintoro’ yang kelahiran tahun 1958. Ia menyebut BTR-58 mulai dikembangkan pada awal tahun lalu.
Di BTR-58, PT Wirajayadi Bahari melakukan beberapa modifikasi yang cukup penting. Bicara dapur pacu, BTR-58 sudah menggunakan mesin diesel besutan Jerman, Deutz TCD 2015 V08. Tenaga yang dikucurkan mencapai 670HP/550KW dengan RPM 2100. Sebagai perbandingan, pada prototipe pertama tenaga mesin masih 400HP/294KW. Bila di prototipe tahun 2012 masih menggunakan transmisi manual, BTR-58 sudah menggunakan automatic hydraulic transmission model MA5610G. Untuk steering gear mengadopsi hydraulic power dual power flow.
Dari sisi navigasi kemudi kini dibekali virtual instrument berbasis touch screen. BTR-58 sanggup diajak ngebut di darat hingga kecepatan 70 km per jam, sementara di air dengan mengandalkan dua water jet propeller, ranpur lapis baja ini dapat melaju 14 km per jam. Pihak PT Wirajayadi Bahari menyebut ranpur ini dapat mengarung di laut dengan level gelombang sea state 2.
Ranpur pembawa pasukan ini dapat membawa 16 pasukan bersenjata lengkap. Untuk keluar masuk pasukan, modifikasi telah dilakukan PT Wirajayadi Bahari pada pintu rampa. Dari aspek kenyamanan, kompartemen pasukan kini sudah dilengkapi pendingin (AC). Untuk dudukan senjata, penempatan mounting senapan mesin sedang GPMG kaliber 7,62 mm, tidak berubah seperti yang ada di prototipe pertama.
Dari aspek ketahanan, Bintoro menyebut APC Amphibi dengan desain diamond ini lapisan bajanya sanggup menahan terjangan proyektil kaliber 7,62 mm dari jarak 50 meter.
BTR-58 sudah diuji beberapa kali di Perairan Tuban, Jawa Timur. Bintoro berharap kelak, produksi BTR-58 dapat diadopsi oleh Korps Marinir untuk menggantikan BTR-50P yang usianya telah menua. Sebagai pengganti BTR-50, pilihan telah dijatuhkan ke BT-3F dari Rusia, meski begitu idealnya inovasi alutsista dalam negeri harus mendapat porsi tersendiri, tak lain demi harapan kemandirian industri pertahanan dalam negeri. (Haryo Adjie)
Spesifikasi APC Amphibi BTR-58 :
  • Panjang: 8,7 meter
  • Lebar: 3,2 meter
  • Tinggi: 2,45 meter
  • Ground Clearance: 0,4 meter
  • Mesin: Deutz TCD 2015 V08
  • Tenaga: 670HP/550KW
  • Maks speed di darat: 70 km per jam
  • Maks speed di air: 14 km per jam

Apa Saja Fitur Baru dari Modifikasi Tank T-72B3 Senilai 40,5 Miliar Rupiah untuk Setiap Unitnya?

Tank T-72B3
Tank T-72B3 

Versi terbaru dari tank T-72B3 telah diperbarui dengan sistem pengendalian tembakan digital, sistem perlindungan dinamis Relic, dan mesin turbodiesel 1,000 tenaga kuda. Modifikasi-modifikasi ini berarti sang mesin perang mampu melacak target dari kejauhan sementara bermanuver dan menembak dengan lebih efektif.
Model asli dari tank ini dikembangkan hampir setengah abad lalu, menjadikannya tank terbesar di militer Rusia.
Saat ini militer Rusia memiliki lebih dari 2,700 model tank. T-72B3 sangat cocok untuk pertempuran urban karena dilengkapi dengan penglihatan multisaluran dan senapan 125 mm dengan amunisi berkekuatan tinggi.
“Teknisi harus memodernisasi hampir 80 persen interior tank untuk menyesuaikannya dengan standard peperangan modern. Pencapaian terbaik produsen adalah memastikan tank bisa beroperasi di situasi cuaca ekstrem yang berbeda,” ujar seorang sumber dari bidang militer.
Kementerian Pertahanan Rusia menghabiskan 3 juta dolar AS (40,5 miliar dolar AS) untuk pembaruan setiap tank ini. Lapisan baja T-72B3 akan memakai sistem perlindungan baru memungkinkannya untuk tahan dari rentetan peluru penembus perisai.
Mesin mematikan ini juga akan menggunakan sensor penembakan serta sistem balistik digital dan pelacak otomatis, sehingga ia bisa mendeteksi arus angin dan temperature sebelum menembak guna mengenai target tepat sasaran.
“Pemakai tank ini mendapatkan ‘asisten’ elektronik terpercaya yang mengurangi waktu bidikan. Tank ini juga bisa menggunakan alat pencitraan termal untuk mengenai target pada malam hari,” ujarnya menambahkan.

SWG R-1 Marinir, Drone Pengintai Flying Wing Andalan Infanteri Marinir TNI AL

SWG R-1 Marinir
SWG R-1 Marinir 

Pada Maret 2017 lalu, Dinas Material Korps Marinir telah melangsungkan uji fungsi drone/UAV (Unmanned Aerial Vehicle) intai jenis Backpack SWG Throw System buatan PT Bhimasena. Karena disebut sebagai drone yang dapat dikemas dalam backpack (ransel), maka bisa dipastikan yang diusung adalah tipe mini drone modular flying wing dengan konsep hand launched alias diluncurkan dari tangan. Beberapa foto pun telah beredar di lini masa yang memperlihatkan prajurit Intai Amfibi (Taifib) tengah menerbangkan drone sembari berlari.
Meski bentuknya sudah diketahui, toh versi resmi drone buatan PT Bhimasena tak disebutkan oleh pihak pengguna. Dalam siaran pers yang dirilis Dispen Korps Marinir Maret 2017, hanya disebut tentang pelatihan awak drone untuk memberikan bekal dan meningkatkan kemampuan serta pengetahuan kepada prajurit Denjaka, Batalyon Taifib, dan Brigade Infanteri Korps Marinir.
Namun dalam Marinir Fair 2017 yang digelar di Kesatriaan Marinir Hartono di Cilandak, Jakarta Selatan, PT Bhimasena merilis spesifikasi drone yang digunakan pasukan Marinir (UAV Squad), yang disebut sebagai UAV SWG R-1 Marinir.
Seperti apa kemampuan SWG R-1 Marinir, pertama dari aspek tenaga, drone ini disokong baterai lithium polymer dengan kapasitas 8.000 mAh. Dari kapasitas baterai tersebut, drone dapat terbang selama 60 - 120 menit. Sementara kecepatan luncur di udara bisa mencapai 100 km per jam. Ketinggian terbang maksimumnya adalah 1.500 meter, sedangkan ketinggian operasionalnya ada di kisaran 100 - 500 meter.
Bicara tentang payload, SWG R-1 Marinir dapat membawa high resolution DO daylight, camera FLIR - FOV 34×26 inchi/48×37 inchi, dan kemampuan rekam video dengan kualitas ISR yang dikirim ke Ground Control Station (GCS). Total payload yang bisa dibawa mencapai 250 gram.
Bobot drone pengintai ini keseuruhan ada di rentang 2,6 kg - 3 kg. Panjang drone hanya 60 centimeter dan lebar (wing span) mencapai 190 centimeter. Untuk sistem kendali, ada beberapa opsi, mulai dari programmed autonomous flight, semi auto, flight manual, loiter, homing autonomous dan failsafe.
Seperti halnya drone Tawon 1.8 yang berhasil merekam aktivitas kawah di Gunung Agung, drone SWG R-1 Marinir didaratkan secara landing belly atau bisa juga dengan parasut, bergantung pada situasi dan kondisi di lapangan. Ransel yang yang digunakan sebagai rumah drone ini diambil dari jenis UAC Pelican Case 1605. (Bayu Pamungkas)

Pergantian Panglima TNI, Berikutnya Giliran TNI Angkatan Udara?

Panglima TNI
Panglima TNI 

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Tb. Hasanuddin, menyarankan agar pengganti Panglima TNI (Tentara Nasional Indonesia) Gatot Nurmantyo berasal dari matra TNI Angkatan Udara.
Ia beralasan, Angkatan Udara berhak mendapat kesempatan yang sama untuk menduduki kursi panglima. "Tapi kembali lagi, itu hak prerogatif presiden," katanya di Jakarta Kamis, 16 November 2017.
Menurut Hasanuddin, presiden bisa mengganti Gatot jauh sebelum ia memasuki masa pensiun, yang jatuh pada Maret 2018. Presiden, kata dia, tinggal mengajukan satu kandidat untuk mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di Komisi Pertahanan. "Kalau tidak menyetujui, nanti presiden kirim satu nama lagi sampai kemudian disetujui DPR," ujarnya.
Hasanuddin menyebutkan syarat menjadi Panglima TNI antara lain pernah menjadi kepala staf angkatan udara, laut, ataupun darat. Dalam undang-undang, dia melanjutkan, Panglima TNI “dapat digilir” dari ketiga matra tersebut. "Kata ‘dapat digilir’ merupakan penekanan supaya ada kesamaan," ujarnya.
Pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi, juga menilai anggota TNI Angkatan Udara perlu dipertimbangkan menjadi Panglima TNI selanjutnya. Sebab, sudah lama jabatan Panglima TNI tidak dijabat unsur AU. "Dengan cara itu, mereka akan punya confidence yang sama dengan yang lain," ucap dia.
Gatot Nurmantyo, yang dilantik menjadi Panglima TNI pada 8 Juli 2015, bakal memasuki masa pensiun pada Maret tahun depan. Koalisi masyarakat sipil mendesak Presiden Joko Widodo segera mengganti Gatot dengan alasan penataan organisasi dan kepemimpinan TNI. Agenda reformasi TNI dianggap stagnan selama kepemimpinan Gatot.
Wakil Presiden Jusuf Kalla enggan berkomentar ihwal ada-tidaknya pembahasan penggantian Gatot oleh Istana. Juru bicara Wakil Presiden, Husain Abdullah, mengaku tidak tahu apakah pembahasan sudah berlangsung dan sejauh mana jika sudah berlangsung."Wah, saya belum tahu. Saya harus mengecek dulu ke Pak Wapres (Jusuf Kalla)," ujarnya kepada Tempo.
Panglima TNI dari masa-ke-masa :
  1. Laksamana TNI Widodo 26 Oktober 1999-7 Juni 2002 TNI AL
  2. Jenderal TNI Endriartono Sutarto 7 Juni 2002-13 Februari 2006 TNI AD
  3. Marsekal TNI Djoko Suyanto 13 Februari 2006-28 Desember 2007 TNI AU
  4. Jenderal TNI Djoko Santoso 28 Desember 2007-28 September 2010 TNI AD
  5. Laksamana TNI Agus Suhartono 28 September 2010-30 Agustus 2013 TNI AL
  6. Jenderal TNI Moeldoko 30 Agustus 2013-8 Juli 2015 TNI AD
  7. Jenderal TNI Gatot Nurmantyo 8 Juli 2015-Sekarang TNI AD

HK MP5K PDW, Senjata Andalan Satuan Bravo 90 Paskhas TNI AU

HK MP5K PDW
HK MP5K PDW 

Sebagai kesatuan yang memiliki kekhususan pada operasi anti teror aspek udara, Satuan Bravo 90 (dulunya Detasemen Bravo) Paskhas TNI AU membutuhkan senjata yang berukuran kompak. Hal ini menjadi sangat penting ketika personil Satuan Bravo 90 harus melaksanakan operasi Atbara (Anti teror bajak udara) apabila memang terjadi kasus pembajakan atas pesawat udara.
Pada era 1980an hingga 1990an, Paskhas mengandalkan pistol mitraliur atau SMG (submachine gun) tipe Sa Vz.61 Skorpion kaliber 9mm. Kini, seiring modernisasi persenjataan Paskhas, SMG standar untuk Satuan Bravo adalah Heckler & Koch MP5 PDW (Personal Defence Weapon). Pabrikan HK mengembangkanMP5 PDW dari basis MP5K (Kurz) atau MP5 kate yang diperuntukkan bagi pengawalan VVIP.
Dengan bobot hanya 3 kilogram belum termasuk optik, MP5 PDW memang sangat nyaman, kompak, dan mudah dibidikkan ke sasaran, juga termasuk bermanuver di dalam ruang sempit seperti di dalam pesawat udara. Menembakkan MP5 PDW pun tidak perlu membidik penuh karena memang sangat akurat. Setingan penembakan pada MP5 PDW Bravo menggunakan setingan S-1-F dan bentuk receiver bawah klasik.
MP5 PDW sendiri memiliki perbedaan dengan MP5K melalui keberadaan peredam cahaya (muzzle brake) yang terpasang pada drat 140mm. Kalau dibutuhkan, peredam cahaya ini bisa dilepas dan digantikan dengan peredam suara model tiga lug. Selain itu, karena memang ditujukan untuk penggunaan pasukan khusus, maka MP5 PDW pun disiapkan dengan popor lipat, bukan popor tarik seperti lazimnya MP5 biasa.
Namun, ada perbedaan pada MP5 PDW yang digunakan oleh Satuan Bravo. Jika model standar MP5 PDW menggunakan popor lipat buatan Choate, maka untuk Satuan Bravo menggunakan MP5 PDW desain khusus dengan popor lipat buatan pabrikan Brugger & Thomet (B&T) dari Swiss.
Popor ini mengikuti desain SMG HK UMP, berukuran lebih besar, dan lebih nyaman dalam menyediakan sandaran saat menembak. Saat mau dilipat, tinggal tekan tombol di pangkal popornya saja. Harganya juga mahal. Kalau dibeli di pasar Amerika Serikat, harga popornya sendiri sudah mencapai US$ 280, atau sekira 4,5 juta Rupiah.
MP5 PDW milik Satuan Bravo dikawinkan dengan dudukan optik rendah, kemungkinan tipe MLI buatan Heckler & Koch. Sistem rel ini memeluk bagian atas dari MP5, dengan menyediakan coakan di sisi kanan agar tidak menutupi lubang tempat keluar kelongsong. Rel profil rendah ini menyediakan rel Picattinny tempat menempelkan optik, yang diisi oleh keluarga optik jarak dekat holografik EOTech 551 dan 552. (Aryo Nugroho)

Lima Perwira TNI Tolak Naik Pangkat Usai Bebaskan Sandera di Tembagapura

Kenaikan Pangkat
Kenaikan Pangkat 

Sebanyak 58 prajurit TNI naik pangkat karena berhasil membebaskan 1.300 warga yang dilokalisasi kelompok kriminal bersenjata (KKB). Namun, ada lima perwira TNI menolak kenaikan pangkat luar biasa tersebut.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, kelima perwiranya menolak dinaikkan pangkat karena mereka menganggap tidak pantas mendapatkan penghargaan sebesar itu, sebab keberhasilan operasi pembebesan sandera di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua adalah berkat kerja keras anak buahnya.
Kelima perwira berjiwa kesatria tersebut adalah Lettu Inf Shofa Amrin Fajrin selaku Komandan Bantuan Kompi Senapan B; Lettu Inf Agung Damar P selaku Danunit 2/1/1/13 Kopassus; Lettu Inf Sukma Putra Aditya selaku Danunit 2 Bakduk 812 Sat-81 Kopassus; Kapten Inf Sandra SP selaku Danki Intai Tempur; dan Lettu Inf Akhmad Zainuddin selaku Danyon Taipur 1/A.
Usai memimpin upacara kenaikan pangkat di Kampung Utikini, Tembagapura, Gatot membeberkan, kelima perwira tersebut menyampaikan langsung kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono bahwa mereka tidak bersedia menerima penghargaan.
Sebab, menurut mereka, keberhasilan operasi pembebasan sandera di wilayah Tembagapura adalah keberhasilan anak buahnya dan sudah menjadi tanggung jawab mereka sebagai komandan memimpin operasi.
"Kelima perwira ini menyampaikan kepada Bapak Kasad, bukan kepada saya. Menyampaikan bahwa keberhasilan ini adalah milik anak buahnya. Jadi, sepantasnya kenaikan pangkat hanya anak buahnya, bukan perwiranya," tutur Gatot, Minggu (19/11/2017).
Meski menolak kenaikan pangkat, kelima perwira TNI tersebut mengaku siap bertanggung jawab jika operasi militer pembebasan sandera yang dilaksanakan beberapa hari lalu gagal. "Tetapi kalau gagal, tanggungjawab kami (kelima perwira),” ujar Gatot meniru ucapan kelima perwiranya.
Mendengar jawaban itu, Gatot mengaku terharu dan bangga dengan sikap kestria kelima perwiranya. “Itulah yang membuat saya terharu, luar biasa mereka," ujarnya.
Meski mereka menolak naik pangkat, Gatot mengatakan dirinya sebagai pimpinan TNI tetap akan memperhatikan dan mengapresiasi keberhasilan anak buahnya.
"Tetapi kami memperhatikan juga pendidikan mereka. Jadi mereka tidak mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa bukan karena bukan haknya, tetapi karena mereka meminta. Karena keberhasilan hanya milik anak buah dan kegagalan menjadi tanggung jawab mereka," terang Gatot.
Dapat Teror, 1.000 Masyarakat Lokal Papua Juga Minta Dievakuasi
Sekitar 800-1000 orang masyarakat lokal di Kampung Banti dan Utikini, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, meminta untuk diungsikan dari kampung tersebut kepada apparat TNI dan Polri.
“Hari ini, mereka menelepon Kapolda Papua untuk meminta dievakuasi, karena mereka semakin trauma dan ketakutan atas intimidasi yang terjadi selama tiga minggu terakhir,” ungkap Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal, Minggu (19/11/2017).
Kamal menerangkan, setidaknya ada 800-1.000 orang di dua kampung itu yang meminta dievakuasi. Namun, sampai saat ini aparat TNI dan Polri belum mengambil keputusan, mengingat tak ada jaminan tempat tinggal yang biasa diberikan kepada mereka.
“Kalau mereka kita bawa ke Timika, maka kita harus siapkan tempat tinggalnya. Jadi, kemungkinan besok pimpinan akan memberikan keputusan atas permintaan mereka,” pungkasnya.
Akan tetapi, lanjut Kamal, kalau mereka tak juga dievakuasi, aparat akan mengirimkan logitstik atau bahan makan.
“Selain itu kami juga berupaya untuk membuka kembali akses kesehatan dan pendidikan di sana, namun kita mau memasikan keamanan mereka dulu, dengan dibuatnya posko terpadu” katanya.
Juru Bicara Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi menegaskan, warga yang meminta untuk dievakuasi lantaran tak ada lagi sumber perekonomian di sana, sehingga menyulitkan masyarakat setempat mendapat akses bahan makanan.
“Di kampung itu, sebelumnya masyarakat non Papua yang bedagang, sehingga masyarakat setempat bisa mengakses kebutuhan sehari. Pasca mereka di intimidasi dan juga dievakuasi, maka tak ada lagi akses perekonomian disana, sehingga masyarakat setempat mengalami kesulitan dan meminta dievakuasi,” katanya.
Tak ada bantuan pemda
Aidi mengungkapkan, sampai sejauh ini tak ada keterlibatan pemerintah daerah untuk membentu masyarakat di sana. Apalagi, sampai sejauh ini tak ada kabar keberadaan Bupati Mimika, yang diduga masih berada di Amerika.
“Kalau kita evakuasi, kemana akan kita bawa mereka, ini bukan hanya menyangkut penampungan, melainkan tempat tinggal, akses pendidikan untuk anak-anak mereka. Harus ada pemerintah, untuk mengatasi hal ini,” katanya.
Bahkan Aidi menyampaikan, sejauh ini logistik bahan makanan yang diberikan kepada masyarakat selama di isolasi oleh Kelompok KKB, hanya polri dan Freeport yang menyiapkannya.
“Anggaran besar telah dikeluarkan Polri untuk memberikan logistik kepada masyarakat. Sedangkan pemerintah masih belum turun tangan,” katanya.

Detik-Detik Menegangkan Operasi Senyap Kopassus dan Kostrad Bebaskan Sandera di Papua dari Tangan KKB

Operasi Senyap Kopassus dan Kostrad
Operasi Senyap Kopassus dan Kostrad 

Proses pembebasan sandera di Banti, Kimbeli dan area longsoran Distrik Tembagapura, Papua pada Jumat (17/11/2017), didahului sebuah operasi senyap yang dilakukan Kopassus dan Tim Intai Kostrad.
Sebanyak 13 personel Kopassus dan 10 personel Kostrad ini sudah mengintai lokasi penyekapan sejak lima hari lalu. Mereka mengendap dan memantau pergerakan kelompok kriminal bersenjata yang membaur dengan warga sipil.
Kepala Penerangan Daerah Militer XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi di Timika, Sabtu (18/11/2017), mengakui upaya pembebasan 344 warga sipil terisolasi itu penuh risiko lantaran KKB terus menghujani aparat dan warga dengan tembakan dari jarak jauh.
Aidi mengisahkan detil proses pembebasan 344 warga itu. Dia menyebutkan, pasukan TNI sudah bergerak ke lokasi sasaran sejak lima hari sebelumnya. Mereka terdiri dari Kopassus 13 personel, 20 personel dari Batalyon 751/Rider, dengan tugas khusus merebut Kampung Kimbeli dari KKB.
Selain itu, Peleton Intai Tempur Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi dengan personel masing-masing 10 orang. Tugasnya adalah merebut Kampung Banti.
"Mereka bergerak dengan sangat senyap, sangat rahasia pada malam hari. Lalu pada siang hari mereka mengendap, membeku. Sambil mempelajari situasi secara perlahan sekali mereka sampai di titik sasaran," ujar Aidi seperti dikutip dari Antaranews.com.
Aidi menuturkan, satu hari sebelum jam yang disepakati untuk menyerbu, pasukan sebenarnya sudah berada di lokasi masing-masing dan siap untuk menyerbut. "Selama satu hari itu mereka tidak makan," ucap Aidi.
Rencana menyerbu OPM/KKB yang berada di Banti dan Kimbeli pada Kamis (16/11/2017) urung dilakukan mengingat saat itu kelompok separatis sudah membaur dengan masyarakat.
"Saat itu anggota sudah meminta izin kepada Pangdam untuk segera mengatasi KKB karena jarak mereka hanya sekitar 30-50 meter dan ada anggota KKB yang menenteng senjata api," kata Aidi.
Namun Pangdam Cenderawasih memberikan petunjuk bahwa jika KKB masih membaur dengan masyarakat sipil, maka tidak boleh ada tindakan karena operasi penumpasan KKB Tembagapura itu lebih mengutamakan keselamatan warga sipil.
Lalu, Jumat pagi kemarin, sejumlah pentolan KKB yang baru bangun bergerak ke pos-pos di wilayah ketinggian yang sudah mereka dirikan. Di pos-pos itu sejumlah bendera kelompok separatis Papua merdeka berkibar di sana.
Saat itulah, pasukan TNI serentak menyerbu Kampung Kimbeli dan Banti. Kelompok separatis bersenjata itu kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan dan ke area ketinggian sambil menyerang aparat dengan tembakan bertubi-tubi.
Saat penyerbuan itu dilakukan, jarak pandang di lokasi itu hanya sekitar tiga hingga lima meter karena masih berkabut tebal.
Setelah KKB lari kocar-kacir meninggalkan kedua kampung itu, aparat gabungan TNI dan Polri lain bergegas menuju dua kampung itu untuk membebaskan ratusan warga yang disandera.
Aidi mengatakan saat proses evakuasi warga masih berlangsung, kontak tembak antara aparat TNI-Brimob dengan KKB masih terus berlangsung dalam kurun waktu kurang dari dua jam.
"Kami belum bisa memastikan apakah dari pihak mereka ada korban atau tidak," kata Aidi.

C-146 Wolfhound, Pesawat Angkut Rahasia Milik AS yang Pernah di Intersep Sukhoi Su-27SKM TNI AU

C-146 Wolfhound
C-146 Wolfhound 

Jika melihat sosok dan laburan cat warna bergaris biru di badannya, apa bayangan pertama yang terlintas di pikiran pembaca? Pesawat angkut baling-baling biasa, seperti yang digunakan banyak maskapai penerbangan dalam negeri untuk rute-rute pendek? Itulah imej yang ingin dibentuk oleh Komando Pasukan Khusus AS atau USSOCOM (United States Special Operations Command).
Nyatanya, pesawat yang dioperasikan oleh Komando Kesatuan Khusus AU AS atau AFSOC (Air Force Special Operations Command) ini adalah pesawat yang menjadi tulang punggung untuk misi-misi khusus, seperti mengirimkan logistik dan perbekalan, angkut pasukan ke titik-titik terjauh di bumi, membawa VVIP secara aman, sampai dengan evakuasi medik bagi pasukan khusus yang terluka di lapangan. Namun tidak pernah ada penanda bahwa pesawat ini dimiliki dan dioperasikan oleh militer AS.
Salah satu C-146 ini pernah terlibat insiden di Indonesia ketika terbang secara rahasia (black flight) sehingga harus dicegat oleh patroli Sukhoi Su-27SKM TNI AU di atas wilayah Natuna pada tahun 2015 lalu.
Dengan kelir sipil, mudah saja C-146 Wolfhound menyaru di bandara sipil. Coba saja lihat foto yang admin dapatkan, C-146 ini bisa anteng parkir di antara dua pesawat Boeing 737 Garuda Indonesia di sebuah bandara di Indonesia, padahal sejatinya pesawat ini punya kemampuan untuk mendukung operasi khusus. Pesawat ini jadi mudah memasuki wilayah udara negara manapun karena diregistrasi dan tampil secara sipil.
Nama pesawat tersebut adalah C-146 Wolfhound, yang dibangun dari basis pesawat komuter Dornier 328 buatan Jerman dan dirakit secara lokal di pabrik Fairchild Dornier di Amerika Serikat. C-146A sendiri dimodifikasi secara khusus oleh Sierra Nevada Corporation dengan nilai proyek sebesar US$200 Juta dan AFSOC sendiri memiliki 17 pesawat ini di dalam inventori dan dibagi ke dalam 2 skadron yang beroperasi di Asia Tenggara dan Afrika.
Avionik yang dipesan khusus untuk versi ini adalah Honeywell Primus 2000 Avionics System yang menampilkan display digital untuk pilotnya. Ada pula sistem EFIS (Electronic Flight Instrument System), EICAS (Engine Indicating and Crew Alerting System) untuk memantau kondisi pesawat secara mandiri. Untuk beroperasi di tempat terpencil C-146 juga dilengkapi Allied-Signal GTCP 36-150 APU (Auxilliary Power Unit) untuk menstarter pesawat. C-146A ditenagai oleh dua mesin turboprop Pratt & Whitney 119C yang masing-masing menghasilkan daya 2.180shp.
C-146 memiliki kemampuan untuk mendarat di landasan yang kasar sehingga memang sangat cocok untuk mendukung operasi tempur pasukan khusus. Pesawat ini pernah terpergok mendukung penggelaran pasukan khusus AS di Libya, tetapi juga pernah dilibatkan dalam operasi kemanusiaan menolong korban badai di Filipina. C-146 juga biasa digunakan mendukung transport VVIP, seperti Menteri Pertahanan Ash Carter dan mengantarkan Menteri Luar Negeri John Kerry berkunjung ke pedalaman Vietnam di era Presiden Obama.
Nah, jika pembaca sempat melihat C-146 ada di bandara yang dikunjungi, ingat-ingat saja, di balik sosok pesawat yang kelihatannya biasa-biasa saja ini, ternyata militer Amerika Serikat menggunakannya untuk tujuan-tujuan khusus yang mungkin saja menembus batas bayangan para pembaca. (Aryo Nugroho)

Radar Acak