Kontainer Medik Udara, Sejarah Dirgantara Indonesia yang Dilupakan

Kontainer Medik Udara
Kontainer Medik Udara 

Hari Dirgantara kembali dijelang. Angkatan Udara Republik Indonesia, TNI AU, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-71 tepat pada tanggal 9 April 2017.
Bangga, bersyukur, akhirnya usia sepanjang itu dapat diraihnya dalam perjuangan naik turun sejak setahun setelah kemerdekaan bangsa. Dunia dirgantara Republik Indonesia telah menoreh tinta emas pada banyak bidang sampai kini.
Sejak awal berdiri sampai sekitar tahun 1960-an, Indonesia tercatat sebagai salah satu kekuatan udara penting dan terkuat di belahan bumi selatan.
Majalah penerbangan Inggris Air Pictorial Magazine 3/1967 dalam liputan utama berjudul “Indonesia Air Force: The Trident and Autoland” menulis, “Ditilik dari sudut materil, AU Australia ketinggalan total dari AURI”. Masa gemilang itu terjadi di era kepemimpinan KSAU pertama Marsekal Udara R. Soeriadi Suryadarma (1946-1962).
Namun tahukah Anda ada satu bidang juga di dunia dirgantara Indonesia yang sering luput dari perhatian padahal prestasinya luar biasa mendunia?
Bidang ini disebut Kesehatan Penerbangan atau Kedokteran Penerbangan. Bidang yang sangat spesifik karena menggabungkan dua keahlian pada tingkat yang mumpuni: kedokteran dan kedirgantaraan.
Sampai saat ini, sangat sedikit peliputan topik ini oleh media-media massa konvensional, padahal prestasi Indonesia juga amat tinggi dan belum terlampaui sampai sekarang.
Mereka yang menggeluti bidang ini biasa disebut flight surgeon, yang belum ada padanan yang pas dalam bahasa Indonesia.
Wartawan senior Kompas bidang kedirgantaraan yang juga mantan Pemimpin Redaksi Angkasa, Dudi Sudibyo, dalam sebuah perbincangan dengan saya mengatakan, profesi ini memang langka di Indonesia, maka kita juga memakai kata “flight surgeon”, sedangkan ilmunya disebut Kedokteran Penerbangan.
Pada generasi pimpinan TNI AU di era kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia ternyata beberapa kali tercatat sebagai negara pionir penggagas dalam bidang Kedokteran Penerbangan lewat tokoh ini: Raman Ramayana Saman.
Dokter Raman
Dokter Raman, demikian nama panggilannya, adalah purnawirawan TNI AU dengan pangkat terakhir Marsekal Pertama TNI yang tutup usia tahun lalu menjelang 78 tahun.
Dokter Raman menggagas dan mewujudkan upaya “Bedah Manusia di Udara” lewat sebuah makalah yang diajukannya kepada Presiden Soeharto pada 23 Agustus 1981.
Ia yang saat itu seorang perwira kesehatan, menyebut makalahnya sebagai keberanian seorang Letnan Kolonel yang mengajukan usulan langsung kepada Presiden tanpa lewat atasannya, tetapi lewat ajudan Presiden yang memang dikenalnya.
Raman yang lulus pada tahun 1963 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan tahun 1967 lulus sebagai flight surgeon dari Institute of Aviation Medicine, di Belgrade, Yugoslavia, mencetuskan ide yang sangat rinci dalam makalah berjudul “Gagasan Membentuk Tim Medik Darurat Udara sebagai Unsur Penunjang Kegiatan Pengungsian Medik Udara dalam Operasi Udara TNI-AU/ABRI pada Dasawarsa 80-an”.
Ide terbetik saat ia menyaksikan dokumentasi operasi penyelamatan sandera di Entebbe, Uganda, 4 Juli 1976. Ia ingin agar Indonesia pun memiliki sebuah Kontainer Medik Udara, kompartemen canggih berupa “ruang operasi” atau “ruang ICU” yang masuk ke sebuah armada pesawat setara Hercules C-130.
Kontainer itu diperkuat pula oleh Tim Medik Darurat Udara (MDU), yang akan menjadi bagian penting tugas penyelamatan dalam sebuah operasi militer seperti yang terjadi di Entebbe, Uganda itu.
Terbukti, Indonesia kemudian makin membutuhkan ketika terjadi pembajakan pesawat Garuda yang dikenal sebagai Tragedi Pembajakan Woyla, bulan Maret 1981.
Saat itu, kita belum memiliki alat evakuasi udara yang memadai untuk menghindari jatuh korban lebih banyak dalam suatu operasi militer.
Usulannya yang disebut “Kontainer Medik Udara TNI”, kemudian dirancang-bangun di Inggris pada tahun 1985–1986. Saat itu, atas persetujuan Presiden Soeharto, ia berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi DR. B.J. Habibie.
Hampir bersamaan dengan selesainya kontainer itu, pada bulan Juli 1987, Dokter Raman R. Saman yang saat itu Kolonel Kesehatan, dilantik menjadi Direktur Kesehatan TNI AU.
Saat itulah kebermanfaatan kontainer medik udara semakin kentara dengan beberapa uji coba. Berturut-turut:
  1. 21 November 1987, Bedah Anjing dalam Ruang Udara Tekanan Rendah (RUTR) di Jakarta;
  2. 28 November 1987, Bedah Manusia di dalam kontainer di RSAU Lanud Halim Perdanakusuma;
  3. 16 Desember 1987, Bedah Hewan Percobaan Kelinci di dalam kontainer pada ketinggian terbang 23.000 kaki; dan yang paling akhir pada
  4. Februari 1988, Bedah Manusia dalam penerbangan pesawat Hercules C-130 pada ketinggian 12.000 kaki di atas kota Jakarta.

Dokter Raman menuliskan,
“Akhir 1983, bersama dengan seorang insinyur pabrik pembuat kontainer medik yang saya jumpa di Paris, Perancis, kami presentasi di hadapan Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI dan Direktur Kesehatan (Dirkes) TNI AU beserta staf. Komentar beliau,”Kalau bikin gagasan, jangan yang mahal-mahal.“
Saya menjawab,
”Bila tidak tersedia dana, maka kita pakai perlengkapan dan peralatan kedokteran serta pesawat terbang yang ada alias seadanya. Bila memiliki dana tetapi terbatas, maka kita perbaiki kontainer bekas Bung Karno. Andaikata, ada “Dana dari Langit”, maka kita buat atau beli kontainer medik yang baru.”
Spesialisasi ilmu kedokteran
Masih banyak fakta menarik tentang Kontainer Medik Udara yang ia ceritakan sendiri dalam bukunya ini.
Kedokteran Penerbangan sekarang menjadi salah satu bidang spesialisasi dalam Ilmu Kedokteran. Program studi yang terbentuk pada 22 April 2010 tersebut merupakan satu-satunya program studi kedokteran penerbangan yang ada di Indonesia.
Rintisan dimulai ketika pada bulan Juni 1989, Dokter Raman sebagai Direktur Kesehatan TNI AU yang pertama, merintis kerja sama dengan FKUI dan mendapat dukungan dari Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. dr. Asrul Aswar, MPH, untuk menyelenggarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan.
Hasilnya: berkat jerih-payah sejumlah pejabat Direktorat Kesehatan AU (Ditkesau) yang kesemuanya Dokter Penerbangan, empat tahun kemudian PB-IDI meresmikan terbentuknya Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan (Perdospi).
Status purnawira atau pensiunan tentara, tidak membuat prestasi dr. Raman terhenti. Ia bahkan masih aktif melakukan Bedah LASIK di Rumah Sakit Mata AINI dan Jakarta Eye Center sampai akhir hayatnya.
Ia juga terus membuahkan pemikiran-pemikiran baru dan aktual terkait bidang keahliannya ini, yang telah pula diterbitkan di berbagai media massa.
Dokter Raman menutup mata untuk selamanya pada 16 Mei 2016. Ia purna tugas selamanya, kitalah yang harus meneruskan mewujudkan Indonesia yang jaya dalam kedaulatan Negara di udara.
Anda ingin menambah pengetahuan dirgantara, khususnya tentang kedokteran penerbangan?
Silakan tunggu terbit bukunya di bulan depan, Pak Harto, Saya dan Kontainer Medik Udara: Kisah Kehidupan Perwira AURI, Perintis Kontainer Medik Udara dan Dokter Bedah Mata Refraktif.
Dirgahayu TNI Angkatan Udara ke-71. Swa Bhuwana Paksa. Imelda Bachtiar

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak