Letkol Christine Mau, Pilot Perempuan F-35 Lightning II

Letkol Christine Mau
Letkol Christine Mau 

Sejak kecil Letkol Christine Mau sudah tertarik dengan pesawat terbang, khususnya jet tempur. Tak mengherankan, lantaran ia menjalani masa kanak-kanaknya di dekat El Toro Marine Corps Air Station, California, sebuah lanud milik Korps Marinir AS.
Impiannya terwujud kala ia dinyatakan lulus pendidikan penerbang AU AS dan ditugaskan di skadron tempur F-15E Strike Eagle. Meski sempat cuti untuk melahirkan putri pertamanya, ia kembali berdinas aktif dan masih menerbangkan tipe penempur yang sama.
Christine Mau yang juga menjabat sebagai deputi kepala operasi 33rd Fighter Wing sukses terbang solo dengan jet tempur F-35A Lightning II pada 5 Mei 2015. Proses yang dijalani Christine tak berbeda dengan para rekan prianya.
Sebelum benar-benar menerbangkan F-35A, Christine Mau menjalani serangkaian proses yang dimulai dari basic ground school untuk mengenalkan dasar sistem F-35A. Silabus yang selanjutnya dijalani Christine adalah pelatihan simulator, termasuk di antaranya “menerbangkan” F-35A secara virtual (dalam simulator) sebanyak 14 sorti misi.
Sebelum sukses menerbangkan F-35, Christine juga sempat masuk pemberitaan media massa tatkala bertugas di Lanud Bagram, Afghanistan tahun 2011. Kala itu Christine Mau yang masih berpangkat mayor tergabung dalam sebuah tim kecil yang seluruhnya terdiri dari wanita.
Tim yang secara tak resmi disebut “Bagram All Female Team” itu merupakan bagian dari 389th Expeditionary Fighter Squadron. Tak hanya slogan, tim ini benar-benar dipenuhi wanita, mulai dari pilot (Christine Mau), WSO (weapons system officer, yang duduk di kursi belakang Strike Eagle), para teknisi, kru darat, hingga perwira perencana misi, semuanya wanita.
Ketika ditanya soal tantangan menerbangkan jet tempur terbaru AU AS, Christine Mau menyatakan bahwa terbang tanpa didampingi instruktur yang bersamanya dalam satu pesawat merupakan sebuah pengalaman yang menantang.
Seperti diketahui, semua varian F-35 merupakan varian kursi tunggal (single seat fighter), alias tidak tersedia varian kursi ganda yang biasa dipakai untuk konversi atau latih.
Kesuksesan AU AS menggelar jet tempur F-22A Raptor (yang juga tak memiliki varian kursi ganda) sekitar satu dekade sebelumnya, membuat AU AS cukup yakin akan sistem konversi dan pelatihan pilot tempur yang dianutnya sekarang.
Sistem tersebut pada intinya adalah mengenalkan sistem dan familiarisasi hanya lewat simulator full mission. Saat pertama kali terbang solo, instruktur akan mendampingi calon penerbang dengan pesawat pendamping (chase plane) dari tipe yang sama. Hal ini pula yang dilakukan Christine Mau.
Kesuksesan Christine Mau yang sempat bertugas sebagai instruktur bagi pilot-pilot F-15SG AU Singapura itu kelak akan diikuti oleh para srikandi udara Paman Sam lainnya. Sebab, AU AS kini memang tak membatasi para pilot wanita yang menerbangkan pesawat kombatan garis depan, bahkan untuk mengirim mereka ke medan tempur garis depan sekalipun, seperti yang telah dilakoni Christine Mau di Afghanistan. Antonius KK/Remigius S.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak