RAMBO, Pelontar Granat yang Dibuat Printer 3D

Rapid Additively Manufactured Ballistics Ordnance
Rapid Additively Manufactured Ballistics Ordnance 

Tahun lalu perusahaan Solid Works yang menghasilkan pistol 1911 dengan teknologi cetak 3 dimensi, rupanya perkawinan antara militer dan teknologi baru ini semakin tidak terbendung.
AD AS melalui ARDEC (Armament Research, Development, & Engineering Center) atau Dinas Penelitian dan Pengembangan AD AS telah mengambil proyek senjata dengan teknologi cetak 3D yang lebih ambisius lagi: pelontar granat 40 mm!
Dinamai RAMBO (Rapid Additively Manufactured Ballistics Ordnance), proyek ini merupakan keroyokan antara ARDEC, US Army Manufacturing Technology (ManTech), dan inisiatif AmericaMakes yang mengkhususkan dirinya untuk mencari pengusaha rintisan yang bergerak di bidang cetak 3D.
Dilihat dari bentuknya, RAMBO menggunakan bentuk yang hampir serupa dengan pelontar granat 40mm M230 yang ditempelkan ke bawah laras senapan serbu M16 atau M4.
Bedanya, RAMBO menempel ke housing berupa grip dan dudukan sehingga menjadi pelontar granat berdiri sendiri (standalone).
Dudukan dan grip dari RAMBO dibuat sederhana, dengan gagang yang dibuat tidak pejal tetapi berlubang-lubang dengan desain honeycomb. Bagian atas dari sistem dudukannya juga sudah dilengkapi dengan rel Picattinny, begitu pula bagian samping agar mudah dicanteli aksesoris.
Sisi atas rel pun dipasangi leaf sight untuk membidikkan granat. Pada bagian sisi bawah slide dilengkapi pula dengan AFG (angled foregrip) supaya lebih nyaman dalam membidik.
RAMBO sendiri juga dilengkapi dengan popor tarik untuk membantu menstabilkan senjata pada saat penembakan.
RAMBO terdiri dari 50 bagian dan hampir seluruh komponennya diproduksi dengan teknologi cetak 3D, kecuali komponen pegas dan bautnya.
Material yang digunakan tentu berbeda-beda. Bahan polimer diunakan untuk bagian dudukan pelontar granat, baja untuk pelatuk dan pena pemukul, serta alumunium untuk laras dan receiver penghubung ke dudukan.
Untuk komponen logam, teknologi yang digunakan adalah DMLS (Direct Metal Laser Sintering). Teknologi yang sama digunakan oleh DMLS dalam membuat pistol 1911. Secara total hanya butuh waktu 70 jam untuk mencetak semua komponen.
Sekitar 5 jam lainnya untuk proses coating, perakitan, dan perapihan.
Selain pelontar granat, ARDEC juga ikut membuat munisi dengan bahan cetak 3D. Namun bukan munisi hidup dengan isian peledak berdaya ledak tingg. Yang dipilih adalah munisi latih M781 40 mm.
Komponennya terdiri dari bagian kepala, badan proyektil, dan selongsong. Sebagai pendorongnya, selongsong kaliber .38 digunakan sebagai propelan.
Bagi ARDEC, pembuatan senjata seperti RAMBO membawa banyak keuntungan. Mereka bisa membuat beragam bentuk purwarupa dalam tempo yang lebih cepat dan memasukkan input dari penguji di lapangan dalam perbaikan desain berikutnya.
Hal tersebut dianggap lebih baik ketimbang harus menunggu waktu berbulan-bulan menunggu penyesuaian kemampuan mesin jika menggunakan teknik produksi konvensional. Soal biaya, juga RAMBO jauh lebih murah harga per unitnya.
Saat ini para peneliti AD AS terus menguji sistem RAMBO di Picatinny Arsenal, New Jersey untuk menyempurnakan hasil produksinya.
Jalan untuk adopsi teknologi 3D untuk cetak senjata tentu akan membutuhkan proses yang cukup lama.
Mengubah imej untuk organisasi militer adalah hal yang cukup sulit, butuh waktu untuk mengubah persepsi seperti ketika senapan serbu M16 yang terbuat dari alumunium dan plastik diperkenalkan di AD AS pada tahun 1960-an. Aryo Nugroho

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak