SB>1 Defiant, Hybrid Heli Angkut dan Serang

Ilustrasi
Ilustrasi 

Sikorsky yang baru saja diakuisisi oleh Lockheed Martin bekerjasama dengan Boeing untuk menawarkan konsep hibrida helikopter angkut dan serang. Konsep ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari JMR-TD (Joint Multi-Role Technology Demonstrator) yang merupakan studi untuk mempelajari kebutuhan helikopter AD AS di masa mendatang.
Sasarannya adalah program FVL (Future Vertical Lift) yang digagas oleh AD AS. FVL sendiri merupakan program untuk menggantikan beberapa helikopter AD AS saat ini, seperti UH-70 Blackhawk dan AH-64 Apache, serta tentu saja heli angkut berat CH-47 Chinook yang usianya sudah melewati kepala empat.
Lockheed Martin/Sikorsky yang bekerjasama dengan Boeing baru-baru ini memamerkan konsep mereka untuk FVL-M atau kelas medium dengan hanya pada satu platform.
Ini tentu merupakan perjudian besar, karena FVL-M ini harus bisa memenuhi kebutuhan heli serang dan angkut secara bersamaan.
Konsep helikopter ini bisa dikembangkan sebagai heli angkut dan juga serbu dengan beberapa penyesuaian, tetapi setidaknya mesin, transmisi, rotor ekor, desain tangki bahan bakar, avionik, dan sistem elektroniknya sama.
Proyek kerjasama ini dinamai SB>1 Defiant. Penggunaan tanda ‘>’ memiliki arti satu platform akan bisa memuaskan dua atau lebih kebutuhan.
Desain helikopternya sendiri sangat radikal, menggunakan rotor utama dengan desain koaksial atau bilah bertumpuk yang berputar secara berlawanan serta rotor pusher.
Desain rotor koaksial umum digunakan di Blok Timur, seperti pada keluarga helikopter Kamov Ka-27/28/29/32 dan heli serang Ka-52 Alligator. Satu fitur lain yang juga unik adalah keberadaan rotor pusher atau mesin dan propeller yang diletakkan di bagian belakang dan menyediakan daya dorong.
Gabungan antara rotor koaksial dan rotor pusher akan menyediakan kecepatan yang luar biasa untuk SB>1. Hal ini memungkinkan SB>1 bermanuver dengan sangat lincah, melebihi helikopter dari generasi yang ada saat ini.
Format ini lebih sering ditemukan pada pesawat ringan. Sikorsky sendiri saat belum diakuisisi Lockheed pernah mengembangkan konsep serupa SB>1 dengan nama S-97 Raider.
Lockheed/Sikorsky menjanjikan bahwa varian transpor dari SB>1 akan memiliki kecepatan jelajah mencapai 450 km/jam, 40% lebih kencang dari AH-1Z atau AH-64D.
Kemampuan operasinya sangat prima dengan kemampuan beroperasi tanpa penurunan performa di dataran tinggi yang minim udara, sesuatu yang saat ini jadi momok bagi armada helikopter AD AS di Afghanistan.
Sementara untuk varian serang SB>1 Defiant, pengaturan sistem senjatanya masih nampak konvensional dengan beragam senjata tercantel di bawah sayap kecil (stub wing).
Tidak ada penyimpanan senjata di dalam fuselage seperti konsep proyek RAH-66 Comanche yang akhirnya dibatalkan. Kanon kaliber sedang pun masih nampak bertengger di dagu, tepat di bawah kokpit.
AD AS selaku calon pembeli berharap bahwa salah satu varian dari SB>1 sudah dapat diuji setidaknya pada akhir tahun 2017. Di luar Lockeed/Sikorsky dan Boeing masih ada lagi pabrikan Bell Helicopter yang menyiapkan V-280 Valor untuk kompetisi FLV.
Siapa pemenangnya, itulah yang akan menjadi penentu arah teknologi helikopter AS ke depannya. Aryo Nugroho

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak