Untuk Pertama Kali AS Jatuhkan Bom Non-Nuklir Terbesarnya di Afghanistan

GBU-43B MOAB (Massive Ordnance Air Burst)
GBU-43B MOAB (Massive Ordnance Air Burst) 
Sebuah MC-130 Combat Talon II milik U.S. Air Force Special Operations telah menjatuhkan untuk pertama kalinya GBU-43B MOAB (Massive Ordnance Air Burst) pada sasaran kompleks gua di distrik Achin provinsi Nangarhar, Afghanistan, Kamis lalu (13/04). Intelijen menunjukkan bahwa anggota Islamic State (IS) menggunakan kompleks gua tersebut. Personil dan peralatan menjadi sasaran dalam serangan yang terjadi di sekitar pukul 18:00 waktu setempat.
Bom GBU-43B seberat 11 ton yang masif dan dijatuhkan dengan parasut tersebut adalah senjata udara konvensional terbesar yang pernah digunakan oleh militer Amerika Serikat. MOAB menghasilkan efek ledakan dengan gelombang kejut (shock) yang overpressure yang setara dengan senjata nuklir taktis tapi tanpa adanya sisa radioaktif atau konsekuensi-konsekuensi politik yang terkait dengan senjata nuklir.
GBU-43B MOAB yang dijuluki "Mother of All Bombs" itu dijatuhkan dari MC-130 Combat Talon II yang disesuaikan secara khusus menggunakan sistem roller dan kereta luncur khusus. Bom itu dipasang pada kereta luncur kemudian ditarik dari ramp kargo belakang menggunakan drogue parachute. Setelah ditarik keluar dari pintu kargo belakang MC-130, kereta luncur jatuh terlepas dari bom panjang 30 kaki (9,18 m) tersebut. Bom itu menggunakan sayap pemandu dan sistem stabilizer untuk lintasan terbang balistik yang konsisten dan mengendalikan kecepatan turun (descent rate)-nya untuk pemanduan yang lebih presisi. MOAB menggunakan sistem pemandu satelit bersama dengan gyro internal. Koordinat GPS sasaran awalnya diberikan dari pesawat peluncur kemudian diprogram ke dalam senjata sebelum bom dilepaskan di dekat sasaran. Setelah dilepas pada ketinggian sedang hingga ketinggian tinggi (tergantung pada kebutuhan jarak sasaran), bom itu menggunakan GPS internal untuk pemanduan akhir menuju sasaran.
GBU-43B terutama ditujukan untuk menghasilkan “overpressure” atau efek gelombang kejut barometrik lokal untuk menetralkan sasaran. Bom dengan berat lebih dari 10.000 kilogram tersebut menggunakan 18.700 pon (8.500 kg) bahan peledak H6, kombinasi dari bahan peledak RDX yang terbuat dari cyclotrimethylene trinitramine, peledak TNT konvensional yang digunakan dalam dinamit komersial dan bubuk aluminium. Menurut sumber-sumber, peledak energi tinggi H6 dibuat di Australia dan juga digunakan dalam senjata concussive (senjata dengan efek kejut atau guncangan untuk merusak) seperti ranjau dan bom laut (depth charge) untuk menghasilkan efek overpressure yang sama.
Gelombang kejut yang dihasilkan oleh pelepasan energi yang masif tersebut dialirkan melalui udara dan menghantam benda-benda padat seperti bunker dan kompleks gua. Gelombang ini biasanya mengakibatkan runtuhnya bangunan atau gua tersebut. Militer AS juga mencatat dampak psikologis yang signifikan dari pengerahan GBU-43B MOAB karena ledakannya yang besar dan kemampuan untuk menghasilkan awan berbentuk jamur besar dalam lingkungan atmosfer dan medan tertentu mirip penampilan serangan nuklir. Namun, tidak ada komponen radioaktif dalam GBU-43B.
Menurut beberapa sumber, pengerahan bom GBU-43B ini kemungkinan akan menjadi pengerahan satu-satunya pada teater operasional. Kecuali produksi bom ini telah dilanjutkan kembali, kemungkinan hanya ada 15 (sekarang 14) senjata GBU-43B MOAB yang operasional dalam inventori AS. Penggunaan senjata ini menunjukkan bahwa sasaran yang diserang mempunyai nilai strategis untuk konflik di wilayah tersebut. Karena diperlukannya peralatan dan perencanaan khusus untuk menggunakan GBU-43B, operasi ini kemungkinan memerlukan waktu berhari-hari untuk merencanakannya sebelum dilakukan eksekusi.
Belum ada informasi mengenai penilaian kerusakan bom (bomb damage assessment) yang dirilis mengenai serangan tersebut.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak