Radar Militer

Blog Berita Seputar Aktivitas Militer Terbaru

Agar Efektif, Gunakan Fitur Pencarian (Search) Untuk Mencari Berita di Radar Militer

Hari Ini dalam Sejarah: Kekalahan Perancis di Dien Bien Phu

Perang Vietnam
Perang Vietnam 

Sebelum Amerika Serikat terlibat dan babak belur dalam Perang Vietnam, Perancis yang terlebih dulu merasakan ganasnya perang di negeri Indo-China itu.

Bagi Perancis, 7 Mei 1954 akan selamanya dikenang dan dicatat dalam lembar hitam sejarah negeri itu.
Sebab di hari itulah, militer Perancis menderita kekalahan telak dalam pertempuran di Dien Bien Phu, sekaligus mengakhiri pendudukan Perancis di Vietnam.
Pada 2 September 1945, beberapa jam setelah Jepang meneken pernyataan menyerah tanpa syarat, pemimpin komunis Ho Chi Minh memproklamasikan berdirinya Republik Demokratik Vietnam.
Ho Chi Minh berharap, dengan proklamasi kemerdekaan itu, Perancis tidak akan mengklaim koloninya itu kembali.
Namun, negeri penjajah mana yang ingin kehilangan koloninya begitu saja? Pada 9 Oktober 1945, Jenderal Leclerc, komandan Korps Ekspedisi Perancis tiba di Saigon.
Tujuan utama Leclerc adalah memulihtkan stabilitas di Vietnam Selatan dan melakukan militerisasi Tonkin (Vietnam Utara).
Tujuan kedua adalah menunggu bantuan pasukan dari Perancis dalam upaya merebut kembali Hanoi yang diduduki China lalu menggelar negosiasi dengan para pemimpin Vietminh.
Pada 1946, Ho Chi Minh terpaksa menerima usulan Perancis yang memberikan status otonomi kepada Vietnam tetapi tetap berada dalam sebuah Uni Perancis.
Kondisi ini dengan cepat memicu konflik antara Perancis dan Vietam dengan peluru pertama dilepaskan pada 23 November 1946 yang dikenal dengan insiden Haiphong.
AL Perancis menembaki kota itu dan menewaskan setidaknya 6.000 warga sipil hanya dalam satu hari. Alhasil Vietminh bersedia melakukan gencatan senjata dan meninggalkan kota.
Namun, mundur bukan berarti menyerah, dalam waktu tak lama Jenderal Vo Nguyen Giap memimpin 30.000 personel militer untuk menyerbu Haiphong.
Meski kalah jumlah, dengan persenjataan yang lebih baik ditambah dukungan kapal perang, Perancis berhasil menggagalkan serangan Vo Nguyen Giap.
Konflik antara Vietminh dan Perancis berlanjut pada Desember di Hanoi yang membuat Ho Chi Minh harus meninggalkan kota dan mengungsi ke hutan di kawasan pegunungan.
Sejak saat itu konflik bersenjata antara pasukan Vietminh yang dipimpin Jenderal Vo Nguyen Giap dan Perancis terus terjadi.
Pada 1949, pasukan Vietnam mulai mendapat bantuan persenjataan dari China setelah revolusi di negeri itu berakhir.
Dengan bantuan China, Jenderal Giap bisa membentuk pasukannya yang ala kadarnya, menjadi lima divisi pasukan yang disiplin dan menggunakan persenjataanyang memadai.
Sejak saat itu arah perang berbalik dan kini Perancis yang harus pontang panting menahan gempuran pasukan pimpinan Jenderal Giap.
Pada 9 April 1953, Jenderal Giap mengubah strategi untuk menekan Perancis. Caranya, pasukannya masuk ke dalam wilayah Laos untuk mengepung beberapa pos militer Perancis.
Pada Mei, Jenderal Henri Navarre ditunjuk menjadi panglima tertinggi pasukan Perancis di Indochina.
Sejak awal Navarre mengatakan, Perancis tak mungkin menang perang di Indochina, hal terbaik yang bisa diperoleh Perancis adalah hasil imbang.
Untuk menahan gerak maju pasukan Vietnam, Navarre memilih kota kecil Dien Bien Phu yang berjarak hanya 16 kilometer dari perbatasan dengan Laos dan 272 kilometer sebelah barat Hanoi.
Dien Bien Phu dipilih karena beberapa hal antara lain berlokasi di jalur logistik Vietnminh yang berada di Laos, kota itu memiliki landasan udara, dan kota itu terletak di pegunugan Tai tempat suku Tai yang setia kepada Perancis berada.
Pada 20 November 1953, Perancis menggelar Operasi Castor yaitu untuk menerjunkan Batalion Lintas Udara ke-1 dan ke-2 yang berjumlah 1.800 personel.
Pasukan itu dengan cepat menyapu sejumlah garnisun Vietminh di sekitar lembah Dien Bien Phu. Perancis kemudian menduduki lembah berbentu hati berukuran panjang 19 kilometer dan lebar 13 kilometer yang dikelilingi bukit berhutan itu.
Pada awalnya, pasukan Perancis dan suku Tai dengan mudah menguasai daerah perbukitan di sekitar Dien Bien Phu.
Jenderal Giap ternyata melihat kelemahan posisi pertahanan yang dipilih Perancis dan memindahkan pasukannya ke Dien Bien Phu.
Pada pertengahan Desember 1953, pasukan Vietminh sukses memusnahkan unit-unit Perancis dan Tai yang berpatroli di perbukitan Dien Bien Phu.
Pertempuran untuk mempertahankan Dien Bien Phu kemudian menjadi pertempuran yang paling berat dan panjang yang dikenang para veterannya sebagai "57 hari di Neraka".
Pertempuran Dien Bien Phu pecah pada 13 Maret 1954 setelah sebuah serangan artileri dadakan Vietminh mengejutkan pasukan Perancis.
Serangan dadakan itu menghancurkan dua landasan udara yang digunakan Perancis untuk mengirim logistik. Vietminh juga menghancurkan satu-satunya jalan yang menghubungkan Dien Bien Phu dengan dunia luar.
Kondisi pasukan Perancis semakin buruk setelah musim hujan tiba dan mengubah lembah Dien Bien Phu menjadi sebuah kubangan lumpur raksasa.
Pengiriman perbekalan dan amunisi dengan cara diterjunkan dari udara juga tak efektif bahkan sebagian jatuh di garis pertahanan Vietminh.
Dengan kekalahan di depan mata, pasukan Perancis bertahan menunggu digelarnya Konferensi Geneva (26 April-20 Juni 1954).
Dalam konferensi ini dibahas upaya untuk menciptakan perdamaian di Indochina yang melibatkn AS, Uni Soviet, Perancis, Inggris, dan China.
Kembali ke Dien Bien Phu, pasukan Vietminh yang berada di perbukitan dengan mudah menghajar pasukan Perancis yang terpaksa menggali parit untuk bertahan.
Upaya terakhir Perancis melakuan ofensif adalah pada 4 Mei tetapi berakhir dengan kegagalan.
Vietminh kemudian membalas dengan menghancurkan pos-pos terdepan Perancis dengan roket Katyusha yang baru saja diperoleh dari Uni Soviet.
Babak akhir pertempuran brutal ini adalah pada 6-7 Mei 1954, ketika serangan besar-besaran Vietminh menggilas sisa-sisa pasukan Perancis yang bertahan mati-matian.
Pimpinan tertinggi militer Perancis Jenderal Cogny, yang bermarkas di Hanoi, kemudian memerintahkan Jenderal De Castries untuk menghentikan baku tembak pada pukul 17.30 lalu menghancuran semua peralatan yang tersisa.
Perintah resmi adalah tidak menggunakan bendera putih sehingga tindakan itu dianggap sebagai sebuah gencatan senjata bukan tanda menyerah.
Sebagian besar pertempuran berhenti pada 7 Mei 1954, tetapi baku tembak masih terjadi di pos pertahanan Isabelle di sisi selatan Dien Bien Phu hingga 8 Mei 1954 pukul 01.00 dini hari.
Pertempuran yang berlangsung selama satu bulan, tiga pekan, dan tiga hari itu mengakibatkan 2.200 personel militer Perancis tewas, 1.729 dinyatakan hilang, dan 11.721 menjadi tawanan.
Sedangkan di pihak Vietnam diperkirakan sebanyak 4.800-8.000 personel tewaas, 9.000-15.000 terluka.
Jumlah tawanan yang didapat pasukan Vietminh dalam pertempuran Dien Bien Phu merupakan yang terbanyak selama perang Indochina berkobar.
Kemenangan Vietminh di Dien Bien Phu ini sangat memengaruhi hasil Konferensi Geneva 1954 yang berakhir pada 21 Juli 1954.
Hasil konferensi itu adalah Perancis sepakat menarik mundur pasukan dari semua koloninya di Indochina dan membagi dua Vietnam dengan batas di sungai Ben Hai yang kemudian dikenal sebagai garis paralel ke-17.
Di sisi utara pemerintahan dikendalikan Vietminh yang dipimpin Ho Chi Minh dan di sisi selatan diserahkan kepada Negara Vietnam yang dipimpin Kaisar Bao Dai.
Konferensi itu juga menyepakati pemilihan umum pada Juli 1956 untuk mempersatukan negeri itu, yang sayangnya ditolak Ngo Dihn Diem, presiden Republik Vietnam yang didukung AS.
Penolakan ini kemudian memicu gelombang pertama Perang Indocina II yang lebih dikenal dengan nama Perang Vietnam yang melibatkan Amerika Serikat.
Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2017/05/07/19000011/hari.ini.dalam.sejarah.kekalahan.perancis.di.dien.bien.phu?page=all
Bagikan :
+
0 Komentar untuk " Hari Ini dalam Sejarah: Kekalahan Perancis di Dien Bien Phu "

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top