Mengenal Sensor M-TADS/PNVS di Helikopter Serang AH-64E Apache Guardian TNI AD

Sensor M-TADS/PNVS
Sensor M-TADS/PNVS 

Ada kabar baru dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, pada 28 April lalu telah dirilis kontrak dalam program FMS (Foreign Military Sales) untuk paket komponen helikopter serang AH-64E Apache Guardian. Kali ini bukan tentang pengadaan rudal, melainkan perangkat intai dan penjejak sasaran yang akan terpasang secara terintegrasi di helikopter Apache. Perangkat yang dimaksud adalah Modernized Target Acquisition Designation Sight/ Pilot Night Vision Sensor System (M-TADS/PNVS) yang diproduksi oleh Lockheed Martin di Orlando, Florida.
Dalam rilis disebutkan pihak Dephan AS memberikan kontrak senilai US$332.136.017 untuk M-TADS/PNVS bagi kebutuhan Apache pesanan Inggris, Mesir, India, Korea, Taiwan, Belanda, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Polandia dan tentunya ada nama Indonesia yang bakal menerima delapan unit AH-64E Apache Guardian. Mengingat jumlah pesanan yang tak sedikit, target penyelesaian kontrak disebut hingga 30 April 2018. Apache pesanan Puspenerbad TNI AD untuk gelombang pertama akan tiba mulai tahun ini.
Tentu yang jadi menarik pertanyaan pemerhati alutsista adalah apakah yang dimaksud M-TADS/PNVS? Untuk lebih jelasnya, kedua perangkat M-TADS/PNVS adalah modul sensor yang berada di ujung depan helikopter. Persisnya TADS di Apache menggunakan kode produk AN/ASQ-170, sementara PNVS menggunakan kode produk AN/AAQ-11. Untuk mudah mengenalnya, TADS berbentuk drum yang terpasang di bagian bawah, sementara PNVS yang berbentuk piringan terpasang di bagian atas. Ada empat jurus yang dapat dijalankan TDAS, yaitu DVO (Direct View Optic) yang merupakan teleskop optik, kamera DT (Daylight Television), FLIR (Forward Looking Infra Red), dan laser ringefinder/target designator.
Jika FLIR mengambil seluruh jatah sisi kanan TADS (night side), maka DVO, DT dan laser ringefinder menempati sisi kiri (day side). TADS juga dilengkapi fitur auto tracking. Artinya sekali target terkunci, maka target itu tidak akan bisa melepaskan diri sejau TADS dapat berputar. Hebatnya, tabunf TADS dapat dirotasi 120 derajat ke sisi kiri dan kanan, serta 60 derajat ke bawah. Pergerakan ini tentu untuk memberi cakupan pandang yang paling maksimal demi kemudahan pilot dan kopilot/gunner dalam mengakuisisi target.
Sensor kedua, AN/AAQ-11 PNVS, merupakan FLIR imager yang memampukan pilot melihat dalam gelap, sehingga Apache dapat terbang siang dan malam tanpa halangan. PNVS dapat berotasi 90 derajat ke kiri dan kanan, sehingga praktis tidak ada sisi yang tidak terlihat selama Apache terus melaju ke depan. Semua output dari sensor TADS dan PNVS kemudian diintegrasikan ke dalam IHADSS (Integrated Helmet and Display Sight System), sehingga pergerakan kedua sensor akan mengikuti pergerakan kepala pilot yang menggunakan jeda waktu nol detik, artinya pergerakan bersifat real time. Semua informasi yang diperoleh sensor akan tampil seluruhnya dalam HDU (Helmet Display Unit). Pilot tidak perlu lagi sibuk memperhatikan panel instrumen dan tinggal mengunci sasaran dengan mengandalkan mata, atau istilahnya bekennya see and kill.
Kawan akrab dari sensor canggih tersebut adalah kanon M230 kaliber 30 mm yang dikembangkan Hughes dan kini diproduksi oleh Alliant Techsystems. M230 yang berlaras tunggal ini mampu menembakan peluru sebanyak 625 butir per menitnya. Sementara kecepatan luncur proyektil mencapai 805 meter per detik dengan jarak tembak efektif 1.500 meter.
Gerakan kombinasi antara helm pilot dan M230 itu membuat sasaran yang sedang diincar oleh pilot bisa ditembak secara presisi. Dalam sekali terbang, M230 pada AH-64E Apache Guardian dapat membawa 1.200 peluru yang tersimpan pada kotak magasin dengan posisi di bawah kursi pilot dan terhubung lewat sabuk peluru. (Haryo Adjie)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak