TNI Gunakan Tactical Drone Jammer Gun untuk Hadapi Gangguan Drone

Tactical Drone Jammer Gun
Tactical Drone Jammer Gun  

Sosoknya boleh dibilang kecil bahkan terlihat imut, harganya pun ditaksir hanya belasan juta, tapi siapa sangka sebuah drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) quadcopter mampu mengganggu aksi jet tempur Sukhoi Su-30MK2 TNI AU yang harganya mencapai puluhan juta dollar. Ini bukan skenario dalam latihan, tapi benar-benar terjadi pada 27 April 2017 di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Dikutip dari tempo.co (27/4/2017), atraksi tiga jet tempur Sukhoi Su-30MK2 Skadron Udara 11 dalam rangkaian HUT Provinsi Sulawesi Tenggara sempat ditunda selama 20 menit akibat drone yang terbang di sekitaran lokasi. Sebuah drone warna hitam mengudara di sekitar menara tugu MTQ menjelang atraksi. Protokoler TNI Angkatan Udara meminta pemilik drone untuk menurunkannya. “Jika drone tersebut masih berkeliaran di udara lokasi pesawat melintas, maka akan merusak sistem informasi pesawat yang dapat berakibat fatal bahkan mengakibatkan kecelakaan,” kata seorang petugas protokoler TNI AU.
Alih-alih diturunkan, drone tersebut malah mengudara makin tinggi dan enggan menuruti perintah protokoler. Alhasil pihak keamanan pun di buat naik pitam atas ulah si pemilik drone yang tidak diketahui identitasnya tersebut. “Anggota semua cepat berpencar, cari pemiliki drone itu. Kalau dapat bawa ke sini ke atas podium, cepat anggota cari orang itu,” kesal Kepala Satuan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Sultra, Bustam.
Tidak hanya Satpol PP yang di buat kesal dengan aksi jahil tersebut, sejumlah masyarakat yang berada di lokasi juga di buat marah dengan kejadian tersebut. Bahkan salah satu warga, Aidil berteriak meminta TNI untuk menembak drone tersebut. “Tembak saja itu drone pak, tembak saja di suruh turun tapi tidak mau. Tembak saja itu pak, tembak,” serunya. Akhirnya drone black flight perlahan-lahan meninggalkan lokasi yang akan dilintasi oleh pesawat sukhoi yang akan melakukan atraksi udara.
Cukilan berita diatas sebenarnya menggambarkan bahwa penggunaan drone dapat mengundang kerawanan dan bahaya nyata pada obyek vital. Melihat kejadian diatas, posisi aparat keamanan terasa serba salah, jika sampai harus menembak drone dengan senjata api di kawasan ramai, maka pasti ada yang mencibir sebagai aksi yang berlebihan. Sementara untuk mencari operator drone bukan perkara mudah, pasalnya drone dapat dikendalikan dari jarak jauh. Yang ideal drone dapat diturunkan ‘paksa’ dengan perangkat anti drone, wujudnya bisa menggunakan tactical drone jammer gun atau mengguakan senjata peringkus drone dengan jaring-jaring. Yang disebut terakhir adalah Skywall, jenis senjata man portable yang sempat dioperasikan Secret Service dalam pengamanan kunjungan Presiden Barack Obama ke Berlin, pada bulan November 2016.
Nah, opsi untuk memaksa drone yang paling popular justru menggunakan drone gun tactical jammer, jenis jammer ini juga mengadopsi model man portable. Namun karena modus yang digunakan adalah menyerang jalur komunikasi dan kendali drone lewat frekuensi, maka personel pengusung jammer gun biasanya juga membawa baterai dan perangkat komunikasi lain yang disematkan dalam tas ransel. Untuk menggunakannya relatif mudah dan tidak diperlukan pelatihan khusus, gunner cukup membidik dan mengunci sasaran drone, yang kemudian gunner dapat menggiring drone hingga ke permukaan untuk selanjutnya dapat diinvestigasi.
Sudah barang tentu tidak semua drone bisa langsung dapat ditaklukan dengan perangkat diatas, semakin besar sosok drone maka power serta frekuensi yang dibutuhkan untuk melakukan jamming harus lebih besar. Seperti drone gun tactical jammer yang dioperasikan man portable hanya efektif untuk menaklukan sasaran berupa drone quadcopter sekelas DJI Phantom.
Elemen TNI sudah barang tentu tak ketinggalan dalam implementasi senjata anti drone. Salah satu unit TNI yang menggunakan senjata anti drone adalah Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Satuan elit Paspampres diketahui menggunakan tactical drone jammer gun. Dalam sebuah video yang menjadi viral di media sosial diperlihatkan anggopa Paspampres di Lapangan Hitam, Jakarta, bersiaga untuk menembak drone yang terbang di atas area Mako tersebut. Sebagai sasaran adalan drone copter DJI Phantom. Begitu drone ditembak, sang pilot drone kehilangan koneksi dengan dronenya. “Enggak connect, hilang sinyalnya. Kamera tak terhubung,” ujar Andre, sang pilot. Setelah ditembak, gerak drone dikendalikan oleh senjata anti drone yang dioperasikan personel Paspampres.
Sayangnya tidak diketahui persis tipe dan merek drone gun yang digunakan Paspampres dalam video viral tersebut. Namun Bram Aditya, orang yang pertama kali mengunggah video tersebut di Instagram menyebutkan bahwa senjata anti drone itu dibeli dari Singapura.
Serupa tapi mungkin tidak sama, jika membandingkan tactical jammer dari tipe DroneShield, maka senjata penakluk drone ini dapat menjangkau sasaran sejauh 2 km. Sedangkan jamming frekuensi yang digunakan ada di rentang 2.38Ghz - 2.483Ghz dan 5.72Ghz - 5.82Ghz. Tidak itu saja, senjata anti drone bisa pula membungkam akses sinyal GPS dan GLONASS drone di rentang frekuensi 1.450 - 1.650Mhz. Sebagai sumber tenaga biasanya menggunakan baterai lithium ion dan v-mount batteries. Karena menggunakan baterai lithium ion, maka senjata ini dapat di recharge selama 90 menit. Waktu standby senjata ini bisa mencapai 2 jam dengan voltase 16,8 volt.
Selain Paspampres yang berkepentingan untuk melindungi aktivitas Presiden dan wilayah Ring 1 Istana Negara dari drone nakal. Satua elite lain di TNI juga dipercaya sudah mempunyai senjata anti drone dari jenis tactical jammer, namun deployment senjata khusus ini belum tentu hadir disaat yang tepat. Seandainya personel keamanan di Kendari membawa drone gun tactical jammer, pastinya tak perlu repot-repot untuk mencari keberadaan sang pilot drone yang mungkin saat itu sedang asyik bersembunyi di suatu tempat. (Gilang Perdana)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak