Menlu AS dan Qatar Cari Solusi Terbaik Soal Krisis Teluk

Solusi Terbaik Soal Krisis Teluk
Solusi Terbaik Soal Krisis Teluk 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, menerima kunjungan kenegaraan Menlu Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani di Washington, DC, pada 27 Juni 2017 waktu setempat. Kunjungan kenegaraan itu menandai kali pertama kedua menlu bertemu, sejak negara dengan Ibu Kota Doha itu 'dikucilkan' oleh Arab Saudi, Mesir, Bahrain, UEA, Yaman, Mauritius, Mauritania, Maladewa, dan Libya, pada 5 Juni.
'Pengucilan' itu populer disebut sebagai krisis politik dan diplomatik di Teluk dan Timur Tengah.
Pertemuan itu dilaksanakan terpaut tiga hari, sejak Arab Saudi, Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab mengeluarkan '13 tuntutan untuk Qatar' pada 24 Juni 2017.
Saudi Cs mengklaim bahwa jika daftar tuntutan itu dipenuhi oleh Qatar, dialog antar negara dapat terlaksana serta krisis di Teluk dan Timur Tengah dapat dihentikan.
Namun, sebelum menjamu kedatangan Menlu Menlu al-Thani, Rex Tillerson sempat menyebut bahwa beberapa aspek dalam daftar tuntutan tersebut 'akan sangat sulit untuk dipenuhi oleh Qatar'. Demikian seperti dikutip dari CNN, Rabu (28/6/2017).
"Qatar telah meninjau daftar tuntutan tersebut. Meski sejumlah aspek akan sulit untuk dipenuhi, namun ada beberapa poin yang cukup signifikan dan niscaya dapat dilakukan. Guna menjadi basis dialog antar negara yang berkonflik untuk menuju resolusi," jelas Rex Tillerson.
"Karena dialog bersama adalah langkah produktif yang dapat dilakukan. Saya yakin bahwa koalisi kami (Saudi Cs, termasuk Qatar) akan mau bekerjasama, apalagi untuk melawan isu bersama, seperti terorisme dan ekstremisme," tambah sang Menlu AS.
Sementara itu, sejak '13 tuntutan untuk Qatar' dicetuskan, pejabat tinggi pemerintahan negara penyelenggara Piala Dunia 2022 itu menolak untuk patuh terhadap keinginan Saudi Cs.
"Itu semua ditujukan untuk membatasi kedaulatan Qatar dan memeras keuntungan dari kebijakan luar negeri kami," kata Sheikh Saif bin Ahmed al-Thani, Direktur Kantor Komunikasi Pemerintahan Qatar.
Sedangkan Doha juga nampak mempertimbangkan alternatif lain pasca-'13 tuntutan untuk Qatar' dicetuskan. Caranya, dengan mendekati Iran, rival Arab Saudi di kawasan.
Hal ini dibuktikan dengan laporan yang mengabarkan bahwa Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, menelepon Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada 24 Juni 2017, hari yang sama ketika Saudi Cs mengeluarkan daftar tuntutannya. Kedua pemimpin negara itu mendiskusi upaya untuk 'memperkuat relasi', ujar kantor kepresidenan Iran.
Krisis Teluk dan Timur Tengah memicu kondisi pelik bagi relasi AS dengan negara di kawasan tersebut.
Bagi AS, Qatar merupakan salah satu koalisi perdagangan dan militer di kawasan Teluk. Pangkalan udara di al-Udeid Qatar menampung sejumlah besar pasukan Negeri Paman Sam.
Namun, di sisi lain, Arab Saudi --negara yang menjadi ujung tombak pengucilan Qatar-- dalam waktu dekat akan menandatangani kontrak perdagangan militer dengan Washington senilai US$ 350 miliar. Kontrak perdagangan militer itu merupakan hasil kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke Saudi pada 20 Mei 2017 lalu.
Sedangkan sejumlah media AS menilai bahwa Presiden Trump dan Menlu Tillerson nampak berselisih pendapat terkait urusan Qatar.
Yang pasti, dalam pertemuan --yang akan berlangsung beberapa jam lagi berdasarkan waktu Jakarta-- nanti, kedua menlu AS dan Qatar tersebut diprediksi akan menghadapi dilema rumit.
Sumber : http://global.liputan6.com/read/3005505/menlu-as-dan-qatar-cari-solusi-terbaik-soal-krisis-teluk

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak