AC-130J Block 20, Pokoknya Senjatanya Harus Seratus Lima

AC-130J Block 20
AC-130J Block 20 

Pada konfigurasi awalnya, AC-130J didesain dengan fokus teknologi tinggi, mengandalkan hanya dua kanon 30mm untuk menggantikan kanon Bofors 40mm dan meriam howitzer 105mm M102. Para perencana AU AS terjangkit kembali dengan sindrom terlalu yakin pada teknologi, sama seperti ketika pesawat tempur F-4 Phantom lahir ke dunia tanpa kanon internal.
Prinsip yang dipikirkan dan direncanakan, dibandingkan menghamburkan puluhan butir atau bahkan ratusan butir peluru hanya untuk satu sasaran, kenapa tidak menggunakan rudal pintar saja yang sudah dapat dipastikan perkenaannya dengan bekal panduan sensor yang canggih? Padahal, AC-130 Spectre sering harus terbang sepanjang malam dan menghadapi beragam sasaran, termasuk bangunan yang tak bisa dihancurkan hanya sekedar dengan peluru kanon kaliber sedang.
Untungnya, para pelaksana lapangan memiliki pikiran yang lebih jernih. Tahu bahwa pesawat gunship ditakuti karena daya tembaknya yang presisi, tiada henti, dan daya hancurnya tinggi, Letnan Jenderal Bradley Heithold sebagai Panglima AFSOC (Air Force Special Operation Command) kala itu maju ke depan dan ngotot bahwa AC-130J harus bisa dipasangi meriam howitzer 105mm!
Argumennya pun jelas dan pasti, dimana meriam 105mm memiliki kecepatan lesat yang tinggi, melebihi rudal mini seperti Griffin atau SDB sehingga sasaran belum sempat melarikan diri. Meriam pun sekali peluru lepas dari laras tidak perlu diikuti terus-menerus sampai ke sasaran. Pokoknya begitu bidik, lepaskan dan pindah ke sasaran baru. Kalau rudal dengan pemandu laser, minimal optik harus diarahkan terus ke sasaran sampai perkenaan.
Terakhir, harga amunisi 105mm pun sudah sangat murah sehingga biaya operasional pesawat gunship tidak akan terlalu mahal. Berkat perjuangan keras dari LetJend Heithold, akhirnya meriam 105mm M102 tidak jadi punah di jajaran gunship. Integrasi meriam M102 dengan AC-130J akan mulai dilakukan mulai pesawat ketiga, yang diberi kode AC-130J Block 20.
Seluruh meriam M102 pun akan diambil dari jajaran AC-130U yang akan dipensiunkan sebagian, sehingga penggantiannya akan 1 on 1 basis. Pesawat lama yang sudah dicopot persenjataannya akan dipindahkan ke AC-130J Block 20. Untuk AC-130J Block 20 ini, jumlah awaknya akan bertambah menjadi sembilan orang karena M102 harus diisi pelurunya secara manual yang dilakukan oleh dua orang.
Namun saat ini, AU AS nampaknya sangat berfokus pada peningkatan kemampuan AC-130J secara bertahap. Yang paling baru, AC-130J akan dipasangi sistem radar AESA (Active Electronic Scan Array) AN/ASQ-236 Dragon Eye yang menempati posisi di pylon sayap.
Dragon Eye merupakan SAR (Synthetic Aperture Radar) yang dapat memetakan dengan jelas anomali pada kontur permukaan yang menandakan keberadaan lawan seperti kendaraan tempur, tank, atau manusia, dan akan sangat berguna untuk melakukan BDA (Bomb Damage Assesment) atau verifikasi hasil pemboman yang dilakukan. Dragon Eye mampu memetakan koordinat sasaran secara akurat dengan koneksi GPS tanpa perlu tergantung kondisi cuaca.
Saat ini AC-130J Ghostrider memang belum mampu membuktikan diri sebagai pesawat gunship yang layak dan mampu menggantikan kakak-kakaknya yang legendaris. Waktu pengerjaan pesanan 36 unit AC-130J dari berbagai sub kontraktor pun masih terus berjalan, berkejaran dengan waktu.
Namun begitu, dengan pola pengembangan yang jelas dan terstruktur, serta terencana dari AU AS, yang sebenarnya belum pernah terdengar sebelumnya dalam program gunship, ada harapan bahwa AC-130J akan menjadi varian pamungkas yang akan menutup buku sejarah pesawat gunship di dalam AU AS. (Aryo Nugroho)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak