Radar Militer

Blog Berita Seputar Aktivitas Militer Terbaru

Agar Efektif, Gunakan Fitur Pencarian (Search) Untuk Mencari Berita di Radar Militer

JF-17 Battle Proven, Siap Jadi Tulang Punggung AU Pakistan

JF-17
JF-17 

Program pesawat tempur dua negara JF-17/FC-1 hasil kerjasama Pakistan dan China merupakan sebuah kisah sukses yang tak terduga. Diawali dengan proses rekayasa balik alias reverse engineering, pengembangan JF-17/FC-1 terhitung sangat cepat.
Myanmar menjadi negara ketiga yang mengadopsi versi kursi ganda JF-17B. Di medan tempur, JF-17 konon sudah membukukan kill atas drone milik Iran, yang terbang menyusup di wilayah Panjgur pada bulan Juni lalu. Kill ini dibukukan oleh Komandan Skadron 2, Zeeshan. Iran dan Pakistan memang tengah menghadapi konflik di perbatasan kedua negara yang cukup panjang.
Proyek JF-17 Thunder/ FC-1 Xiaolong merupakan kulminasi kerjasama erat kedua negara. Chengdu Aircraft Industry Corporation (CAC) dan Pakistan Aeronautical Complex (PAC) di Kamra akhirnya bekerjasama untuk menghadirkan penerus MiG-21 dalam program berjudul Super-7. Kedua negara pada 1988 sepakat berbagi biaya yang sama untuk mengembangkan Super-7 yang kemudian diganti lagi menjadi FC-1 (Fighter China ke-1).
Disebut JF-17, pesawat tempur di kelas 10 ton ini tampil pertama kali pada pameran kedirgantaraan Farnborough 2010, dengan sosok yang sudah berbeda jauh dengan MiG-21. Sepintas kaca kokpit dan hidungnya menyerupai Mirage series, sementara lubang inlet untuk mesin diposisikan agak ke bawah.
Untuk mesin dipesan dari pabrik Klimov Rusia dengan kode RD-93, yang diadaptasi dari mesin RD-33 milik MiG-29. RD-93 menggunakan gearbox yang dipasang di bawah mesin dan memiliki sistem kontrol yang ditingkatkan dibandingkan RD-33. 
Mesin RD-93 pertama dikirimkan pada 2002 ke pabrik Chengdu.
Pengembangan FC-1 dilanjutkan dengan pembuatan enam purwarupa, dua uji statik dan empat untuk uji terbang. Purwarupa pertama yaitu PT-1 sudah selesai pada musim panas 2003 dan terbang perdana pada tanggal 25 Agustus di balik kendali pilot uji Wang Wenjian.
Pada tanggal yang sama Pakistan mengumumkan nama JF-17 untuk produk kerjasamanya, dimana JF sendiri merupakan singkatan dari Joint Fighter. Angka 17 sendiri menyimbolkan nomor paling terkini, tercanggih di antara jajaran pesawat tempur Pakistan yang saat itu hanya memiliki F-16 Fighting Falcon.
Pengujian secara intensif berlangsung selama lima tahun di fasilitas uji CAC di CFTE Flight Research Centre di Yanlian dan dipinjamkan ke unit garis depan PLAAF. Pilot-pilot uji Pakistan dikirimkan ke Tiongkok untuk mengawaki empat purwarupa uji terbang tersebut. Secara dimensi antara FC-1 dan MiG-21 memiliki kesamaan, walaupun secara bentuk berbeda total.
Sistem persenjataan pada JF-17/ FC-1 adalah kanon 23mm. Karena intake sudah berpindah ke samping, JF-17/ FC-1 dapat menggunakan radar yang lebih baik, yaitu NRIET KLJ-7 buatan Tiongkok yang merupakan radar multimode pulse-doppler yang mampu menjejak beberapa sasaran secara simultan. Kokpit pada JF-17/ FC-1 pun sudah menggunakan tiga Multi Function Display menggantikan indikator jarum, sehingga memudahkan pilot. Sistem HOTAS (Hands on Throttle and Stick) sudah jadi standar pula.
Sistem pengendalian pada JF-17/ FC-1 masih menggunakan sistem gabungan antara fly by wire dan kontrol mekanikal. Untuk flaps dan leading edge slat sudah dikendalikan secara otomatis untuk membantu manuver terutama pada angle of attack yang besar. Kontrol FBW disediakan hanya untuk pitch, sementara sisanya dikendalikan secara mekanik.
Pakistan menerima JF-17 batch pertama mulai bulan Februari 2007, sisanya dirakit di pabrik PAC di Kamra. Penerbangan perdana dua JF-17 yang dilakukan pada 23 Maret 2007 untuk merayakan hari jadi Angkatan Bersenjata Pakistan. Lini pembuatan JF-17 diresmikan pada 22 Januari 2009, dan JF-17 pertama made in Pakistan keluar dari fasilitas di Kamra pada 23 November 2009, pesawat nomor seri 09-111 yang dikelir hijau warna bendera negara Pakistan.
Mengenai persenjataan, JF-17 tidak terlalu muluk-muluk. Kemampuan gotong senjatanya juga tidak terlalu besar, hanya bersandar pada tujuh hardpoint. JF-17 dapat membawa rudal PL-5EII yang merupakan rudal udara-udara pencari panas, yang disadur dari AIM-9 Sidewinder dengan jarak efektif mencapai 18 kilometer.
Untuk sasaran BVR, tersedia rudal SD-10A (PL-12) dengan pemandu radar aktif sampai jarak 70km. JF-17 juga memiliki kemampuan anti kapal permukaan dengan kemampuan menggotong rudal C802A. Untuk sasaran darat, JF-17 dapat menjatuhkan bom berpengendali laser dengan sistem pod targeting WMD-7 buatan Tiongkok. Pakistan sendiri sangat puas dengan kinerja JF-17 sehingga mereka membeli hak produksi 150 unit JF-17 dengan 100 opsi lainnya. (Aryo Nugroho)
Bagikan :
+
0 Komentar untuk " JF-17 Battle Proven, Siap Jadi Tulang Punggung AU Pakistan "

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top