Ketika Rusia Hendak Modernisasi BTR-80

BTR-80
BTR-80 

Pada masa jaya-jayanya, Angkatan Darat Uni Soviet menerapkan doktrin ganda untuk kesatuan infantri mekanisnya: Batalion berat pengawal tank diberikan BMP-1/2, sementara batalion ringan menggunakan ranpur keluarga BTR.
Pada masa akhir kejayaan Uni Soviet sebelum keruntuhannya, evolusi panjang keluarga BTR (Bronetransportyor: kendaraan angkut lapis baja) sudah mencapai generasi BTR-80, yang merupakan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan dengan BTR-60/70 yang digantikannya.
Menampilkan mesin diesel dan sasis yang jauh lebih besar, BTR-80 didapuk semata sebagai kendaraan angkut pasukan, dengan senjata terbatas senapan mesin 14,5mm NSV pada kubahnya. Untuk pasaran ekspor, disediakan varian BTR-80A yang dipersenjatai dengan kanon 2A72 kaliber 30mm, cukup memadai untuk menghajar ranpur lawan, menjadikan BTR-80A menarik untuk dilirik banyak Negara yang menginginkan kendaraan tempur yang murah namun cukup efektif dipergunakan di garis depan.
BTR-80A sangat sukses di pasaran internasional, dengan banyaknya Negara berkembang seperti Bangladesh dan tak lupa Indonesia tercatat sebagai pembelinya. Korps Marinir TNI AL saat ini menggelar seluruh armada BTR-80A untuk mendukung misi pasukan penjaga keamanan PBB di Lebanon.
Rusia sebagai pewaris Uni Soviet tak hanya mewarisi luasnya wilayah eks Negara Beruang Merah tersebut, tetapi juga segudang permasalahannya. Walaupun Rusia mencuri headline pers seluruh dunia dengan menampilkan pesawat tempur stealth generasi kelima seperti PAK-FA, satu fakta yang tak dapat dihindari adalah Rusia punya dana yang terlalu terbatas dibandingkan dengan ratusan ribu kendaraan tempur, helikopter, dan pesawat tempur yang harus dipeliharanya.
Memelihara dua tipe ranpur dan turunannya untuk batalion infantri mekanisnya terasa memberatkan. Walaupun secara teoritis batalion infantri dengan BMP-1/2 seharusnya diutamakan prioritas modernisasinya, faktanya ternyata tak begitu. AD Rusia telah mengumumkan program modernisasi BMP-1 dengan kode BMP-1M berupa penambahan sistem kubah Kliver, sementara BMP-2M menggunakan kubah Berezhok.
Namun dalam kenyataannya, proses pengerjaannya tak menunjukkan kemajuan yang berarti. BMP-3 yang didapuk menggantikan BMP-1 dibeli secara sangat terbatas oleh AD Rusia, dan ketika mereka harus memadamkan ‘separatisme’ di Ossetia Selatan pada 2008, armada tua seperti BMP-1/2 dan BTR-80 masih menjadi tulang punggung kekuatan AD Rusia. Walaupun jumlahnya ratusan, namun keefektifannya dipertanyakan terhadap ancaman senjata modern.
Hal ini tentu bertolak belakang dengan cita-cita jangka panjang AD Rusia, yang ingin menyeragamkan platform peralatan tempurnya menjadi hanya 3 basis dasar: Armata untuk tank, Kurganets-25 untuk sasis berpenggerak rantai untuk menggantikan BMP-1/2, dan terakhir ada Boomerang sebagai pengganti kendaraan angkut pasukan berbasis roda.
Seakan berdiri di hadapan dinding kenyataan yang menjulang, AD Rusia akhirnya mengambil keputusan yang paling logis: mengupdate platform massal yang mereka miliki. Modernisasi bisa menunggu, namun proyeksi penggelaran pasukan Rusia tidak.
Mengingat Rusia secara aktif mengirimkan pasukan tempurnya untuk memadamkan pemberontakan lokal maupun perang dalam skala terbatas, sudah tentu pasukan infantri motornya harus diberikan kendaraan pengangkut yang memadai, mampu melindungi dari ancaman lawan.
Sadar bahwa sejak awal Rusia selalu memiliki keunggulan jumlah dibandingkan dengan kualitas, maka fokus inilah yang dikejar. Maka pada 2008, perusahaan Military Industrial Corporation (MIC), perusahaan holding yang membawahi Arzamas JSC sebagai pabrikan BTR-80/80A, mengumumkan bahwa AD Rusia menandatangani kontrak untuk program modernisasi BTR-80 menjadi BTR-82/82A.
Solusi stopgap semacam ini jadi jawaban, karena dengan dana yang terbatas, toh tak banyak juga yang bisa diperoleh. Sebanyak 250-500 BTR-82A dibeli baru, sementara 750 unit lainnya merupakan paket upgrade dari BTR-80 yang ada didalam inventori AD Rusia. Arzamas JSC baru menyelesaikan purwarupa final BTR-82/82A pada November 2009, dan tak lama sesudahnya langsung memulai proses produksi massal.
Rusia juga tak mau buang-buang waktu untuk menguji BTR-82A yang mereka terima. Untuk pertama kalinya, BTR-82A dipamerkan oleh AD Rusia dalam Parade V-Day 9 Mei 2013. 7th Russian Military Base di wilayah Apkhazeti yang direbut dari Georgia menerima 40 unit BTR-82A, menandakan keseriusan Rusia untuk menjaga wilayah yang direbutnya tersebut. Sementara di sisi lain, Kementrian Pertahanan Rusia sendiri justru mulai kehabisan kesabaran dengan Arzamas JSC, mengingat pesanan BTR-82A sudah mulai mengalami keterlambatan.
Ironisnya, berdasarkan pemberitaan media Izvestiya, penyebab keterlambatan ini justru karena Arzamas JSC dibawah kendali Rosoboronexport justru mendahulukan pesanan BTR-82A dari Negara klien lainnya. Konon Negara tersebut adalah Kazakhstan, yang berhasil didekati dan memesan BTR-82A dalam jumlah besar. Akibatnya, deputi direktur dan kepala program BTR-82 dipecat akibat kelalaian ini. (Aryo Nugroho)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak