Korps Marinir Laksanakan Latihan Tembak Tempur Laut

Latihan Tembak Tempur Laut
Latihan Tembak Tempur Laut 

Prajurit Korps Marinir dari Pasmar-1 melaksanakan latihan Demontrasi Aksi Tempur Laut unsur Pasukan Pendarat Amfibi di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Kamis (27/07/2017).
Kegiatan latihan tembak tempur laut yang dipimpin Komandan Batalyon Roket-1 Marinir Letkol Marinir Dian Suryansyah, S.E., M.Tr.Hanla., tersebut melibatkan dua Kompi kesenjataan yaitu satu Baterai kendaraan tempur Roket MLRS Vampire, satu Kompi Kavaleri dari Batalyon Tankfib-1 Marinir, Tim dari Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir dan prajurit Brigif-1 Marinir.
Latihan penembakan tersebut disaksikan langsung Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir Ainur Rofiq, S.Pi., Asops Danpasmar-1 Kolonel Marinir Nanang Saefulloh, Pabanopslat Sops Pasmar-1 Letkol Mar Rivelson Saragih dan Pabandya Opslat Sops Kormar Mayor Marinir Widarta Kusuma.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam latihan demo uji tembak laut yaitu satu pucuk RM 70 Grad melaksanakan penembakan diatas KRI Teluk Sampit-515 yang disimulasikan sebagai pendukung pasukan pendarat saat melaksanakan operasi amfibi dan 3 pucuk Roket MLRS Vampire dan Kompi Tank Amfibi melaksanakan penembakan dari darat ke laut, sedangkan tim gabungan dari Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir dan Brigif-1 Marinir melaksanakkan fast rope.
Gelar Kesiapan Latihan Pendahuluan Demo Aksi Tempur Laut dalam rangka peringatan HUT TNI Ke-72 tersebut juga ditinjau langsung oleh Panglima Armada Kawasan Timur TNI AL Laksamanna Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H.,M.A.P.
RM70 Grad Korps Marinir Kini Jadi Senjata Penggebuk dari Tengah Laut
Sampai saat ini belum ada arsenal alutsista yang punya daya hancur semasif MLRS (Multiple Launch Rocket System), sebagai contoh MLRS RM70 yang dioperasikan Batalyon Roket Resimen Artileri Korps Marinir. Dalam satu kali tembakkan salvo penuh (40 roket kontinyu), maka area seluas tiga hektar bisa luluh lantak. Dalam doktrin gelaran MLRS Marinir, alutsista ini baru digelar setelah kendaraan pengusung didaratkan ke bibir pantai. Tapi doktrin gelaram alutsista kadang harus disesuaikan bila ada kesempatan untuk melakukan inovasi yang spektakuler. Seperti belum lama ini, MLRS RM70 Grad 122mm justru berhasil diperankan sebagai senjata bantuan tembakkan ke darat.
Artinya kali ini MLRS RM70 Grad berperan sebagai senjata di atas kapal perang. Dikutip dari siaran pers Dispen Korps Marinir, pada hari Kamis lalu (27/7/2017), telah sukses dilangsungkan demonstrasi latihan tembak tempur laut. Satu unit RM70 Grad dari Batalyon Roket 1 Marinir dinaikkan ke atas deck utama LST (Landing Ship Tank) KRI Teluk Sampit-515. Dengan diikat tali baja di segala penjuru. RM70 Grad yang biasanya ditembakkan di darat, kini berubah peran menjadi senjata yang ditembakkan ke darat dari atas kapal perang. Seperti terlihat dalam foto, dalam sesi demo ini, KRI Teluk Sampit-515 mendapat kawalan dari korvet KRI Nala-363.
Dari aspek teknis, waktu untuk melakukan satu kali rangkaian penembakan (salvo) sekitar 18 sampai 22 detik, dengan tempo jeda antar roket 0,5 detik.Saat dipakai untuk menghajar target dengan jarak maksimum 20,75 km, butuh waktu 77 detik untuk menghabiskan 40 roket tanpa henti. Tiap roket RM70 dapat mengubah status operasionalnya dari kondisi lintas di jalan raya ke posisi siap tembak dalam tempo 2,5 menit. Sementara proses kebalikannya sedikit lebih lama, yakni 3 menit.
Setiap roket punya bobot 66 kg. Komponennya terdiri dari hulu ledak seberat 18,3 kg, lalu ada motor roket dengan double base solid propellant seberat 20,5 kg. Sisanya adalah cangkang roket. Dimensi panjang roket keseluruhan adalah 2,88 meter dan lebar rantang sirip 0,226 meter. Dengan kecepatan jelajah 2.516 meter per jam, maka jarak jangkau roket bisa mencapai 20,75 km. Saat terdetonasi, hulu ledak bisa menghamburkan 3.150 serpihan kecil baja yang terserak hingga radius 28 meter. Mau tahu seberapa besar area kehancuran dari RM70? Jika diopersikan secara tepat, dipastikan area seluas 3 hektar akan luluh lantak akibat ulah roket multi laras ini.
Sedemikian mematikannya RM70, alutsista ini tak pelak selalu diandalkan dalam setiap ajang latihan tempur, termasuk dalam tingkat latihan gabungan TNI yang diadakan secara rutin. Dalam sebuah operasi militer untuk merebut daerah yang dikuasi lawan, tembakan pertama memang dilancarkan oleh tank-tank amfibi yang baru saja mendarat di pantai. Lalu berikutnya resimen artileri yang akan ambil bagian. Selain mengandalkan meriam Howitzer LG-1 MK II kaliber 105mm, sudah barang tentu unsur deteren juga ditampilkan, tak lain RM70 Grad. Menyadari bahwa truk platform pengusung RM70 tidak punya kemampuan amfibi, dalam gelar operasinya RM70 dibawa dari LPD (landing platform dock) ke pantai dengan menumpang LCU (Landing Craft Utility).
Resimen Artileri Korps Marinir memiliki 9 pucuk roket multilaras RM70 Grad. Namun pada tahun 2016 lalu, Batalyon Roket Marinir mendapat perkuatan dengan MLRS jenis yang lebih baru, yakni RM70 Vampire. Masih dalam sesi latihan yang sama, tiga pucuk RM70 Vampire juga melakukan uji tembakkan, namun RM70 Vampire menjalankan peran pertahanan pantai, yakni melakukan penembakkan roket dari darat ke laut. Kegiatan latihan tembak tempur laut yang dipimpin Komandan Batalyon Roket-1 Marinir Letkol Marinir Dian Suryansyah dengan melibatkan dua Kompi kesenjataan yaitu satu Baterai kendaraan tempur Roket MLRS Vampire, satu Kompi Kavaleri dari Batalyon Tankfib 1 Marinir, Tim dari Batalyon Intai Amfibi 1 Marinir dan prajurit Brigif 1 Marinir. (Haryo Adjie)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak