Patroli Prajurit TNI, Penjaga Perbatasan RI-PNG di Rawa-Rawa Papua

Patroli Prajurit TNI
Patroli Prajurit TNI 

Helm dikenakan, senjata berikut rentengan peluru dikalungkan, radio komunikasi diaktifkan. Para tentara penjaga perbatasan ini siap berpatroli ke tempat matahari terbit di Indonesia, di pojok timur Merauke, Papua. Ingin tahu rasanya? Ayo masuk barisan, ikuti derap langkah mereka!
Para personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) berada di Pos Komando Taktis (Poskotis) Kaliwanggo, Kampung Erambu, sekitar 120 kilometer dari Kota Merauke. Sebanyak 15 orang di antaranya bersiap untuk patroli ke tapal batas.
"Kenakan rompi pelampungnya," kata salah seorang personel kepada kami, sambil menjunjung rompi berwarna hijau loreng di bawah pohon.
Patroli tentara penjaga perbatasan RI-PNG.Patroli tentara penjaga perbatasan RI-PNG. (Hasan Alhabshy/detikcom)
Matahari bersinar cukup terang pada Sabtu (13/5/2017) pukul 13.30 WIT. Padahal beberapa saat sebelumnya, hujan baru saja turun. Kami diberi tahu cuaca di sini memang tak stabil. Bisa saja sebentar lagi hujan bakal turun.
Senapan serbu keluaran Fabrique Nationale (FN) Belgia jenis FN Minimi dibawa. Berat juga rasanya untuk tangan yang tidak pernah memanggul senjata, sekitar 7 kg. Ada juga senapan SS2-V4 keluaran Pindad, produk dalam negeri, lebih ringan sedikit, sekitar 5 kg.
Salah seorang tentara menggendong radio taktis jenis legendaris seperti yang digunakan tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam, yakni AN/PRC-77. Alat pelacak sistem pemosisi global, yakni Garmin GPSMAP 65s, sudah di genggaman. Ada pula ransel peralatan P3K yang digendong. Sang Saka Merah-Putih yang tiangnya tersemat di bagian belakang pakaian prajurit berkibar tertiup angin Papua.
Sebanyak 15 tentara ini berasal dari Batalion Infanteri Para Raider 503/Mayangkara. Sebelum berangkat, Komandan Kompi Markas bernama Kapten Inf Suwandi memberikan arahan singkat dalam apel. Tujuan patroli adalah memastikan keamanan perbatasan RI-Papua Nugini di patok MM 12.2. Medan yang ditempuh bakal cukup berat. Selain berjalan di tanah lumpur, prajurit juga harus menceburkan diri di air rawa-rawa Sungai Wanggo.
"Perhatikan keamanan! Apabila ada hal-hal menonjol, dilaporkan. Kita akan bergerak di Kali Wanggo," kata Suwandi.
Maka bergeraklah mereka. Kami mencoba menyelaraskan langkah serdadu ini. Melintasi turunan tanah dengan semak belukar, sampai ke bibir Kali Wanggo. Di situ sudah ada perahu dan ketinting ramping dari kayu bintangur. Lebar cekungan ketinting hanya muat untuk satu orang dewasa, berjongkok, dan tak boleh banyak gerak atau ketinting ini bakal oleng.
Satu per satu, para serdadu naik benda ini. Semua menyiagakan senapannya ke depan. Motor perahu dihidupkan. Namun ternyata gerimis turun. Saya pikir tak apa, paling sebentar lagi hujan berhenti. Namun ternyata gerimis berubah menjadi hujan. Basahlah semuanya di tepi sungai ini.
Rasa-rasanya, hujan seperti ini justru membuat para tentara terlihat semakin heroik saja. Ketinting melaju membawa mereka menyusuri Kali Wanggo yang berair tenang dan hijau gelap. Entah apa yang disembunyikan oleh sungai ini.
Kesan misterius kawasan ini terasa saat ketinting sampai ke tengah sungai. Di sisi kanan dan kiri, yang tampak adalah rawa-rawa sunyi. Menerawang lebih jauh, ada hutan yang didominasi pohon eukaliptus, atau orang sini menyebutnya pohon bus. Hujan reda, cuitan burung-burung dan suara serangga hanya menambah kesan sunyi saja. Ada seekor elang berdada putih yang melintas di ketinggian, tanpa suara. Namun justru inilah kemurnian alam Papua. Saya segera menghirup dalam-dalam udara bersih di Bumi Cenderawasih, meresapi suasana di tapal batas Indonesia.
Tapi para tentara di atas ketinting tak semelodramatik itu dalam menikmati suasana. Mereka masih terus memicingkan pandangan di atas senapan, seakan-akan bakal ada yang muncul dari rawa-rawa dan mengancam keselamatan jiwa. Mata saya juga ikut-ikutan mengawasi rawa, tampak ada bentuk panjang bertekstur kasar yang mengapung. Warnanya kecokelatan, panjang sekitar 7 meter. Apa itu buaya?
Bukan! Ternyata itu cuma kayu lapuk yang mengapung di rawa-rawa. Sementara itu, para tentara tetap tak melepaskan pandangannya dari bidikan senapan.
Tiba-tiba ketinting berbelok ke kiri, ke arah rawa-rawa yang misterius itu. Apa pula yang mereka cari di pojok bumi ini? Laju ketinting harus pelan-pelan, supaya tidak menabrak pohon bus di kanan dan kiri yang semakin rapat saja.
Byurrr! Byurrr! Byurrr!
Satu per satu serdadu menceburkan diri ke rawa, meninggalkan ketinting. Pucuk senjata tetap diarahkan ke depan. Mereka mengendap-endap hingga hanya tampak kepala, tangan, dan senjata saja. Sejauh ini situasi masih aman-aman saja.
Barulah terjawab sekarang, ternyata mereka masuk ke rawa-rawa adalah untuk mencapai tapal batas negara. Benar, tapal batas negara ini berada di rawa-rawa ini, bukan di tanah kering. Tampak konstruksi monumen berlapis asbes bercat putih, di atasnya tertancap bendera Merah-Putih. Di kedua sisi monumen itu tertempel pelat logam putih mengkilat, satu sisi berbahasa Inggris, sisi lainnya berbahasa Indonesia.
"Tanda Batas No: MM 12.2," begitulah keterangan yang ada di patok batas negara ini, didirikan pada September 1984. Ada lambang Garuda Pancasila dan lambang Papua Nugini di pelat ini.
Pelacak GPS dihidupkan salah seorang tentara, memastikan bahwa patok ini tidak tergeser atau digeser. Para personel Satgas Pamtas ini terus berjalan-jalan, matanya menerawang ke segala penjuru. Syukurlah, situasi aman-aman saja. Para tentara kemudian membentuk lingkaran, menghormat kepada Sang Saka Merah-Putih.
Lokasi ini cukup terpencil. Memandang ke arah teritorial Papua Nugini sama sekali tak ada orang. Kampung terdekat yang berada di Papua Nugini, yakni Kampung Goku, jaraknya masih empat jam dari titik ini bila ditempuh dengan perahu.
Tempat ini tak selalu tergenang menjadi rawa-rawa. Ada kalanya bila kemarau, air bakal surut. Lokasi tapal batas ini berubah menjadi daratan berlumpur. Bila demikian, patroli akan dilakukan menggunakan motor trail.
Ada 450 personel Yonif Para Raider 503/Mayangkara yang berjaga di Merauke. Mereka tersebar di 18 pos. Masing-masing pos berisi 20 orang hingga 24 orang.
Komandan Yonif Para Raider 503/ Mayangkara, Letkol Inf Erwin Agung, menyatakan wilayah yang dijaga para anak buahnya terbilang tanpa gangguan yang berarti. Pelanggaran perlintasan batas negara juga minim. Soal adanya dinamika saudara-saudara Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI, Erwin menyatakan hal itu sudah hampir tidak ada. Pelanggaran yang kadang ditemui adalah peredaran minuman keras. Selain itu, jarang terjadi pelanggaran.
"Selama kami melaksanakan kegiatan, alhamdulillah dalam keadaan baik. Tidak ada patok yang bergeser," kata Erwin saat berbincang malam hari di Pos Sota.
Meski begitu, personelnya tetap harus selalu menjaga keamanan. Ada 38 patok perbatasan yang harus selalu dijaga. Medan yang harus dilalui bermacam-macam. Ada yang berupa daratan dan jalanan yang rusak, rawa-rawa, atau juga laut.
"Di Kondo (Distrik Naukenjerai), apabila lewat laut, kami harus berhadapan dengan ganasnya ombak. Sebelumnya, pernah ada kapal pendeta dan pastor terbalik di sana. Jalur di sini masih berisiko," tutur Erwin.
Erwin berharap jalan darat di Merauke bisa menjadi lebih baik ke depannya. Jaringan jalan yang baik bakal memudahkan kerja-kerja penjagaan perbatasan. Masyarakat setempat juga bakal terbantu.
Satgas Pamtas juga mendekatkan diri ke masyarakat lewat pembinaan-pembinaan teritorial. Para tentara mengajari penduduk setempat cara bercocok tanam. Sebagaimana diketahui, masyarakat setempat cenderung berburu dan meramu ketimbang bercocok tanam. Ada pula kegiatan keagamaan yang diselenggarakan Satgas Pamtas.
"Kita juga tanamkan bela negara. Di pos-pos yang punya personel berkeahlian mengajar, mereka masuk ke sekolah-sekolah untuk memberikan pelajaran," tutur Erwin.
Soal pembinaan teritorial dan penanaman nasionalisme, ada cerita menarik yang disampaikan Erwin. Di Yakyu, Distrik Sota, Merauke, ditemukan 107 orang atau 57 keluarga dari Papua Nugini datang bermukim di situ. Awalnya Satgas Pamtas yang berpatroli tahun 2014 tidak tahu bahwa mereka bukan orang Indonesia, namun karena mereka berbicara dalam bahasa Inggris kepada personel Satgas, akhirnya mereka ditanyai, dan benar mereka berasal dari Papua Nugini.
"Kemudian kami membiasakan mereka berbahasa Indonesia. Kami siapkan tenaga pengajar, kita kumpulkan mereka. Kebetulan saat itu saya juga dinas di sini," kata Erwin.
Mereka tidak menolak penanaman nasionalisme Indonesia yang diberikan Satgas. Soalnya, mereka sadar bahwa wilayah yang mereka tempati adalah wilayah Indonesia, dan mereka mau belajar soal Indonesia.
Kegiatan-kegiatan seperti itu mereka lakukan sejak bertugas mulai Februari lalu. Bagi mereka, penjagaan negara adalah nomor satu.
Sumber : https://news.detik.com/

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak