Story : KRI Hang Tuah, Inilah Korvet yang Karam di Lepas Pantai Balikpapan Karena Terkena Serangan Bom

KRI Hang Tuah
KRI Hang Tuah 

Selama 72 tahun pengabdian TNI AL, sudah ratusan kapal perang dari berbagai jenis yang "datang dan pergi" untuk mengawal kedaulatan Laut NKRI. Melalui proses waktu, kebanyakan kapal dipensiunkan karena usia tua, lainnya ada yang terpaksa pensiun akibat kecelakaan di lautan. Namun adakah kapal perang TNI AL yang karam atau tenggelam akibat serangan lawan? Jawabannya ada, insiden yang menimpa KCT (Kapal Cepat Torpedo) KRI Matjan Tutun 650 (Jaguar Class) di Laut Arafuru pada 15 Januari 1962 adalah buah dari serangan kombinasi meriam kapal perang AL Kerajaan Belanda. Lain dari itu?
Berdasarkan penelurusan sejarah, empat tahun sebelum pertempuran di Laut Arafuru, tepatnya pada 28 April 1958, korvet TNI AL (d/h ALRI) RI (KRI) Hang Tuah dihantam bom oleh pembom B-26 Invader di Lepas Pantai Balikpapan, Kalimantan Timur. Korban dari serangan B-26 Invader 18 awak dinyatakan gugur dan 28 awak lainnya mengalami luka-luka. Dan yang fatal kapal perang RI generasi pertama ini tenggelam akibat kerusakan berat. Kehadiran KRI Hang Tuah di Lepas Pantai Balikpapan dalam kaitan mendukung Operasi Merdeka untuk mengatasi pemberontakan PRRI/Permesta.
B-26 Invader yang muncul tiba-tiba mengagetkan awak KRI Hang Tuah, menjadikan respon pertahanan udara yang diberikan tak maksimal. Untuk hanud, KRI Hang Tuah yang termasuk korvet Bathurst Class dipersenjatai 1 pucuk meriam Bofors 40 mm dan tiga kanon Oerlikon kaliber 20 mm. B-26 Invader yang dalam tugas samaran ini bercat hitam dan tanpa identitas. Di kemudian hari diketahui, pesawat itu dipasok oleh CIA dalam rangka mengguncang pemerintahan RI. Pilot pesawat adalah William H Beale Jr, mantan perwira USAF yang ditugaskan pada unit terdepan CIA dan berbasis di Taiwan dalam organisasi samaran yg bernama Civil Air Transport. Sedangkan copilot adalah Kolonel Muharto dari AUREV dari angkatan udara gerakan pemberontak Permesta.
Senjata utama KRI Hang Tuah yang berada di bagian haluan adalah meriam QF 4-inch Mk XIX gun kaliber 102 mm. Meriam yang mampu menjangkau sasaran sejauh 8.870 meter ini dapat Anda temui peninggalannya di halaman depan Museum TNI Satria Mandala. Sementara untuk melawan kapal selam, korvet ini dapat membawa 40 bom laut (depth charges).
Tentang KRI Hang Tuah, korvet ini bisa dibilang satu generasi dengan kapal perusak pertama TNI AL, KRI Gadjah Mada, pasalnya sama-sama berasal dari pemberian AL Kerajaan Belanda, yakni realisasi dari KMB (Konferensi Meja Bundar) di tahun 1949. Selain KRI Hang Tuah, TNI AL juga menerima tiga korvet yang sama dari Bathurst Class, masing-masing KRI Patti Unus-256, KRI Banteng-255 dan KRI Radjawali-254. Dari keempatnya, hanya KRI Hang Tuah yang tidak diketahui jelas nomer lambungnya, mungkinkah KRI Hang Tuah menggunakan nomer lambung 253?
Meski Belanda dikenal sebagai penghasil kapal perang kampiun, namun KRI Hang Tuah (korvet Bathurst Class) justru dibangun oleh galangan Evans Deakin&Co di Brisbane, Australia. Kondisi Belanda yang tengah porak poranda akibat berperang melawan Jerman tak memungkinkan produksi kapal perang saat itu. Sebelum menjadi milik Indonesia, korvet ini pertama kali digunakan oleh AL Australia (Royal Australian Navy/RAN) dengan nama HMAS Ipswich J186. Pembangunan lunas pertama dimulai pada 6 Maret 1941, lalu diluncurkan pada 11 Agustus 1941, dan resmi memperkuat RAN pada 13 Juni 1942.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, HMAS Ipswich J186 yang ikut berperang di palagan Pasifik, Okinawa, Samudera Hindia, dan Sisilia, kemudian diakuisisi oleh AL Kerajaan Belanda, resminya per 5 Juli 1946, kapal ini telah berganti nama sebagai HNMLS Morotai P13.
Seperti telah disebutkan diatas, hasil dari KMB menjadikan HNMLS Morotai berganti kepemilikan pada tahun 1949. KRI Hang Tuah mulai beroperasi pada bulan April 1950 dan tergabung pada kegiatan Operasi Gabungan dalam Gerakan Operasi Militer Ill (GOM Ill) yang melaksanakan penumpasan terhadap pemberontakan Andi Aziz di Makassar. Pada periode Juli 1950 sampai dengan Maret 1951, R.I. Hang Tuah dilibatkan dalam operasi penumpasan terhadap pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang digerakkan oleh Dr. CH. Soumokil, beberapa operasi yang dilaksanakan diantaranya Operasi Fajar, Operasi Senopati, Operasi Senopati II dan Operasi Bintang Siang.
Pada saat dilaksanakan Operasi Fajar, KRI Hang Tuah terlibat dalam operasi pendaratan di Pulau Buru, Pulau Seram dan Kota Amahai. Pada Operasi Senopati, R.I. HangTuah hanya terlibat pada operasi pendaratan di Hitulama. Pada saat pelaksanaan Operasi Senopati II, KRI HangTuah tergabung dalam sebuah operasi gabungan ketiga angkatan dalam rangka penyerbuan ke kota Ambon, sedangkan dalam operasi lanjutan penumpasan pemberontakan RMS, KRI Hang Tuah tergabung dalam Operasi Bintang Siang yang merupakan operasi pendaratan di Pulau Saparua.
Pada bulan Maret 1953, KRI Hang Tuah kembali berperan dalam rangka menumpas pemberontakan DI/TII, tergabuhg dalam Operasi lndra pada saat penumpasan DI/TII di Jawa Barat dan Operasi Tri Tunggal pada saat penumpasan DI/TII di Sulawesi.
Tanggal 28 April 1958, setelah bersandar selama tiga hari di Balikpapan, KRI Hang Tuah bertolak dari pelabuhan Balikpapan sekitar pukul 06.30. Dengan kecepatan kapal yang hanya sekitar 4-5 knots, KRI Hang Tuah bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Balikpapan melewati alur keluar Pelabuhan Balikpapan. Dipilihnya waktu tersebut dengan harapan pada saat meninggalkan pelabuhan tidak banyak orang yang mengetahui.
Sekitar pukul 08.00 pada saat KRI Hang Tuah melintas di bouy no.1 yang merupakan rambu pelampung penuntun terluar alur pelabuhan. Terlihat secara visual sebuah pesawat pembom B-26 lnvader terbang di atas pantai menuju Balikpapan sambil melepaskan tembakan bombardir ke sepanjang pantai. Pesawat tersebut terus-menerus melakukan serangan dan melaksanakan pengeboman tepat di atas pelabuhan Balikpapan dan kapal tanker yang sedang berlabuh.
HMAS Fremantle (AL Australia), salah satu Bathurst Class.
Dengan segera Komandan KRI Hang Tuah memerintahkan seluruh awak kapal untuk melaksanakan peran tempur. Mendengar suara alarm peran tempur, Komandan Pucuk di meriam Bofors 40 mm putar haluan. Seluruh pengawak meriam segera siap di pos tempurnya masing-masing mengarahkan laras mengikuti gerakan pesawat tersebut
Pergerakan pesawat tersebut terus diikuti secara visual karena pada saat itu KRI HangTuah hanya memiliki Radar navigasi. Berdasarkan pengamatan visual tersebut, belum dilihat adanya tanda-tanda bahwa pesawat tersebut akan menuju ke arah KRI Hang Tuah. Sebuah insiden terjadi ketika pengawak meriam Oerlikon yang berada di geladak anjungan membuka tembakan terlebih dahulu ke arah pesawat tanpa adanya perintah penembakan. Kepanikan terjadi karena hal itu memancing reaksi dari pesawat tersebut yang kemudian berputar mengarah ke posisi KRI Hang Tuah.
Pesawat lnvander mendekat dari arah lambung kiri kapal dan memberondong KRI Hang Tuah dengan tembakan Mitraliur. KRI HangTuah segera mengadakan perlawanan dengan tembakan dari meriam Bofors dan Oerlikon. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pada saat melintas di atas KRI HangTuah, pesawat tersebut menjatuhkan bom tepat di atas cerobong asap dan meledak di antara ruang ketel dan kamar mesin. Perlawanan KRI HangTuah terhenti dan seketika itu KRI HangTuah mengalami kebakaran hebat. Kanon Oerlikon 20 mm/MK4 bahkan terlempar ke laut. Banyak korban berjatuhan. Keadaan bertambah gawat karena kebakaran semakin membesar.
HangTuah tidak langsung tenggelam, posisinya masih terapung saat kobaran api mulai melumat habis badan kapal. Pada pukul 00.20, tidak tampak lagi adanya kobaran api dan hampir dapat dipastikan bahwa KRI HangTuah telah tenggelam, mengakhiri masa baktinya kepada Republik Indonesia, bersujud di haribaan Pertiwi.
Setelah kehilangan KRI Hang Tuah, dikemudian hari TNI AL menghidupkan kembali nama kapal perang ini, yakni pada Riga Class, kapal perang jenis frigat dari Rusia (Uni Soviet) yang didatangkan dalam persiapan Operasi Trikora pada tahun 1962. Sebagai Riga Class, KRI Hang Tuah punya nomer lambung 358, kapal perang ini masih dioperasikan TNI AL sampai dekade 70-an, diantaranya ikut diterjunkan dalam Operasi Seroja. (Haryo Adjie)
Spesifikasi KRI Hang Tuah :
  • Class and type: Bathurst-class corvette
  • Displacement: 650 tons (standard)/1.025 tons (full war load)
  • Length: 57 meter
  • Beam: 9,4 meter
  • Draught: 2,6 meter
  • Propulsion: triple-expansion steam engine, 2 shafts, 2,000 hp
  • Speed: 15 knots (28 km/h)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak