Story : PT-76, Tank Amfibi Korps Marinir TNI AL yang Mewarnai Perjalanan Sejarah Negeri

 PT-76
 PT-76 

PT-76 menempati kasta tersendiri dalam sejarah ranpur eks Blok Timur. Kemampuannya istimewa, dan kru yang mengawakinya menyatakan puas terhadap kinerjanya-satu hal langka yang jarang terjadi pada ranpur Blok Timur.
Plavayushiy Tank-76 (tank amfibi-76) tercatat sebagai satu-satunya tank amfibi yang berasal dari Negeri Beruang Merah. Satu keanehan memang, karena Negeri Beruang Merah sebagai superpower Timur biasanya melakukan penyempurnaan terhadap ranpur-ranpurnya.
Keputusan untuk membangun platform tank amfibi dengan meriam kaliber besar dan bukannya kanon tembak cepat juga sebuah keputusan berani, Amerika Serikat sebagai seterunya terbukti tak bisa membangun kendaraan tempur sejenis. Masa pengabdiannya terhitung sangat panjang, dimulai pada pertengahan dekade 1950an, dan bahkan terus dipakai di garis depan sampai abad ke-21 termasuk oleh Korps Marinir TNI AL.
PT-76 bahkan masih tercatat dalam inventaris aktif pasukan khusus kementerian dalam negeri Rusia, MVD. PT-76 tercatat masih digunakan dalam Perang Chechnya I, berjibaku memasuki Grozny pada tahun 1995.
Indonesia sebagai salah satu pemakai terbanyak, sudah menerjunkan PT-76 dalam berbagai operasi militer. Bahkan boleh dikatakan bahwa PT-76 menjadi alutsista yang mewarnai perjalanan sejarah karena selalu ada di garda terdepan untuk menjaga negeri. Orde Lama, Orde Baru, dan bahkan Orde Reformasi, PT-76 selalu setia digunakan bahkan ketika penggantinya sudah mulai bertugas.
Kiprahnya yang beraroma mesiu bisa dipergoki mulai dari aksinya sebagai pembuka operasi Seroja untuk membebaskan Timor-timur, bahkan hingga Darurat Militer Aceh 2003, dan terus hingga sekarang. Jangan lupakan sejarah pula, ketika tank-tank PT-76 Marinir masuk ke Jakarta dan berhasil memulihkan keamanan pasca kerusuhan yang menandai berakhirnya Orde Baru.
Sebagai catatan, TNI AD juga mengoperasikan PT-76 namun memensiunkannya begitu Orde Lama tumbang. PT-76 milik TNI AD yang masih beroperasi kini ada di Pusdik Kavaleri di Jawa Barat. Dengan segudang kecintaan dan pengalaman, mari kita bedah satu-satunya tank amfibi Blok Timur ini.
PT-76 yang dibangun dari purwarupa Obiekt 740 merupakan wujud kompromi dari sejumlah hal krusial. AL Negeri Beruang Merah jelas menginginkan tank yang bisa berenang, akan tetapi bobot ekstra dari sebuah tank tentunya tak memungkinkannya mengapung apalagi melaju di dalam air. Tuntutan berikutnya adalah meriam berkaliber besar untuk menjadi substitusi meriam kapal perang, dan ini juga jadi syarat yang tak bisa ditawar.
Sebagai akibatnya, yang dikorbankan adalah proteksi. Hull PT-76 terdiri dari baja dengan variasi ketebalan 11-18mm pada bagian tertebalnya, terhitung tipis dan hanya setara dengan kendaraan tempur. Hal ini menyebabkan sejumlah sejarahwan militer untuk menggolongkannya kedalam tipe kendaraan tempur, dan bukan tank (ringan). Tipisnya kulit PT-76 ini terhitung beresiko sebenarnya, karena senapan mesin berat M2HB dengan peluru kategori AP (Armour Piercing) mampu menembusnya dari segala sisi.
Desainernya mengakali kelemahan ini dengan membangun hull dengan sudut kemiringan yang amat ekstrim, sehingga dilihat dari samping, glacis PT-76 terlihat amat sangat lancip. Semakin miring hull, maka diharapkan tingkat defleksi (pantulan) dari proyektil yang datang juga semakin meningkat. Desain ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya apung (buoyancy) saat PT-76 harus berenang.
Sepanjang umurnya, PT-76 mengalami dua kali perombakan dimensi hull. Pada saat PT-76B dirilis, tinggi hullnya ditambah 70mm, sementara pada perombakan final, tinggi hull ditambah 130mm untuk semakin meningkatkan daya apung. Hal ini bisa diamati dari penempatan garis sambung antara glacis dan bagian atas hull. Pada versi PT-76A, lokasi garis sambung tersebut terletak melintangi lubang palka pengemudi.
Pada versi awal PT-76B, lokasinya terletak tepat dibelakang lubang palka pengemudi, dan pada versi akhir PT-76 garis sambung tersebut terletak sangat dekat dengan bagian depan kubah. Pada versi PT-76B kemiringan pelat dibuat semakin landai, hanya 35o dari yang tadinya 40o Penulis percaya bahwa PT-76 yang digunakan oleh Korps Marinir TNI-AL adalah PT-76B Mod 1962, dengan pengamatan pada lubang palka pengemudi.
PT-76B memiliki dua sistem penggerak untuk dua alam yang dimasukinya. Di darat, PT-76 mengandalkan mesin diesel inline 6 silinder yang berdaya 260hp, yang sebenarnya terhitung kewalahan untuk menggerakkan bobot tubuhnya yang seberat 14,6 ton. Mesin ini dikawinkan dengan sistem transmisi manual 5 percepatan, 4 maju dan 1 mundur yang diadopsi dari tank PD II, T-34/85.
Akibatnya, PT-76 hanya mampu mencapai kecepatan 44km/ jam di jalan raya, terhitung lambat untuk sebuah tank. Tapi kemampuan lintas rintangnya amat sangat mumpuni, mampu melintasi halangan vertikal 1,1 meter, parit selebar 2,8 meter, dan menanjak sampai kemiringan 52o. Untuk menghemat bobot, radiator yang terpasang di sisi atas juga tidak diberi pelat pelindung dan hanya ditutup oleh kawat kasa dan terekspos dari sisi luar hull. Ini menimbulkan kerentanan tersendiri terhadap bomblet dari serangan artileri yang sangat mungkin melumpuhkan mobilitas PT-76.
PT-76 menggunakan suspensi torsion bar dengan enam roadwheel. Pada PT-76 generasi awal, roadwheelnya memiliki desain mulus, sementara mulai PT-76B, diberi aksen jari-jari sebanyak 12 garis untuk tiap roadwheel. Roadwheel PT-76 juga didesain kopong alias kosong pada bagian dalam untuk meningkatkan daya apungnya, yang diklaim meningkat 30% berkat keberadaan roadwheel kopong tersebut.
PT-76 juga hanya memiliki front idler wheel dan drive sprocket, tanpa return roller, plus peredam kejut hidrolik pada roda pertama dan terakhir untuk menjaga kenyamanan minim bagi krunya. Sistem rantai PT-76 memang primitif, tetapi didesain panjang sehingga bobot kendaraan terdistribusi secara merata, sehingga ground pressure PT-76 hanya 0,50kg/cm2, membuatnya menjadi ranpur dengan ground pressure teringan yang pernah diciptakan. Hal ini berimbas pada kemampuan manuvernya yang sangat oke di kawasan rawa, tanah persawahan yang gembur, dan bahkan salju.
Sementara untuk memberi PT-76 kemampuan untuk hidup di dua alam, desainernya memasang sistem hydrojet, yang memanipulasi semburan air untuk mendorong arah gerak PT-76 didalam air. Kedua hydrojet ini terpasang di kiri-kanan belakang hull tank, dengan lubang inlet air yang berbentuk seperti insang hiu sebagai penanda lokasinya.
Lubang inlet air utama sendiri ada di sisi bawah, dan pasokan air diolah dari arah bawah untuk kemudian disemburkan melalui dua buah lubang di belakang hull. Kedua buah lubang ini memiliki penutup yang bisa dimanipulasi bukaannya untuk berbelok atau bergerak mundur. Misalkan untuk berbelok ke kiri, maka lubang penutup kiri ditutup penuh, sementara penutup kanan dibuka.
Untuk bergerak pada satu sumbu (pivot) PT-76 pun bisa melakukannya, tinggal mengatur semburan air yang ada, dimana satu hydrojet menghisap, sementara yang satunya membuang sehingga PT-76 bisa berbalik arah didalam air. Untuk sistem hydrojet ini, harus diakui bahwa Negeri Beruang Merah memimpin dalam bidangnya, sesuatu hal langka dimana biasanya Blok Timur selalu dituduh menjiplak.
Saat hendak berenang, maka pelat trim vane yang tadinya terlipat di moncong hull direntangkan terbuka untuk membantu memecah dan menangkis ombak yang datang dari arah depan, sementara 2 bilge pump yang bertugas membuang air dari dalam kendaraan diaktifkan untuk berjaga-jaga menghindari PT-76 tenggelam.
Dengan dua hydrojet, PT-76 dapat berenang dengan kecepatan 10km/jam secara terus-menerus hingga mencapai jarak 100km, suatu pencapaian yang luar biasa bagi kendaraan yang massa dan berat jenisnya berkali-kali lipat dibandingkan dengan air. PT-76 dapat dilengkapi dengan snorkel untuk mencegah mesin mati karena kemasukan air, terutama saat ombak sedang tinggi di lokasi pendaratan amfibi.
Bicara soal penempatan kompartemen, tidak ada yang luar biasa dengan PT-76. Ruang untuk awaknya terbagi dua, palka pengemudi dan palka tempur. Kalau PT-76 terlihat panjang kebelakang, itu karena ruang belakang diisi mesin dan hydrojet yang butuh ruang besar. Pengemudi duduk dalam palkanya sendiri, dengan penutup palka yang diayun kearah kiri untuk pembukaannya. Ia memiliki tiga kaca periskop TNP yang memberinya bidang pandang yang cukup sempit.
Saat PT-76 menjalani operasi amfibi, pengemudi harus memasang periskop PER-17A yang bisa dinaik-turunkan, sangat penting karena saat trim vane dibentangkan, keberadaannya lebih tinggi dari ketinggian glacis sehingga menyulitkannya untuk melihat jika mengandalkan periskop biasa. Untuk pengemudian malam, lain lagi ceritanya.
Modalnya adalah periskop infra-merah tipe TVN-2B yang mampu memberi penglihatan sampai jarak 60 meter didepan. Karena tergolong optik tua, maka disarankan agar TVN-2B dinonaktifkan setiap 30 menit, dan pengemudi tak boleh menggunakannya saat PT-76 menembak, karena cahaya penembakan terlihat sangat menyilaukan. Di lantai palka pengemudi terdapat lubang palka penyelamat (escape hatch) untuk menyelamatkan diri dalam keadaan genting.
Sementara untuk palka tempur, ada kisah tersendiri dalam hal desain PT-76. Pada tahap purwarupa, PT-76 sesungguhnya didesain dengan dua lubang palka terpisah untuk komandan dan penembak, layaknya pada tank Rusia lainnya. Tetapi pada tahun ketika PT-76 hampir selesai, keluar hasil studi mengenai survivabilitas kru T-34 dalam PD II.
Dalam studi tersebut, disebutkan bahwa penyebab terbesar awak tank sukar menyelamatkan diri adalah sulitnya membuka pintu palka karena tank yang tertembak atau meledak menyebabkan luka-luka atau luka bakar pada awaknya. PT-76 sebagai tank yang mendekati tahap akhir kemudian diubah dengan lubang palka gabungan yang berbentuk oval.
Lubang palka ini membuka kearah depan, dan bisa dikunci dalam posisi tegak. Komandan dan penembak bisa berlindung dibaliknya saat berdiri dari balik palkanya. Uniknya, pada PT-76 yang digunakan Korps Marinir TNI-AL, lubang palka ini dimodifikasi untuk membuka kearah belakang, yang dimungkinkan karena sistem engsel sederhana yang dipergunakannya. Dengan engsel buka kebelakang, komandan dan pengisi peluru bisa mengintai tanpa perlu mengeluarkan seluruh anggota badannya.
Komandan duduk disebelah kanan pada PT-76, dan di bagian lubang palkanya terdapat tiga periskop yang bisa diputar dengan roda yang dikendalikan tangan. Tiga periskop ini terdiri dari TNP di kiri dan kanan, sama seperti pengemudi. Di periskop tengah ada TPKU-1 yang memiliki kemampuan pembesaran sampai 4x, yang kemudian disempurnakan menjadi TPKU-2 pada varian PT-76B yang memiliki pembesaran 5x. Pada PT-76, komandan bertindak sebagai penembak sekaligus operator radio, suatu pekerjaan yang terhitung rumit dan mengurangi keefektifan kerja awak.
Berpindah ke urusan meriam, PT-76A dilengkapi meriam D-56T dengan garis tengah 76,2mm dan panjang 42 kaliber yang beralur dan memiliki sistem pasokan amunisi yang terletak disekeliling palka tempur, tanpa sistem perlindungan munisi dari bahaya api. Hal ini menyebabkan PT-76 yang langsung meledak hebat begitu terhantam munisi HEAT atau APFSDS, seperti yang terjadi pada PT-76 AD Irak saat jadi bulan-bulanan Sekutu dalam operasi Desert Storm 1991.
Sebanyak 40 peluru bisa dibawa oleh PT-76, biasanya terdiri dari tipe OF-350 HE/Frag sebanyak 24 buah, AP-T (Armor Piercing-Tracer) untuk pertempuran malam sebanyak 8 buah, dan 8 buah BK-350M HEAT (High Explosive Anti-Tank). Dengan meriam kaliber besar namun panjang laras yang pendek, asap sisa penembakan dengan segera kembali masuk kedalam palka segera sesudah kelongsong ditarik dari breech yang memang terletak diantara kursi komandan dan pengisi. Belum lagi efek tolak balik yang dirasakan.
Oleh sebab itu, muzzle brake meriam D-56T yang terdiri dari banyak lubang kecil (multi slot/baffle muzzle brake) dianggap kurang memadai untuk PT-76. Sebagai obatnya, diperkenalkan meriam baru D-56TS yang memiliki bore evacuator untuk mencegah asap memasuki palka tempur dan sistem double-slot muzzle brake. Modelnya mengacu pada peredam recoil meriam artileri, dimana asap dan tekanan penembakan dibuang secara efektif ke kanan dan ke kiri setelah meninggalkan laras.
Sebagai pendamping dari meriam utama, PT-76 memiliki senapan mesin koaksial SGMT dengan 1.000 peluru cadangan yang tersimpan dalam boks yang tergantung di sisi dalam kubah, di depan kursi pengisi meriam. Jarak efektifnya mulai dari 0-500 meter, seperti yang dialami sendiri dengan cara yang menyakitkan oleh seorang Fretilin yang berupaya menggranat PT-76 Korp Marinir dalam Operasi Seroja.
Melompat dari arah depan, komandan PT-76 menarik picu sesaat sedetik setelah sang Fretilin melancarkan serangan kamikazenya dan menghentikannya sebelum ia sempat membuka palka. Pada varian produksi setelah 1967, senapan mesin SGMT digantikan oleh PKT yang lebih andal. PT-76 milik Korp Marinir TNI AL sendiri tercatat ditingkatkan kemampuannya oleh perusahaan NIMDA dari Israel yang bekerjasama dengan perusahaan lokal dengan pemasangan mesin Detroit Diesel dan kanon Cockerill 90mm. (Aryo Nugroho)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak