BAE Hawk Mk. 200, Cabe Rawit dari Inggris yang Mungil Tapi Perkasa

BAE Hawk Mk. 200
BAE Hawk Mk. 200 

Untuk pertama kalinya dalam pameran kedirgantaraan Farnborough 1984, produsen pesawat British Aerospace (sekarang BAE Systems) memperkenalkan proyek barunya jet tempur multiperan (multi-role) ringan yang dikembangkan dari keluarga jet latih lanjut populer Hawk 50 dan Hawk 60.
Pengembangan berdasar pesawat yang telah teruji pastinya akan mempersingkat waktu dan meminimalisir biaya yang keluar. Dua tahun kemudian tepatnya pada 19 Mei 1986 pesawat demonstrator berawak tunggal ini berhasil mengudara untuk kali pertama.
Sayang, kurang dari dua bulan setelahnya pesawat yang diberi nama Hawk 200 tersebut jatuh dalam uji lanjutan. Tragisnya sang pilot uji Jim Hawkins harus meregang nyawa. Meski kehilangan jet demonstratornya, perusahaan memutuskan untuk tetap melanjutkan pengembangan Hawk 200.
Prototipe ke-2 meluncur dari pabrik pada 29 April 1987. Sebagai tambahan informasi, pesawat Hawk 100 versi latih tempur (Lead In Fighter Trainer) bertempat duduk ganda baru melakukan penerbangan perdana tiga tahun setelah Hawk 200 pada Oktober 1987.
Bila Hawk 100 dengan peran primer sebagai pesawat latih lanjut dan kemampuan sekunder untuk bertempur/serang, maka Hawk 200 murni sebagai pesawat tempur multiperan yang dirancang untuk pertahanan udara, serangan darat dan laut (antikapal), juga dukungan udara dekat (CAS).
Di eranya, Hawk 200 bersaing ketat dengan jet tempur sekelas seperti AMX buatan Italia-Brasil dan Aero L-159 ALCA dari Ceko. Meski BAE getol mempromosikan Hawk 200, nasibnya tak secermelang adiknya Hawk 100 yang banjir pesanan.
Order pertama Hawk 200 datang tahun 1990 dari Angkatan Udara Kerajaan Oman yang memesan 12 unit. Pesawat ini mendapat nomenklatur resmi sebagai Hawk 203 yang seluruhnya tuntas diserahkan tahun 1993.
Selanjutnya pinangan juga datang dari negara Timur Tengah lainnya yakni dari Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi, namun akhirnya dibatalkan meski BAE telah menyiapkan nama Hawk 205.
BAE akhirnya bisa sedikit bernapas lega setelah datang pesanan dari AU Malaysia (Royal Malaysian Air Force - RMAF/TUDM) sebanyak 18 unit. Ditambah lagi pesanan dari Indonesia pada 1993 dalam jumlah yang cukup signifikan yakni 34 unit.
Mungil Tapi Perkasa
Pesawat berpostur mungil tapi gempal ini memiliki tujuh gantungan eksternal. Dua di bawah sayap dan sebuah di ujung sayap serta satu lagi di bagian tengah perut. Pilihan senjata yang bisa dibawa sesuai misi yang diemban yakni rudal udara ke udara dengan pilihan AIM-9 Sidewinder, AIM-132 ASRAAM, Skyflash atau AIM-120 AMRAAM.
Untuk menghajar sasaran darat/permukaan bisa meluncurkan AGM-65 Maverick dan rudal antikapal Sea Eagle. Selain itu bisa melepaskan berbagai bom tak berpandu Mk 82, Mk 83, bom cluster BL755, dan bom pintar Paveway II.
Bawaan lain adalah tabung roket SNEB atau CRV7 serta 2 atau 3 drop tank. Hawk 200 sendiri tak memiliki kanon tetap (internal), namun bisa mengusung rumah untuk kanon Aden kaliber 30 mm dengan 120 putaran.
Di bagian hidungnya yang terlihat mancung, terpasang pulse-doppler planar array radar AN/APG-66H garapan Westinghouse Electric Corp. (sekarang Northrop Grumman). Radar ini merupakan derivatif dari radar yang digunakan oleh jet F-16A/B, namun dengan kemampuan sedikit di bawahnya. Jarak sapuannya mencapai 62 km yang dapat mendeteksi 10 target permukaan dan sembilan target di udara secara bersamaan.
Hawk 200 juga dilengkapi dengan laser rangefinder buatan Ferranti dan FLIR dari GEC-Marconi. Sistem perlindungan dirinya mencakup Sky Guardian 200 RWR buatan BAE sendiri dan Vinten chaff/flafe dispensers yang bisa dioperasikan secara otomatis atau manual.
Sebagai sumber tenaga baik Hawk seri 100 dan 200 mengandalkan sebuah mesin jet non afterburning Adour Mk.871 buatan Rolls-Royce Turbomeca yang memiliki daya dorong 26 kN. Kecepatan jelajahnya mencapai 796 km/jam dan maksimum 1.037 km/jam dengan ketinggian terbang maksimum 15.250 meter
Bahan bakar internal mencapai 1.360 kg dan eksternal dengan tiga drop tank 3.210 kg untuk membawa Hawk 200 bertempur hingga radius 617 km. Membutuhkan landasan pacu sepanjang 2.134 meter dengan bawaan penuh dan jarak pendaratan menggunakan brake chute sejauh 854 meter atau 1.250 meter tanpa brake chute.
Tergolong dalam pesawat tempur generasi keempat, Hawk 200 memiliki perangkat yang mumpuni dan tergolong canggih di eranya. Seperti halnya penggunaan MPD (Multi Purpose Display) yakni layar multifungsi yang menampilkan seluruh data dan parameter terbang yang ditampilkan dalam bentuk digital.
Lalu HUD (Head Up Display) tampilan transparan yang menyajikan data tanpa mengharuskan pilot memalingkan kepalanya di mana data seolah tersaji di kanopi pesawat yang terhubung secara elektronik dengan helm penerbang.
Fitur unggulan lainnya yakni perangkat HOTAS (Hands On Throttle And Stick) sistem kendali yang menempatkan semua fungsi pada tongkat kemudi. Untuk menyelamatkan nyawa pilot dalam keadaan darurat, Hawk 200 di lengkapi kursi lontar (zero-zero) Martin Baker Mk.10.
Seperti disinggung di atas, Hawk 200 adalah varian yang paling minim diproduksi dari keluarga besar Hawk yang jumlahnya totalnya mencapai 962 unit. Dengan rincian 176 tipe T.1 milik Angkatan Udara Inggris, lalu versi ekspor Hawk seri 50 sebanyak 89 unit dan Hawk seri 60 mencapai 144. Selanjutnya Advanced Hawk 100 mencapai 283 buah lalu 64 unit Hawk 200 sisanya adalah 206 unit T-45 Goshawk dibuat lisensi oleh AS.
Nah, dari 64 unit Hawk 200 tersebut yang masih aktif digunakan oleh Angkatan Udara Kerajaan Oman hanya tersisa satu unit, lalu Malaysia enam unit. Di Indonesia diperkirakan 14 Hawk dinyatakan ‘left’, empat diantaranya mengalami kecelakaan yakni TT-0216 tanggal 16 Nobember 2001, TT-0207 pada 21 November 2006, TT-0203 tanggal 30 Oktober 2007 dan TT-0212 tanggal 16 Oktober 2012.
Teruji Perang
Malaysia adalan negara kedua yang mengoperasikan Hawk 200 sebanyak 18 unit yang dipesan akhir tahun 1990. BAE mengirimnya secara bertahap dari 1993 hingga 1995 untuk mengisi Skadron 6 dan Skadron 15. Jet tempur negeri jiran ini mendapat julukan resmi sebagai Hawk 208.
Berbeda dengan Hawk 203 milik Angkatan Udara Oman yang tak dilengkapi perangkat pengisian bahan bakar di udara, maka Hawk 208 RMAF merupakan versi pertama yang dilengkapi perangkat probe sehingga jangkauan tempurnya bisa diperpanjang.
Hawk 208 milik TUDM sudah teruji dalam perang, digunakan untuk menyerang posisi pemberontak dari pasukan keamanan Kesultanan Sulu (Filipina) yang mengklaim wilayah Sabah adalah bagian dari kerajaan Sulu yang diserahkan sepihak oleh Inggris ke Malaysia.
Di tengah kebuntuan komunikasi antara pemberontak dan Pemerintah Malaysia, TUDM diperintahkan untuk ‘melunakkan’ lawan di darat sebelum pasukan gabungan dari Tentara Darat dan Kepolisian kerajaan Malaysia turun menyapu membersihkan lawan.
Hari itu tanggal 5 Maret 2013, sebanyak lima Hawk 208 didampingi tiga F-18D Hornet meluncur dari lanud Lahad Datu, Sabah, dimana setiap Hawk 208 menjatuhkan bom Mk 82 dalam sortie pertama dan meluncurkan roket CRV7 ke target darat pada sortie kedua dan ketiga.
Usai konflik senjata dengan milisi Kesultanan Sulu, guna mengamankan wilayah Sabah, TUDM dikabarkan akan memangkalankan secara permanen satu skadron Hawk 200. Sebanyak enam Hawk 208 akan diberdiam di Pangkalan Udara Labuan, Sabah yang penempatannya dirotasi dengan Boeing F/A-18 Hornet dan Sukhoi Su-30MK.
Untuk meningkatkan kemampaun beberapa Hawk 208 dan Hawk 108-nya, TUDM semula akan meng-upgrade dengan sistem radar peringatan baru (RWR) SEER buatan Finmeccanica, Italia (kemudian dikenal sebagai Selex Galileo), namun karena belum tersedianya anggaran hingga 2016 silam, upgrade tersebut belum terlaksana hingga kini.
Hawk Mk. 209 TNI AU
Hawk TNI AU mendapatkan nama resmi sebagai Hawk 209. Pengirimannya memakan waktu hampir tiga tahun, gelombang pertama tiba di Tanah Air tahun 1996 dan tuntas seluruhnya pada 1999.
Seperti halnya Hawk 208 TUDM (AU Malaysia), sebagian dari Hawk 209 milik TNI AU juga dilengkapi dengan probe pengisian bahan bakar di udara untuk memperpanjang jangkauan tempurnya.
Hawk 209 ditempatkan dalam dua skadron dibagi rata jumlahnya, yakni Skadron Udara 12 ‘Black Panther’ di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau dan Skadron Udara 1 ‘Elang Katulistiwa’ di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
Perihal pengalaman perang, TNI AU menggunakan Hawk 209 pertama kali dalam konflik bersenjata di Tanah Air. Tepatnya pada tahun 2003 saat melawan kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (kini Provinsi Aceh).
Dalam operasi pemulihan keamanan itu sebanyak empat unit Hawk 209 TNI AU ambil peranan sebagai ‘air escort’ yakni mengawal operasi penerjunan pasukan Linud Kostrad menggunakan enam pesawat C-130 Hercules untuk mengambil alih Lanud Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh.
Dengan sandi ‘Sriti Flight’, Hawk 209 meluncur 30 menit setelah para Hercules mengudara dari tempat yang sama dari Lanud Polonia, Medan sebagai pangkalan aju. Keempat Hawk tersebut bernomor ekor TT-0205, TT-0212, TT-0213, dan TT-0214 yang diawaki leader Mayor Pnb Henry Alfiandi (saat itu Komandan Skadron Udara 12).
Usai mengawal operasi penerjunan Hercules, keempat Hawk 209 kembali bergegas mengambil posisi selanjutnya. Kali ini melindungi misi pendaratan PPRC Marinir di Pantai Jalo pada hari yang sama.
Meski memiliki kemampuan serang darat yang mumpuni, keempat Hawk 209 tidak membopong bom atau tabung peluncur roket karena klausul pembelian Hawk 209/109 dengan Pemerintah Inggris sedari awal memang tak boleh digunakan dalam konflik internal dalam negeri.
Dalam misi kawal tersebut, setiap Hawk 209 membawa dua tangki eksternal (drop tank) dan sepasang rudal AIM-9 Sidewinder di ujung sayapnya serta mengusung kanon Aden 30 mm di bawah perutnya.
Meski tak satupun dari Hawk 209 melepaskan butiran munisi kanonnya ke sasaran selama operasi tersebut, Pemerintah Inggris tetap melakukan protes atas penggunaan Hawk 209.
Selain terlibat konflik internal, jet tempur yang kala itu belum genap tiga tahun digunakan TNI AU ini pernah juga terlibat insiden yang cukup menegangkan dengan dua F/A-18 Hornet AU Australia (RAAF) yang menerobos masuk wilayah udara Kupang, NTT.
Kejadian itu berlangsung pada 16 September 1999 tak lama setelah PBB mengumumkan hasil jajak pendapat rakyat Timor Timur. Satu unit Hawk 209 yang dipiloti oleh Kapten Pnb Azhar Aditama dan dikawal sebuah Hawk 109 berhasil memburu dan menguntit F/A-18 Hornet AU Australia.
Namun akhirnya sang Hornet dibiarkan pulang karena tak ada perintah untuk menembaknya. Dari kejadian ini terbukti kemampuan Hawk 209 tak bisa dipandang sebelah mata. Biar kecil bak cabe rawit, ‘pedasnya’ tak bisa diremehkan.
Kini usia Hawk 209 TNI AU genap 22 tahun. Dengan perawatan yang baik usia pakainya masih layak untuk 5-10 tahun kedepan hingga datang penggantinya. Upaya lain selain perawatan berkala adalah upgrade kemampuan untuk beberapa Hawk 209.
Salah satunya dengan pemasangan radar warning receiver (RWR) baru SEER buatan Finmeccanica, Italia yang akan menggantikan posisi Sky Guardian 200. Kontraknya disepakati dalam Singapore Airshow yang berlangsung Februari tahun 2016 silam.
Perangkat serupa sebelumnya telah sukses dipasang pada pesawat Aero L-159 ALCA milik AU Ceko yang secara signifikan meningkatkan kemampuannnya untuk mengidentifikasi ancaman dari udara, darat, maupun laut.
Berkaitan dengan sosok penerusnya, tentunya TNI AU sudah memiliki rencana strategis menentukan kriterianya. Hampir pasti sang calon pengganti merupakan penempur multiperan dari generasi 4,5 seperti Lockheed Martin F-16V, Eurofighter Typhoon, Saab JAS-39 Gripen atau mungkin dari dalam negeri yaitu IF-X kalau memang sudah tersedia.
Sembari menunggu sang pengganti hadir, sang ‘Elang Tempur’ tentunya akan tetap setia mengepakkan sayapnya menjaga wilayah Pertiwi dari ancaman pengacau baik yang datang dari dalam maupun dari luar. (Rangga Baswara)
Spesifikasi BAE Systems Hawk 200 ;
  • Awak : 1. 
  • Panjang : 11,38 m. 
  • Rentang sayap : 9,39 m. 
  • Tinggi : 4,16 m. 
  • MTOW : 9.101 kg. 
  • Mesin : Rolls Royce Turbomeca Adour Mk. 871 turbofan. 
  • Thrust : 26 kN. 
  • Kecepatan jelajah : 796 km/jam. 
  • Kecepatan maks. : 1.037 km/jam. 
  • Kapasitas BBM : 1.360 kg internal, plus 3.210 kg (3 drop tanks). 
  • Jangkauan ferry : 1.950 km dengan 3 drop tank. 
  • Radius tempur : 617 km. 
  • Ketinggian terbang : 15.250 m.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak