HMV-150, Reinkarnasi Cadilage Cage V-150 Commando versi Thailand

Cadilage Cage V-150 Commando versi Thailand
Cadilage Cage V-150 Commando versi Thailand 

Siapa yang tak kenal dengan Cadilage Cage V-150 Commando, panser 4×4 ini begitu melekat sebagai arsenal Batalyon Kavaleri 7 Pragosa Satya Kodam Jaya. Debutnya pun kondang sebagai ranpur yang merekatkan cita rasa antara Indonesia, Singapura, Thailand, dan Filipina sebagai penggunanya. Didatangkan pada pertengahan 1970-an lewat proyek Giling Wesi, jelas usia V-150 kini tak muda lagi. TNI AD lewat Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan (Ditpalad) pun telah melakukan serangkaian retrofit.
Retrofit yang dijalankan pada Commando V-150 TNI AD utamanya mencakup penggunaan mesin Diesel V6-155 6 silinder 4 langkah dengan daya 149 BHP/3300 RPM yang memberikan kemampuan dan kecepatan serupa dengan aslinya serta pemakaian bahan bakar yang lebih hemat. V-150 retrofit menggunakan transmisi otomatis Allison AT-545 4 speed, empat maju satu mundur yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pengemudi.
Sementara berkaca ke Thailand, dilakukan terobosan lebih besar untuk V-150, bukan hanya repowering dan upgrade, V-150 di Negeri Gajah Putih ini bahkan berhasil re-desain. Dikutip dari Janes.com (13/7/2017), pihak litbang Angkatan Laut Kerajaan Thailand telah merampungkan sesi uji coba pada ranpur yang disebut sebagai HMV-150.
HMV-150 tak lain adalah panser V-150 yang berhasil direkayasa ulang oleh perusahaan lokal, Panus Assembly Co Ltd. Persisnya pada Oktober 2016, AL Thailand ‘mendonorkan’ V-150 kepada Panus Assembly untuk dilakukan program upgrade. V-150 yang dinorkan tak lain adalah ranpur yang telah mengalami kerusakan setelah terkena ranjau dalam insiden pertempuran di Thailand Selatan. Tidak tersedianya budget untuk perbaikan, menjadi dasar bagi AL Thailand untuk menghibahkan V-150 yang telah rusak untuk direkayasa.
Singkat cerita, V-150 rusak tersebut kemudian masuk bengkel selama kurang lebih delapan bulan, dan diserahkan kembali dalam wujud yang ‘baru’ kepada AL Thailand pada Juni 2017. Perubahan yang signifikan membuat sosok HMV-150 menjadi pusat perhatian, termasuk di level internasional.
Desain yang terlihat berubah adalah bagian depan dan samping. Bagian depan posisi pengemudi memiliki kaca besar dengan jendela antipeluru kecil di setiap sisi. Untuk keluar masuk awak dan pasukan, disiapkan satu pintu di setiap sisi pada bagian tengah lambung. Untuk urusan pintu, Panus tak merubah dari desain asli V-150.
Untuk persenjataan, kini hanya disediakan satu kubah dengan satu awak untuk penempatan senapan mesin ringan. Setiap sisi kubah dilengkapi dengan tiga peluncur granat asap. Sementara untuk kapasitas angkut, bila V-150 hanya bisa membawa lima pasukan, maka HMV-150 dapat membawa sampai 10 pasukan infanteri mekanis.
HMV-150 dirancang dengan proteksi maksimal pada efek ledakan ranjau dan IED (Improvised Explosive Device) . Untuk itu para teknisi Panus mendesain ulang dan memperkuat seluruh bagian lambung. Delapan puluh persen bagian lambung (hull) adalah komponen yang baru dibuat. Pengujian pada efek ledakan dan balistik memang belum tuntas, namun pihak pengembang menyebut HMV-150 telah dilengkapi lapisan baja ekstra dengan ketebalan 12 mm, yakni pada sisi bodi dan bagian atas. Sementara plat baja bagian bawah lambung punya ketebalan 16 mm. Dengan plat baja yang disiapkan, ranpur ini tak akan mengalami masalah saat dihujani proyektil 7,62 mm.
Secara keseluruhan, HMV-150 punya bobot 16 ton, panjang 6,5 meter dan lebar 2,5 meter. Dapur pacu HMV-150 dipasrahkan pada mesin Cummins ISL 8.9 yang menghasilkan tenaga 350 HP. Transmisinya menggunakan Allison 4500 dengan enam percepatan. Kompartemen mesin berada di bagian belakang lambung sisi kiri. HMV-150 dapat digeber sampai kecepatan 110 km per jam.
Kedepan, masih ada 24 unit V-150 lawas yang akan disulap menjadi HMV-150. Tawaran biaya yang murah, ketimbang membeli ranpur baru, plus biaya operasinal yang rendah menjadi keunggulan lain dari HMV-150. (Bayu Pamungkas)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak