Story : Perjuangan Merebut Irian Barat, Bertempur dan menyerang dari Dalam

Tupolev Tu-16 Bagder
Tupolev Tu-16 Bagder 

Operasi Pembebasan Irian Barat, dikenal dengan sebutan Operasi Trikora (1962), tidak bisa dilepaskan dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda pada 1949.
Perundingan yang mengukuhkan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan RI itu ternyata masih menyisakan wilayah West New Guinea atau Irian Barat, dan harus selesai dalam satu tahun.
Rupanya persoalan berlarut-larut. Malah sejak 1954 Belanda menutup rapat-rapat wilayah itu dari perundingan. Tak ada cara lain, harus ada operasi militer untuk mengembalikan wilayah itu ke pangkuan RI.
Agustus 1960, Jakarta resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Bersamaan dengan itu Indonesia mulai menerima kiriman senjata dalam jumlah besar dari Uni Soviet.
Antara lain kapal penjelajah (cruiser) RI (KRI) Irian, kapal selam Whiskey Class, tank amfibi PT-76 dan BTR-50, helikopter Mi Series, pesawat transpor Antonov dan C-130B Hercules, pesawat tempur MiG-15, MiG-17,MiG -19, dan MiG-21, pengebom Ilyushin Il-28, dan Tupolev Tu-16 Bagder.
Seketika Indonesia menjadi negara dengan kekuatan militer yang disegani.
Pakta pertahanan Asia Tenggara (SEATO) berafiliasi ke Barat alias ke Amerika Serikat yang masih menghendaki Belanda di Irian Barat. Tapi melihat semangat rakyat Indonesia yang amat tinggi untuk mengembalikan wilayah itu ke pangkuan RI, pandangan mereka mendua.
Apalagi di dalam negeri, Partai Komunis menunggangi sentimen anti-Barat untuk melakukan konsolidasi kekuatan.
Presiden Kennedy sebetulnya lebih setuju pada pengembalian Irian Barat ke Indonesia, namun di sisi lain dia juga ingin menjaga agar Belanda tidak kehilangan muka.
Maka, kendati pada 19 Desember 1961 Presiden Sukarno mencanangkan “Tri Komando Rakyat” disusul Komando Mandala, AS masih mendesakkan perundingan.
Perundingan awal secara rahasia di Middleburg, Virginia, AS, 20-22 Maret 1962, melibatkan negosiator Dubes Belanda Herman van Roijen dan Dubes RI di Moskwa, Adam Malik.
Tapi perundingan gagal ka­rena kedua delegasi memiliki dasar pijak yang berbeda. Presiden Ken­nedy menelepon Presiden Sukarno agar memulai perundingan lagi.
Kennedy menghendaki, kedaulatan West Papua harus diserahkan dulu ke Pemerintah Indonesia sebelum rakyatnya menentukan nasib sendiri.
Sementara itu di lapangan, aksi pembebasan sudah mulai. Kontak senjata terjadi. Tanggal 17 Mei Belanda mengklaim menembak jatuh pesawat Indonesia, dan esok harinya Dubes RI di PBB Sukardjo Wirjopranoto menegaskan pener­junan pasukan payung Indonesia menandai dimulainya “aksi pem­bebasan” Irian Barat.
Maka tanggal 13 Juli perundingan Middleburg dimulai lagi. Delegasi Indonesia hampir walk out karena menolak syarat penyerahan kepada PBB dalam masa transisi selama 1 tahun sementara RI menghendaki agar Belanda menyerahkan Irian Barat sebelum 31 De­sember 1962.
Perundingan dipindahkan ke Washington pada 25 Juli. Tapi ini pun sama alotnya, mengharuskan AS melakukan intervensi.
Presiden Kennedy berkata kepada Menlu Subandrio, “Memulai perang ada­lah mudah, akan tetapi sulit sekali untuk mengendalikan arahnya, membatasi lingkupnya, atau pun menghentikannya.”
Tak kalah berupaya, Sekjen PBB U Thant pada 27 Juli menegaskan kepada Subandrio, apabila perundingan gagal dan perang sampai pecah, maka opini dunia akan menyalahkan Indonesia.
Tuntutan pengalihan kekuasaan sebelum akhir 1962 tidak masuk akal. Pengalihan baru bisa dilakukan paling cepat 1 Mei 1963.
Kesepakatan akhirnya terjadi. Persetujuan yang ditandatangani 15 Agustus di Markas Besar PBB di New York itu mengatur transisi peralihan kekuasaan.
Pada 1 Ok­tober bendera Belanda diturunkan dan diganti bendera PBB, esok harinya bendera Belanda dinaikkan lagi sebagai simbol kerja sama.
Sampai tanggal 31 Desember bendera Belanda diturunkan dan diganti bendera Indonesia.
Akhirnya, pada 1 Mei 1963 bendera PBB diturunkan, dan tinggallah Sang Merah Putih berkibar sendirian di segenap penjuru Irian Barat.
Provinsi Irian Barat Bentuk Baru
Di balik jalan berliku di kancah diplomasi, militer dilanda kegusaran. Ketidaksabaran menanti hasil diplomasi, yang barangkali hasilnya pun belum tentu memuaskan, diwujudkan dengan mobilisasi kekuatan militer.
Sesungguhnya pemerintah telah mengakhiri politik damai pada tahun 1957 dan meng gantinya dengan politik konfrontasi.
Presiden, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, menganggap alotnya perundingan karena Belanda masih ingin melanjutkan kolonialisme di Irian Barat.
Maka Bung Karno memerintahkan Angkatan Perang RI untuk melaksanakan Tri Komando Rakyat:
  1. Gagalkan pembentukan Negara Boneka Papua buatan Belanda Kolonial.
  2. Kibarkanlah Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
  3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa.

Sebagai tindak lanjut, pada 1 Januari 1962, melalui Penetapan Presiden RI Nomor 1 tahun 1962, presiden membentuk Provinsi Irian Barat Bentuk Baru.
Presiden menunjuk E.J. Bonay sebagai gubernur dan Kolonel Laut R. Pamoedji sebagai wakil gubernur.
Ini kemudian diikuti Keputusan Presiden /Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI/Panglima Besar Komando Tertinggi (KOTI) Pembebasan Irian Barat no. 01/Kpts/1962 tanggal 2 Januari 1962, yang membentuk Komando Mandala.
Pada 11 Januari 1962 Brigjen Soeharto, Panglima Cadangan Umum Angkatan Darat (Caduad), diangkat menjadi Panglima Komando Mandala dan dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal.
Untuk merealisasikan Kampanye Trikora, Komando Mandala Pembebasan Irian Barat menyusun tiga pekerjaan. Tahap infiltrasi, Tahap Penghancuran (Ekspolitasi), dan Tahap Konsolidasi.
Rincian penahapan itu dibuat dan ditandatangani oleh Panglima Komando Mandala Mayjen TNI Soeharto pada 16 Februari 1962.
Perebutan Jayawijaya dan Jayapura
Infiltrasi dalam skala terbatas sebenarnya pernah dilakukan di tahun 1950-an dan awal 1960-an. Misalnya ke Pulau Gag pada 1952 yang dipimpin oleh Ali Kahar.
Setahun kemudian, infiltrasi ke Fak-fak dipimpin Sersan Kalalo M.L. dengan wakil Kopral B.P.X. Sauth. Infiltrasi ke Teluk Etna (Kaimana) pada 1954 dipimpin oleh J.A. Dimara.
Ketika itu tim kecil ini mengedarkan uang kertas Republik Indonesia di Irian Barat. Sayang, tim 42 orang itu belakangan tertangkap.
Lantas ada Operasi Sandi A dan B yang dilaksanakan pada 9 November 1960. Pada tanggal itu, dari Pulau Buru diberangkatkan kelompok infiltran pertama menuju Teluk Etna.
Dipimpin oleh Lettu Inf. Antaribawa, kelompok ini bertugas menyusup dan mempengaruhi penduduk setempat agar mau melawan Belanda. Sedangkan Operasi Sandi C bertugas berdiplomasi di luar negeri untuk memperlemah kedudukan Belanda di Irian Barat.
Lalu pada 14 November dikirim kelompok 33 orang di bawah pimpinan Letnan Inf. Djamaluddin Nasution untuk melakukan pendaratan di Teluk Cenderawasih di Kep. Raja Ampat.
Sementara itu Presiden Sukarno mendesak Kepala Staf KOTI Mayjen TNI Ahmad Yani supaya Operasi Infiltrasi segera dilaksanakan guna mendukung diplomasi.
Operasi Jayawijaya dimulai pada 12 Agustus 1962, melibatkan para perwira penyusun strategi penyerangan laut antara lain Komodor (P) Soedomo, Kolonel Udara Sri Mulyono Herlambang, dan Mayor Udara Pribadi.
Sementara Komo­dor Udara Leo Wattimena dibantu Kolonel Inf. Achmad Wiranataku­sumah, dan Mayor Udara Muham­mad Loed ditugaskan merancang operasi lintas udara. Kolonel (P) Mulyono S, Letkol (P) Haryono Nimpuno, Letkol KKO Soewadji, dan Mayor KKO Bob Adman me­nyusun rencana operasi amfibi.
Yang menjadi masalah, wilayah Irian Barat yang akan direbut terpisah oleh perairan dari wilayah Indonesia lainnya. Jarak terdekat adalah 60 mil, perairannya sangat dipengaruhi oleh angin barat dan timur.
Sementara sebagian besar daratan ditutupi oleh hutan belu­kar dengan kerapatan pohon sangat tinggi dan diameternya besar, jalan raya terbatas, curah hujan tinggi, dan banyak rawa-rawa. Se­mentara data intelijen tentang mu­suh sangatlah minim.
Risiko lain, Belanda juga sudah tahu perihal rencana operasi militer Indonesia. Jadi mereka juga waspada.
Untuk mendukung Operasi Jayawijaya, Angkatan Udara meyiapkan sebuah operasi yang diberi sandi Operasi Siaga. Semua pesawat terbang dari ber­bagai jenis disiagakan, dibentuk pula enam kesatuan tempur dan dua batalion PGT (Pasukan Gerak Tjepat).
Operasi penerjunan melibat­kan tim gabungan dari PGT dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Koman­do Pasukan Khusus TNI AD). Dibagi menjadi sejumlah ope­rasi kecil menurut tahapannya.
Operasi Banteng Ketaton pada 26 April, dibagi menjadi Banteng Putih untuk menerjunkan satu tim gabungan PGT dan 42 orang dari RPKAD dengan tiga pesawat Da­kota dengan sasaran Fak-fak, dan Banteng Merah untuk menerjun­kan anggota PGT dan 33 anggota RPKAD di Kaimana.
Operasi Garuda 15-25 Mei, dipecah menjadi Garuda Merah I yang menerjunkan 38 prajurit dari Yon-454 Brawijaya dengan meng­gunakan tiga Dakota di Fak-fak, dan Garuda Putih I yang mener­junkan 27 anggota PGT dan 27 personel dari Yon-454 di Kaimana.
Juga Garuda Merah II menerjunkan 79 pasukan gabungan Yon-454 dan satu peleton PGT ditambah 30 koli barang di Fak-fak, serta Garuda Putih II menerjunkan 80 personel PGT di Sansopor-Sorong.
Operasi Serigala 17 dan 19 Mei dengan dropping zone di Klamono (27 prajurit PGT) dan Teminabuan (81 prajurit PGT), menggunakan pesawat Dakota dan Hercules.
Operasi Kancil pada 17 Mei dilak­sanakan simultan melalui Kancil I dengan penerjunan di Fak-fak, Kancil II di Kaimana, dan Kancil III di Sorong. Di setiap lokasi diterjunkan satu kompi pasukan dengan pesawat Dakota.
Operasi Naga dilaksanakan pada 23 Juni dengan sasaran Merauke. Menerjunkan 55 anggota RPKAD dan 160 orang dari Yon-530 meng­gunakan pesawar Hercules.
Lantas disusul Operasi Lumbung pada 30 Juni, berupa penerjunan logistik di Merauke menggunakan pesawat Hercules untuk keperluan pasukan Operasi Naga. Operasi Rajawali pada 26 Juli menerjunkan 71 ang­gota Yon-328 di Kaimana dengan Hercules.
Akhirnya dilaksanakanlah operasi pamungkas yaitu Operasi Jatayu. Dilaksanakan tiga kali di bawah sandi Elang dengan daerah sasaran Klamono-Sorong mener­junkan 132 prajurit PGT, Gagak menerjunkan 141 orang dari Yon-454 di Kaimana, dan Alap-alap diterbangkan langsung dari Bandung untuk menerjunkan 132 anggota PGT di Merauke.
Sebelum semua itu dimulai, KOLA mendatangkan artis-artis penyanyi Ibukota ke Laha, Ambon, untuk menghibur. Suara merdu dan goyangan Rita Zahara, Fetty Fatimah, dan Usman Gumanti mengendorkan saraf ketegangan prajurit sebelum menjalani misi merebut wilayah jajahan asing.
Hampir semua penerjunan di­lakukan pada dini hari menjelang pagi. Itu ciri PGT. Maka sebagai simbol, dipilihlah warna baret jingga untuk pasukan itu. Sebelumnya, PGT hanya mengenakan topi atau jungle hat, tidak beda dengan pasukan lain. (K. Tatik Wardayati)
(Dikutip dari buku 52 Tahun Infiltrasi di Irian Barat Terbitan Majalah Angkasa, oleh Mayong S. Laksono, dan pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Juli 2014)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak