Korea Selatan akan Kembangkan Rudal Jelajah untuk Pesawat Tempur KF-X

Taurus
Taurus  

Badan pengembangan senjata Korea Selatan berencana untuk mengembangkan rudal jelajah luncur udara jarak jauh buatan dalam negeri untuk mempersenjatai pesawat tempur KF-X yang sedang dikembangkan, kata para pejabat pertahanan Korea Selatan.
Badan Pengembangan Pertahanan, atau ADD (Agency for Defense Development), badan di bawah sayap Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan, dijadwalkan untuk memilih perusahaan mitra lokal selambat-lambatnya pada bulan September untuk melakukan exploratory development rudal jelajah tersebut, yang akan berdasarkan pada rudal jelajah Taurus KEPD 350 yang diproduksi oleh Perusahaan Jerman-Swedia Taurus Systems.
"Sebagai bagian dari kesepakatan offset untuk pembelian rudal Taurus selama beberapa tahun terakhir, Korea Selatan menerima beberapa bagian dari teknologi Taurus KEPD 350," kata seorang pejabat ADD, yang tidak bersedia diungkap identitasnya karena sensitivitas program rudal tersebut.
"Berdasarkan teknologi Taurus yang ditransfer itu, kami akan mengembangkan rudal jarak jauh udara-ke-darat kami sendiri untuk diintegrasikan ke dalam jet tempur KF-X, yang diperkirakan akan beroperasi pada 2026."
120 jet KF-X akan diproduksi setelah tahun 2026 untuk menggantikan armada F-4 dan F-5 AU Korea Selatan yang telah menua. Setidaknya 50 unit akan diproduksi di Indonesia, yang merupakan satu-satunya mitra KF-X yang menanggung 20 persen dari biaya pengembangan untuk jet tempur generasi 4,5 KF-X.
Sementara itu, Hanwha Corporation dan LIG Nex1 tengah bersaing untuk proyek rudal udara-ke-udara senilai sekitar $ 730 juta. Kedua perusahaan juga telah meluncurkan desain konsep dari rudal kelas Taurus seberat 3.000 pon dengan jangkauan 400 kilometer.
"Kami memiliki rekam jejak yang panjang dan sukses mengembangkan rudal jelajah dalam negeri dengan sistem pemandu, termasuk rudal jelajah seri Haeseong yang diluncurkan kapal," kata seorang pejabat LIG Nex1. “Kami telah mengumpulkan cukup pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan rudal jelajah yang diluncurkan dari udara.”
Hanwha, yang telah menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan sehingga menjadi produsen pertahanan terbesar Korea Selatan, menunjukkan rasa percaya diri tentang kompetisi pengembangan rudal tersebut.
"Memang benar kami berada diposisi kedua di bidang peluru kendali, tetapi kami telah membuat kemajuan besar dalam mengembangkan rudal serang presisi dengan mengkonsentrasikan anggaran dan sumber daya manusia," kata seorang pejabat urusan publik Hanwha.
Ahn Seung-beom, analis militer dan penerbit The Defence Times di Korea Selatan, mengatakan proyek rudal luncur udara tersebut menandai upaya pertama Korea Selatan untuk jenisnya.
"Ini adalah langkah pertama yang bermakna untuk mengembangkan rudal luncur udara Korea Selatan sendiri, yang sebagian besar diimpor dari AS dan negara-negara Eropa," kata Ahn. "Memulai program pengembangan rudal udara-ke-darat ini, akan lebih banyak proyek misil luncur udara akan dimulai."
Ia merujuk pada upaya untuk memodifikasi rudal jarak-pendek Shingung, rudal permukaan-ke-udara menjadi rudal udara-ke-udara yang dimodelkan seperti Raytheon AIM-9X, dan berencana mengembangkan rudal kapal-ke-udara Haegung menjadi rudal udara-ke-permukaan jarak jauh sebagai proyek potensial yang akan terwujud. Kedua rudal Shingung dan Haegung dikembangkan bersama oleh ADD dan LIG Nex1.
Pada 29 Juni, Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan telah meluncurkan preliminary design KF-X. Desain dengan kode C-109, menunjukkan KF-X akan dipersenjatai dengan sistem rudal udara-ke-udara buatan Eropa.
Dalam foto-foto yang diungkapkan dari desain KF-X, empat rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor yang dikembangkan oleh MBDA diperlihatkan berada di bawah pesawat, sementara dua rudal udara-ke-udara jarak pendek IRIS-T masing-masing dipasang pada peluncur rudal wingtip.
Badan pengadaan senjata Korea Selatan awalnya lebih memilih memasang pesawat KF-X dengan sistem persenjataan AS, seperti rudal AIM-120 dan AIM-9 Sidewinder buatan Raytheon, tetapi pemerintah AS masih belum menyetujui lisensi rudal tersebut. (Angga Saja - TSM)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak