SS-2 V4 Pindad, Senapan Serbu Sang Juara Andalan TNI AD

SS-2 V4 Pindad
SS-2 V4 Pindad 

Team tembak TNI memang jago karena selalu menjadi juara umum dalam penyelenggaraan lomba tembak angkatan darat antarnegara. Sebut saja dalam ajang lomba tembak regional antarnegara yang tergabung dalam ASEAN atau Asean Armies Rifle Meet (AARM).
Dalam lomba tahunan yang diselenggarakan secara bergilir ini, team tembak TNI selalu menjadi juara umum sejak tahun 2008 hingga penyelenggaraan AARM ke-27 di Vietnam pada November 2017 lalu. AARM semula diikuti oleh 10 negara yaitu Indonesia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Singapura, Myanmar, Malaysia, Kamboja, Laos. Belakangan Timor Leste juga ikut dalam kejuaraan ini.
Adapun kategori yang dilombakan terdiri dari enam cabang pertandingkan, yaitu pistol putra & putri, senapan serbu laras panjang, senapan karabin, senapan mesin ringan, dan novelty shoot yang khusus dilombakan antarpimpinan angkatan darat negara-negara ASEAN.
Lomba tembak tingkat internasional lainnya adalah Brunei International Skill Arms Meet (BISAM) yang diselenggarakan oleh Angkatan Bersenjata Diraja Brunei. Materi lomba meliputi lomba tembak senapan serbu, pistol, dan senapan mesin GPMG baik secara perorangan maupun beregu.
Tim TNI memperoleh gelar juara umum pertama sejak penyelenggaraan BISAM ke-8 tahun 2005, lalu tahun 2008, 2012, dan terakhir tahun 2015. Penyelenggaraan BISAM ke-11 tahun 2015 diikuti oleh 18 kontingen terdiri dari 478 penembak dari 16 negara. Penyelenggaraan ini merupakan yang terbanyak dan terbesar dari sisi peserta dalam sejarah gelaran BISAM sejak pertama kali digelar tahun 1985.
Selain tim Indonesia ada juga tiga tim lain yang cukup disorot, yaitu tim dari AS, China, serta tim tembak Gurkha dari Tentara Kerajaan Inggris yang baru pertama kali diikutsertakan. Namun lagi-lagi, Tim Indonesia mampu mempertahankan juara umum dalam kejuaraan tersebut.
Selanjutnya, kompetisi internasional lainnya adalah Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM). Sejak pertama kali mengikutinya pada 2008, Indonesia langsung menyabet gelar juara umum. Dahsyatnya, gelar juara umum lomba tembak tahunan ini berhasil dipertahankan secara berturut-turut (11 kali juara) hingga AASAM paling anyar dihelat pada 23 April – 10 Mei 2018 lalu di Puckapunyal Victoria, Australia.
Lomba tembak persahabatan antarnegara Asia Pasifik serta Negara Persemakmuran (Commonwealth) ini memperebutkan empat kategori lomba, yaitu Open Sniper Competition, The Champion Shot of the Army, Individual and Team Events, dan The International Competition. Tim tembak TNI lagi-lagi mampu melindas tim dari 18 negara yang menjadi kompetitor termasuk tim unggulan tuan rumah Australia, Inggris, dan AS.
Dalam lomba tembak AARM, BISAM, maupun AASAM, tak dipungkiri tim tembak TNI sangat disegani. Kekaguman lawan tidak hanya pada ketangguhan dan keahlian yang dimiliki para penembak saja, mereka juga sangat terkesan dengan senjata yang digunakan sang juara. Terkhusus adalah senapan serbu SS-2 V2 dan SS-2 V4 HB (Heavy Barrel) buatan PT Pindad (Persero) itu. Senapan tersebut mampu mengalahkan senapan serbu kelas dunia seperti SA80, Styer AUG, SAR-21, HK G36, dan HK416.
Namun demikian, bukan hanya kekaguman yang muncul terhadap tim Indonesia, kecurigaan pun sempat mencuat di benak para peserta maupun panitia. Hal ini seperti yang terjadi pada perlombaan AASAM 2015 di mana panitia bahkan sampai ingin membongkar senjata buatan Kiara Condong, Bandung tersebut meskipun mereka harus gigit jari karena ditolak mentah-mentah oleh tim TNI.
Salah satu senjata penyumbang peraihan medali emas TNI dalam ajang lomba tembak internasional adalah keluarga senapan serbu SS-2 yang kisah hidupnya dimulai 15 tahun silam. Bertepatan dengan HUT TNI 5 Oktober 2003 pabrik senjata PT Pindad (Persero) mulai mempertunjukkan untuk kali pertama SS-2 pada masyarakat umum di Kota Surabaya.
Kehadiran SS-2 sebagai penerus Pindad SS-1 (FNC lisensi dari Belgia) ini digagas oleh Panglima TNI saat itu Jenderal TNI Endriartono Soetarto pada 11 April 2011 saat berkunjung ke Pindad. Gagasan itu pun langsung ia sampaikan kepada Dirut Pindad saat itu Budi Santoso.
Pindad menindaklanjuti permintaan Panglima TNI. Pada Februari 2004 senapan yang masih ‘kinyis-kinyis’ itu pun mulai diproduksi terbatas sebanyak 50 pucuk, 10 di antaranya dilibatkan dalam lomba tembak regional Asean Armies Rifle Meet atau AARM ke-14 di Cilodong, Bogor.
Pertama turun dalam ajang lomba tembak hasilnya memang belum maksimal sehingga harus masuk dapur R&D Pindad untuk disempurnakan lagi.
Selain versi laras standar, Pindad selanjutnya mengembangkan versi laras berjenis Heavy Barrel (HB). Yang membedakan SS-2 HB dengan varian standar adalah berat dan ketebalan laras serta corak desain hand guard-nya. Selebihnya memiliki tampilan dan komponen yang serupa.
Tiga varian HB dibuat, yaitu senapan serbu SS-2 V1 HB dengan panjang laras 46 cm, SS-2 V2 HB karabin berlaras 40 cm, dan SS-2 V4 HB dengan laras terpanjang 50 cm dan memiliki enam alur laras dengan putaran 178 mm/twist.
Prestasi pertama SS-2 V2 HB diperoleh saat mengikuti kejuaraan AARM ke-15 di Brunei Darussalam. Meski tim Indonesia belum menjadi juara umum, yang menakjubkan adalah satu-satunya penembak yang menggunakan SS-2 V2 HB yakni Sertu Habdi mendapatkan medali emas sebagai penembak terbaik.
Masih di tahun yang sama, kali ini untuk mengikuti lomba tembak BISAM 2005 Pindad mulai mengembangkan varian SS-2 V4 HB yang dilengkapi teleskop. Karena ketentuan lomba tembak BISAM bahwa senapan serbu harus dilengkapi optik, maka Pindad melengkapinya dengan alat bidik Close Quarter/Tactical (QC/T) buatan Leopard, Amerika Serikat dengan pembesaran 1-3 x 14 mm.
Kejuaraan BISAM pada 21-29 September 2005 itu diikuti oleh delapan negara, yakni Brunei, Filipina, Malaysia, Kamboja, Singapura, Laos, Indonesia, dan Inggris. Tim Indonesia menyabet gelar juara umum.
Masing-masing negara menurunkan satu tim, kecuali tuan rumah dengan tiga tim. Saat itu enam negara menggunakan senapan M16-A2 buatan AS dan Inggris memakai SA80 A2. Semuanya bisa dipecundangi dan sejak saat itu senapan SS-2 V4 HB selalu menjadi jawaranya.
Di ajang kejuaraan tembak yang lainnya, masih menggunakan SS-2 V4, prajurit TNI kembali menorehkan prestasi dengan menyabet gelar juara satu dalam Intercontingen Shooting Championship yang diselenggarakan oleh Sektor Timur UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) bertempat di lapangan tembak Sektor Ebel El Saqi, Lebanon Selatan pada 26 April 2015.
Lomba ini diikuti oleh seluruh kontingen UNIFIL, antara lain dari Spain Batt (Spanyol), Indobatt dan Indo FPC (Indonesia), Indbatt (India), Nepalbatt (Nepal), serta Brigade-8 LAF (Lebanon). Lomba mempertandingkan dua kelas yaitu menembak Pistol Beregu dan Senapan Beregu.
Di kategori kelas senapan, gelar juara pertama mulai disikat tim Konga (Kontingen Garuda) pada tahun 2011-2015 kecuali UNIFIL 2012, 2016 dan 2017 di mana India menjadi juara satu dan Indonesia di posisi kedua.
Seperti sebuah istilah yang berbunyi “the man behind the gun” memang benar adanya, sehebat apapun senjata jika di tangan pengguna yang tak cakap tentu apalah artinya. Namun, bukan berarti senjata yang kurang bagus bisa hebat juga di tangan penembak yang ulung.
Yang pasti tim tembak TNI terdiri dari prajurit dengan talenta yang sangat mumpuni berkat hasil penggemblengan yang ketat dan berat dalam latihan dan ditunjang senjata yang akurat pula. Hal ini terbukti dengan selalu menyabet gelar juara lomba tembak seperti yang disebut di atas.
Kemenangan ini tidak hanya mengharumkan nama TNI saja, melainkan juga mengangkat nama produk buatan Pindad menjadi senjata yang diperhitungkan dunia. Hal pasti, keduanya baik tim TNI dan senjata buatan Pindad menjadi kebanggaan masyarakat dan turut mengibarkan nama bangsa di kancah internasional tentunya. (Rangga Baswara)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak