Radar Militer: LAPAN
Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan

12 Maret 2021

Mengenal Calon Bandar Antariksa Pulau Biak Provinsi Papua yang Picu Polemik

radarmiliter.com - Sejumlah warga dilaporkan menolak pembangunan lokasi peluncuran roket hasil kerja sama dengan SpaceX di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Mereka khawatir fasilitas itu akan merusak lingkungan dan membuat penduduk lokal kehilangan tempat tinggal.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional membantah bahwa SpaceX akan membangun landasan peluncuran roket di Biak Numfor. LAPAN menyebut SpaceX berniat untuk membangun bandar antariksa untuk lepas landas dan mendaratkan pesawat luar angkasa.
LAPAN pun menyampaikan pembangunan bandar antariksa SpaceX masih sebatas pembahasan tahap awal. Hingga saat ini, proposal soal lokasi proyek SpaceX juga masih dipelajari oleh pemerintah Indonesia.
Ilustrasi
Ilustrasi
Menyelisik riwayatnya, bandar antariksa di Biak Numfor sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah Indonesia diketahui telah menggagas pembangunan fasilitas itu sejak beberapa tahun lalu jauh sebelum adanya rencana kerja sama dengan SpaceX.
Berdasarkan kajian pembangunan bandar antariksa oleh Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN, pembangunan bandar antariksa merupakan salah satu amanat yang tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.
Kemudian, bandar antariksa juga telah masuk dalam Draft Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040.
Dalam peta Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040, dijelaskan bahwa pada periode tahun 2036-2040 teknologi peroketan Indonesia diharapkan sudah memiliki program peluncuran roket pengorbit satelit ke orbit rendah/ low earth orbit (LEO).
Dalam teknologi satelit, Indonesia direncanakan mampu meluncurkan dan mengoperasikan satelit observasi bumi, telekomunikasi, dan navigasi.
"Pada saat itulah Indonesia harus sudah memiliki bandar antariksa, tidak lagi bergantung kepada negara lain," kutip kajian tersebut.
Dalam kajian itu disebutkan bahwa bandar antariksa dibangun di Biak karena LAPAN memiliki aset lahan di Kabupaten Biak Numfor yang berada di desa Saukobye, Biak Utara, sekitar 40 km dari Kota Biak. LAPAN disebut memiliki lahan seluas 1 juta meter persegi atau 100 hektar di desa Saukobye.
Dipilihnya Biak Numfor sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa bukan tanpa sebab. LAPAN selaku koordinator pembangunan bandar antariksa menilai Biak Numfor dekat dengan ekuator dan langsung menghadap ke samudera pasifik.
Menristek dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro menjelaskan Indonesia merupakan negara yang paling strategis untuk meluncurkan roket termasuk membawa satelit ke luar angkasa karena berada di garis khatulistiwa. Sebab, dia berkata roket lebih mudah mencapai ke orbit jika diluncurkan dari garis khatulistiwa.
Bambang menyebut Biak adalah salah satu wilayah yang paling potensial untuk dijadikan bandara antariksa. Sebab, kawasan itu sangat dekat dengan garis khatulistiwa, yakni -1 dari ekuator.
Bambang menyebut membangun bandar antariksa lebih menguntungkan daripada hanya menciptakan roket. Bambang menyampaikan nilai ekonomi antariksa global diproyeksikan akan meningkat menjadi lebih dari US$1 triliun per tahun pada 2040.
Sehingga, dia menilai hal itu sangat menguntungkan jika Indonesia bisa berpartisipasi dalam sektor tersebut.
Bambang menambahkan bandar antariksa saat ini hanya dimiliki oleh negara maju, seperti Amerika Serikat, Rusia, Perancis, China, dan India. Namun, dia mengatakan stasiun peluncuran antariksa di negara tersebut jauh dari garis khatulistiwa.
Dalam jurnal 'Pemetaan Elit Politik Lokal Di Pulau Biak Dan Pengaruhnya Terhadap Rencana Pembangunan Bandara Antariksa', peneliti Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN, Astri Rafikasari mengatakan suatu bandar antariksa yang berada di khatulistiwa memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang berada di wilayah lain jika akan meluncurkan suatu wahana antariksa ke orbit geostationary (GEO).
"Kelebihan dari peluncuran wahana antariksa dari wilayah equator adalah dapat mempercepat laju wahana antariksa yang diluncurkan, namun tetap hemat bahan bakar," kata Astri dalam jurnal tersebut.

11 Maret 2021

Dilengkapi Senjata, Drone Elang Hitam Ditargetkan Produksi Massal Tahun Depan

radarmiliter.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan produksi massal drone Elang Hitam tahun depan. Pesawat nirawak itu bakal dipersenjatai untuk mengamankan kedaulatan Indonesia.
’’Secara khusus tahun ini kita dapat amanah menerbangkan drone Elang Hitam,’’ kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam rangkaian rapat kerja nasional (rakernas) BPPT di Jakarta kemarin (8/3).
Elang Hitam dirancang untuk keperluan militer. Setelah dipersenjatai, pada tahapan selanjutnya akan diurus sertifikat tipe supaya bisa masuk ke tahapan produksi massal. Hammam mengatakan, jika semua lancar, drone Elang Hitam bisa diproduksi massal tahun depan.
Mockup Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam digarap keroyokan. Selain BPPT, ada keterlibatan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Selain itu, ada keterlibatan TNI-AU, ITB, PT Len Industri, dan lainnya.
Hammam berharap uji terbang drone Elang Hitam dapat berjalan lancar. “Insya Allah terbang perdana dahulu di Oktober (tahun ini) atau lebih cepat,” jelasnya.
Setelah itu, tim akan mulai menjalani rangkaian uji terbang serta type certificate oleh Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Kabar soal drone Elang Hitam sempat mencuat Desember 2019 lalu.
Melalui kegiatan roll-out di hanggar PT DI, untuk kali pertama drone Elang Hitam diperkenalkan ke masyarakat. Penampakannya terlihat bongsor. Sebab, panjangnya mencapai 8,3 meter dengan bentang sayap 16 meteran.
Saat itu Hammam menuturkan bahwa drone tersebut merupakan salah satu inovasi dalam negeri di bidang pertahanan. Drone itu diyakini mampu terbang tanpa henti atau nonstop selama 24 jam. Kemudian juga dilengkapi dengan pengendalian multiple unmanned aerial vehicle secara bersamaan.
Sementara itu, rakernas BPPT dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, tanpa penguasaan dan pemanfaatan teknologi secara bijak, kekayaan tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi rakyat di masa revolusi industri keempat saat ini.

03 Maret 2021

Lapan : Pesawat N219 Diproduksi Mulai Tahun Ini

radarmiliter.com - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan PT Dirgantara Indonesia (DI) siap memproduksi pesawat N219 Nurtanio mulai 2021.
"Pesawat N219 yang sudah mendapat Type Certificate siap diproduksi oleh PT DI. Tahun ini mulai memenuhi pesanan Pemerintah Provinsi Aceh," kata Thomas pada Sabtu 20 Februari 2021. Pemerintah Aceh memesan lima pesawat N219.
Pesawat N219 Nurtanio
Pesawat N219 Nurtanio
Pesawat yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden RI Joko Widodo pada 10 November 2017 itu merupakan pesawat karya anak bangsa hasil kerja sama antara Lapan dan PT DI.
Pesawat N219 dapat difungsikan untuk mengangkut penumpang sipil, angkutan militer, angkutan barang atau kargo, evakuasi medis, hingga bantuan saat bencana alam. Pesawat N219 mendapatkan Type Certificate untuk kelaikan udara setelah melakukan penerbangan selama 340 jam.
Pesawat N219 bisa terbang dengan kecepatan maksimum 210 knot, dan kecepatan terendah hingga 59 knot. Dengan kemampuan itu, Pesawat N219 dapat bergerak dengan fleksibel saat melalui wilayah tebing dan pegunungan karena dapat terbang dengan kecepatan cukup rendah tapi terkendali.
Pesawat N219 didesain sesuai kebutuhan masyarakat terutama di wilayah perintis sehingga memiliki kemampuan short take of landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground.
Pesawat N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear atau tidak dapat dimasukkan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan bebatuan.

11 Agustus 2020

Menristek: Drone Tempur Elang Hitam Mulai Terbang Januari 2021

radarmiliter.com - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) Elang Hitam untuk kombatan akan mulai terbang pada Januari 2021.
Dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, Menristek mengatakan pesawat itu telah mendapatkan Sertifikat Tipe dari Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA).
 Drone Tempur Elang Hitam
 Drone Tempur Elang Hitam  
"Hasil pengembangan akan diproduksi oleh PT DI (Dirgantara Indonesia) dengan target penerbangan atau first flight bulan Januari 2021," ujarnya dalam acara Peringatan Hakteknas ke-25 yang ditayangkan dalam jaringan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2020.
Sebagai upaya kemandirian teknologi pertahanan nasional, drone tempur Elang Hitam yang berkemampuan terbang selama 24 jam akan dilengkapi dengan senjata hasil produksi PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat itu merupakan hasil konsorsium Kemristek/BRIN dan Kemhan (Kementerian Pertahanan) yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
PUNA MALE Kombatan memiliki kemampuan terbang selama 24 jam dan berfungsi dalam sistem pertahanan maritim sebagai penginderaan, pemantauan, pengawasan, pengintaian dan intelijen (P4I), serta penindakan terhadap ancaman maritim.
Empat dari 49 Prioritas Riset Nasional yang telah dikembangkan oleh Kemristek/BRIN dan dalam proses masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional, yaitu Katalis Merah Putih, Garam Industri Terintegrasi, PUNA MALE Kombatan, dan Pesawat N219A. (Antara)(Sustiana Herru-TSM)

04 Juni 2020

Drone Tempur Elang Hitam Buatan Indonesia Bakal Jadi 'CCTV' Terbang

radarmiliter.com - Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau drone tempur jadi pilihan Presiden Jokowi. Program drone akhirnya menggantikan dukungan pemerintah dalam pengembangan pesawat baling-baling R80 yang digagas BJ Habibie dalam program strategis 2020-2024.
Pengembangan PUNA atau drone Elang Hitam Kombatan, Elang Hitam (EH-4) dan EH-5. Spesifikasi tersebut akan menyamai Drone CH-4 Rainbow buatan China.
Drone Tempur Elang Hitam
Drone Tempur Elang Hitam 
PUNA dibangun oleh konsorsium PUNA MALE Kombatan yang terbentuk pada tahun 2017 lalu, antara lain Kementerian Pertahanan yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, BPPT, TNI-AU (Dislitbangau), ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri. Pada tahun 2019, LAPAN baru masuk sebagai anggota konsorsium, dan bersama sama ambil bagian dalam pengembangan PUNA MALE Kombatan
Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan langkah percepatan pengembangan Drone buatan lokal untuk mendapatkan PUNA MALE dengan spek Kombatan atau Unmaned Combat Aerial Vehicle (UCAV), dalam jangka waktu yang dipercepat dari tahun 2024 menjadi 2022.
"Diperlukan percepatan agar PUNA MALE Kombatan tersertifikasi, dapat digeber untuk siap terbang pada Tahun 2022. Dengan adanya isu seperti kedaulatan di Natuna, maka kesiapan misi pesawat PUNA MALE Kombatan ini sangat diperlukan. Sehingga PUNA MALE Kombatan diperlukan sesegera mungkin," kata Kepala BPPT Hammam Riza dikutip dari laman resmi BPPT, Selasa (2/6).
Ancaman militer maupun non militer berupa pelanggaran batas wilayah perbatasan, terorisme, dan separatisme, kerap terjadi karena kurangnya antisipasi. Oleh karena itu, kebutuhan akan PUNA MALE Kombatan sangat diperlukan dalam menjaga kedaulatan NKRI.
Percepatan pembuatan MALE Kombatan ini dilakukan dengan melengkapi desain drone Elang Hitam (EH-1), dengan sistem persenjataan, menjadi desain PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5.
Awalnya program PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5, targetnya tersertifikasi di Tahun 2024, dan EH-1 sampai EH-3, adalah pengembangan di tahun 2020-2022.
"Dengan persetujuan Presiden Joko Widodo pada Ratas tadi, maka drone Elang Hitam Kombatan EH-4 dan EH-5, akan dikembangkan pada tahun 2020-2022 juga bersama dengan EH-1,2,3. Disinilah terjadi percepatan pengembangan," kata Hammam.
"Jadi drone Elang Hitam juga dilengkapi fungsi ISTAR, yaitu Intelligence, Surveillance, Target Acquisition and Reconnaissance, dan sistem persenjataan," ujarnya.
Dengan kelengkapan fungsi tersebut tentu drone Elang Hitam dapat menjadi wahana penting Indonesia, dalam menjaga kedaulatan wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara.
"Drone Elang Hitam ini akan menjadi semacam 'CCTV di Langit Nusantara', guna menjaga kedaulatan. Khususnya terkait pengawasan baik di wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara. Khususnya untuk mengintai di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia. BPPT bersama konsorsium dengan semangat merah putih tentu siap mewujudkannya," tegas Hammam.
Selain drone, ia mengusulkan agar juga pemerintah memikirkan pengembangan sistem pertahanan atau alutsista anti-drone.
"Hal ini seperti yang sudah dilakukan Turki, sistem pertahanan anti-drone nya terus dikembangkan. Seperti dengan menggunakan laser. Kami sudah mulai melakukan kliring atau penguasaan teknologi untuk sistem tersebut," katanya. (Muhammad Choirul Anwar)

24 Februari 2020

Indonesia Siap Produksi Mandiri R-Han 122B untuk Korps Marinir TNI AL

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bersama sejumlah instansi lain sedang mengembangkan kemampuan untuk bisa memproduksi sendiri roket pertahanan, R-Han 122B, untuk kebutuhan Korps Marinir TNI. Selama ini kebutuhan ribuan roket jenis itu diimpor setiap tahunnya.
R-Han 122B
R-Han 122B 
“Kami sedang men-substitusi-nya supaya mandiri dan saat ini sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Pertahanan,” kata Kepala Pusat Teknologi Roket di Lapan, Sutrisno, mengungkapkan saat ditemui di kantornya di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jumat 21 Februari 2020.
Sutrisno menyebut produksi R-Han 122B dilakukan lewat konsorsium yang melibatkan di antaranya PT Pindad. Serangkaian uji statis dan dinamis telah dilakukan sejak 2015. "Kalau sudah ada kajian ekonominya, kami akan bangun ekosistem industrinya," kata dia mengungkapkan.
Sutrisno menjelaskan, roket, selain drone yang berkembang belakangan ini, masih merupakan senjata paling efektif di dunia. Itu sebabnya, pengembangan teknologi roket untuk kepentingan militer, menurutnya, tak terelakkan.
Roket, dia menerangkan, menihilkan risiko korban nyawa karena sasaran bisa dituju dari jarak jauh sementara kerusakan hebat bisa dihasilkan di pihak musuh. Sayang, dia menambahkan, “Di Indonesia semua penggunaan roket untuk militer itu masih impor.”
Sesaat sebelumnya, Sutrisno mempresentasikan kemampuan dan pengembangan teknologi roket Indonesia di hadapan Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro dan jajaran petinggi Lapan. Saat itu disebutnya kalau teknologi roket Indonesia masih berada di era 1960-an.
Sebagai gambaran, Sutrisno memaparkan kalau Lapan masih fokus di pengembangan roket diameter 450 mm berdaya jangkau 70 kilometer. Roket dua tingkat diameter yang sama milik China, dia membandingkan, bisa menjangkau batas atmosfer di ketinggian 200 kilometer.
Itu sebabnya, Sutrisno berharap banyak pada kerja sama yang berhasil dijalin pemerintah Indonesia dengan pemerintahan Beijing pada tahun lalu. Kerja sama, menurutnya, bisa mengembangkan kemampuan roket Indonesia.
“Kita belum pernah alih teknologi dengan negara luar sejak 1960-an mengimpor roket Jepang, Kappa, waktu mau membentuk Lapan di era Presiden Sukarno. Jadi kita hanya mengembangkan dari yang ada itu,” katanya. (Zacharias Wuragil)

23 Februari 2020

LAPAN : Kemampuan Roket Buatan Indonesia Masih di Era 1960-an

Roket-roket buatan Indonesia masih mengembangkan teknologi yang berasal dari era 1960-an. Kemajuan teknologi di bidang roket sangat lambat dan Indonesia sangat membutuhkan transfer teknologi dari negara lain.
Ujicoba Roket R-HAN 450 LAPAN
Ujicoba Roket R-HAN 450 LAPAN 
Kepala Pusat Teknologi Roket di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Sutrisno, mengakui itu di hadapan Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro dan jajaran petinggi LAPAN pada Jumat 21 Februari 2020. Pada hari itu, Menristek melihat langsung perkembangan teknologi roket Indonesia sebelum meresmikan Laboratorium Anechoic Chamber, Fasilitas Pusat Teknologi Satelit.
"Ini teknologi dari 1960-an yang masih terus kami kembangkan," kata Sutrisno. Dalam penjelasannya, Sutrisno merujuk kepada roket Kappa yang pernah didapat Indonesia di era Presiden Sukarno dari Jepang. Roket Kappa sendiri dikembangkan Jepang sejak 1956.
Menurut Sutrisno, pengembangan sebuah teknologi mensyaratkan kerja sama dan transfer teknologi. Itu sebabnya dia antusias dengan keberhasilan pemerintah Indonesia 'memaksa' pemerintah China menekan kesepakatan kerja sama selama lima tahun ke depan untuk transfer teknologi roket. Kerja sama didapat setelah Indonesia memberi izin China melewati batas perairan Indonesia untuk kepentingan pelacakan trayek satelitnya.
Hingga saat ini, Sutrisno menjelaskan, Lapan masih fokus pada pengembangan roket diameter 450 milimeter setelah yang 550 milimeter gagal di uji terbang. Roket Rx-450 memiliki daya jangkau 70 kilometer, kalah jauh dari roket sejenis, dua tingkat, bikinan China yang bisa sampai 200 kilometer.
Teknologi roket dua tingkat diameter 450 mm itu yang dijanjikan untuk ditransfer dari China. “Untuk meng-improve roket 450 kita...dan akan ada pengalaman dan hal baru, serta memantapkan apa yang sudah kita lakukan selama ini,” kata Sutrisno.
Roket berdaya jangkau 200 kilometer disebutnya bisa digunakan sebagai roket sonda untuk mempelajari karakter di lapisan atmosfer. Harapannya, kemampuan nanti bisa dikembangkan untuk roket sonda 300 kilometer dan seterusnya hingga bisa membuat roket peluncur satelit sesuai roadmap teknologi roket yang sudah dibuat tiga tahun lalu untuk 25 tahun ke depan.
Sutrisno tidak menepis penggunaan teknologi roket nantinya untuk militer. "Tidak perlu kami declare soal itu," katanya. (Zacharias Wuragil)

Indonesia "Paksa" China Ajari Membuat Roket

Indonesia menjalin kerja sama dengan China dalam pengembangan teknologi roket di tanah air. Sebuah kesepakatan sudah terjalin dan diteken pada akhir tahun lalu berupa transfer teknologi yang diberikan China atas kompensasi izin perairan yang diberikan pemerintah Indonesia.
Kepala Pusat Teknologi Roket di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Sutrisno, pada Jumat 21 Februari 2020. Saat itu Sutrisno baru saja menerima kunjungan Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro dan jajaran pimpinan Lapan di kantornya di Rumpin, Kabupaten Bogor.
Roket LAPAN
Roket LAPAN 
Sutrisno menerangkan, pemerintah China butuh masuk perairan Indonesia untuk kepentingan pelacakan trayek satelitnya. Sempat menawarkan kompensasi teknologi lain, Sutrisno mengungkapkan kalau Beijing akhirnya setuju memenuhi permintaan transfer teknologi roket selama lima tahun ke depan.
“Jadi ini bukan beli lisensi ya, tapi transfer teknologi lewat kerja sama antar negara,” katanya sambil menjelaskan pembelian lisensi bisa sangat mahal dan belum tentu ada negara yang bersedia untuk teknologi roket.
Adapun kerja sama transfer teknologi, dijelaskannya, berupa pemberian pelatihan, pengadaan material dan peralatan, melakukan desain manufaktur. Termasuk uji di bawah supervisi ahli roket China yang dilakukan di negeri itu maupun di Indonesia.
Menurut Sutrsino, kerja sama akan sangat bermanfaat bagi peneliti roket Indonesia yang disebutnya masih mengembangkan teknologi asal 1960-an. Indonesia sangat membutuhkan kerja sama atau tranfer teknologi dari negara lain yang selama ini tidak pernah didapat untuk pengembangan roket.
Sebagai ilustrasi, dia membandingkan, kemampuan roket diameter 450 mm milik Lapan yang masih berdaya jangkau kurang dari 100 kilometer. Sementara China janji mengajari membuat roket baru yang dua tingkat dengan diameter yang sama dan mampu terbang sampai 200 kilometer ke batas atmosfer.
“Yang roket China itu untuk meng-improve roket 450 kita...dan akan ada pengalaman dan hal baru. serta memantapkan apa yang sudah kita lakukan selama ini,” kata Sutrisno.
Roket berdaya jangkau 200 kilometer disebutnya bisa digunakan sebagai roket sonda untuk mempelajari karakter di lapisan atmosfer. Harapannya kemampuan nanti bisa dikembangkan untuk roket sonda 300 kilometer dan seterusnya hingga bisa membuat roket peluncur satelit sesuai roadmap teknologi roket yang sudah dibuat tiga tahun lalu untuk 25 tahun ke depan. (Zacharias Wuragil)

17 Februari 2020

LAPAN Sebut Indonesia Siapkan Rudal RX 450 dan Roket Pengorbit Satelit (RPS)

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan saat ini Indonesia sudah menyiapkan rudal balistik RX 450 dan Roket Pengorbit Satelit (RPS). Selain itu, pada 2039 LAPAN juga berencana meluncurkan satelit dari bandar antariksa milik Indonesia menggunakan roket buatan Indonesia.
Rudal RX 450 LAPAN
Rudal RX 450 /  R-Han 450  LAPAN 
Hal ini diungkapkan LAPAN menanggapi misi antariksa Iran yang meluncurkan satelit Zafar dengan menggunakan roket Simorgh. Meski pun gagal, misi ini menandakan tonggak penting bagi proyek luar angkasa Iran.
"Kita sekarang sedang menyiapkan roket RX 450 dan menuju roket 2 tingkat yaitu roket peluncur satelit, kita sudah menargetkan tahun 2039 meluncur satelit dari bandar antariksa sendiri dan pakai roket sendiri," ujar Kabag Humas LAPAN, Jasyanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/2).
Uji coba rudal RX 450 telah dilakukan pada 2018 akhir lalu. Dalam uji coba itu, roket ini dinamai ulang menjadi R-Han 450.
Dalam uji coba ini, LAPAN, bekerjasama dengan Balitbang Kementerian Pertahanan, PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT PINDAD (Persero), dan Dahana Kelima perusahaan ini tergabung dalam Konsorsium Roket Nasional, seperti dikutip dari
R-Han 450 merupakan roket tipe balistik dengan panjang total 7,2 meter, diameter 46 cm, massa total 1.750 kg, massa propellan 750 kg, dengan jangkauan maksimum kurang dari 100 km dan kecepatan maksimum 3.300 km per jam.
Dikutip dari situs Kemenristek, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, RX 450 merupakan roket terbesar yang pernah diluncurkan LAPAN. Program Roket Sonda LAPAN ditujukan untuk maksud-maksud damai. Roket RX 450 nantinya akan digunakan dalam salah satu rangkaian Roket Pengorbit Satelit (RPS).
Thomas mengatakan uji coba roket R-Han 450 disinergikan dengan rencana pembangunan bandar antariksa. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguasaan teknologi roket mengalami berlapis-lapis kendala karena tingkat kesulitannya lebih tinggi.
"Meskipun diberi anggaran besar, belum tentu bisa terealisasi karena kita belum ditunjang dengan SDM dan industri pendukung yang lebih memadai," imbuhnya.
Lebih lanjut, Kepala Program Peluncuran Roket, Bagus H. Jihat menjelaskan, program RX 1220 adalah cikal bakal dari Roket R-HAN122 B. Sedangkan uji terbang RX 450 merupakan penyempurnaan teknologi dari uji terbang RX 450 sebelumnya yang dilakukan tahun 2015 dan 2016.
Selain Iran, India telah berhasil mengirimkan pesawat penjelajah antariksa Vikram dalam misi Chandrayaan-2 pada September lalu. India akan kembali direncanakan 7 September 2019. Pada tanggal tersebut, India akan mendaratkan rover di permukaan bulan dalam proyek Chandrayaan-2. Nahas, misi itu gagal karena Vikram gagal mendarat di permukaan Bulan.
Dilansir Chandrayaan-2 merupakan misi bulan lanjutan misi Chandrayaan-1 yang meluncur pada 2008. Chandrayaan-1 saat itu menemukan keberadaan molekul air di permukaan bulan yang kering. (jnp/eks)

07 Februari 2020

Indonesia Percepat Produksi Pesawat Udara Nirawak (PUNA/ UAV)

Pemerintah bakal mempercepat produksi massal pesawat udara nirawak (PUNA/ UAV). Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyebut produksi drone UAV ini bakal dilakukan pada 2022. Padahal sebelumnya, produksi bakal dilakukan pada 2024.
Pesawat Udara Nirawak (PUNA/ UAV) Elang Hitam
Pesawat Udara Nirawak (PUNA/ UAV) Elang Hitam 
Bambang menyebut percepatan produksi ini membuat dana yang dibutuhkan meningkat. Semula dana yang dibutuhkan hanya Rp800 miliar, tapi kini naik jadi Rp1,1 triliun. Ia menyatakan drone akan menjadi salah satu produk unggulan yang akan menjadi prioritas pemerintah.
"Sudah disampaikan tadi (ke Presiden Joko Widodo) butuh waktu lima tahun tapi dimajukan," ucap Bambang usai rapat terbatas di Kompleks Kepresidenan, Kamis (6/2).
Bambang menjelaskan pada 2022, pemerintah akan memproduksi lima drone. Setelah itu, pihaknya akan melakukan evaluasi sebelum drone itu diproduksi dalam jumlah banyak.
"Kami mau buat prototipe dulu sampai lima setelah itu baru produksi dalam jumlah besar, jadi kan memang harus prototipe dulu untuk memastikan sesuai kebutuhan," ungkap Bambang.
Drone ini, kata Bambang, akan dirancang oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan Balitbang Kementerian Pertahanan.
"Ini akan diproduksi oleh dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," imbuhnya.
Dua BUMN yang dimaksud, PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Len Industri (Persero). Bambang bilang Dirgantara akan mengurus dari sisi manufakturnya dan Len dari sisi keperluan senjata, sistem sensor, dan radar.
"Produksi drone ini juga untuk keamanan negeri dan konteks keamanan di perbatasan," ucapnya.
Selanjutnya, Bambang menyatakan ada lima produk lain yang dijadikan produk unggulan oleh pemerintah. Beberapa produk itu, seperti bahan bakar nabati, stem cell, garam industri terintegrasi, makanan kaleng, dan kapal pelat datar.
Sebelumnya, Jokowi memerintahkan BUMN dan sektor swasta ikut mendanai kegiatan riset dalam mengembangkan produk unggulan di dalam negeri. Masalahnya, dananya tak akan cukup kalau hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Pengembangan teknologi unggulan perlu mendapatkan dukungan pendanaan riset yang memadai sehingga tidak setengah-setengah. Anggaran riset bukan hanya bersumber dari APBN, tapi juga perlu dorongan pendanaan riset dari BUMN maupun sektor swasta," ungkap Jokowi.
Produksi teknologi unggulan ini, tambang Jokowi, perlu menjadi perhatian agar industri hilirisasi di dalam negeri juga berkembang. Sejauh ini, beberapa produk teknologi unggulan yang berhasil dibuat di dalam negeri, antara lain kapal pelat datar dan alat stem cell ortopedi. (aud/eks)

06 Februari 2020

Drone Elang Hitam Ditargetkan Patroli di Natuna Tahun Depan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan pesawat nirawak atau drone PUNA MALE Elang Hitam akan berpatroli di Natuna, Kepulauan Riau, pada tahun 2021.
Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, rencana percepatan drone itu sudah dipaparkan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR pada Senin, 3 Februari 2020.
Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam  
Menurut Hammam, pembangunan Elang Hitam sebagai pesawat nirawak dengan kemampuan kombatan akan segera diakselerasi. “Paparan terkait penguasaan teknologi drone tersebut juga saya sampaikan selanjutnya kepada Menristek/BRIN pada agenda rapat kerja,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, Rabu, 5 Februari 2020.
Elang Hitam PUNA MALE merupakan kerja keroyokan BPPT, PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, Lapan, Institut Teknologi Bandung, TNI Angkatan Udara, serta Kementerian Pertahanan. Sosok drone Elang Hitam itu pertama kali dikeluarkan dari hanggar di kompleks PT Dirgantara Indonesia di Bandung, 30 Desember 2019.
Pekan lalu, kata Hammam, prototype PUNA Elang Hitam (EH-1), juga ditampilkan dalam Pameran Industri Pertahanan yang digelar oleh Kementerian Pertahanan. "Saat itu Presiden Jokowi bersama Menko Polhukam, Menteri Pertahanan, Kepala KSP, juga melihat langsung drone Elang Hitam buatan anak bangsa itu," ujarnya.
Drone itu dikembangkan sejak 2015 menjadi pesawat udara nirawak jenis medium altitude long endurance (PUNA MALE). Serangkaian uji dan pengembangan dijadwalkan dijalani Elang Hitam mulai tahun ini, dan ditargetkan mengantongi sertifikasi produk militer pada 2023.
"Namun, kalau ada percepatan, kita harapkan bisa tahun depan, sehingga bisa segera beroperasi, guna menjaga kedaulatan wilayah tanah air, seperti di langit Natuna, dan kawasan T3 (terluar, terdepan, tertinggal) lainnya,” tutur Hammam.
Hammam berharap, percepatan pembangunan drone Elang Hitam dapat segera terwujud. “BPPT bersama Konsorsium PUNA MALE Kombatan, siap melakukan akselerasi," tambah dia.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan, untuk menjalani misi pertempuran, drone tempur itu juga akan dipersenjatai rudal. “Bareng-bareng kita punya program rudal nasional. Program roket itulah yang akan kami gabung, kami integrasikan,” kata dia, 30 Desember 2019 lalu.
Elfien mengatakan, PUNA MALE itu ditargetkan bisa menyamai drone CH-4 produksi Cina yang belum lama dimiliki oleh TNI Angkatan Udara. “Minimal harus sama, kalau bisa lebih,” kata dia.
Kendati masih harus mengembangkan Weapon System drone tempur tersebut, PT DI berencana mencoba menggunakan produk rudalnya untuk drone tempur ini. Rencananya PUNA MALE akan diintegrasikan dengan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) kaliber 70 milimeter produksi PT DI yang saat ini juga digendong pesawat tempur F-16 milik TNI AU. (Moh Khory Alfarizi)

29 Januari 2020

LAPAN Jadi Koordinator Empat Prioritas Riset Nasional


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjadi koordinator dalam empat prioritas riset nasional (PRN) periode 2020-2024 mulai dari teknologi pengembangan satelit hingga pesawat amfibi.
UAV MALE Elang Hitam
UAV MALE Elang Hitam 
"LAPAN pegang empat koordinator terkait empat PRN teknologi satelit, teknologi roket, pesawat amfibi, kemudian penginderaan jauh," kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin dalam konferensi pers di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2020 di Jakarta, Selasa.
LAPAN juga menjadi anggota untuk pengembangan pesawat tanpa awak jenis medium-altitude long-endurance (MALE) yang memiliki daya tahan menengah-tinggi dan daya jelajah lebih jauh. Pengembangan drone jenis MALE ini dikoordinasikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Thomas menuturkan bahwa LAPAN bertugas untuk pengembangan sistem pemantauan pada pesawat nirawak atau drone (unmanned aerial vehicle) sementara untuk spesifikasi kombatan dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro telah mengarahkan supaya LAPAN fokus pada teknologi keantariksaan pengembangan satelit dan pengembangan pesawat tanpa awak sebagai bagian dari sistem pemantaian yang integral.
Dalam kaitan pengembangan satelit, LAPAN mengoordinasikan pengembangan Satelit Konstelasi Komunikasi Orbit Rendah.
LAPAN juga mengembangkan wahana luncur dengan PRN terkait dengan pengembangan roket bertingkat karena roket tersebut akan menjadi roket peluncur satelit untuk mencapai orbit.
Sementara itu, PRN terkait pengembangan pesawat N219 ampfibi yang dapat mendarat di permukaan air bertujuan untuk memperkuat konektivitas di daratan sekaligus untuk pulau-pulau kecil, terutama destinasi wisata potensial.
Terkait dengan PRN penginderaan jauh, LAPAN menjadi koordinator PRN pemanfaatan teknologi penginderaan jauh oleh kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.(Martha Herlinawati S)

25 Januari 2020

LAPAN siapkan Anggaran Rp.300 Milyar Untuk Ikut Bangun Drone Tempur Elang Hitam


Purwarupa drone Elang Hitam menarik perhatian Presiden Joko Widodo saat mengunjungi pameran di Kementerian Pertahanan, Kamis 23 Januari 2020. Produk final drone tersebut dirancang akan mengusung sejumlah kemampuan diantaranya pengawasan, pengintaian, hingga pertempuran dengan mengusung persenjataan rudal.
Drone itu dikembangkan sejak 2015 menjadi pesawat udara nir awak jenis medium altitude long endurance (PUNA MALE). Serangkaian uji dan pengembangan dijadwalkan dijalani Elang Hitam mulai tahun ini, dan ditargetkan mengantongi sertifikasi produk militer pada 2023.
UAV MALE Elang Hitam
UAV MALE Elang Hitam 
“BPPT dan konsorsium PUNA MALE sangat membutuhkan dukungan Presiden, Menhan dan Panglima TNI untuk akselerasi program MALE Kombatan Elang Hitam,” kata Kepala BPPT Hammam Riza, dalam keterangan tertulis yang dibagikan, Kamis 23 Januari 2020.
Elang Hitam PUNA MALE merupakan kerja keroyokan BPPT, PT Dirgantara Indonesia, PT LEN Industri, Lapan, Institut Teknologi Bandung, TNI Angkatan Udara, serta Kementerian Pertahanan. Sosok drone Elang Hitam itu muncul pertama kali dikeluarkan dari hanggar di kompleks PT Dirgantara Indonesia di Bandung, 30 Desember 2019.
Hamam menerangkan, sejak awal pengembangan pesawat nir awak itu untuk mendukung misi pertempuran, kendati pemanfaatannya tidak hanya sebatas itu. Elang Hitam bisa menjadi solusi teknologi menjawab tantangan pengawasan wilayah NKRI baik di darat mau pun laut.
Hammam mengatakan, PUNA MALE untuk menjawab kebutuhan pesawat udara yang mampu melakukan pengawasan yang efisien. Program PUNA MALE sekaligus untuk membangun kemampuan penguasaan teknologi kunci pesawat nir awak. Diantaranya flight control system, weapon platform integration, electro optic targetting system, hingga penguasaan teknologi material komposit.
“Ini semua teknologi kunci yang tidak dapat diberikan negara lain secara cuma-cuma pada kita,” kata Hamam saat roll-out, Desember lalu.
Masing-masing anggota Konsorsium menyumbangkan inovasinya untuk pengembangan PUNA MALE. PT Dirgantara Indonesia, misalnya, membangun air-frame pesawat. Sedang PT LEN Industri membangun sistem kontrol dan senjata, serta Lapan menyumbangkan pengembangan teknologi SAR (synthetic-aperture radar).
“Program MALE ini sangat strategis untuk peningkatan kemandirian negara kita untuk melaksanakan seluruh sistem alat pertahanan dan keamanan yang dibangun oleh industri nasional kita,” kata Hammam lagi.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan, untuk menjalani misi pertempuran, drone tempur tersebut akan dipersenjatai rudal. “Bareng-bareng kita punya program rudal nasional. Program roket itulah yang akan kami gabung, kami integrasikan,” kata dia di sela Roll-Out PUNA MALE, 30 Desember 2019.
Elfien mengatakan, PUNA MALE itu ditargetkan bisa menyampai drone CH-4 produksi China yang belum lama dimiliki oleh TNI Angkatan Udara. “Minimal harus sama, kalau bisa lebih,” kata dia.
Kendati masih harus mengembangkan Weapon System drone tempur tersebut, PT DI berencana mencoba menggunakan produk rudalnya untuk drone tempur ini. Rencananya PUNA MALE akan diintegrasikan dengan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) kaliber 70 milimeter produksi PT DI yang saat ini juga digendong pesawat tempur F-16 milik TNI AU.
Elfien mengatakan, uji terbang akan dilakukan tahun ini, sekaligus membangun bertahap 3 unit lagi prototipe PUNA MALE. “Satu ini, kedua nanti untuk sertifikasi, ketiga untuk static-test, keempat untuk sertifikasi kombatan,” kata dia menerangkan.
Dikutip dari data konfigurasinya, prototipe PUNA MALE 1 menggunakan bahan komposit serat karbon dan kaca. Pesawat prototipe 1 ini berfungsi sebagai technology demonstrator. Targetnya untuk menguji kemampuan terbang dalam mode autopilot, yakini take-off dan auto landing.
Secara keseluruhan, konsorsium PUNA MALE merancang drone Elang Hitam mengikuti Design, Requirement, and Objectives (DRO) yang disepakati untuk dipergunakan oleh TNI Angkatan Udara. Diantaranya mampu mengudara dan mendarat di landasan pendek 700 meter, mengudara hingga ketinggian 20 ribu kaki, memiliki kecepatan maksimal 235 kilometer per jam, dengan durasi mengudara maksimal hingga 30 jam, serta mampu mengusung beban hingga 300 kilogram.
LAPAN Siapkan Rp 300 M untuk Ikut Bangun Drone Tempur Elang Hitam
Lapan menjadi anggota Konsorsium PUNA MALE (Pesawat Udara Nir Awak Medium Altitude Long Endurance) yang bergabung belakangan untuk membangun drone tempur Elang Hitam yang menarik perhatian Presiden Joko Widodo dalam pameran industri pertahanan di Kementerian Pertahanan, 23 Januari 2020.
Pengembangan drone tersebut diinisiasi oleh Badan Litbang Kementerian Pertahanan pada tahun 2015. Dua tahun kemudian pengembangannya resmi dimulai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pembentukan Konsorsium antara BPPT sebagai koordinator bersama Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, ITB, PT Dirgantara Indonesia, dan PT LEN Industri.
Tahun 2019, Lapan menyusul bergabung menjadi anggota Konsorsium. Kendati bergabung belakangan, Lapan sudah diminta menyumbangkan sejumlah inovasi untuk Elang Hitam.
Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan, PUNA MALE misalnya akan dilengkapi dengan Synthetic Aperture Radar (SAR). Radar yang dikembangkan Lapan ini dirancang bisa memindai hingga menembus lapisan tanah.
“Dengan synthetic-aperture radar (SAR) yang kita pasang di MALE bisa menembus sampai kurang lebih 30 sentimeter dari batas tanah sehingga bisa mengukur berapa banyak air yang dikandung,” kata dia.
Peran PUNA MALE yang dilengkapi SAR tersebut akan memantau tinggi muka air di lahan gambut. “Sebelum dia kering, kita harus sirami lahan-lahan gambut supaya tidak muncul kebakaran hutan, atau tidak muncul hot-spot itu,” kata Hammam.
Anggota Konsorsium juga diminta menyisihkan dananya masing-masing untuk pengembangan drone tersebut. BPPT misalnya sudah menyiapkan dana Rp 81 miliar untuk pengembangan Elang Hitam. “Karena ini konsorsium, masing-masing institusi chip-in, istilahnya, mengkontribusikan anggarannya,” kata Hamam.
Deputi Teknologi Penerbangan dan Antariksa, Lapan, Rika Andiarti mengatakan, Lapan diminta membantu mengembangkan flight control system dengan memanfaatkan satelit untuk Elang Hitam.
“Kalau dari Konsorsium ini, Lapan ditugaskan mengembangkan mission system. Itu terdiri dari baik flight control system, sistem komunikasi, data recorder, dan payload-nya,” kata dia di sela Roll Out PUNA MALE di kompleks PT DI, 30 Desember 2019.
Rika mengatakan, Lapan sudah berbekal pengalaman sejak 3 tahun terakhir mengembangkan flight control system untuk mengendalikan drone dari jarak jauh. Lapan baru memiliki flight control system untuk drone dengan ukuran kecil, dengan durasi terbang maksimal 5 jam sehingga butuh pengembangan lagi.
Rencananya, PUNA MALE akan menggunakan sistem kendali dengan memanfaatkan satelit agar bisa dikendalikan dari jarak jauh. BRI-Sat rencananya akan digunakan. Pemerintah misalnya memiliki slot frekwensi KU-Band yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan drone PUNA MALE.
“Pakai satelit sehingga di luar line-of-sight kita bisa terus terima datanya secara real-time,” kata Rika.
Rika mengatakan, Lapan juga diminta mengembangkan SAR (synthetic-aperture radar) yang akan di usung oleh PUNA MALE. Sistem radar yang dikembangkan Lapan tersebut saat ini dipergunakan untuk pertanian, hingga mencegah pencurian kayu.
“Lapan juga punya program pengembangan UAV sendiri khusus untuk surveillance. Sudah kita manfaatkan untuk pertanian, untuk illegal loging, juga kebencanaan,” kata dia.
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Gunawan Setia Prabowo mengatakan, Lapan berencana menyiapkan anggaran bertahap hingga Rp 300 miliar untuk ikut membangun drone tempur Elang Hitam. Khusus tahun 2020 ini, Lapan sudah menyiapkan Rp 23 miliar. “Total sekitar Rp 300 miliar sampai 2024,” kata dia.
Gunawan mengatakan, Lapan berencana menggunakan dana itu untuk pengembangan development mission system, SAR, serta sistem satelit komunikasi. Dia mencontohkan, Lapan sudah mengembangkan teknologi pengendali drone via satelit. Namun kemampuannya masih terbatas.
Teknologi pengendali drone yang sudah dimiliki Lapan memanfaatkan Satelit Thuraya, satelit komersil. Dengan pemanfaatan satelit BRI-Sat, diharapkan bisa meningkatkan kemampuan teknologi tersebut.
“Thuraya itu kebetulan bandwith-nya kecil, hanya bisa mengirim data telemetri dan capture. Lagi pula biayanya mahal karena komersial. Dengan KU-Band (BRI-Sat), kita bisa command real time dan gambarnya juga bisa kita lihat real time,” kata Gunawan.
Air-frame untuk prototipe drone PUNA MALE sendiri digarap oleh PT Dirgantara Indonesia. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI), Elfien Goentoro mengatakan, prototipe tersebut baru berupa development-manufacturing hasil pengembangan bersama Konsorosium.
Uji terbang akan dilakukan tahun ini, sekaligus membangun bertahap 3 unit lagi prototipe PUNA MALE. “Satu ini, kedua nanti untuk sertifikasi, ketiga untuk static-test, ke empatuntuk sertifikasi kombatan,” kata dia, 30 Desember 2019.
Dikutip dari data konfigurasinya, prototipe PUNA MALE 1 menggunakan bahan komposit serat karbon dan glass. Pesawat prototipe 1 ini berfungsi sebagai technology demonstrator. Targetnya untuk menguji kemampuan terbang dalam mode autopilot, yakini take-off dan auto landing.
Sementara prototipe PUNA MALE 2 dan 3 dibangun untuk mengikuti uji sertifikasi serta uji struktur. Pesawat prototipe 2 ini yang akan melewati serangkaian pengujian untuk mendapatkan sertifikasi Indonesian Millitary Airworthiness Authority (IMAA). Konfigurasi pesawat ini untuk menjalankan misi surveilance.
Baru pada prototipe PUNA MALE 4, drone ini akan mendapat penyempurnaan penuh. Di antaranya pemasangan Flight Control System yang pengembangannya dipimpin oleh PT LEN.
Konsorsium PUNA MALE merancang drone tempur Elang Hitam mengikuti Design, Requirement, and Objectives (DRO) yang disepakati untuk dipergunakan oleh TNI Angkatan Udara. Di antaranya mampu mengudara dan mendarat di landasan pendek 700 meter, mengudara hingga ketinggian 20 ribu kaki, memiliki kecepatan maksimal 235 kilometer per jam, dengan durasi mengudara maksimal hingga 30 jam, serta mampu mengusung beban hingga 300 kilogram. (Ahmad Fikri)

14 Januari 2020

Elang Hitam, Pesawat Nirawak Buatan Indonesia Ditargetkan Mengudara Pada 2023


Indonesia tengah membuat drone atau pesawat udara nirawak (PUNA) bernama Elang Hitam. Pesawat ini diproduksi oleh konsorsium Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam 
Rencananya, seluruh uji kelaikan dan proses sertifikasi akan selesai pada 2023. Elang Hitam menggunakan mesin Rotax dari Austria, memiliki flight control system (FCS) asal Spanyol, dan dilengkapi persenjataan rudal.
Selain itu, pesawat ini memiliki radius line of sight (LOS) sejauh 250 km, mampu terbang hingga 23 ribu kaki dan selama 30 jam, juga kecepatan maksimal 235 km per jam.
Indonesia membutuhkan drone untuk menjaga kedaulatan negara melalui pantauan negara. Oleh karena itu, berdasarkan kajian awal BPPT, sebanyak 33 unit drone akan ditempatkan di 11 pangkalan, atau tiga unit per pangkalan.(Andrea Lidwina)

01 Januari 2020

Drone PUNA MALE Black Eagle (Elang Hitam) Bukti Kemandirian Indonesia


Pesawat tanpa awak (drone) Black Eagle atau Elang Hitam yang diperkenalkan oleh konsorsium enam lembaga bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuktikan bahwa Indonesia sudah bisa mandiri dalam menghasilkan alat keamanan berteknologi tinggi.
Ke depan, industri semacam ini harus didukung agar mendapatkan pasar lebih luas sehingga mencapai tingkat keekonomian secara komersil.
Drone PUNA MALE Black Eagle (Elang Hitam)
Drone PUNA MALE Black Eagle (Elang Hitam)  
Prototipe pesawat udara nirawak (PUNA) Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang diberi nama Elang Hitam atau Black Eagle itu, kemarindiperlihatkan di hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Kota Bandung, Jawa Barat.
Pengenalan Black Eagle menandai dimulainya tahapan terbang yang diharapkan dilakukan pada 2020. Pesawat tanpa awak itu ditargetkan selesai dan bisa dioperasikan pada 2024 mendatang, setelah mendapatkan sejumlah uji sertifikasi.
"Pada 2020 akan dibuat dua unit prototype. Nanti masing-masing untuk tujuan uji terbang dan uji kekuatan struktur di BPPT. Di tahun yang sama, proses sertifikasi produk militer juga akan dimulai dan diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI," kata Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro di Bandung, Jawa Barat, kemarin.
Serangkaian proses sertifikasi tersebut, kata dia, sekaligus untuk mengintegrasikan sistem senjata pada prototype PUNA MALE yang dilakukan di 2020. Sehingga diproyeksikan sudah mendapatkan sertifikasi tipe produk militer.
Elfien mengatakan, pesawat nirawak ini mampu terbang dengan maximum endurance 30 jam dalam perhitungan maximum cruising speed 235 km/jam. Tak hanya itu, pesawat yang dikendalikan dari jarak jauh ini mampu terbang sejauh 250 km. Namun, pesawat ini hanya mampu membawa beban sekitar 300 kg. Beban ini rencananya bisa dipakai untuk kebutuhan militer seperti membawa misil atau rudal.
"Tetapi untuk tahap awal bukan untuk kombatan. Tetapi bisa dipakai untuk kebutuhan pengawasan dari udara seperti ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, serta pencurian sumber daya alam seperti illegal logging dan illegal fishing," kata dia.
Drone Black Eagle memiliki lebar 16 meter, panjang 8,65 meter, dan tinggi 2,6 meter. Saat take off, pesawat bisa mengunakan landasan sepanjang 700 meter. Sedangkan saat mendarat (landing) bisa pada landasan sepanjang 500 meter. Kemampuan ini hampir mirip dengan pesawat N219 buatan PTDI yang dibuat untuk bandara perintis.
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) diperlukan untuk membantu menjaga kedaulatan NKRI dari udara yang sangat efisien dan dapat mengurangi potensi kehilangan jiwa (tanpa pilot).
Dengan kemandirian ini, maka PUNA MALE buatan Indonesia dapat mengisi kebutuhan squadron TNI AU untuk dapat mengawasi wilayah NKRI melalui wahana udara. Selain itu kegiatan dapat mengembangkan industri dalam negeri yang sesuai dengan mandat Undang-Undang No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
"Produk ini diharapkan mengisi kebutuhan impor nasional. Sehingga menjadi negara mandiri dan kompetitif," imbuh dia.
Sementara itu, Komisi I DPR mengapresiasi atas diluncurkannya prototype drone Black Eagle produksi industri pertahanan (inhan) dalam negeri. Namun, DPR berharap bahwa pengembangan drone tersebut ini tidak hanya berhenti pada prototype saja, pemerintah juga perlu membelinya sehingga punya nilai ekonomi tinggi.
“Selanjutnya adalah komitmen pemerintah, berapa banyak yang akan dibeli untuk digunakan, baik keperluan sipil seperti pemetaan, atau keamanan kawasan seperti monitoring ilegal fishing ataupun militer,” kata Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi, kemarin.
Namun, kata Bobby, tantangan utama sebagaimana produk inhan terdahulu adalah, teknologi industri strategis seperti ini biasanya berhenti sampai prototype saja. menurutnya, kalaupun sampai pada tahap komersial, tidak produksi sampai volume keekonomian yang tinggi seperti Anoa, dan pesawat CN-235.
“Pemerintah perlu berikhtiar, bila ingin mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, perlu membeli dalam jumlah yang cukup ekonomis,” ujarnya.
Terlebih lagi, ujar Bobby, belum ada roadmap pembelian drone Black Eagle dalam MEF 3 2020-2024. Bahkan, saat Menko Polhukam masih dijabat Wiranto, kata dia, justru yang dumumkan adalah drone CH-4 buatan China yang masuk dalam formasi militer.
“Kata panglima, sudah masuk renstra II, bukan Black Eagle. Harapannya bisa masuk ke depan,” harap Politisi Partai Golkar itu.
Tetapi, terkait apakah Black Eagle ini memenuhi standar pertahanan dalam negeri, Bobby meyakini bahwa TNI yang lebih paham. Komisi I DPR mendukung apabila memang Black Eagle sudah bisa masuk standar tempur TNI dalam negeri dan masuk daftar belanja.
“Pasti DPR mendukung kemajuan inhan dalam negeri, dengan mengawal kebijakan Undang-Undang Inhan tahun 2012 , dan evaluasi kandungan lokal, dan Menhan perlu segera mengangkat formasi KKIP yang baru,” tambahnya.
Selain kemampuan membuat drone untuk kepentingan militer, BUMN nasional lainnya juga dikenal dengan keberhasilan memproduksi berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista). Misalnya PT Pindad yang berhasil memproduksi persenjataan jenis pistol dan senapan serbu yang kerap digunakan oleh militer asing.
Pindad juga memproduksi kendaraan tempur yang laku di luar negeri seperti Panser Anoa dan kendaraan taktis Komodo yang teruji di berbagai medan pertempuran. Khusus Anoa bahkan resmi menjadi panser yang digunakan oleh pasukan khusus perdamaian PBB.
Di sektor lain, BUMN lain yakni PT PAL juga mencatatkan prestasi tidak sembarangan. Perseroan yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur itu bisa memproduksi kapal perang sampai dengan jenis korvet dan frigate. Teranyar, perusahaan itu juga berhasil mengekspor kapal militer jenis landing platform dock (LPD) ke Filipina.
Libatkan Konsorsium
Elfien menambahkan, inisiasi pengembangan PUNA MALE telah dimulai oleh Badan Penelitian dan Pengembanga (Balitbang) Kementerian Pertahanan (Kemhan) sejak tahun 2015 dengan melibatkan TNI, Ditjen Pothan Kemhan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero).
Proses perancangan drone tersebut dimulai dengan kegiatan preliminary design, basic design dengan pembuatan dua kali model terowongan angin dan hasil ujinya di 2016 dan 2018 di BPPT. Kemudian pembuatan engineering document and drawing pada 2017 dengan anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT.
Pada 2017 terbentuk perjanjian bersama berupa Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA MALE) dengan anggota yang terdiri atas Kementerian Pertahanan RI yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU (Dislitbangau), Institut Teknologi Bandung/ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Len Industri (Persero). Kemudian pada 2019 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) masuk sebagai anggota konsorsium.
Pada 2019, proyek drone memasuki tahap manufacturing yang diawali oleh proses design structure, perhitungan finite element method, pembuatan gambar 3D, dan detail drawing 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero).
Kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan tooling, molding, cetakan dan selanjutnya fabrikasi dengan proses pre-preg dengan autoclave. Di tahun ini juga dilakukan pengadaan Flight Control System (FCS) yang diproduksi di Spanyol yang diproyeksikan akan diintegrasikan pada prototype pertama PUNA MALE yang telah di manufaktur oleh PT Dirgantara Indonesia pada awal tahun 2020.
Proses integrasi dilaksanakan oleh engineer BPPT dan PT Dirgantara Indonesia yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasikan dan mengoperasikan sistem kendali tersebut.
"Semoga seluruh tahapan pekerjaan dalam proses pengembangan pesawat PUNA MALE ini dapat berjalan dengan lancar, sebagaimana yang direncanakan dan kemudian dapat dioptimalkan fungsinya untuk kebutuhan Surveillance dan Target Acquisition,” ujar Elfien. (Arif Budianto/Kiswondari)
Drone Asli Indonesia Elang Hitam, Mirip MQ-9 AS dan CH-4 China?
PT Dirgantara Indonesia memperkenalkan prototipe drone asli Indonesia yang disebut Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE). Drone ini selintas mirip MQ-9 AS dan CH-4 China.
“Tahun depan targetnya terbang perdana,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro di sela Roll-Out PUNA MALE, di hanggar PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Senin, 30 Desember 2019.
Menurut Elfien, drone tersebut diinisiasi oleh Badan Litbang Kementerian Pertahanan pada 2015.Dua tahun kemudian resmi dimulai pengembangannya dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pembentukan Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) antara Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, BPPT, ITB, PT Dirgantara Indonesia, dan PT LEN Industri. Tahun 2019, Lapan menyusul bergabung menjadi anggota Konsorsium.
Rancangan PUNA MALE mengikuti Design, Requirement, and Objectives (DRO) yang disepakati untuk dipergunakan oleh TNI Angkatan Udara. Di antaranya mampu mengudara dan mendarat di landasan pendek 700 meter, mengudara hingga ketinggian 20 ribu kaki atau 6 ribu meter, memiliki kecepatan maksimal 235 kilometer per jam, dengan durasi mengudara maksimal hingga 30 jam, serta mampu mengusung beban hingga 300 kilogram.
Elfien mengatakan, kemampuan PUNA MALE tersebut ditargetkan bisa menyampai drone CH-4 produksi China yang belum lama dimiliki oleh TNI Angkatan Udara. “Kalau bisa lebih. Yang penting sesuai dengan DRO tadi, yang di inginkan oleh user kita, Angkatan Udara. Mereka targetnya dalam strategic plan harus ada 2 skuadron, terdiri dari 16 unit. Kita baru beli 6 unit, mudah-mudahan kita bisa kerja-sama untuk meneruskan itu,” kata dia.
Drone ini ditargetkan terbang pada 2024. Drone dirancang bisa mengangkut roket. Rencananya PUNA MALE akan di integrasikan dengan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) kaliber 70 milimeter produksi PT Dirgantara Indonesia.
Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro sudah menyiapkan nama untuk PUNA MALE yang dikembangkan Konsorsium PTTA yakni Elang Hitam atau Black Eagle. “Kita punya kebanggaan untuk burung yang kita gunakan untuk berbagai pesawat udara nir awak. Ada Wulung, Alap-Alap, dan PUNA MALE kombatan ini dinamakan Black Eagle, elang hitam,” kata dia
Hammam mengatakan, PUNA MALE untuk menjawab kebutuhan pesawat udara yang mampu melakukan pengawasan yang efisien. Progra PUNA MALE sekaligus untuk membangun kemampuan penguasaan teknologi kunci pesawat nir awak. Diantaranya flight control system, weapon platform integration, electro optic targeting system, hingga penguasaan teknologi material komposit. “Ini semua teknologi kunci yang tidak dapat diberikan negara lain secara cuma-cuma pada kita,” kata dia.
PUNA MALE memiliki panjang 8,65 meter, bentang sayap 16 meter, tinggi 2,6 meter, bobot 1.300 kilogram. PUNA MALE ditargetkan mampu mengangkut beban maksimal 300 kilogram, kecepatan maksimal 235 kilometer per jam, maksimal terbang 30 jam. (Ahmad Fikri)

Drone MALE Elang Hitam Buatan Indonesia Mampu Terbang Sejauh 250 Km dan Bawa Rudal 300 Kg


Pesawat udara nirawak (Puna) Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama Elang Hitam atau Black Eagle yang dibuat oleh enam lembaga dan BUMN ini memiliki sejumlah kelebihan.
Drone buatan anak bangsa yang rencananya mulai beroperasi pada 2024 mendatang ini mampu terbang sejauh 250 kilometer dengan membawa peluru kendali (rudal) seberat 300 kilogram.
Drone MALE Elang Hitam Buatan Indonesia
Drone MALE Elang Hitam Buatan Indonesia 
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro mengatakan, pesawat nirawak ini mampu terbang dengan maximum endurance 30 jam dalam perhitungan maximum cruising speed 235 km/jam.Tak hanya itu, pesawat yang dikendalikan dari jarak jauh ini mampu terbang sejauh 250 km. Namun, pesawat ini hanya mampu membawa beban sekitar 300 kg. Beban ini rencananya bisa dipakai untuk kebutuhan militer seperti membawa misil atau rudal.
"Tetapi untuk tahap awal bukan untuk kombatan. Tetapi bisa dipakai untuk kebutuhan pengawasan dari udara seperti ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan, serta pencurian sumber daya alam seperti illegal logging dan illegal fishing," jelas dia, Senin (30/12/2019).
Pesawat ini memiliki lebar 16 meter, panjang 8,65 meter, dan tinggi 2,6 meter. Saat take off, pesawat bisa mengunakan landasan sepanjang 700 meter. Sedangkan saat mendarat (landing) bisa pada landasan sepanjang 500 meter. Kemampuan ini hampir mirip dengan pesawat N212 buatan PTDI yang dibuat untuk bandara perintis.
Menurut Kepala BPPT Hammam Riza, pesawat nirawak ini diperlukan untuk membantu menjaga kedaulatan NKRI dari udara yang sangat efisien dan dapat mengurangi potensi kehilangan jiwa karena dioperasikan tanpa pilot.
Dengan kemandirian ini, diharapkan PUNA MALE buatan Indonesia dapat mengisi kebutuhan skadron TNI AU dalam mengawasi wilayah NKRI melalui udara. Selain itu, dapat menumbuhkembangkan industri dalam negeri yang sesuai dengan mandat Undang-Undang No.16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. "Produk ini diharapkan mengisi kebutuhan impor nasional. Sehingga menjadi negara mandiri dan kompetitif," imbuh dia. (Arif budianto)

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU