Kisah Sniper Terhebat The White Death, Seorang Diri Renggut Nyawa Ratusan Korban

The White Death
The White Death 

Pada bulan Maret, 77 tahun lalu, seorang sniper terbaik di dunia akhirnya dilumpuhkan lawannya.
Namanya melegenda hingga sekarang. Dunia militer mengenal sniper sebagai pembunuh paling mematikan.
Bekerja dalam sunyi dan diam, seorang sniper alias penembak jitu bisa mencabut nyawa seseorang dari jarah jauh dan posisi yang tak terdeteksi. Dalam sejarah militer, banyak sniper yang dikenal sebagai sosok paling mematikan, paling banyak membunuh, dan paling disegani.
Di antara mereka, nama Simo Hayha bisa dibilang ada di puncak tertinggi. Hayha adalah tentara Finlandia yang tercatat sebagai sniper yang paling banyak membunuh tentara lawan.
Julukannya adalah The White Death atau Malaikat Maut Putih. Angka nyawa manusia yang dia renggut bikin merinding, sebanyak 705 orang. Sejumlah 505 korban dibunuhnya menggunakan senapan runduk, 200 lainnya dengan senapan otomatis. Korban sebanyak itu dibunuh oleh Hayha dalam waktu kurang dari 100 hari saja!
Satu yang mencengangkan, angka itu adalah yang terkonfirmasi lawan karena diperkirakan ada ratusan korban lain yang tak tercatat. Hal yang hebat adalah bila melihat senapan yang digunakan Hayha. Dia merupakan tentara yang bertugas di era Perang Musim Dingin, antara Uni Soviet versus Finlandia, pada 1939-1940.
Pada era itu, senapan masihlah primitif. Senapan yang digunakan Hayha tidak memakai lensa pembidik seperti halnya senapan runduk modern. Lebih hebat lagi, Hayha bertempur di tengah udara dingin nan ekstrem.
Dia berperang di suhu hingga minus 40 derajat celcius. Kisah Hayha menjadi kisah legenda yang diceritakan dari satu sniper ke sniper lain. Konon, saat bertempur, Hayha hanya berdiam diri di satu tempat, hingga membunuh semua lawan di medan perang. Tak ada yang bisa tahu posisi Hayha berada hingga 3 bulan lamanya.
Uni Soviet semula mendengar bahwa Finlandia punya seorang sniper ber-skill tinggi di medan perang. Mereka kemudian mengirim satu sniper untuk menandinginya. Sniper ini pulang tinggal nama, alias mayatnya dikirim pulang ke markas Uni Soviet.
Sang panglima lalu mengirim beberapa sniper sekaligus. Nasib mereka semua tak diketahui setelah diterjunkan ke front pertempuran. Uni Soviet kemudian mengirim satu batalion demi membunuh Hayha.
Banyak tentara Uni Soviet dalam batalion itu terbunuh tapi posisi Hayha tetap tak bisa ditemukan. Bahkan, ketika Uni Soviet mengirim serangan artileri membabi buta, Hayha tetap tak diketemukan. Dia memang dikenal sebagai sniper cerdas. Selalu memakai baju serbaputih, termasuk topeng putih yang menutupi wajah. Mustahil melihatnya ketika bersembunyi di salju.
Bahkan, yang lebih gila, ketika beraksi, Hayha terbiasa memasukkan salju di mulutnya.
Tujuannya agar mulut tak mengeluarkan uap ketika bernafas di udara dingin.
Akhirnya pada 6 Maret 1940, seorang lawan menembak mulut Simo Hayha. Menurut tentara yang mengangkut sang sniper ini, saat itu hampir separuh dari wajahnya "hilang".
Ajaib, Simo tak meninggal.
Pada hari ke-13 setelah tertembak, dia sadar dari koma. Sebuah hal yang dramatis, tepat di hari ketika Hayha bangun, Uni Soviet dan Finlandia memutuskan berdamai dan menghentikan perang.
Meski selamat, Hayha mengalami cacat wajah secara permanen. Pada 1998, Simo diwawancarai mengenai kiat dan triknya bisa menjadi sniper hebat. Hayha menjawab singkat, "Latihan."
Lalu, dia ditanya, apakah menyesal telah membunuh begitu banyak manusia. Begini jawaban dia, "Aku hanya menjalankan tugasku, itu yang aku lakukan, sebaik mungkin akan kulakukan."
Kisah Hayha menjadi inspirasi lagu "White Death", sebuah lagu yang dipopulerkan band metal asal Swedia, Sabaton. Dia meninggal pada 1 April 2002 dalam usia 96 tahun.
Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2017/03/24/kisah-sniper-terhebat-yang-pernah-ada-seorang-diri-renggut-ratusan-korban?page=all

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Radar Acak