![]() |
| F-35 AU Amerika Serikat |
Ketika pasukan Irak memulai operasi untuk merebut kota Mosul bulan lalu, para pilot jet-jet tempur F-22 milik Amerika menembak target-target pertama militan Negara Islam (ISIS) di sana. Namun operasi semacam itu terbilang bahaya.
Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengatakan kekurangan pilot pesawat tempur telah begitu parah sehingga pihaknya kesulitan memenuhi persyaratan tempur di luar negeri.
"Kami memiliki terlalu sedikit skuadron untuk memenuhi kebutuhan komandan kombatan," ujar Mayjen Scott Vander Hamm, jenderal yang berwenang memperbaiki krisis pilot tempur, dalam wawancara eksklusif dengan VOA.
Angkatan Udara AS saat ini mendapat otorisasi untuk memiliki 3.500 pilot pesawat tempur, namun masih kekurangan 725 pilot. Dengan pilot yang lebih sedikit, jumlah skuadron pilot pesawat tempur juga turun, dari 134 skuadron pada 1986 menjadi 55 pada 2016.
Oleh karena persentase pasukan yang diperlukan untuk ditugaskan lebih besar dalam 10 tahun terakhir, kesiapan -- kemampuan untuk memenuhi misi-misi di dalam dan luar negeri -- telah turun 20 persen.
"Dalam tahun kalender berikutnya, mungkin akan ada degradasi di skuadron garis depan. Hal ini berarti kita tidak dapat mengirim pasukan pada saat yang sama seperti sebelumnya, yang berarti dapat menyebabkan hilangnya nyawa dalam konflik," ujar Vander Hamm.
Masing-masing pilot perlu pelatihan bertahun-tahun untuk mengoperasikan pesawat teknologi tinggi yang telah berevolusi menjadi komputer super yang bisa terbang.
Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/11/29/18/1553791/angkatan-udara-as-kekurangan-pilot-pesawat-tempur
Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengatakan kekurangan pilot pesawat tempur telah begitu parah sehingga pihaknya kesulitan memenuhi persyaratan tempur di luar negeri.
"Kami memiliki terlalu sedikit skuadron untuk memenuhi kebutuhan komandan kombatan," ujar Mayjen Scott Vander Hamm, jenderal yang berwenang memperbaiki krisis pilot tempur, dalam wawancara eksklusif dengan VOA.
Angkatan Udara AS saat ini mendapat otorisasi untuk memiliki 3.500 pilot pesawat tempur, namun masih kekurangan 725 pilot. Dengan pilot yang lebih sedikit, jumlah skuadron pilot pesawat tempur juga turun, dari 134 skuadron pada 1986 menjadi 55 pada 2016.
Oleh karena persentase pasukan yang diperlukan untuk ditugaskan lebih besar dalam 10 tahun terakhir, kesiapan -- kemampuan untuk memenuhi misi-misi di dalam dan luar negeri -- telah turun 20 persen.
"Dalam tahun kalender berikutnya, mungkin akan ada degradasi di skuadron garis depan. Hal ini berarti kita tidak dapat mengirim pasukan pada saat yang sama seperti sebelumnya, yang berarti dapat menyebabkan hilangnya nyawa dalam konflik," ujar Vander Hamm.
Masing-masing pilot perlu pelatihan bertahun-tahun untuk mengoperasikan pesawat teknologi tinggi yang telah berevolusi menjadi komputer super yang bisa terbang.
Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/11/29/18/1553791/angkatan-udara-as-kekurangan-pilot-pesawat-tempur

