![]() |
| Gusti Noeroel |
Sudah jadi rahasia umum bahwa Presiden pertama RI Ir Soekarno, merupakan pengagum keindahan yang jadi anugerah Yang Maha Kuasa. Keindahan dalam bentuk seni, alam, hingga wanita.
Sepanjang hayatnya, “Bung Besar” tercatat pernah punya sembilan istri, baik yang akhirnya berpisah dengan perceraian maupun dipisahkan maut. Mulai dari Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.
Kesemua wanita itu seolah tak pernah bisa menolak rayuan, pesona dan kharisma Soekarno, hingga akhirnya dinikahi. Namun ada satu wanita yang terang-terangan, menolak cinta “Putra Sang Fajar”, yakni Gusti Noeroel.
Silsilahnya masih dari keturunan “darah biru”. Namanya pun panjang sebagaimana para putri keraton, yakni Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani.
Di zamannya, bisa dibilang Gusti Noeroel merupakan bidadari tercantik di republik yang kala itu belum lama selesai dengan revolusi fisik (1945-1949). Gusti Noeroel juga punya pemikiran yang terbuka dan bahkan, acap melakoni hobi yang tabu dilakukan putri keraton.
Bangsawan Jelita dengan Pemikiran Modern
Gusti Noeroel sejak muda sudah berpikiran modern. Tidak mau bahwa seorang wanita, urusannya hanya “dapur dan kasur” alias melayani suami. Sejak muda, Gusti Noeroel selain menari juga punya kegemaran berkuda dan main tenis.
Jika tengah berkuda, wanita yang dijuluki “de Bloem van Mangkunegaran” (Kembang Mangkunegaran) itu sering diintip para lelaki dari sela-sela tembok tebal keraton. Gusti Noeroel pun sejak saat itu mulai banyak “fans-nya”.
Mulai dari lelaki biasa, hingga tokoh besar macam Presiden Soekarno. Sayangnya, Gusti Noeroel punya alasan tersendiri menolak cinta Soekarno dan tak tertarik masuk dalam daftar istri yang dimadu sang proklamator.
Dalam biografinya bertajuk ‘Gusti Noeroel Mengejar Kebahagiaan’, dia memang tidak ingin dimadu maupun menyakiti wanita lain dengan menjadi istri kesekian Soekarno. Padahal sebelumnya, Soekarno pernah memerintahkan Basuki Abdullah untuk melukis parasnya yang teramat cantik, untuk diletakkan di ruang kerjanya.
Saat melukis Gusti Noeroel, bahkan Basuki Abdullah pun sampai ikutan naksir pada putri tunggal dari pasangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer itu. Sayangnya Gusti Noeroel ingat pesan ibunya, bahwa jangan mau dipinang pria yang sudah beristri.
Jadi Rebutan Tokoh-Tokoh Besar
Selain Soekarno, setidaknya ada tiga figur besar lainnya yang ingin menjadikannya istri. Sebut saja Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Kolonel Gusti Pangeran Harjo (GPH) Djatikusumo, serta (mantan) Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir.
Kala itu di antara ketiganya, hanya Sjahrir yang sudah beristri. GPH Djatikusumo sudah punya istri Raden Ayu Suharsi sejak 1947 dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sudah punya sembilan selir, hingga keduanya pun harus patah hati layaknya Bung Karno.
Oleh karenanya, sebenarnya pernah tumbuh benih-benih asmara antara Gusti Noeroel dengan “Bung Kecil” alias Sjahrir. Asmara yang tumbuh sejak Sjahrir sering rapat kabinet di Yogyakarta.
Seperti dikutip dari buku ‘Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil’, di sela-sela kesibukannya saat rapat, Sjahrir acap menyempatkan diri menyuruh sekretaris pertamanya Siti Zoebaedah Oesman, untuk mengantar beragam surat cinta dan kado ke Mangkunegaran untuk Gusti Noeroel.
Namun Sjahrir sendiri tak pernah bertemu muka padanya, baik di Yogya maupun di Mangkunegaran. Pertemuan pertama mereka baru terjadi di Linggarjati, tepatnya di rumah Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda.
“Saya ketemu (Sjahrir) di Linggarjati. Kami nginep di rumah perundingan Indonesia-Belanda. Ketemunya juga sebentar-sebentar,” aku Gusti Noeroel di buku tersebut.
Saat itu, Gusti Noeroel datang ke rumah besar di lereng Gunung Ciremai itu setelah diundang Sjahrir. Gusti Noeroel pun datang bersama kakaknya KGPAA Mangkunegara VIII dan sejak saat itu, keduanya pacaran selama tiga tahun.
Akan tetapi, hubungan Sjahrir dengan gadis yang pada usia 15 tahun pernah menari di depan keluarga Kerajaan Belanda itu tak pernah sampai ke pelaminan. Saat Sjahrir melamar, Gusti Noeroel malah menolak.
Alasannya, Gusti Noeroel tak tertarik punya suami tokoh politik. Apalagi Sjahrir merupakan pembesar Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan rasanya takkan mungkin punya istri seorang putri bangsawan yang feodal.
Sosok yang Beruntung Mendapatkan Gusti Noeroel
Saat usianya beranjak kepala tiga, Gusti Noeroel mulai mendapat tekanan orangtuanya untuk melepas masa lajang. Singkat cerita, dia memilih seseorang dari kalangan militer yang masih kerabatnya sendiri.
Adalah Letkol Raden Mas Soerjo Soejarso yang jadi laki-laki beruntung mendapatkan Gusti Noeroel. Kolonel Soerjo saat itu juga masih sepupunya.
Karier militernya biasa saja dan kala menikahi Gusti Noeroel, Letkol Soerjo menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI AD pertama di Bandung. Gusti Noeroel wafat 10 November tahun lalu di usia 94 tahun di Bandung, namun dimakamkan di Astana Girilayu.(raw)
Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/12/09/337/1563345/news-story-gusti-noeroel-bidadari-solo-yang-bikin-patah-hati-soekarno?utm_source=wp&utm_medium=box&utm_campaign=wpbr1
Sepanjang hayatnya, “Bung Besar” tercatat pernah punya sembilan istri, baik yang akhirnya berpisah dengan perceraian maupun dipisahkan maut. Mulai dari Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar.
Kesemua wanita itu seolah tak pernah bisa menolak rayuan, pesona dan kharisma Soekarno, hingga akhirnya dinikahi. Namun ada satu wanita yang terang-terangan, menolak cinta “Putra Sang Fajar”, yakni Gusti Noeroel.
Silsilahnya masih dari keturunan “darah biru”. Namanya pun panjang sebagaimana para putri keraton, yakni Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani.
Di zamannya, bisa dibilang Gusti Noeroel merupakan bidadari tercantik di republik yang kala itu belum lama selesai dengan revolusi fisik (1945-1949). Gusti Noeroel juga punya pemikiran yang terbuka dan bahkan, acap melakoni hobi yang tabu dilakukan putri keraton.
Bangsawan Jelita dengan Pemikiran Modern
Gusti Noeroel sejak muda sudah berpikiran modern. Tidak mau bahwa seorang wanita, urusannya hanya “dapur dan kasur” alias melayani suami. Sejak muda, Gusti Noeroel selain menari juga punya kegemaran berkuda dan main tenis.
Jika tengah berkuda, wanita yang dijuluki “de Bloem van Mangkunegaran” (Kembang Mangkunegaran) itu sering diintip para lelaki dari sela-sela tembok tebal keraton. Gusti Noeroel pun sejak saat itu mulai banyak “fans-nya”.
Mulai dari lelaki biasa, hingga tokoh besar macam Presiden Soekarno. Sayangnya, Gusti Noeroel punya alasan tersendiri menolak cinta Soekarno dan tak tertarik masuk dalam daftar istri yang dimadu sang proklamator.
Dalam biografinya bertajuk ‘Gusti Noeroel Mengejar Kebahagiaan’, dia memang tidak ingin dimadu maupun menyakiti wanita lain dengan menjadi istri kesekian Soekarno. Padahal sebelumnya, Soekarno pernah memerintahkan Basuki Abdullah untuk melukis parasnya yang teramat cantik, untuk diletakkan di ruang kerjanya.
Saat melukis Gusti Noeroel, bahkan Basuki Abdullah pun sampai ikutan naksir pada putri tunggal dari pasangan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer itu. Sayangnya Gusti Noeroel ingat pesan ibunya, bahwa jangan mau dipinang pria yang sudah beristri.
Jadi Rebutan Tokoh-Tokoh Besar
Selain Soekarno, setidaknya ada tiga figur besar lainnya yang ingin menjadikannya istri. Sebut saja Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Kolonel Gusti Pangeran Harjo (GPH) Djatikusumo, serta (mantan) Perdana Menteri RI Sutan Sjahrir.
Kala itu di antara ketiganya, hanya Sjahrir yang sudah beristri. GPH Djatikusumo sudah punya istri Raden Ayu Suharsi sejak 1947 dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sudah punya sembilan selir, hingga keduanya pun harus patah hati layaknya Bung Karno.
Oleh karenanya, sebenarnya pernah tumbuh benih-benih asmara antara Gusti Noeroel dengan “Bung Kecil” alias Sjahrir. Asmara yang tumbuh sejak Sjahrir sering rapat kabinet di Yogyakarta.
Seperti dikutip dari buku ‘Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil’, di sela-sela kesibukannya saat rapat, Sjahrir acap menyempatkan diri menyuruh sekretaris pertamanya Siti Zoebaedah Oesman, untuk mengantar beragam surat cinta dan kado ke Mangkunegaran untuk Gusti Noeroel.
Namun Sjahrir sendiri tak pernah bertemu muka padanya, baik di Yogya maupun di Mangkunegaran. Pertemuan pertama mereka baru terjadi di Linggarjati, tepatnya di rumah Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda.
“Saya ketemu (Sjahrir) di Linggarjati. Kami nginep di rumah perundingan Indonesia-Belanda. Ketemunya juga sebentar-sebentar,” aku Gusti Noeroel di buku tersebut.
Saat itu, Gusti Noeroel datang ke rumah besar di lereng Gunung Ciremai itu setelah diundang Sjahrir. Gusti Noeroel pun datang bersama kakaknya KGPAA Mangkunegara VIII dan sejak saat itu, keduanya pacaran selama tiga tahun.
Akan tetapi, hubungan Sjahrir dengan gadis yang pada usia 15 tahun pernah menari di depan keluarga Kerajaan Belanda itu tak pernah sampai ke pelaminan. Saat Sjahrir melamar, Gusti Noeroel malah menolak.
Alasannya, Gusti Noeroel tak tertarik punya suami tokoh politik. Apalagi Sjahrir merupakan pembesar Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan rasanya takkan mungkin punya istri seorang putri bangsawan yang feodal.
Sosok yang Beruntung Mendapatkan Gusti Noeroel
Saat usianya beranjak kepala tiga, Gusti Noeroel mulai mendapat tekanan orangtuanya untuk melepas masa lajang. Singkat cerita, dia memilih seseorang dari kalangan militer yang masih kerabatnya sendiri.
Adalah Letkol Raden Mas Soerjo Soejarso yang jadi laki-laki beruntung mendapatkan Gusti Noeroel. Kolonel Soerjo saat itu juga masih sepupunya.
Karier militernya biasa saja dan kala menikahi Gusti Noeroel, Letkol Soerjo menjabat Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI AD pertama di Bandung. Gusti Noeroel wafat 10 November tahun lalu di usia 94 tahun di Bandung, namun dimakamkan di Astana Girilayu.(raw)
Sumber : http://news.okezone.com/read/2016/12/09/337/1563345/news-story-gusti-noeroel-bidadari-solo-yang-bikin-patah-hati-soekarno?utm_source=wp&utm_medium=box&utm_campaign=wpbr1

