Radar Militer: PT Palindo Marine
Tampilkan postingan dengan label PT Palindo Marine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT Palindo Marine. Tampilkan semua postingan

13 Maret 2020

KRI Layaran-854 Dukung Latihan Cast and Recovery Siswa Dikkopaska

radarmiliter.com - Salah satu kapal patroli cepat kelas Pari milik TNI AL yang berada dibawah komando Koarmada II yakni KRI Layaran-854, ikut mendukung latihan praktek Cast and Recovery siswa Pendidikan Komando Pasukan Katak (Dikkopaska), yang dilaksanakan di sepanjang Dermaga Madura pada Selasa (10/3).
Latihan Cast and Recovery Siswa Dikkopaska
Latihan Cast and Recovery Siswa Dikkopaska 
Dalam latihan tersebut, para siswa Dikkopaska akan terjun ke laut dari KRI Layaran yang melaju dengan kecepatan 20 hingga 21 knot. Melalui komando Komandan KRI Mayor Laut (P) Sukmo Probo Yudo, seluruh peserta latihan yang terbagi dalam 3 gelombang akan terjun ke laut.
Sekilas tentang KRI Layaran-854, adalah sebuah kapal patroli cepat kelas Pari milik TNI AL dalam jajaran Komando Armada (Koarmada) II. Kapal ini dibuat dalam negeri oleh galangan kapal PT. Palindo Marine Shipyard, Batam dengan nama "Layaran" yang diambil dari nama ikan. Kapal ini sering digunakan dalam operasi-operasi satgas dalam negeri.(Ndr/Pen2)

12 Maret 2020

TNI AL Bangun 2 KAL di PT Palindo Shipyard Marine Batam

radarmiliter.com - Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlatamal) IV Laksamana Pertama (Laksma) TNI Arsyad Abdullah., S.E., M.A.P., mengahadiri acara peletakan lunas/keel laying pembangunan kapal di galangan kapal PT. Palindo Shipyard Marine Tanjung Uncang Batam Kepri, Selasa (10/3/2020).
TNI AL Bangun 2 Kapal Angkatan Laut
TNI AL Bangun 2 Kapal Angkatan Laut  
Pembangunan dua unit kapal type Kapal Angkatan Laut (KAL) 28 M ini, dikerjakan oleh putra-putra terbaik bangsa, hal tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Peletakan Lunas/Keel Laying pembangunan kapal antara Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Laksamana Pertama TNI Budi Sulistyo dengan Direktur Utama (Dirut) PT Palindo Shipyard Marine Harmanto yang disaksikan oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Moelyanto, M.si.,(HAN).
Progres pembangunan 2 unit KAL ini nantinya akan dilengkapi dengan persenjataan untuk kepentingan pengamanan di laut. Sesuai kontrak yang telah ditandatangani, Selasa (10/3/2020).
“Ketepatan waktu, kwalitas dan berbagai kegiatan tentu menjadi sangat penting, bukan saja berapa rupiah yang kita belanjakan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pembangunan kapal tersebut nanti output dan outcome yang kita dapat”, ungkap Aslog Kasal
“Keberadaan Lantamal IV didalam konteks pembangunan yang kebetulan PT. Palindo Shipyard Marine masih dalam wilayah kerja Lantamal IV, merupakan menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan yaitu bantuan pengawasan dan hal-hal yang bersifat formatif antara Mabesal, Lantamal IV dan Satgas yang berada di PT Palindo Shipyard Marine," sambung Aslog Kasal.
Hadir dalam acara tersebut Kadislaikmatal Laksma TNI Rahmat Hidayat, Dansatgas KAL 28, Aslog Danlantamal IV Kolonel Laut (T) Cok Bagus Alit Y, S.T., Danguskamla Koarmada I diwakili oleh Aslog Danguskamla Kolonel Laut (T) Gatut Setiawan, Danlanal Batam diwakili Palaksa Lanal Batam Letkol Laut (P) Didit Hermawan,S.Tr.Opsla. (Ril/Adi)(Angga Saja-TSM)

10 Desember 2019

Sepuluh Kapal Buatan Anak Bangsa Perkuat Armada Tempur TNI AL


Sepuluh kapal buatan industri pertahanan (Inhan) dalam negeri kembali memperkuat alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI Angkatan Laut. Sepuluh kapal tersebut terdiri atas empat unit Kapal Angkatan Laut (KAL) 28 M Aluminium dan enam unit Combat Boat AL D-18.
Combat Boat AL D-18
Combat Boat AL D-18 
"Dalam program prioritas nasional, peningkatan industri pertahanan domestik menjadi fokus utama untuk mendukung kekuatan pertahanan dan keamanan nasional," ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji saat meresmikan kesepuluh kapal perang tersebut di Dermaga Fasharkan Mentigi, Tanjung Uban, Kepulauan Riau, Senin (9/12/2019).
Pada peresmian itu juga dilaksanakan penandatanganan Berita Acara Penyerahan KAL 28 M Alumunium dan Combat Boat AL D-18 dari Direktur PT Palindo Marine, PT Lims Nautical Shipyard, PT Citra Shipyard dan PT Global Mandiri kepada Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Budi Sulistyo.
Selanjutnya Kadismatal menyerahkan kepada Asisten Logistik (Aslog) KSAL Laksamana Muda TNI Moelyanto, yang disaksikan langsung KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji.
"Kemandirian pengembangan teknologi pembangunan kapal di dalam negeri ini sangat bermanfaat bagi pertahanan, keamanan dan kepentingan nasional. Saya sangat bangga dan mengapresiasi akan prestasi ini. Capaian ini juga mendukung kebijakan pemerintah untuk membangun kemandirian dan menjaga keberlanjutan, terutama dalam industri pertahanan nasional," ucapnya.
Menurut Siwi, seluruh kapal perang ini nantinya menjaga keamanan maritim di tiap-tiap wilayah perairan yang menjadi daerah operasinya. Selain itu, kapal-kapal tersebut juga berperan penting dalam penegakkan hukum di laut yang dapat dioperasikan secara optimal dan efektif di sekitar perairan pedalaman dan pelabuhan.
"Dua unit KAL 28 M produksi PT Lims Nautical Shipyard yang akan memperkuat jajaran Koarmada I diberi nama KAL Iboih (IBH) I-1-71 dan KAL Sorake (SRK) I-2-18, sedangkan dua unit KAL 28 M produksi PT Palindo Marine diberi nama KAL Talise (TLS) II-6-65 dan KAL Lalos (LLS) II-8-34," katanya.
Di sisi lain, kapal Combat Boat AL D-18 buatan PT Infinity Global Mandiri yang akan memperkuat jajaran Koarmada II dan diberi nama Patkamla Balaroa (BLR) II-6-66. Sedangkan dua unit Combat Boat AL D-18 dari PT Citra Shipyard diberi nama Patkamla Gorar (GRR) III-9-19 dan Patkamla Wasur (WSR) III-11-16.
"Tiga unit kapal perang produksi PT Palindo Marine yakni Patkamla Binanga (BNG) II-6-67, Patkamla Santiago (STG) II-8-35, dan Patkamla Kastela (KTL) III-14-13 akan memperkuat jajaran Koarmada III," ucapnya.
Siwi menjelaskan, KAL 28 M ini memiliki panjang 28,98 meter, lebar 6,20 meter, dengan berat 90 ton. Kapal tersebut memiliki kecepatan maksimal 28 knots, dengan kecepatan jelajah 18 knots, dan membawa ABK sebanyak 15 orang, serta mampu berlayar dengan endurance selama 3 hari.
"Sedangkan Combat Boat AL D-18 memiliki spesifikasi panjang 18 meter, lebar 4,50 meter, dengan berat 20 ton dengan kecepatan maksimal 45 knots," katanya.
Selain meresmikan sepuluh kapal perang, pada kesempatan itu KSAL juga melaksanakan peninjauan ke KAL dan Combat Boat serta meninjau Water Treatment Plant untuk membantu dukungan air tawar bagi para prajurit TNI AL di Tanjung Uban maupun kapal-kapal yang sandar di Dermaga Mentigi.
Hadir dalam acara tersebut Irjenal Laksamana Muda TNI Suselo, Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Arusukmono Indra Sucahyo, Asops KSAL Laksamana Muda TNI Didik Setiyono, Aslog KSAL Laksamana Muda TNI Moelyanto, Pangkoarmada I Laksamana Muda TNI Muhammad Ali, Kadismatal Laksamana Pertama TNI Budi Sulistyo dan sebagainya. (Sucipto)

24 Juni 2019

Mengenal KRI Siwar-646, Kapal Cepat Rudal yang Amankan Selat Malaka


Kapal Republik Indonesia (KRI) Siwar-646 menepi di Pelabuhan Pabrik Asean Aceh Fertilizer (AAF), Jumat (21/6/2019). Kapal cepat rudal keluaran 27 September 2014 itu singgah untuk mengisi air bersih dan bahan bakar.
Seorang personel TNI AL, Hasan, bersiaga di bagian belakang kapal lengkap dengan pakaian dinas loreng.
 KRI Siwar-646
 KRI Siwar-646 
Dilengkapi dua rudal dan tiga meriam, kapal ini menjadi salah satu andalan di gugus tempur laut Koarmada Satu TNI AL Indonesia. Di bagian belakang kapal lantai satu, terdapat dua rudal yang siap diluncurkan.
“Baru keliling perairan dari Belawan, Sumatera Utara hingga Aceh Utara ini,” kata Komandan KRI Siwar, Mayor Laut (P), Ricky Ricky Intriadi kepada Kompas.com di ruang rapat KRI Siwar.
Nama Siwar diambil dari senjata tradisional khas Riau.
Dengan 38 awak, KRI Siwar-646 membelah Selat Malaka yang terkenal sebagai selat terpadat yang dilalui ribuan kapal dari berbagai negara di dunia.
Dalam sekali patroli laut, mereka menghabiskan waktu enam hari dan memasuki hari ketujuh mereka akan menepi untuk mengisi bahan bakar.
“Kapal ini bisa lari dengan 30 knot. Sangat taktis dan cepat. Dia kecil tapi mematikan,” kata Ricky.
KRI Siwar-646 yang memiliki bobot 250 ton dengan panjang 44 meter dan lebar 7,40 meter adalah buatan anak bangsa di PT Palindo Marine Industries, Batam.
KRI Siwar-646 beroperasi mengawasi laut di Selat Malaka bekerjasama dengan para nelayan sekitar.
“Kami maksimalkan komunikasi dengan nelayan setempat. Nelayan di daerah yang kita lintasi, apa ada informasi dan seterusnya. Penyelundupan sabu-sabu dan kejahatan lainnya semua menjadi monitor kita,” jelas Ricky.
Menurutnya, sepanjang dua bulan ini, tak ada kasus menonjol di laut. Terakhir KRI Siwar menangkap Kapal MV Vox Maxima berbendera Belanda yang membuang limbah di perairan Pulau Galang, Bintan, Kepualuan Riau pada 8 April 2019 lalu.
Selain itu, setiap kali berpapasan dengan kapal lain, para anggota akan selalu menanyakan apakah ada gangguan di laut. Jika ada keluhan dari awak kapal maka segera ditindaklanjuti.
“Selat Malaka ini harus aman dan nyaman bagi kapal yang melintas,” terangnya.
Saat sore hari, belasan remaja terlihat mendekati KRI Siwar-646 dan mereka berfoto dengan latar belakang senjata yang ada di atas kapal. Para remaja ini ditemani oleh personel TNI AL yang memberi penjelasan tentang kapal tersebut.
Menurut Ricky, setiap menepi, warga bisa naik dan melihat langsung seluruh peralatan KRI Siwar-646.
Ia mengaku menepi di perairan Aceh Utara adalah suatu kebahagiaan. Sebagai putra asli Blang Tuphat, Kota Lhokseumawe, dia akan menyempatkan diri pulang dan bertemu teman-teman lamanya saat menepi di Aceh Utara.
“Bangsa kita pelaut, jiwa bahari harus tumbuh di ben
Sumber : kompas.com

24 April 2018

TNI AL Luncurkan Dua Kapal Patroli Bersenjata Buatan PT Palindo Marine

KAL Pulau Menjangan dan KAL Pualau Pasoso
KAL Pulau Menjangan dan KAL Pualau Pasoso 


TNI AL meluncurkan dua kapal patroli lengkap dengan senjata, Kapal Angkat Laut (Kal) Pulau Menjangan dan Kapal Angkatan Laut Pulau Pasoso, di PT Palindo Marine Sagulung, Kamis (19/4/2018).
Kapal patroli ini memiliki panjang 33,26 meter, lebar 6,2 meter dengan kecepatan kondisi muatan penuh 28 knot itu siap digunakan untuk tugas pengamanan laut.
Kapal yang bisa membawa 15 awak kapal ini diluncurkan ke laut dari Pt Palindo Marine Sagulung.
Kedua kapal patroli akan memperkuat pertahanan TNI AL di wilayah Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.
KAL Pulau Menjangan akan ditempatkan di Lanal Semarang, sementara KAL Pualau Pasoso akan ditempatkan di Lanal Palu.
Kedua kapal yang masuk dalam tipe KAL28 itu diresmikan Asisten Logistik Kepala Staff TNI AL Laksamana Muda TNI Mulyadi di galangan kapal PT Palindo Marine di Sei Lekop Sagulung.
Pada kesempatan itu, Mulyadi juga langsung melantik Kapten Laut (P) Fuad Hilmi dan Kapten Laut (P) Mega Yudha Probowo sebagai komandan kapal Pulau Menjagan dan Pulau Pasoso.
"Dengan adanya pelantikan dan peresmian ini, jajaran TNI AL akan semakin mantap dan profesional dalam menjaga keamanan wilayah perairan," ujar Mulyadi.(Ian Pertanian)

22 November 2017

Bakamla RI (Indonesia Coast Guard) Punya Kapal Patroli Terbesar. Panjang Kapal 110 Meter Buatan PT Palindo Marine

Kapal Negara (KN) Tanjung Datu 1101
Kapal Negara (KN) Tanjung Datu 1101 

Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) meluncurkan Kapal Patroli 110 meter dengan nama Kapal Negara (KN) Tanjung Datu 1101, di Galangan Kapal PT Palindo Marine, Sei Binti sagulung, Senin (20/11/2017).
"Peluncuran kapal patroli 110 meter ini merupakan sejarah bagi Indonesia. Agar tidak dipandang sepele oleh dunia luar," kata
disamping itu peluncuran kapal ini menandakan bahwa putra-putri Indonesia mampu bersaing dengan dunia internasional dalam membangun kapal pertahanan,"kata Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Ari Soedewo,yang dibacakan Laksamana Pertama Tugas Eko Santoso Selaku Kabiro sarana dan prasarana (sarpras) Bakamla RI.
Dalam sambutannya Kepala Bakamla RI mengucapkan apresiasi yang seluas-luasnya bagi putra-putri bangsa yang sudah bekerja secara profesional untuk menghadirkan kapal terbesar yang dimiliki Bakamla RI.
Dengan diluncurkannya kapal Patroli Bakamla RI 110 meter, menandakan bahwa Indonesia, mampu mewujudkan mimpi sebagai poros maritim dunia.
"Kapal patroli ini nantinya akan melayani pengawasan diseluruh perairan republik Indonesia,"kata Ari Soedewo.
Kapal Bakamla KN Tanjung Datu 110 meter memiliki lebar 15,50 meter, tinggi dek kapal 6,90 meter dan dilengkapi dengan heli deck yang bisa menahan berat beban sebesar 8 ton.
"Dengan kehadiran kapal patroli Bakamla RI 110 meter ini, maka Bakamla siap melakukan pengawasan diwilayah perairan Indonesia,"kata Ari Soedewo.(Ian)

31 Juli 2017

Tak Lama Lagi Indonesia Produksi Kapal Selam Mini (Midget)

Produksi Kapal Selam Mini (Midget)
Produksi Kapal Selam Mini (Midget) 

Tak lama lagi Indonesia akan memproduksi kapal selam mini. Produksi sendiri akan mulai dilakukan September mendatang.
Kapal selam ini merupakan hasil produksi galangan kapal PT Palindo Marine Shipyard Batam. Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah memesan satu unit untuk menambah alutsista (alat utama sistem pertahanan).
Kehadiran kapal selam mini ini tentu bukan hanya melengkapi keberadaan kapal selam yang sudah dimiliki TNI AL, termasuk KRI Nagapasa-403 atau Changbogo Class yang segera dikirim dari Korea Selatan, tapi juga memiliki posisi penting dalam strategi pertahanan.
Kapal selama mini ini dinilai cocok dengan kondisi perairan Indonesia. Pengamat militer Conny Rahakundini Bakrie mengakui nilai strategis kapal selam mini ini. Menurut dia, kondisi alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) sebagian besar tidak bisa dilalui kapal selam besar. "Pas dengan kondisi Indonesia. Kecil dan lincah. Untuk ALKI barat dan tengah pas menggunakan kapal selam mini karena lautnya tidak terlalu dalam," ujar Conny kemarin.
Diharapkan kapal selam ini menjadi proyek serius termasuk menjadikan kapal selam mini ini memiliki kemampuan stealth. Dengan kemampuan ini, kapal selam mini tidak akan terdeteksi radar.
"Ini juga bisa menjadi pemacu untuk kita mengembangkan energi mini nuklir sebagai bahan bakar karena energi nuklir kan terbarukan," Conny dia.
Rencana ini mengemuka ke publik pada pekan ini setelah Satuan Kapal Selam (Satsel) Hiu Kencana yang bermarkas di Armada Timur Surabaya mengunggah rencana besar tersebut ke media sosial.
Selain Palindo sebagai pabrikan, perancangan kapal juga melibat Balitbang Kementerian Pertahanan, Universitas Indonesia, ITS Surabaya, dan Balai Hidrodinamika- BPPT. Desain kapal selam mini ini sudah dipamerkan pada Indo Denfence 2016. Berdasar informasi yang beredar, kapal selam yang memiliki panjang 22 meter dan lebar 3 meter ini mampu menyelam pada kedalaman 150 meter.
Kecepatan maksimal kapal selam ini mencapai 10 knot. Adapun bobot kapal selam saat menyelam yakni 127,1 ton dan memiliki endurance selama enam hari dan dapat regenerasi udara selama tiga hari. Untuk bodi, kapal selam ini akan menggunakan bahan baja HY-80 22mm. Baja ini berjenis high-tensile alloy steel yang memang biasa digunakan untuk membuat hull atau badan kapal selam.
Untuk material ini, PT Krakatau- Posco sudah diminta untuk memasoknya. Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyebut rencana pembangunan kapal selam mini sebagai bagian upaya memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai dengan minimum essential force (MEF) tahap kedua 2015- 2019.
Kemhan menyebut ini sebagai kapal selam kelas menengah (midget submarine). Namun, kapal selam dengan bobot di bawah 500 ton masih dikategorikan kapal selam mini. "(Pembuatan) belum. Kita beberapa waktu lalu baru saja melihat galangan kapal di Batam, apakah sudah memenuhi standar internasional atau tidak.
Jadi masih menunggu. Ini baru pertama kali (pembuatan kapal selam menengah). Semua luar biasa di Batam," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiarto.
Ini Alasan Indonesia Produksi Kapal Selam Mini
Selain dinilai cocok untuk kondiri perairan Indonesia, produksi kapal selam ini dirasa juga cocok untuk urusan harga. Seperti diberitakan sebelumnya, tak lama lagi Indonesia akan memproduksi kapal selam mini. Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah melakukan pemesanan pada galangan kapal PT Palindo Marine Shipyard Batam selaku produsen.
Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiarto menuturkan, kapal selam midget dipilih karena Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga dibutuhkan kapal selam yang mampu bermanuver dengan baik, terutama di perairan dangkal.
Selain itu, juga terkait keterbatasan anggaran. "Harganya juga lebih terjangkau dan sesuai permintaan TNI AL sebagai user. Kalau kelas kilo, kan kelas besar dan lebih modern," kata dia.
Walaupun dibuat di Tanah Air, teknologi kapal selam tetap mengadopsi teknologi dari sejumlah negara. Secara diplomatis Totok menyebut Indonesia menggunakan banyak alutsista dari berbagai negara dengan teknologi yang berbeda-beda seperti Rusia, Korea Selatan, dan sebagainya. "Kemungkinan paling besar adopsi teknologi dari Korea," ujar Totok.
Dari pihak TNI AL, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Gig Jonias Mozes Sipasulta mengaku belum bisa memaparkan secara detail terkait rencana pembuatan kapal selama jenis itu. Namun, dia mengakui TNI AL membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam untuk menjaga perairan Indonesia yang sangat luas.
"Bukan kapasitas saya menjawab karena semua yang belum ada itu merupakan kebijakan. Kan belum masuk ke jajaran TNI AL," ucap dia.
Keberadaan kapal selam ini saat ini digunakan sejumlah negara. Negara yang dikenal mengoperasikannya adalah Korea Utara dan Iran. Masing-masing diperkirakan memiliki 50 dan 19 kapal selam mini.
Walaupun kecil, keberadaannya cukup strategis karena mempunyai daya tangkal yang kuat. Pengamat angkatan laut Christopher Harmer menyebut Amerika Serikat (AS) menemui kesulitan besar untuk melacak kapal selam mini Iran.
Harmer yang pernah menjabat sebagai direktur Future Operation untuk Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain 2008-2009 itu menjelaskan, kapal selam mini menjadi ancaman karena mampu dengan mudah bergerak di sepanjang Teluk Persia dan Laut Arab. Dengan kemampuan tersebut, kapal selam mini akan dengan mudah menjalankan misi penyergapan atau penyerangan mendadak.
Banyak Kalangan Sambut Baik Produksi Kapal Selam Mini
Banyak Kalangan Sambut Baik Produksi Kapal Selam Mini. Para wakil rakyat yang duduk di Gedung DPR RI menyambut baik inovasi anak bangsa dengan memproduksi kapal selam mini. Secara keseluruhan Indonesia memang belum mempunyai kapal selam yang memadai sebagai alat pertahanan.
"TNI tidak memiliki kapal selam yang baik. Hanya tiga masih perbaikan di PT PAL di Surabaya," kata DPR Syaifullah Tamliha, anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha.
Sementara itu pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati pun memberikan apresiasi terhadap produksi kapal selam ini. Ia juga mengingatkan TNI AL perlu pula membeli antikapal selam untuk menghadapi kapal selam lawan.
"Sistem antikapal selam juga kita butuhkan untuk menghadapi kapal selam lawan. Kapal selam yang kita miliki (Kelas 209) dan kapal selam yang akan kita beli (Kelas Kilo) kita gunakan untuk melawan kapal permukaan lawan dan peluncuran rudal strategik bawah air," tegas dia.
Saat ini Indonesia mengoperasikan dua kapal yakni KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402. Keduanya merupakan kapal selam Type 209/1300 yang diproduksi Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981. Selain dua kapal selam tersebut, Indonesia juga telah membeli tiga kapal selam Changbogo dari Korea Selatan.
Dari dua kapal selam yang diproduksi di Negeri Ginseng tersebut, satu di antaranya segera dikirim ke Tanah Air dan satu lainnya diproduksi di galangan PT PAL dengan skema transfer of technology (ToT). Beberapa waktu lalu Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga mengungkapkan keinginannya mendapatkan kapal selam dari Rusia, Kilo Class. (Sucipto/Tita Anga)

11 Januari 2017

KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, dan KRI Madidihng-855 Diresmikan

KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, dan KRI Madidihng-855
KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, dan KRI Madidihng-855

Bank Mandiri membiayai pembangunan tiga unit kapal patroli cepat TNI AL yang dibangun di Batam dan diresmikan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi di Dermaga Batuampar.
"Total pembiayaan yang disalurkan Bank Mandiri untuk pembangunan tiga unit kapal patroli cepat KRI Tatihu-853, KRI Layaran-854, dan KRI Madidihng-855 sebesar Rp179,765 miliar," kata Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Kartini Slly dalam rilis pada Antara di Batam, Selasa.
Jumlah itu, kata dia, terdiri atas Rp92,564 miliar dalam bentuk kredit modal kerja dan Rp87,201 miliar dalam bentuk Bank Garansi.
Menurut Kartini, dukungan pembiayaan ini merupakan bentuk komitmen Bank Mandiri untuk berperan aktif dalam mengembangkan industri dalam negeri sekaligus mendukung pengamanan wilayah maritim Indonesia.
"Saat ini Indonesia banyak memilik sumber daya manusia yang mampu melakukan rancang bangun alutsista, yang salah satunya di bidang perkapalan. Mudah-mudahan dukungan kami dapat membantu pengembangan aalutsista buatan anak bangsa sekaligus dapat membantu pengembangan industri dalam negeri," kata dia.
Sebelumnya, kata dia, Bank Mandiri juga telah menyalurkan pembiayaan untuk membangun kapal TNI lainnya seperti tujuh unit kapal cepat rudal TNI AL Produksi PT Palindo Marine, yaitu KRI Clurit-641, KRI Kujang-642, KRI Beladau-643, KRI Alamang-644, KRI Surik-645, KRI Siwar-646 dan KRI Parang-647.
Bank Mandiri saat ini juga sedang membiayai pembangunan kapal unuk memenuhi kebutuhan beberapa instansi pemerintah dan militer, antara lain Bakamla dan Badan SAR Nasional.
Penyaluran pembiaayaan untuk pembangunan kapal tersebut, kata dia, merupakan salah satu komitmen Bank Mandiri dalam mendukung pengadaan alutsista.
"Dengan keberhasilan ini, kami dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah mampu membangun dan mengembangkan alutsista secara mandiri di dalam negeri," kata Kartini.
Dalam peresmian kapal pada Selasa pagi, juga dihadiri sejumlah pejabat utama TNI AL, perwakilan Bank Mandiri, Gubernur Kepri.
Sumber : http://www.antaranews.com/

22 Desember 2016

Inilah Alutsista yang Sudah Diproduksi Massal Indonesia

Indonesia patut berbangga sejumlah alat utama sistem senjata pertahanan telah mampu dibuat sendiri oleh putra-putri Indonesia di dalam negeri. Soal kualitas tak kalah dengan buatan dari luar negeri bahkan beberapa produk Alutsista telah mampu diekspor ke berbagai negara sehingga menghasilkan devisa. Berikut ini beberapa Alutsista yang sudah diproduksi massal oleh Indonesia:
1. Anoa 6x6 PT. Pindad
Panser Anoa 6x6 adalah kendaraan pengangkut pasukan APC 6x6 buatan Pindad. Anoa sudah diakui ketangguhannya, terbukti PBB yang diawaki pasukan Garuda (Konga) Indonesia menggunakannya dalam misi perdamaian di Lebanon dan Sudan. Varian dasar Anoa dilengkapi dengan senapan mesin 12,7 mm dan peluncur granat 40 mm.
Anoa 6x6 

2. Senapan Serbu PT. Pindad
Senapan Serbu SS2 Subsonic V-7, Senapan Serbu SS3, Senapan Serbu SS2 Subsonic, PM3, dan Pistol G2 Premium, buatan PT Pindad. Senapan SS2 V4 Heavy Berrel digunakan pasukan Indonesia pada saat menyabet juara umum dalam kompetisi Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM), di Puckapunyal, Australia, pada 20-23 Mei 2015.
Senapan SS2 V4 Heavy Berrel

3. Rantis Komodo 4x4 PT. Pindad
Kendaraan tempur taktis Komodo 6x6 buatan Pindad dapat broperasi sebagai pengangkut pasukan, kendaraan tempur yang dipersenjatai dengan peluncur rudal permukaan ke udara atau juga peluncur rudal anti tank, kendaraan komando, dan juga sebagai ambulans untuk mengevakuasi pasukan yang luka.
Rantis Komodo 4x4 

4. LPD Banda Aceh class PT. PAL
KRI Banda Aceh-593 adalah kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) yang dibangun oleh PT PAL Surabaya. Kapal LPD ini mampu mengangkut 344 personel, 5 helikopter, 2 LCVP, 3 howitzer, dan 21 tank. KRI Banda Aceh-593 dilengkapi dengan meriam 40 mm dan 20 mm.
LPD Banda Aceh class

5. PKR 10514 PT. PAL
PT PAL bekerja sama dengan dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda membangun Kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal yang panjangnya 105 meter lebar 14 meter ini lebih familiar dinamakan PKR 10514. PT PAL saat ini telah menyelesaikan KRI R.E. Martadinata-331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 di Galangan Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia dan akan diserahterimakan pada Kemhan untuk TNI AL setelah sistem persenjataannya dipasang.
PKR 10514

6. KCR-60 PT. PAL
PT PAL juga telah membangun tiga Kapal Cepat Rudal sepanjang 60 meter (KCR-60). Kapal cepat ini mampu membawa empat rudal permukaan ke permukaan C-705 buatan China. Selain KCR-60, tak ketinggalan galangan kapal swasta nasional juga membangun KCR 40, yang mampu membawa dua rudal C-705.
 KCR-60

7. CN-235-220 MPA PTDI
PT Dirgantara Indonesia juga telah memproduksi pesawat sayap tetap untuk TNI AL sebagai pesawat patroli maritim menjaga kedaulatan laut Indonesia. Pesawat CN-235 yang kala itu pembuatannya bekerjasama dengan CASA Spanyol (kini Airbus Military) sudah sangat mendunia dipakai oleh berbagai negara. Bahkan Amerika Serikat memakainya sebagai pesawat Coast Guard. (Herru Sustiana)
CN-235-220 MPA 

Sumber : TSM

29 November 2016

Proyek Kapal Selam Mini (Midget) akan Dimulai 2017

Proyek Kapal Selam Mini
Proyek Kapal Selam Mini

Di sela-sela pameran Indo Defence 2016 penulis sempat mendatangi dan berbincang-bincang dengan beberapa pihak yang akan terlibat dalam Proyek Kapal Selam Mini. Proyek ini akan memakan waktu tiga tahun dan sedapat mungkin akan menggunakan komponen dari dalam negeri.
Proyek kapal selam mini dengan biaya berkisar Rp 200 - 300 milyar ini akan dilakukan selama tiga tahun (2017-2019), pada tahun 2017 akan dibangun badan bagian tengah (mid body), sedangkan pada tahun 2018 dibangun bagian ujung depan dan belakang (edge body), tahun 2019 kapal selam ini sudah utuh dan akan mengalami pengujian berlayar dan menyelam untuk memperoleh sertifikasi kelaikan.
Pembuatan kapal selam ini merupakan kerja keroyokan dari Balitbang Kementerian Pertahanan bersama dengan Palindo Marine, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan Balai Teknologi Hidrodinamika-BPPT. Balitbang Kemhan merupakan pihak yang memprakarsai dan menyiapkan anggaran, Palindo Marine adalah galangan yang akan membuat kapal selam ini. ITS yang membuat detail desain dari konsep kapal selam 22m, UI yang membuat welding procedure dan melakukan tes, sedangkan BPPT yang akan menguji kapal selam ini.
Kapal dengan panjang 22m dan lebar 3m ini dirancang untuk sanggup menyelam hingga kedalaman 150m, kecepatan maksimal di air adalah 10 knot, baik ketika sedang menyelam atau di permukaan air. Kapal mempunyai endurance selama 6 hari, kapal dapat melaksanakan regenerasi udara selama 3 hari tanpa melakukan snorkeling. Berat total kapal saat menyelam adalah 127,1 ton.
Untuk mengawaki kapal selam ini cukup dibutuhkan 5 orang saja. Kapal juga masih dapat menampung 7 hingga 9 orang penyelam untuk dapat melakukan operasi khusus berupa penyusupan.
Badan kapal selam akan menggunakan bahan baja HY-80 22mm, ini merupakan jenis high-tensile alloy steel yang biasa digunakan untuk membuat badan (hull) kapal selam. Khusus untuk bahan baja ini akan minta kesediaan PT. Krakatau-Posco (joint venture antara PT Krakatau Steel dan Posco Korea) untuk memasoknya.
Kapal selam ini akan menggunakan baling-baling tunggal berbilah tujuh berjenis high screw propeller, juga akan dilengkapi dengan 2 buah thruster sebagai secondary propeller. 1 thruster diletakkan di depan (bawah bodi), dan satu lagi di belakang (atas bodi). Belum ada info untuk pabrikan lokal yang sanggup memasok propeller ini.
Untuk peralatan periskop dan optronics masih dikaji jenis non-hull penetrating optronics periscopes (periskop yang tidak perlu melubangi bodi). Sementara ini yang dikaji adalah produk buatan Prancis, namun peluang terbuka bila PT Len sanggup untuk membuatnya.
Desain asli kapal selam ini adalah tanpa persenjataan, namun pihak calon pengguna yang dalam hal ini adalah TNI AL menginginkan kapal selam ini dilengkapi dengan 2 torpedo. Mengingat bagian dalam kapal yang sudah penuh maka torpedo akan diletakkan di luar bodi, jenis yang dipilih adalah 2 torpedo ringan. Posisi torpedo di luar bodi adalah umum digunakan untuk desain kapal selam mini.
Untuk mission system baik Len maupun Infoglobal menyatakan sanggup untuk memasok 4 peralatan utama kapal selam ini yaitu : inertial navigation unit, sistem deteksi, torpedo control system, dan combat management system.
Sperti halnya kapal selam tipe diesel elektrik pada umumnya, komponen penggerak kapal selam ini memerlukan generator diesel, elektrik motor dan baterai. Untuk generator diesel dan elektrik motor direncanakan masih import.
Untuk baterai kapal selam ini tidak perlu import, karena pabrikan lokal yaitu PT Garda Persada sanggup untuk memasoknya. Perusahaan ini merupakan perusahaan anak dari PT Nipress Tbk. Perusahaan masih menimbang untuk menggunakan baterai jenis Lithium atau Lead Acid, karena dari sisi teknologi keduanya memungkinkan, hanya tinggal masalah ukuran ruangan yang tersedia.
Sumber : Defense Studies

23 Juni 2016

Uji Coba Alutsista oleh Balitbang Kemhan

Pada bulan Mei 2016, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Balitbang Kemhan) telah melaksanakan serangkaian uji coba alutsista yang bekerja-sama dengan pabrikan dalam negeri.
1. PT. Palindo Marine Shipyard : Prototipe Combat Boat
Prototipe Combat Boat adalah kapal patroli cepat (PRC) yang dirancang mempunyai kecepatan 50 Knot, kerja sama Balitbang Kemhan dengan PT Palindo Marine Shipyard dan PT Len Industri (Persero). Combat Boat ini digunakan untuk mendukung tugas-tugas di pangkalan TNI-AL dalam rangka melaksanakan tugas patroli keamanan laut.
Prototipe Combat Boat
Prototipe Combat Boat

2. PT. Robo Marine Indonesia : Prototipe Kapal Selam Tanpa Awak (KSTA)
Litbang pembuatan prototipe Wahana Bawah Air/Kapal Selam Tanpa Awak (KSTA) kerja sama dengan PT Robo Marine Indonesia diharapkan mampu beroperasi di laut dalam, operasionalnya di bidang intelijen maritim. Prototipe KSTA ini digunakan sebagai wahana survai untuk mendeteksi obyek bawah air maupun keperluan SAR di laut.
Kapal Selam Tanpa Awak
Kapal Selam Tanpa Awak

3. PT. Sari Bahari : Tim Uji Coba Rudal Petir
Pembuatan prototipe Rudal Petir di dalam negeri bekerja sama dengan PT Sari Bahari dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri (import).
prototipe Rudal Petir
Prototipe Rudal Petir

4. PT. Dirgantara Indonesia : Uji Coba Prototipe Peluncur Roket Pada Kapal Patroli Cepat 28 Meter
Prototipe peluncur roket digunakan untuk menembakkan roket 70 mm jenis MK 4 dengan jarak tembak 6 Km, MK 66 dengan jarak tembak 10 Km, hasil kerja sama dengan PT DI (Persero). Peluncur roket 70 mm telah dilaksanakan uji dinamis di Pameungpeuk, Garut.
Prototipe Peluncur Roket
Prototipe Peluncur Roket

5.Uji Terbang Penyempurnaan Roket R-Han 122B
Balitbang Kemhan melaksanakan uji terbang penyempurnaan Roket R-Han 122B pada tanggal 17 Oktober 2015 di Pamengpeuk - Garut, Jawa Barat.
Uji Terbang Roket R-Han 122B
Uji Terbang Roket R-Han 122B 

Sumber : http://balitbang.kemhan.go.id/?p=Foto&id=126

19 Juni 2016

4 Kapal Patroli Buatan PT Palindo Marine Batam Diserahkan ke TNI AL

Kapal Patroli Buatan PT Palindo Marine
Kapal Patroli Buatan PT Palindo Marine

PT Palindo Marine telah merampungkan pembangunan empat kapal patroli pesanan TNI AL. Keempat kapal tersebut akan digunakan oleh jajaran Komando Armada Wilayah Timur (Koarmatim) untuk pengamanan wilayah laut.
Serah terima kapal tersebut dilakukan di komplek PT Palindo Marine, Sagulung, Batam, Kamis (16/6/2016).
“Harapan saya agar hasil karya putra putri bangsa akan terus mendapat kepercayaan dari pemerintah dan TNI AL untuk pembangunan kapal kapal patroli,” kata Direktur PT Palindo Marine Batam, Charles Wirawan.
Dalam kesempatan itu Charles mengatakan, proyek empat kapal patroli tersebut dikerjakan bersama PT Karimun Anugerah Sejati. Ini merupakan proyek yang kesekian kalinya yang dikerjakan PT Palindo Marine.
Dia berharap, pemerintah terus berkomitmen memprioritaskan galangan kapal dalam negeri dalam setiap proyek pengadaan kapal. Khususnya galangan kapal di Batam. Ini sebagai wujud nyata upaya pemerintah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Charles menambahkan, kualitas produk galangan kapal di Batam tak kalah jika dibandingkan dengan daerah lain, bahkan dibandingkan dengan luar negeri. Khususnya di Palindo Marine, kapal-kapal yang dihasilkan merupakan kapal berkelas dunia.
“Galangan kapal dalam negeri, khususnya Batam, sudah mampu bersaing dengan negara lain,” katanya.
Penyerahan empat kapal patroli TNI AL kemarin langsung diterima oleh Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Mulyadi. Selain menyerahkan kapal, Mulyadi turut mengukuhkan Komandan Pertama masing-masing kapal.
Keempat kapal tersebut terdiri dari KAL Bawean, KAL Kelambau, KAL Wayag, dan KAL Tidore.
Mulyadi mengatakan, penambahan dan penyerahan kapal tersebut dapat secara langsung menambah unsur kekuatan TNI.
“Dengan pengamanan ini secara langsung menambah kekuatan TNI. Termasuk menjaga kemanan perairan Indonesia,” ujar Mulyadi.
Mulyadi menjelaskan, pengadaan kapal tersebut menggunakan anggaran APBN melalui Dinas Material Angkatan Laut. Hal ini bagian rencana strategis (renstra) TNI Angkatan Laut dalam upaya mewujudkan kekuatan Pokok Minimum TNI Angkatan Laut Tahun 2010 sampai dengan 2024.
“Semoga ke depannya kita bisa menambah kapal patroli dengan kerjasama yang baik,” tutupnya.
Sumber : http://batampos.co.id/2016/06/17/4-kapal-kelas-dunia-buatan-batam-diserahkan-ke-tni-al/

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU