Radar Militer: PT DI
Tampilkan postingan dengan label PT DI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT DI. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2021

Menhan Serahkan Pesawat CN235-220 Buatan PT DI ke AU Senegal

radarmiliter.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menyerahkan pesawat karya anak bangsa CN235-220 MPA ke Angkatan Udara Republik Senegal dari Hanggar Fixed Wing PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PT DI, Bandung, Jawa Barat Kamis (18/3/2021).
Prabowo mengatakan, penyerahan ini patut dibanggakan karena ini merupakan pesawat ketiga yang dibeli Senegal.
"PT DI adalah kebanggaan bagi Indonesia. PT DI adalah harapan bangsa Indonesia, kita sangat membutuhkan teknologi kedirgantaraan, aerospace industry. Ini adalah industri masa depan. Industri yang paling sulit dan yang paling canggih," ujar Prabowo dalam keterangan tertulis, Kamis (18/3/2021).
CN235-220 MPA senegal
CN235-220 MPA senegal
Prabowo mengatakan, PT DI sebenarnya pernah jadi pelopor dalam kebangkitan industri Indonesia pada dekade 90-an. Tetapi, akibat dinamika politik dunia saat itu, arah pengembangan PT DI mengalami rintangan.
Namun demikian, kata Prabowo, kondisi saat ini patut disyukuri karena tantangan selama 20 tahun terakhir ini membuat PT DI berhasil bertahan. Bahkan, PT DI berhasil untuk menjual produk pesawat dan helikopternya.
Karena itu, Kementerian Pertahanan bertekad agar PT DI dapat bangkit kembali ke tempat semula.
"Presiden telah menginstruksikan Kementerian Pertahanan untuk mendorong PT DI dan industri pertahanan lainnya. Untuk bersungguh-sungguh mendukung agar PT DI bisa mengambil tempat sebagai pelopor kembali di Asia Tenggara bahkan Asia," tegas Prabowo.
Sementara itu, Chief of Air Force of Senegal Papa Souleymane SARR mengungkapkan, bahwa Republik Senegal telah menggunakan pesawat produksi PT DI selama 10 tahun.
Menurutnya, CN235-220 MPA salah satu yang spesial karena digunakan sebagai patrol airplane, berbeda dengan dua pesawat sebelumnya.
"Kami berharap mendapatkan kepuasan yang sama dengan yang dua pesawat sebelumnya," kata Souleymane.
Souleymane menambahkan, kerja sama Senegal dan Indonesia selama ini telah terjalin sangat baik karena terdapat kesamaan kultur antara kedua negara.
Untuk itu, Senegal terus berupaya mencari peluang terbaik untuk bertukar pengalaman dan kerja sama di kemudian hari dengan Indonesia.(Achmad Nasrudin Yahya)
Sumber : https://www.kompas.com/

11 Maret 2021

Dilengkapi Senjata, Drone Elang Hitam Ditargetkan Produksi Massal Tahun Depan

radarmiliter.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan produksi massal drone Elang Hitam tahun depan. Pesawat nirawak itu bakal dipersenjatai untuk mengamankan kedaulatan Indonesia.
’’Secara khusus tahun ini kita dapat amanah menerbangkan drone Elang Hitam,’’ kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam rangkaian rapat kerja nasional (rakernas) BPPT di Jakarta kemarin (8/3).
Elang Hitam dirancang untuk keperluan militer. Setelah dipersenjatai, pada tahapan selanjutnya akan diurus sertifikat tipe supaya bisa masuk ke tahapan produksi massal. Hammam mengatakan, jika semua lancar, drone Elang Hitam bisa diproduksi massal tahun depan.
Mockup Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam digarap keroyokan. Selain BPPT, ada keterlibatan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Selain itu, ada keterlibatan TNI-AU, ITB, PT Len Industri, dan lainnya.
Hammam berharap uji terbang drone Elang Hitam dapat berjalan lancar. “Insya Allah terbang perdana dahulu di Oktober (tahun ini) atau lebih cepat,” jelasnya.
Setelah itu, tim akan mulai menjalani rangkaian uji terbang serta type certificate oleh Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA). Kabar soal drone Elang Hitam sempat mencuat Desember 2019 lalu.
Melalui kegiatan roll-out di hanggar PT DI, untuk kali pertama drone Elang Hitam diperkenalkan ke masyarakat. Penampakannya terlihat bongsor. Sebab, panjangnya mencapai 8,3 meter dengan bentang sayap 16 meteran.
Saat itu Hammam menuturkan bahwa drone tersebut merupakan salah satu inovasi dalam negeri di bidang pertahanan. Drone itu diyakini mampu terbang tanpa henti atau nonstop selama 24 jam. Kemudian juga dilengkapi dengan pengendalian multiple unmanned aerial vehicle secara bersamaan.
Sementara itu, rakernas BPPT dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, tanpa penguasaan dan pemanfaatan teknologi secara bijak, kekayaan tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi rakyat di masa revolusi industri keempat saat ini.

04 Maret 2021

Proyek KF-X Tidak Akan Terganggu Bahkan Jika Indonesia Keluar

radarmiliter.com - Facebook page  yang biasa memposting berita seputar perkembangan militer Korea Selatan, pada hari Kamis (04/03) memposting berita mengenai prospek proyek KF-X ditengah dugaan bahwa Indonesia akan keluar dari proyek tersebut. Sebagian besar berita tersebut dikutip dari media Korea Selatan NewsPim dihari yang sama. Berikut isi postingan tersebut.
Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyatakan bahwa program KF-X tidak akan terpengaruh jika Indonesia keluar dari program tersebut.
Proyek Jet Tempur KF-X
Proyek Jet Tempur KF-X

Pemerintah Indonesia berkewajiban untuk membayar 20% bagiannya dari program KF-X, tetapi telah gagal melakukan pembayaran sejak Januari 2019. Indonesia saat ini telah membayar sekitar $ 201,4 juta dari komitmennya sebesar $ 1,51 miliar.
Indonesia baru-baru ini mengumumkan keinginannya untuk membeli pesawat tempur F-15EX atau Rafale, tetapi pemerintah Korea Selatan mengklarifikasi bahwa tidak ada hubungan langsung antara partisipasi Indonesia di KF-X dan keinginan Indonesia membeli pesawat lain. Keinginan Indonesia untuk mengakuisisi pesawat baru seperti F-15EX dan Rafale tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak Indonesia, sedangkan KF-X untuk kebutuhan jangka panjang.
Meski demikian, pemerintah Korea menambahkan bahwa apabila Indonesia keluar dari program KF-X, hal tersebut tidak akan berdampak negatif.
  1. Telah dikonfirmasi secara resmi bahwa apabila Indonesia keluar, hal tidak akan mempengaruhi proyeksi biaya unit KF-X saat ini, yang dihitung berdasarkan 120 pesawat yang pada awalnya dipesan oleh Angkatan Udara Korea Selatan. Itu belum termasuk 48 pesawat yang dipesan Indonesia.
  2. Indonesia tidak dapat mengklaim kembali dana sebesar $ 201,4 juta yang telah dibayarkan kepada Korea Selatan jika keluar dari program. Sesuai perjanjian bilateral, jika Indonesia melewatkan lebih dari dua pembayaran, Indonesia tidak berhak atas dana yang telah dibayarkan sebelumnya.
  3. Menurut narasumber orang dalam (terpisah dari pemberitaan ini), beberapa komponen KF-X yang semula dimaksudkan untuk diproduksi di Indonesia telah disiapkan untuk diproduksi di Korea Selatan. Ini dilaporkan mulai dilakukan setelah Indonesia mulai menunda pembayaran. Dengan demikian, tidak akan ada penundaan produksi KF-X jika Indonesia keluar.
  4. Namun, akan bermanfaat bagi hubungan bilateral kedua negara dan bagi biaya program secara keseluruhan jika Indonesia tetap berada dalam program KF-X. Namun, pemerintah Korea Selatan tidak akan menekan Indonesia karena program KF-X akan terus berjalan lancar dengan atau tanpa keterlibatan Indonesia. Indonesia akan memperoleh keuntungan semakin sedikit jika semakin lama melakukan penundaan pembayaran.(Angga Saja)
Sumber : ROKArmedForces

03 Maret 2021

Lapan : Pesawat N219 Diproduksi Mulai Tahun Ini

radarmiliter.com - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan PT Dirgantara Indonesia (DI) siap memproduksi pesawat N219 Nurtanio mulai 2021.
"Pesawat N219 yang sudah mendapat Type Certificate siap diproduksi oleh PT DI. Tahun ini mulai memenuhi pesanan Pemerintah Provinsi Aceh," kata Thomas pada Sabtu 20 Februari 2021. Pemerintah Aceh memesan lima pesawat N219.
Pesawat N219 Nurtanio
Pesawat N219 Nurtanio
Pesawat yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden RI Joko Widodo pada 10 November 2017 itu merupakan pesawat karya anak bangsa hasil kerja sama antara Lapan dan PT DI.
Pesawat N219 dapat difungsikan untuk mengangkut penumpang sipil, angkutan militer, angkutan barang atau kargo, evakuasi medis, hingga bantuan saat bencana alam. Pesawat N219 mendapatkan Type Certificate untuk kelaikan udara setelah melakukan penerbangan selama 340 jam.
Pesawat N219 bisa terbang dengan kecepatan maksimum 210 knot, dan kecepatan terendah hingga 59 knot. Dengan kemampuan itu, Pesawat N219 dapat bergerak dengan fleksibel saat melalui wilayah tebing dan pegunungan karena dapat terbang dengan kecepatan cukup rendah tapi terkendali.
Pesawat N219 didesain sesuai kebutuhan masyarakat terutama di wilayah perintis sehingga memiliki kemampuan short take of landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground.
Pesawat N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear atau tidak dapat dimasukkan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan bebatuan.

26 Februari 2021

IDEX 2021 UEA: PT Pindad Ikut Serta pada Ajang IDEX 2021 di UEA

radarmiliter.com - PT Pindad (Persero) bersama dengan 3 industri pertahanan Indonesia, yaitu PT Len Industri, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia kembali mengikuti International Defence Exhibition (IDEX) yang diselenggarakan pada tanggal 21 - 25 Februari 2021 di Abu Dhabi National Defence Exhibition (ADNEC), Uni Arab Emirate. Direktur Bisnis Produk Hankam PT Pindad (Persero), Wijil Jadmiko, Direktur Strategi Bisnis, Syaifuddin; VP Pengembangan Bisnis, Yayat Ruyat dan Account Manager Ekspor, Risen Delta menjadi delegasi Pindad. Pameran internasional bergengsi ini menghadirkan 900 perusahaan dari 59 negara.

Indonesia Defence Industries
Indonesia Defence Industries

Di dalam pameran tersebut, Kementerian Pertahanan RI membentuk Paviliun Indonesia yang didalamnya terdiri dari BUMN industri pertahanan seperti PT Pindad (Persero), PT Len Industri (Persero), PT PAL (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) serta beberapa perusahaan industri pertahanan swasta. Keikutsertaan perusahaan industri pertahanan Indonesia di IDEX merupakan salah satu tahap awal untuk dapat berperan aktif dalam rantai pasok global berkaitan dengan produk pertahanan.
IDEX adalah satu-satunya pameran dan konferensi pertahanan internasional di kawasan MENA yang mendemonstrasikan teknologi terbaru di sektor pertahanan darat, laut, dan udara. IDEX merupakan platform yang unik untuk membangun dan memperkuat hubungan dengan departemen pemerintah, bisnis, dan angkatan bersenjata di seluruh wilayah.
IDEX diadakan dibawah izin Presiden UAE, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. IDEX menampilkan perkembangan dalam sektor pertahanan seperti perkembangan teknologi militer, produk inovasi dan pengembangan pertahanan nasional. Dan saat ini, IDEX telah berkontribusi dalam perkembangan industri pertahanan baik industri lokal maupun internasional.
Dalam IDEX tahun ini, Pindad kembali memperkenalkan berbagai produk pertahanan andalan. Salah satunya senjata SS2 V5 A1, SPR-2, juga kendaraan tempur medium tank Harimau, Anoa dan Komodo. Pelaksanaan IDEX tetap dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19, mulai dari wajib menggunakan masker hingga tersedianya fasilitas untuk tes PCR di beberapa titik. (Sustiana Herru)
Sumber : pindad.com

11 Agustus 2020

PT DI Sebut Pasar Industri Dirgantara Masih Terbuka Lebar

radarmiliter.com - PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI melihat masih banyak peluang bagi pasar industri dirgantara di Indonesia. Direktur Utama PTDI Elfien Guntoro mengatakan masih banyak peluang pasar di dalam negeri mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.
Menurut dia, negara kepulauan membutuhkan transportasi melalui moda transportasi laut dan udara. "Kalau menurut data dari Pricewaterhouse Coopers (PwC), kita melihat terdapat sekitar lebih dari 4.000 rute penerbangan pengumpan atau spoke to spoke namun yang terisi baru 529 rute dengan 223 rute di antaranya masih banyak yang utilisasi load factor-nya rendah," ujar Elfien dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (7/8).
Pesawat Produksi PT Dirgantara Indonesia
Pesawat Produksi PT Dirgantara Indonesia 
Dia yakin produk-produk pesawat PTDI seperti pesawat NC212 maupun CN-235 maupun nanti N245 sangat kompetitif untuk mengisi rute penerbangan spoke to spoke tersebut.
"Selain itu bisnis yang bisa juga kita tingkatkan yakni bisnis perawatan dan perbaikan atau maintenance, repair, and overhaul (MRO)," kata dia.
Elfien menyampaikan MRO ini perlu ditingkatkan karena ini satu-satunya yang bisa recurring income sehingga bisnis MRO sangat bagus bagi PTDI. (Dwi Murdaningsih)

Menristek: Drone Tempur Elang Hitam Mulai Terbang Januari 2021

radarmiliter.com - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) Elang Hitam untuk kombatan akan mulai terbang pada Januari 2021.
Dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, Menristek mengatakan pesawat itu telah mendapatkan Sertifikat Tipe dari Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA).
 Drone Tempur Elang Hitam
 Drone Tempur Elang Hitam  
"Hasil pengembangan akan diproduksi oleh PT DI (Dirgantara Indonesia) dengan target penerbangan atau first flight bulan Januari 2021," ujarnya dalam acara Peringatan Hakteknas ke-25 yang ditayangkan dalam jaringan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2020.
Sebagai upaya kemandirian teknologi pertahanan nasional, drone tempur Elang Hitam yang berkemampuan terbang selama 24 jam akan dilengkapi dengan senjata hasil produksi PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat itu merupakan hasil konsorsium Kemristek/BRIN dan Kemhan (Kementerian Pertahanan) yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
PUNA MALE Kombatan memiliki kemampuan terbang selama 24 jam dan berfungsi dalam sistem pertahanan maritim sebagai penginderaan, pemantauan, pengawasan, pengintaian dan intelijen (P4I), serta penindakan terhadap ancaman maritim.
Empat dari 49 Prioritas Riset Nasional yang telah dikembangkan oleh Kemristek/BRIN dan dalam proses masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional, yaitu Katalis Merah Putih, Garam Industri Terintegrasi, PUNA MALE Kombatan, dan Pesawat N219A. (Antara)(Sustiana Herru-TSM)

18 Juli 2020

Teknisi PTDI akan Kembali Bergabung pada Proyek KF-X

radarmiliter.com - Teknisi dari perusahaan dirgantara Indonesia PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan segera bergabung kembali dengan rekan-rekannya dari Korea Aerospace Industries (KAI) untuk melakukan pekerjaan mengembangkan pesawat tempur multirole Korean Fighter eXperimental (KF-X).
Teknisi PTDI pada proyek KF-X, yang dikenal sebagai KF-X/IF-X di Indonesia, kembali ke Indonesia dari Korea Selatan pada bulan Maret ketika epidemi Covid-19 mencapai puncaknya di negara Asia Timur Laut. Sebuah narasumber industri telah mengkonfirmasi kepada Janes bahwa teknisi ini sekarang "sedang bersiap-siap untuk dipekerjakan kembali".
Korean Fighter eXperimental (KF-X)
Korean Fighter eXperimental (KF-X) 
Diketahui bahwa pada akhir 2019 jumlah total teknisi PTDI pada proyek KF-X di Korea Selatan adalah sekitar 100, dengan pekerjaan mereka terutama difokuskan pada desain pesawat dan proses pembuatan. Penugasan kembali mereka akan tetap menerapkan persyaratan untuk social distancing dan pedoman terkait Covid-19 lainnya.
Langkah untuk melibatkan kembali teknisi PTDI dalam proyek ini datang dengan latar belakang kemajuan pengembangan prototipe KF-X tetapi juga terus menunda upaya untuk mencapai kompromi pada ruang lingkup partisipasi finansial Indonesia dalam program ini. Faktor lain yang dapat berdampak pada keterlibatan Indonesia adalah beberapa kekhawatiran di Jakarta tentang nilai strategis keterlibatannya.
KAI telah mengkonfirmasi bahwa perakitan prototipe KF-X pertama dijadwalkan akan selesai pada paruh kedua tahun 2020, dengan tujuan untuk melakukan roll out pesawat pada bulan April 2021. Jadwal mengkonfirmasi bahwa program KF-X belum terpengaruh oleh Covid-19 dan berada di jalur untuk memulai produksi massal pada pertengahan 2020-an.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

28 Juni 2020

Service Life Extension Program (SLEP) CN-235 AU Malaysia

radarmiliter.com - Menyusul penandatanganan kontrak antara Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) dan Dirgantara Indonesia (PTDI / Aerospace Indonesia) dalam pameran Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA) 2017, ketujuh pesawat angkut taktis CN-235-220M dan pesawat angkut VIP CN-235-100M AU Malaysia akan menjalani Service Life Extension Program (SLEP) yang akan memperpanjang umur pesawat buatan Indonesia itu hingga 15 tahun lagi.
CN-235 AU Malaysia
CN-235 AU Malaysia 
Inti dari program life extension tersebut adalah pekerjaan rewiring dari pesawat batch pertama CN-235. Sejak 1999, RMAF memiliki enam CN-235-220M. Varian 220M berbeda sedikit dengan varian 100M terutama pada radome yang berbeda yang dipasangkan pada varian 220M.
Setelah 20 tahun, ada kebutuhan besar dalam hal keselamatan penerbangan untuk mengganti sistem wiring (perkabelan) serta untuk memastikan bahwa sistem kelistrikan pesawat selalu andal. Rewiring juga akan memastikan kesiapan armada yang tinggi karena downtime perbaikan telah dihilangkan.
Pekerjaan rewiring telah dimulai pada 22 Oktober 2018 yang melibatkan pesawat demonstrasi teknologi, sebuah CN-235-220M dari No 1 Skn dengan nomor seri M44-05. Serah terima pesawat selama LIMA 2019 menandai berakhirnya Tahap 1 dari pekerjaan rewiring yang melibatkan tim mobile dari PTDI dan tujuh belas teknisi pesawat On the Job dari No 1 Skn.
Fase 2 telah dimulai dengan M44-03 yang diperbaiki oleh teknisi dari Skn No. 1 di bawah pengawasan ketat oleh tim PTDI. Fase 3 hanya akan melibatkan personil dari No 1 Skn.
Sebagai hasilnya, pekerjaan SLEP di fasilitas PTDI di Bandung hanya akan mencakup Structure Inspection, Rewiring/Harnesses, dan Replacement of Obsolescence Equipment. Pekerjaan ini juga mencakup bahan bakar, mesin, dan sistem avionik pesawat.
Menurut rencana awal, tiga CN-235 akan menjalani SLEP pada 2019 dan empat pesawat lagi pada 2020. Dua pesawat yang direncanakan untuk terbang ke Bandung akhir tahun ini akan dilengkapi dengan sistem pengawasan maritim Merlin yang dikembangkan oleh Integrated Surveillance and Defense, Inc (ISD).
Peralatan misi Merlin mencakup radar pengawasan maritim, turret sensor elektro-optik (EO), dan sistem electronic support measures (ESM).
Namun tidak diketahui apakah wabah coronavirus telah mempengaruhi program SLEP CN-235 AU Malaysia, tetapi foto CN-235 AU Malaysia yang diidentifikasi bernomor register M45-03 telah beredar di Twitter pada 16 Juni lalu, terlihat tengah berada di fasilitas PTDI di Bandung.(Angga Saja-TSM)

12 Juni 2020

Teknisi Indonesia yang Berpartisipasi dalam Pengembangan KF-X Telah Kembali ke Indonesia pada Bulan Maret

radarmiliter.com - Telah dikonfirmasikan bahwa lebih dari 100 teknisi Indonesia yang mengambil bagian dalam proyek jet tempur generasi baru bilateral di Korea Selatan telah kembali ke Indonesia pada bulan Maret ketika wabah virus corona menyebar di negara tersebut.
Menurut Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea (DAPA) dan Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta, sekitar 114 teknisi yang bekerja sejak 2016 di fasilitas Korea Aerospace Industries di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan telah meninggalkan Korea Selatan pada minggu pertama bulan Maret karena masalah wabah virus.
KFX
KFX 
Masih belum jelas kapan para teknisi Indonesia akan kembali ke Korea Selatan.
Disebut-sebut bahwa Indonesia menarik teknisi-nya menyusul berita bahwa Jakarta telah gagal membayar lebih dari 500 miliar won (418,62 juta dollar) biaya pengembangan untuk proyek pesawat tempur tersebut.
Ini memicu spekulasi bahwa Indonesia kurang memiliki komitmen terhadap proyek tersebut dan mungkin mencoba mengurangi bagian dari biaya yang seharusnya ditanggung.
Namun Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea tetap berhati-hati, dengan mengatakan bahwa Presiden Indonesia Joko Widodo telah menyatakan tekadnya untuk terus mengambil bagian dalam proyek tersebut dalam pembicaraan puncak Indonesia-Korea Selatan pada 2018 dan 2019.(Angga Saja-TSM)
Sumber : world.kbs.co.kr

09 Juni 2020

Pilot Penguji PT DI, KASAU : Mereka Aset Penting TNI AU

radarmiliter.com - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P., menegaskan, keberadaan para pilot penguji pesawat baru (experimental test pilot) TNI AU yang ditugaskan di PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) merupakan aset penting dan berharga bagi TNI AU.
Pilot Penguji PT DI
Pilot Penguji PT DI 
Selain dibutuhkan serangkaian pendidikan yang panjang dan tidak ringan, mencetak prajurit berkualifikasi pilot penguji juga perlu biaya yang tidak sedikit. Saat ini, di TNI AU hanya ada empat bahkan di Indonesia jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Penegasan tersebut disampaikan Kasau saat menerima tiga pilot penguji TNI AU di Mabesau, Cilangkap, Jakarta beberapa waktu lalu.
“Saya bangga dan mengapresiasi para pilot penguji yang sedang bertugas di PTDI. Kalian adalah aset penting TNI AU,” ujar Kasau.
Ketiga pilot penguji tersebut, masing-masing Letkol Pnb Muhammad Sugiyanto, S.T., Letkol Pnb Ferrel Rigonald, S.T., MMOAS, dan Letkol Pnb Ig. Widi Nugroho, S.T., MMDS.
Kasau yang didampingi Kadisopslatau Marsma TNI Kusworo, meminta agar pengalaman dan pengetahuan para pilot penguji terus dikembangkan demi kemajuan TNI AU.
Ketiga pilot penguji tersebut saat ini sedang ditugaskan untuk menguji kelaikan pesawat N219 buatan PTDI dalam rangka proses sertifikasi.(Dispen)

04 Juni 2020

Drone Tempur Elang Hitam Buatan Indonesia Bakal Jadi 'CCTV' Terbang

radarmiliter.com - Pengembangan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau drone tempur jadi pilihan Presiden Jokowi. Program drone akhirnya menggantikan dukungan pemerintah dalam pengembangan pesawat baling-baling R80 yang digagas BJ Habibie dalam program strategis 2020-2024.
Pengembangan PUNA atau drone Elang Hitam Kombatan, Elang Hitam (EH-4) dan EH-5. Spesifikasi tersebut akan menyamai Drone CH-4 Rainbow buatan China.
Drone Tempur Elang Hitam
Drone Tempur Elang Hitam 
PUNA dibangun oleh konsorsium PUNA MALE Kombatan yang terbentuk pada tahun 2017 lalu, antara lain Kementerian Pertahanan yaitu Ditjen Pothan dan Balitbang, BPPT, TNI-AU (Dislitbangau), ITB (FTMD), BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT Len Industri. Pada tahun 2019, LAPAN baru masuk sebagai anggota konsorsium, dan bersama sama ambil bagian dalam pengembangan PUNA MALE Kombatan
Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan langkah percepatan pengembangan Drone buatan lokal untuk mendapatkan PUNA MALE dengan spek Kombatan atau Unmaned Combat Aerial Vehicle (UCAV), dalam jangka waktu yang dipercepat dari tahun 2024 menjadi 2022.
"Diperlukan percepatan agar PUNA MALE Kombatan tersertifikasi, dapat digeber untuk siap terbang pada Tahun 2022. Dengan adanya isu seperti kedaulatan di Natuna, maka kesiapan misi pesawat PUNA MALE Kombatan ini sangat diperlukan. Sehingga PUNA MALE Kombatan diperlukan sesegera mungkin," kata Kepala BPPT Hammam Riza dikutip dari laman resmi BPPT, Selasa (2/6).
Ancaman militer maupun non militer berupa pelanggaran batas wilayah perbatasan, terorisme, dan separatisme, kerap terjadi karena kurangnya antisipasi. Oleh karena itu, kebutuhan akan PUNA MALE Kombatan sangat diperlukan dalam menjaga kedaulatan NKRI.
Percepatan pembuatan MALE Kombatan ini dilakukan dengan melengkapi desain drone Elang Hitam (EH-1), dengan sistem persenjataan, menjadi desain PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5.
Awalnya program PUNA MALE Kombatan EH-4 dan EH-5, targetnya tersertifikasi di Tahun 2024, dan EH-1 sampai EH-3, adalah pengembangan di tahun 2020-2022.
"Dengan persetujuan Presiden Joko Widodo pada Ratas tadi, maka drone Elang Hitam Kombatan EH-4 dan EH-5, akan dikembangkan pada tahun 2020-2022 juga bersama dengan EH-1,2,3. Disinilah terjadi percepatan pengembangan," kata Hammam.
"Jadi drone Elang Hitam juga dilengkapi fungsi ISTAR, yaitu Intelligence, Surveillance, Target Acquisition and Reconnaissance, dan sistem persenjataan," ujarnya.
Dengan kelengkapan fungsi tersebut tentu drone Elang Hitam dapat menjadi wahana penting Indonesia, dalam menjaga kedaulatan wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara.
"Drone Elang Hitam ini akan menjadi semacam 'CCTV di Langit Nusantara', guna menjaga kedaulatan. Khususnya terkait pengawasan baik di wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara. Khususnya untuk mengintai di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia. BPPT bersama konsorsium dengan semangat merah putih tentu siap mewujudkannya," tegas Hammam.
Selain drone, ia mengusulkan agar juga pemerintah memikirkan pengembangan sistem pertahanan atau alutsista anti-drone.
"Hal ini seperti yang sudah dilakukan Turki, sistem pertahanan anti-drone nya terus dikembangkan. Seperti dengan menggunakan laser. Kami sudah mulai melakukan kliring atau penguasaan teknologi untuk sistem tersebut," katanya. (Muhammad Choirul Anwar)

30 Mei 2020

Proyek Drone Gantikan Pesawat R80 dan N245 dari Daftar PSN

radarmiliter.com - Pemerintah melakukan perombakan terhadap daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Ada beberapa proyek baru yang masuk dalam daftar PSN, ada pula yang dikeluarkan seperti proyek pesawat R80 dan N245.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan ada 245 proyek usulan baru untuk masuk ke dalam daftar PSN. Dari usulan itu yang diterima 89 proyek, nilainya mencapai Rp 1.422 triliun.
Proyek N-245
Proyek N-245 
"Dari 245 proyek baru yang memenuhi kriteria sebanyak 89 proyek. Dengan demikian, 156 proyek belum direkomendasikan karena itu masih membutuhkan dukungan kementerian teknis dan perlu kelengkapan dan perlu memenuhi kriteria yang ditetapkan sebagai PSN di mana Presiden harapkan ada dampak kepada masyarakat, terhadap pertumbuhan ekonomi, dan terkait dengan pengembangan sosial ekonomi," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (29/5/2020).
Sebanyak 89 proyek baru tersebut akan resmi masuk dalam daftar PSN 2020-2024. Proyek baru itu merupakan proyek yang dinilai memiliki dampak terhadap perekonomian secara langsung seperti pembangunan jalan, jembatan, bandara, kawasan industri program lahan sawah dan lain sebagainya.
Selain itu, pemerintah juga memasukkan 3 proyek pengembangan drone. Proyek itu menggantikan proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 yang kini dicoret dalam daftar PSN.
"Tiga proyek terkait pengembangan drone itu sebagai pengganti proyek yang dikeluarkan antara lain R80 dan N245. Sehingga dialihkan menjadi teknologi drone yang dianggap lebih cocok dengan situasi saat sekarang dan pengembangannya sudah dimulai oleh PTDI," tuturnya.
R80 sendiri merupakan pesawat besutan almarhum BJ Habibie. Habibie yang meninggal dalam usia 83 tahun mewariskan rancangan pesawat jenis turbo prop R80 yang kini dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Persiapan pembuatan pesawat ini mulai sejak 2013. Pada 2017, R80 akhirnya masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

28 Mei 2020

Diskusi Indonesia dengan Senegal untuk CN-235 kedua Ditunda Karena Larangan Perjalanan

radarmiliter.com - Negosiasi antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Angkatan Udara Senegal (Armée de l'Air du Senegal) untuk pesawat CN-235 kedua telah ditunda karena larangan perjalanan terkait Covid-19.
Negosiasi yang terakhir kali dijelaskan pada Singapore Airshow 2020 pada bulan Februari disebut telah mencapai tahap akhir, sekarang diperkirakan tidak dilanjutkan lagi sampai tahun 2021, kata seorang perwakilan PTDI yang berbicara kepada Janes pada 26 Mei.
 CN-235 MPA
 CN-235 MPA 
Senegal menandatangani CN-235 pertamanya dengan PTDI pada November 2014 dan pesawat kemudian dikirim pada Januari 2017. Pesawat dikirim dalam konfigurasi quick-change, dan dapat melakukan berbagai misi termasuk evakuasi medis, tugas angkut umum, dan angkut VIP.
Untuk pesawat kedua, AU Senegal sedang mempertimbangkan CN-235 varian pesawat patroli maritim (MPA) yang mirip dengan pesawat milik TNI-AL, kata perwakilan PTDI.
AU Senegal belum menyampaikan pilihan mereka untuk sistem misi yang akan digunakan dalam MPA mereka tetapi pesawat MPA TNI-AL, sensor CN-235 termasuk diantaranya magnetic anomaly detector CAE AN/ASQ-508, dan radar Thales Ocean Master atau Telephonics APS-143C(V)3(Batch 2).(Angga Saja-TSM)

20 Mei 2020

Senegal Kembali Pesan Pesawat CN-235 untuk Patroli Maritim

radarmiliter.com - Pemerintah Senegal melakukan pemesanan pesawat CN-235 untuk ketiga kalinya kepada PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk kepentingan patroli maritim.
Pemesanan itu ditandai lewat penandatanganan kesepakatan pembelian pesawat di Dakar oleh perwakilan PT DI dan AD Trade dari Belgia. Perusahaan ini mewakili Pemerintah Senegal sebagai penyandang dana kredit.
 Pesawat CN-235 Senegal
 Pesawat CN-235 Senegal 
Dikutip dari keterangan resmi, Minggu (17/5/2020), Duta Besar Republik Indonesia untuk Senengal Mansyur Pangeran menjelaskan pada Maret, Menteri Plan Senegal Emergence Dr. Cheikh Kante telah melakukan kunjungan kerja ke Pabrik PT DI di Bandung, Jawa Barat. Kante juga mengunjungi PT Pindad untuk melihat berbagai produk peralatan persenjataan.
Dalam kunjungan itu, Kante mengatakan bahwa pihaknya mengharapkan Pindad dapat bersedia merakit escavator buatan sendiri dan mendirikan pabrik pabrik tabung gas di Senegal. Menurutnya, alat berat dibutuhkan untuk pekerjaan penggalian berbagai tambang mineral di Afrika Barat.
Pemerintah Senegal juga telah menjalin kerjasama infrastruktur dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan Exim Bank Indonesia tentang Pembangunan Gedung Multi-Fungsi Menara Goree (Tour de Goree) 33 Lantai di Dakar dengan nilai kontrak US$250 juta.
Selain itu, Pemerintah Senegal turut menawarkan kerjasama di bidang pertambangan emas dan fosfat serta pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 200 MW. Dia mengarapkan korporasi swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dapat memanfaatkan peluang investasi dan kerja sama dengan negaranya. (Ilman A. Sudarwan)

06 Mei 2020

PT DI dan PT Pindad Alami Keterlambatan Penyelesaian Kontrak Akibat Terdampak Covid-19

radarmiliter.com - Dua perusahaan pertahanan terbesar di Indonesia, yakni perusahaan pesawat terbang PT Dirgantara (PTDI) dan perusahaan spesialis sistem alat pertahanan PT Pindad, telah melaporkan keterlambatan dalam program produksi utama karena dampak pandemi Covid-19.
Produksi Anoa PT Pindad
Produksi Anoa PT Pindad 
Perusahaan milik negara (BUMN) itu mengatakan gangguan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mendapatkan akses ke komponen dan subsistem impor serta dampak dari berkurangnya anggaran pertahanan Indonesia. Kedua perusahaan mengatakan mereka terlibat dalam mendukung upaya percepatan penanganan Covid-19 Indonesia melalui produksi peralatan kesehatan termasuk ventilator.
Elfien Goentoro, presiden direktur PTDI, mengatakan kepada surat kabar Jakarta Post pada 4 Mei bahwa sekitar 40% dari kontrak perusahaan yang ada telah terdampak oleh pandemi ini. (Jon Grevatt)(Herru Sustiana-TSM)
Sumber : janes.com

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU