Radar Militer: Amerika
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

25 Maret 2021

Jet Latih Hongdu JL-8 Angkatan Udara Bolivia Jatuh Timpa Rumah Penduduk

radarmiliter.com - Sebuah jet latih Hongdu JL-8 (varian K-8VB) milik Angkatan Udara Bolivia jatuh menimpa sebuah bangunan tempat tinggal di Sacaba, provinsi Chapare, Bolivia. Jet yang jatuh itu adalah pesawat latih. Belum diketahui apa yang menyebabkan kecelakaan itu.
Menurut laporan media setempat, satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka dalam kecelakaan yang terjadi di dekat wilayah Lava Lava tersebut. Ketiganya dilaporkan adalah penghuni rumah tersebut. Sedangkan Pilot jet dua kursi itu dilaporkan berhasil keluar dari pesawat dan mendarat dengan selamat.
Jet Latih Hongdu JL-8 Angkatan Udara Bolivia
Jet Latih Hongdu JL-8 Angkatan Udara Bolivia
Polisi telah menutup area kecelakaan, dan petugas pemadam kebakaran sedang bekerja untuk memadamkan api, yang terjadi di dalam rumah sebagai akibat dari insiden tersebut. Seorang anggota tim tanggap darurat mengatakan kepada outlet berita Página Siete Digital setempat bahwa jet itu tidak meledak seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (25/3/2021).
Hongdu JL-8 adalah jet serang ringan dua kursi produksi China yang dikembangkan bersama dengan Pakistan Aeronautical Complex dan sering digunakan untuk melatih pilot. Bolivia membeli enam unit jet varian K-8VB. (Berlianto)
Sumber : https://www.sindonews.com/

Jet Tempur F-35B Milik Marinir Amerika Serikat Terkena Ledakan Pelurunya Sendiri

radarmiliter.com - Sebuah insiden blunder menyebabkan sebuah pesawat  jet tempur F-35B Korps Marinir Amerika Serikat (AS) rusak parah. Pesawat tempur itu terkena ledakan peluru yang ditembakkan dari meriamnya sendiri.
Insiden tersebut merupakan kecelakaan parah, namun pesawat masih berhasil mendarat dengan selamat dan tidak ada yang terluka.
Jet Tempur F-35B
Jet Tempur F-35B
Mengutip laporan Military.com, Kamis (25/3/2021), insiden blunder itu terjadi 12 Maret. Peluru yang ditembakkan dari meriam pesawat tempur itu meledak sesaat setelah meninggalkan moncong meriam atau laras.
Pada saat itu, pesawat tempur generasi kelima itu melakukan misi dukungan udara jarak dekat pada malam hari di sebuah range di Pangkalan Udara Korps Marinir Yuma di Arizona. Selama latihan meriam, peluru 25mm Semi-Armor Piercing High Explosive Incendiary-Tracer (SAPHEI-T) yang ditembakkan dari meriamnya meledak, menyebabkan kerusakan fragmentasi pada badan pesawat.
"Insiden ini diklasifikasikan sebagai kecelakaan Kelas A," kata Pusat Keamanan Angkatan Laut. "Kecelakaan Kelas A, yang paling parah dari empat klasifikasi kecelakaan pesawat, berarti setidaknya USD2,5 juta dalam kerusakan."
Pusat itu mengatakan meskipun pesawat tempur menderita kerusakan akibat ledakan peluru, ia mendarat dengan selamat.
"Kecelakaan itu tidak mengakibatkan cedera pada personel," kata juru bicara Korps Marinir Kapten Andrew Wood mengatakan dalam sebuah pernyataan.
F-35B adalah salah satu dari tiga varian F-35. F-35B, varian short takeoff/vertical landing (STOVL), dapat bertempur dari landasan udara di darat dan kapal serbu amfibi di laut. Seperti F-35C berbasis kapal induk, ia dilengkapi dengan pod meriam yang dipasang di luar.
F-35A Angkatan Udara memiliki senjata internal.
Ketiga varian F-35 dilengkapi - dalam satu konfigurasi atau lainnya - dengan senapan Gatling empat laras GAU-22/A 25 mm, yang mampu menembakkan lebih dari 3.000 peluru dalam satu menit.
Dengan hanya 220 putaran, pilot F-35B dapat mengosongkan magazine dalam waktu sekitar 4 detik. Sebuah peluru pelacak meninggalkan jejak visual yang dapat digunakan pilot untuk melacaknya dan berpotensi menyesuaikan tembakan.
Tidak jelas mengapa peluru yang ditembakkan dari meriam pada 12 Maret meledak setelah meninggalkan laras, tetapi insiden tersebut saat ini sedang diselidiki.
Senjata yang dipasang di dalam F-35A lebih bermasalah. Misalnya, kantor pengujian dan evaluasi Pentagon melaporkan Januari lalu bahwa meriam itu tidak hanya tidak akurat, tetapi penggunaannya menyebabkan retakan yang mengganggu. (Muhaimin)
Sumber : https://www.sindonews.com/

Amerika Serikat Desak India tak Beli Sistem Rudal S-400 Rusia

radarmiliter.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin mendesak India agar tak membeli sistem rudal S-400 buatan Rusia. Dia pun memperingatkan tentang sanksi yang mungkin diterima New Delhi jika melakukan hal demikian.
"Kami pasti mendesak semua sekutu kami, mitra kami untuk menjauh dari peralatan Rusia, dan benar-benar menghindari segala jenis akuisisi yang akan memicu sanksi atas nama kami," kata Austin kepada awak media seusai bertemu Menhan India Rajnath Singh di New Delhi pada Sabtu (20/3).
Sistem Rudal S-400 Rusia
Sistem Rudal S-400 Rusia
Austin menyebut sejauh ini belum ada sistem rudal S-400 yang dikirim ke India. Dengan demikian, kemungkinan sanksi tidak dibahas.
Dia mengungkapkan saat bertemu Singh, mereka membahas peluang untuk meningkatkan kemitraan pertahanan kedua negara. "Kami akan melakukannya melalui kerja sama keamanan regional dan interaksi antar-militer serta perdagangan pertahanan," ujar Austin.
Menurut dia, India adalah mitra yang semakin penting di antara dinamika internasional yang berubah dengan cepat saat ini. Sebelum Singh, Austin telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Jumat (19/3).
AS telah muncul sebagai salah satu penjual senjata terbesar di India. Reuters melaporkan, dalam kunjungannya Austin turut membahas rencana India membeli drone bersenjata serta 150 jet tempur dari Washington. Hal itu demi memangkas kesenjangan di bidang pertahanan dengan China.
Pekan lalu, para pemimpin AS, India, Australia, dan Jepang yang dikenal sebagai Quad, mengadakan pertemuan puncak. Para pihak berjanji bekerja sama dengan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Mereka pun sepakat menjalin kerja sama keamanan maritim dan siber dalam menghadapi tantangan China.

18 Maret 2021

Angkatan Udara Amerika Serikat akan Mengganti Sebagian Armada F-16C/D Miliknya

radarmiliter.com - Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sedang menimbang untuk membeli jet tempur yang benar-benar baru untuk menggantikan sebagian armada F-16C/D Fighting Falcon miliknya. Pernah berkomitmen mengganti dengan F-35 Joint Strike Fighter, Angkatan Udara AS kelihatannya memiliki pemikiran lain seiring dengan ongkos jet tempur itu yang masih dianggap selangit. Pilihan terbaru sepertinya akan tidak se-siluman seperti F-35 tapi bisa memiliki fiturnya yang lain yang lebih menghemat biaya operasional.
Kepala Staf Militer Angkatan Udara Amerika Serikat, C.Q. Brown, belum lama mengatakan kalau Angkatan Udara pada tahun lalu meluncurkan sebuah studi tentang jet tempur seperti apa yang seharusnya disiapkan. Studi disebut akan selesaikan pada 2023.
Jet Tempur F-16
Jet Tempur F-16
"Angkatan Udara AS akan mempertimbangkan sebuah desain yang benar-benar baru untuk sebuah jet tempur 'generasi 4,5 atau generasi 5 minus' sebagai pengganti langsung F-16 yang saat ini masih dioperasikan," kata Brown.
Ini kabar menarik karena Amerika Serikat telah sejak beberapa dekade menyatakan ingin mengganti F-16 dengan F-35A Joint Strike Fighter. AS juga pernah menegaskan tidak akan membeli jet tempur non siluman yang lain.
Sementara Brown tidak menegaskan alasan kenapa Angkatan Udara AS akhirnya berubah pikiran, satu yang paling jelas muncul sebagai kemungkinan latar belakangnya adalah soal biaya. Pesawat F-35 awalnya diiklankan pada 2001 dengan label harga $50 juta ($ 73,2 juta dalam kurs dollar 2021, atau setara Rp 1 triliun).
Harganya itu sudah turun dari sebelumnya yang hampir $300 juta tapi ongkos terbang per jam jet tempur F-35 masih sangat tinggi sekitar $ 44 ribu. Pilot pesawat jet tempur terbang rata-rata 200 jam setiap tahun, atau 350 jam per tahun. Itu artinya butuh $9-15,7 juta per pilot per tahun. Seorang pilot dengan 1.000 jam di kokpit butuh biaya $44 juta, lebih dari separuh harga satu unit jet tempur baru.
Sejak 2019, Angkatan Udara AS dan Lockheed Martin telah berupaya menekan ongkos terbang per jam itu agar turun menjadi $25 ribu, tapi Pentagon telah lama yakin kalau angka itu tidak akan mungkin bisa dicapai. AU AS juga telah memperingatkan kalau ongkos tidak bisa ditekan, mereka hanya akan membeli lebih sedikit peswat F-35 dari rencana awal membeli 1.763 pesawat.
Sebagai gantinya, sebagian skuadron yang akan ditinggalkan F-16 nanti akan diisi jet tempur baru 'Generasi 4,5' yang diungkap Brown.
Kenapa Angkatan Udara AS tidak mempertimbangkan menambah membeli F-16 varian baru? Bahkan Angkatan Udara AS telah membeli jet tempur F-15EX yang baru. Seperti saudara tuanya itu, penjualan ke luar negeri telah membuat pesawat-pesawat tempur F-16 terus diperbarui dengan teknologi terkini.
Pesawat F-16 misalnya telah mendapatkan mesin, radar, dan persenjataan yang baru ketimbang saat mereka diluncurkan di awal 1980-an. Secara keseluruhan pesawat itu kini lebih berbobot 5 ribu pound lebih berat. Lockheed Martin juga membuat versi terkininya, F-16V, dilengkapi dengan teknologi dari F-22 Raptor dan F-35 Joint Strike Fighter.
Tapi Brown bergeming. “Saya ingin mampu membangun sesuatu yang benar-benar baru dan berbeda dan itu bukan F-16, tapi yang lebih cepat dan menggunakan pendekatan digital yang kami miliki," katanya.
Brown merujuk kepada teknik baru rekayasa digital yang mulai digunakan AU AS untuk diam-diam membangun, mendesain, dan menguji pesawat tempur baru hanya dalam setahun. Sebagai pembanding, butuh 13 tahun sebelum bisa melihat F-35 lepas landas dan mengudara.
Alasan lain, jet tempur F-16 kemungkinan tidak memiliki fitur yang diinginkan militer Angkatan Udara AS untuk dimiliki jet tempur barunya. Berkembangnya kekuatan militer China dan menggeliatnya kembali Rusia mengharuskan mereka memikirkan potensi konflik di Asia Pasifik dan Eropa. Itu artinya jarak terbang yang sangat jauh dari daratan AS.
Jet tempurnya yang berbasis di pangkalan militer di Italia harus terbang lebh dari seribu mil sebelum bisa menyerang target di Rusia. Atau, jetnya yang terbang dari Guam harus terbang pada jarak maksimumnya sebelum bisa meng-intersep bomber China dan meluncurkan rudal hipersoniknya.
Sedang pesawat F-35 memang memiliki banyak fitur tapi terbang jarak jauh tidak termasuk di antaranya. Mereka akan dipaksa isi ulang bahan bakar di udara dan membawa tangki bahan bakar eksternal yang membuatnya mudah terbaca radar musuh jika harus menjalankan misi ke Asia Pasifik atau Rusia.
Pesawat F-22 dan F-35 disebut jet tempur generasi kelima terutama karena kemampuan teknologi siluman yang dimiliki. Material selubung yang membuatnya siluman itulah yang membuat ongkos terbang pesawat-pesawat itu menjadi begitu mahal. Sebuah jet tempur Generasi 4,5 berarti non siluman dengan teknologi generasi kelima di dalamnya. Ini dianggap bisa menghemat banyak anggaran.
Jet tempur Generasi 4,5 diperkirakan lebih besar daripada ukuran F-16 karena mengakomodasi suplai bahan bakar yang lebih banyak. Sisanya, pesawat akan memiliki fitur yang sama seperti F-35, termasuk kemampuan radar, kamera inframerah, berbagi data dengan sistem, pesawat, atau kapal perang AS lainnya.
Lalu bagaimana dengan nasib F-35 sepeninggal F-16? Angkatan Udara AS tetap membutuhkannya untuk membersihkan langit dari pesawat musuh dan penetrasi pertahanan udara musuh.

16 Maret 2021

Boeing F-15EX, Jet Tempur Peluncur Rudal Hipersonik

radarmiliter.com - Angkatan Udara AS telah secara resmi menerima pengiriman jet tempur F-15EX pertamanya dari Boeing. Pesawat tempur itu sekarang menuju ke Pangkalan Angkatan Udara Eglin di Florida untuk memulai pengujian.
Pada saat yang sama, Angkatan Udara AS telah mengonfirmasi bahwa F-15EX akan memiliki peran di luar pertempuran udara-ke-udara, terutama sebagai platform peluncuran rudal hipersonik di masa depan.
Boeing F-15EX
Boeing F-15EX
Boeing, produsen F-15EX, secara resmi menyerahkan jet pertama ke Angkatan Udara di fasilitasnya di St. Louis, Missouri, pada 10 Maret 2021. Pesawat dengan nomor seri 20-001 itu terlihat terbang di daerah itu dengan skema cat Angkatan Udara lengkap, termasuk kode ekor Pangkalan Angkatan Udara Eglin, bulan lalu, hanya beberapa minggu setelah penerbangan pertamanya.
Angkatan Udara berharap pada akhirnya dapat membeli setidaknya 144 pesawat ini untuk menggantikan F-15C/D Eagle yang menua dan juga ada diskusi tentang mengakuisisi lebih banyak dari mereka untuk menggantikan F-15E Strike Eagles.
"Ini adalah momen besar bagi Angkatan Udara," Kolonel Angkatan Udara Sean Dorey, Manajer Program F-15EX di Direktorat Pesawat Tempur dan Pesawat Advanced Pusat Manajemen Siklus Hidup Angkatan Udara, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
"Dengan kapasitas senjata yang besar, tulang punggung digital, dan arsitektur terbuka, F-15EX akan menjadi elemen kunci armada tempur taktis kami dan melengkapi aset generasi ke-5."
Berasal dari F-15QA Advanced Eagle yang dikembangkan Boeing untuk Qatar, F-15EX adalah versi paling canggih dari jet yang diproduksi saat ini. Selain itu, sementara fokus utama Angkatan Udara adalah mengganti jet F-15C/D, yang secara eksklusif digunakan dalam peran tempur udara-ke-udara, kapasitas muatan F-15EX secara inheren membuka jalan bagi pesawat untuk mengambil alih untuk misi lain.
"Selain itu, ia mampu membawa senjata hipersonik, memberinya peran khusus dalam konflik near-peer di masa depan," kata Kolonel Dorey, Manajer Program F-15EX Angkatan Udara, dalam sebuah pernyataan.(Sustiana Herru-TSM)

Amerika Serikat Setujui Penjualan 5 Pesawat Patroli Maritim P-8A Poseidon ke Jerman

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan lima pesawat P-8A Poseidon dan peralatan lainnya ke Jerman dengan biaya USD1,77 miliar. Pabrikan pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, mengklaim pesawat P-8A Poseidon salah satu sistem senjata "paling canggih" di dunia.
Kantor Urusan Politik dan Militer Deplu AS mengumumkan persetujuan permintaan Jerman untuk membeli lima pesawat patroli. Mereka mencantumkan mesin, sensor, radar, peralatan komunikasi, tindakan pencegahan, suku cadang, perangkat lunak dan pelatihan sebagai bagian dari paket yang saat ini bernilai hampir USD1,8 miliar.
Pesawat Patroli Maritim P-8A Poseidon
Pesawat Patroli Maritim P-8A Poseidon
Berlin sedang berusaha untuk mengganti armadanya tujuh pesawat patroli laut Lockheed P-3 Orion yang sudah tua pada tahun 2025, dan sangat ingin mendapatkan pesawat P-8A Poseidon yang telah dikembangkan Boeing sebagai penggantinya. Pesawat P-8A saat ini dipakai oleh Angkatan Laut AS, Angkatan Udara Inggris RAF, Angkatan Udara Australia dan Angkatan Udara India.
"Penjualan tersebut akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu NATO," bunyi pemberitahuan Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DCSA) kepada Kongres AS seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu (13/3/2021).
DCSA menggambarkan NATO sebagai kekuatan penting untuk politik dan stabilitas ekonomi di Eropa.
"Program tersebut akan membutuhkan empat pejabat pemerintah AS dan empat kontraktor untuk menghabiskan dua tahun di Jerman untuk membantu pengenalan peralatan, pelatihan dan dukungan pasokan," kata DSCA.
Kongres AS harus memberikan persetujuan akhir untuk penjualan tersebut, tetapi kemungkinan tidak akan menemui sikap oposisi.
Penjualan itu datang sebagai keuntungan bagi Boeing, pembuat pesawat komersial utama AS, yang selama dua tahun terakhir harus menghentikan armada 737 Max-nya karena serangkaian kecelakaan fatal. Boeing juga terpaksa menghentikan produksi di fasilitas terbesarnya di Washington karena pandemi virus Corona.
Boeing memuji P-8A Poseidon sebagai pesawat patroli maritim multi-misi, unggul dalam perang anti-kapal selam; perang anti-permukaan; intelijen, pengawasan dan pengintaian serta pencarian dan penyelamatan. Boeing juga mencatat pesawat itu menggabungkan sistem senjata paling canggih di dunia dengan keuntungan biaya berbagi 86 persen bagiannya dengan 737.
Menurut pakar penerbangan P-8A Poseidon bukan hanya pesawat mata-mata yang mampu mengawasi atau memandu pesawat penyerang ke sasaran, tetapi platform senjata yang dapat memberikan pukulan serius. Pasalnya, pesawat ini mampu membawa rudal dan bom untuk menyerang target darat, laut, dan bawah air yang sama.
Pembelian jet canggih oleh Jerman ini dilakukan di tengah peningkatan tajam dalam aktivitas penerbangan NATO di sepanjang perbatasan Rusia selama setahun terakhir. Pada tahun 2020 saja, Kementerian Pertahanan Rusia mendeteksi sekitar 2.900 pesawat tempur dan 1.100 pesawat mata-mata mendekati wilayah udara negaranya, dan dalam banyak kasus harus dikawal oleh pesawat pencegat. (Berlianto)

Amerika Serikat Borong 137 Unit Rudal Jarak Jauh Pembunuh Kapal AGM-158C LRASM

radarmiliter.com - Persaingan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di pasifik antara Amerika Serikat (AS) dan China terus berlangsung. Terbaru, Februari lalu, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS resmi menandatangani kontrak pengadaan ratusan AGM-158C rudal anti-kapal jarak jauh (Long-Range Anti-Ship Missiles/LRASM) dari Lockheed Martin pabrikan alutsista asal AS.
Program yang diawasi ketat ini tampaknya kian memperkenalkan sistem canggih terbaru yang ada dalam rudal pembunuh kapal yang mematikan itu.
AGM-158C Long Range Anti-Ship Missiles (LRASM)
AGM-158C Long Range Anti-Ship Missiles (LRASM)
"Kesepakatan bernilai US$ 414 juta (atau setara dengan Rp 6 triliun, kurs Rp 14.000/US$) itu dialokasikan untuk membeli 137 LRASM, peralatan pendukung, sistem teknik, logistik dan dukungan pelatihan," kata Juru bicara Lockheed Martin, Joe Monaghen dalam email, dilansir Defensenews, dikutip Sabtu (13/3/2021).
Lockheed Martin Corporation adalah perusahaan kedirgantaraan, senjata, pertahanan, keamanan, dan teknologi canggih asal AS dengan sebaran produk ke seluruh dunia. Korporasi ini dibentuk dari penggabungan Lockheed Corporation dengan Martin Marietta pada Maret 1995.
Perusahaan ini berkantor pusat di North Bethesda, Maryland, di daerah Washington D.C. Sahamnya tercatat di Bursa New York Stock Exchange (NYSE) atau Wall Street dengan kode saham LMT.
Dia mengatakan, LRASM memiliki jangkauan yang dipublikasikan sekitar 300 mil laut, tahan macet, dan dirancang untuk menemukan target dengan sensor onboard daripada mengandalkan panduan dari sumber lain seperti sensor drone atau kapal lain. Rudal tersebut juga sulit dideteksi.
Kontrak tersebut muncul ketika ketegangan terus membara di Pasifik Barat antara China dan AS, dan antara China dan negara lainnya di kawasan itu, terkait dengan armada China yang terus ekspansif.
Peningkatan bujet alustsita ini juga terjadi di tengah proyeksi bahwa armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) akan bertambah menjadi 425 kapal pada tahun 2030, mendorong AS kian mempercepat pengadaan rudal anti-kapal, termasuk Angkatan Darat AS dan Korps Marinir.
Kedua layanan alutsista tersebut punya kemampuan untuk mengancam kapal di laut dari jarak jauh.
Februari lalu, Defense News melaporkan bahwa militer AS menaikkan proyeksi pengeluaran anggaran 5 tahun (2020-2025) dengan alokasi belanja sekitar 850 rudal anti-kapal tahun ini, naik dari 88 rudal anti-kapal yang diprogram dalam anggaran 2016, 5 tahun sebelumnya.
Adapun anggaran Angkatan Laut AS untuk pengadaan senjata dari semua jenis meningkat sebesar US$ 800 juta atau setara Rp 11 triliun dari permintaan tahun 2020 sebesar US$ 4,1 miliar atau Rp 57 triliun. Sementara itu, anggaran pengadaan senjata 2021 yang diusulkan naik US$ 1,7 miliar atau Rp 24 triliun dari permintaan 2016 atau 5 tahun lalu.
Dalam siaran persnya, manajemen Lockheed mengatakan pembelian itu menunjukkan adan tren peningkatan pembelian LRASM, "ini meningkatkan signifikansi untuk misi pelanggan kami."
Situs resmi Lockheed Martin mengatakan rudal itu dirancang untuk menggunakan "rangkaian sensor multi-moda, tautan data senjata, dan Sistem Pemosisian Global anti-jam digital yang ditingkatkan untuk mendeteksi dan menghancurkan target tertentu dalam sekelompok banyak kapal di laut," yang berarti dapat memilih kapal apa yang menjadi sasarannya dari sekelompok kapal.
Dalam rilisnya, perusahaan mengatakan rudal itu "mengurangi ketergantungan pada platform intelijen, pengawasan dan pengintaian, tautan jaringan dan navigasi GPS di lingkungan peperangan elektronik.
"LRASM akan memainkan peran penting dalam memastikan akses militer untuk beroperasi di laut terbuka, karena kemampuannya yang ditingkatkan untuk mendiskriminasi dan melakukan pertempuran taktis dari jarak yang jauh," tulis manajemen Lockheed. (Tahir Saleh)

Tentara Amerika Serikat Dilengkapi Goggle Integrated Visual Augmentation System (IVAS)

radarmiliter.com - Goggle baru tentara Amerika Serikat (AS) bisa membantu para personel infanteri melihat 'menembus' tembok pertahanan kendaraan tempur. Para personel infanteri itu akan memiliki kewaspadaan terhadap situasi yang tidak paralel secara sekaligus karena disuplai banyak data bak dalam game Call of Duty, bahkan lebih dari itu.
Militer Angkatan Darat AS mengembangkan apa yang disebut alat bantu penglihatan (goggle) Integrated Visual Augmentation System (IVAS) yang didesain untuk perang jarak dekat. Dibuat dengan platform Hololens 2 dari Micorosoft, sebanyak 40 ribu ribu goggle senilai $1,1 miliar (lebih dari Rp 15 triliun) itu diharapkan bisa disebar untuk para personelnya yang berada di garis depan mulai akhir tahun ini.
Goggle IVAS
Goggle IVAS
Goggle ini mengakses suplai data dari kamera-kamera yang bisa bergerak ke segala arah (omnidirection) yang terpasang di bagian luar kendaraan-kendaraan tempur. Ini yang memampukan satu skuad terdiri dari enam tentara yang berlindung di balik sebuah kendaraan infanteri Bradley atau Stryker, misalnya, melihat apa yang ada di balik kendaraan tempur yang melindungi mereka itu, mendapatkan gambaran lebih jelas akan situasi yang ada.
"Sekarang kami di lapangan tak lagi perlu ke luar dari kendaraan tempur dan menghadapi situasi berbahaya hanya untuk mendekati sebuah lokasi dan mencari tahu apa yang terjadi," kata Sersan Philip Bartel dari Tim Tempur, Brigade Stryker 1-2.
Dia menambahkan, setiap komandan akan mampu membuat manuver dan melihat target tanpa harus meninggalkan zona amannya di kendaraan tempurnya. "Memposisikan kendaraan untuk kepentingan pengamatan via kamera akan meminimalkan korban nyawa dan akan mengubah secara drastis bagaimana kami beroperasi dan efektivitas di medan tempur."
Bukan itu saja, Angkatan Darat Amerika mendesain goggle IVAS untuk beraksi sama seperti heads-up displays (HUD) di jet-jet tempur. Informasi yang diproyeksikan di layar atau lensanya termasuk peta, video, dan kemampuan penglihatan malam (night vision).
Goggle ini akan menggantikan kebiasaan tentara Amerika di lapangan mencari dan mengeluarkan lembaran peta dari dalam sakunya. Sedang thermal imaging night vision scope akan menggusur kebiasaan menjulurkan laras senjata ke luar dari lokasi persembunyian untuk mengintip yang memungkinkan keberadaannya menjadi diketahui musuh. Sedang dengan IVAS, pengunanya bahkan bisa mengakses kamera mikrodrone yang diterbangkan ke sebuah lokasi konflik.
Sebuah laporan pada 2020 tentang sistem IVAS melukiskan bagaimana personel berlatih dengan goggle itu. Menurut direktorat di Pentagon yang mengevaluasi peralatan baru, personel dengan IVAS bisa memasuki dan menguasai enam ruangan sekaligus sebagai sebuah tim dalam sebuah kompleks bangunan yang nyata dengan target Synthetic Training Environment yang virtual dan konten menggunakan M4 airsoft rifles dan trackers sintetik.
Infanteri, kavaleri dan insinyur yang mekanis, misalnya, seluruhnya biasanya bergerak di balik kendaraan tempur lapis baja. Mereka tahu ke mana mereka bergerak, dan di mana mereka berada, tapi mereka sering bergantung kepada personel di dalam kendaraan tempur untuk memberi tahu di mana mereka sesungguhnya. Begitu kendaraan berhenti, para personel harus dengan cepat menyesuaikan diri dengan sekelilingnya, menentukan posisi musuhnya, melakukan orientasi diri sendiri untuk pelaksanaan misi.
IVAS bukanlah goggle mirip HUD pertama yang ingin disediakan Angkatan Darat Amerika untuk para personelnya. Proyek sebelumnya yang paling terkenal adalah Land Warrior pada 1990-an. Proyek itu gagal dan akhirnya dihentikan karena alat terlalu berat, sulit digunakan, dan karenanya kontraproduktif.
Adapun kunci penting di balik goggle IVAS adalah platforms Hololens 2 Microsoft. Perangkat ini sudah diluncurkan Microsoft sejak 2016 dan terus mengalami pengembangan hingga versi Hololens 2 saat ini. Beberapa keluhan yang pernah muncul adalah soal grafis pada layar dan mata lelah dan pusing ketika mengenakannya terlalu lama.
Sumber : tempo.co

11 Maret 2021

TNI Tidak Memihak ke China Maupun Amerika Serikat di Polemik Laut China Selatan

radarmiliter.com - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Achmad Riad menegaskan, TNI tidak memihak ke China dan Amerika Serikat terkait polemik Laut China Selatan (LCS).
"Terkait dengan kebijakan posisi kita, karena kita menganut bebas aktif, maka kita tidak ikut mereka. Kalau dulu misalkan ada Nonblok, kalau yang jelas sekarang kita memiliki kebijakan negara kita sendiri, sehingga kita tidak mengikut kemana-mana," kata Riad kepada wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu 10 Maret 2021.
Klaim Laut China Selatan
Klaim Laut China Selatan
Ia memastikan tetap membina hubungan diplomasi yang sangat baik dengan seluruh negara. "Kita tidak ikut atau berpihak kemana-mana, karena kita berhubungan baik dengan semuanya," katanya lagi.
Hal tersebut terlihat dari alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI. "Kita punya alutsista dari AS, Rusia, dari banyak negara kita punya," ujarnya pula.
Riad juga mencontohkan diplomasi Indonesia dengan negara lain, yakni pengadaan vaksin Covid-19. "Sebagai contoh kecil hasil diplomasi kita dengan negara lain terkait dengan vaksin, ini saya hubungkan dengan vaksin karena ada hubungannya dengan diplomasi juga, kita ada vaksin dari AstraZeneca (Inggris), ada Sinovac (China)," katanya.
Namun demikian, ujar dia, TNI akan menjaga kedaulatan di sepanjang teritori Laut Natuna Utara yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.

08 Maret 2021

Korea Selatan Setujui Pembayaran Pasukan Militer Amerika Serikat di Negaranya

radarmiliter.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan telah mencapai kesepakatan tentang kontribusi biaya Seoul untuk kehadiran pasukan AS di semenanjung Korea. Hal itu disampaikan seiring kedua negara memulai latihan militer gabungan tahunan.
Seperti dilansir AFP, Senin (8/3/2021) masalah pembayaran pasukan AS tersebut telah mengganggu aliansi keamanan kedua sekutu itu di bawah mantan presiden Donald Trump. Trump berulang kali menuduh Korea Selatan menerima kehadiran pasukan AS secara gratis.
Diketahui, AS menempatkan 28.500 tentara di Korea Selatan untuk mempertahankan sekutunya itu dari persenjataan nuklir Korea Utara, yang menginvasi pada tahun 1950.
Militer Amerika Serikat di Korea Selatan
Militer Amerika Serikat di Korea Selatan
Kondisi Korsel dan Korut menjadi bagian penting dari pengerahan pasukan AS di Asia. Namun negosiasi mengenai pendanaan telah terhalang setelah Trump meminta Korsel membayar miliaran dolar.
Awalnya, Trump menuntut US$ 5 miliar per tahun - meningkat lebih dari lima kali lipat. Dalam kesepakatan sebelumnya yang berakhir pada akhir 2019, Seoul membayar Washington sekitar US$ 920 juta setiap tahun.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan kedua pihak telah mencapai kesepakatan, tanpa menyebutkan jumlah yang disepakati. "Pemerintah akan menyelesaikan kesenjangan yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun melalui penandatanganan kesepakatan yang cepat," katanya dalam sebuah pernyataan. Kesepakatan baru ini masih harus disetujui oleh badan legislatif Korea Selatan.
Presiden AS Joe Biden telah berjanji untuk menghidupkan kembali aliansi AS untuk melawan tantangan yang ditimbulkan oleh Rusia, China, Iran dan Korea Utara. "Aliansi Amerika adalah sumber kekuatan kami yang luar biasa," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah tweet. Namun AS tidak menyebutkan berapa banyak yang akan dibayar Korea Selatan
Kesepakatan itu datang ketika dua pihak memulai latihan militer tahunan mereka pada hari Senin (8/3). Skala latihan militer ini telah diperkecil dari level biasanya akibat pandemi COVID-19, tanpa keterlibatan pasukan fisik skala besar. Latihan militer yang akan berlangsung 9 hari itu mungkin akan memicu kemarahan Korea Utara, yang telah lama menganggap latihan semacam itu sebagai latihan untuk invasi.(Syahidah Izzata Sabiila).

Bomber B-52 Amerika Serikat dan F-15 Israel Berkeliaran di Atas Teluk Persia

radarmiliter.com - Pesawat pembom (bomber) B-52H Angkatan Udara Amerika Serikat berkeliaran di atas Teluk Persia dengan kawalan jet-jet tempur F-15 Israel, hari Minggu. Media Israel menyatakan pengiriman pesawat pembom itu menjadi sinyal ancaman yang jelas untuk Iran.
Mengutip laporan Jerusalem Post, Senin (8/3/2021), beberapa jet tempur F-15 Angkatan Udara Israel mengawal bomber B-52 itu ketika melewati wilayah udara negara Yahudi. Pesawat pembom Amerika itu lantas terbang kembali ke pangkalannya di Amerika Serikat.
Bomber B-52 Amerika Serikat
Bomber B-52 Amerika Serikat
Itu adalah misi ketujuh ke wilayah operasi Komando Pusat [CENTCOM] Amerika Serikat dalam empat bulan terakhir dan penempatan kedua pembom berat sejak Joe Biden menjadi presiden Amerika pada 20 Januari.
Amerika Serikat telah berusaha membuat Iran kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklir terlarangnya dan sementara itu Amerika telah mengirim pembom berat B-52 dan baru-baru ini menyerang sasaran milisi Iran di Suriah.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan Benny Gantz mengatakan bahwa Israel memperbarui rencana serangannya terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Kami memiliki mereka [rencana serangan] di tangan kami, tetapi kami akan terus [untuk] terus meningkatkannya," kata Gantz.
"Aspirasi nuklir Iran harus dihentikan. Jika dunia menghentikan mereka sebelumnya, itu sangat bagus. Tetapi jika tidak, kami harus berdiri sendiri dan kami harus membela diri kami sendiri," kata Gantz.
Setelah penempatan baru-baru ini, Komando Pusat Amerika Serikat mengatakan pembom itu dikirim ke Teluk untuk menggarisbawahi komitmen Amerika terhadap keamanan regional dan kemampuan untuk segera dikirim ke kawasan tersebut sesuai kebutuhan.
"Amerika Serikat terus mengerahkan kemampuan siap tempur ke dalam area tanggung jawab Komando Pusat Amerika Serikat untuk mencegah musuh potensial, dan menjelaskan bahwa kami siap dan mampu menanggapi setiap agresi yang ditujukan pada Amerika atau kepentingan kami," kata Jenderal Frank McKenzie, komandan Komando Pusat Amerika Serikat.
"Kami tidak mencari konflik, tetapi tidak ada yang boleh meremehkan kemampuan kami untuk mempertahankan kekuatan kami atau bertindak tegas dalam menanggapi serangan apa pun."(Muhaimin)
Sumber : https://www.sindonews.com/

Jenderal Amerika Serikat : Guam Butuh Sistem Rudal 360 Derajat Tangkis Ancaman Rudal

radarmiliter.com - Seorang jenderal bintang empat Amerika Serikat mengatakan Guam membutuhkan sistem pertahanan rudal 360 derajat baru untuk melindungi orang-orang Amerika di sana dari ancaman rudal China.
Laksamana Phil Davidon, Kepala Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat, memaparkan hal itu hari Kamis dalam acara virtual yang diselenggarakan American Enterprise Institute. Menurutnya, pasukan dan peralatan militer lebih banyak perlu dikerahkan ke Guam.
Davidson, komandan dengan pangkat jenderal bintang empat, mengatakan memasang sistem pertahanan udara 360 derajat baru di Guam akan memungkinkan setidaknya tiga kapal Angkatan Laut Amerika untuk mengambil misi lain di wilayah tersebut. Kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat  saat ini dilengkapi dengan sistem yang dapat mencari dan melacak ancaman masuk dan beroperasi di dekatnya untuk melindungi wilayah Amerika Serikat.
THAAD Sistem Anti Rudal Saat Ini di Guam
THAAD Sistem Anti Rudal Saat Ini di Guam
"Kami perlu membebaskan kapal perusak berpeluru kendali yang memiliki kemampuan multi-misi untuk mendeteksi ancaman dan menyelesaikan ancaman di bawah laut, di laut, dan di atas laut," kata Davidson.
Laksamana itu menyampaikan kepada Kongres minggu ini tentang rencana investasi untuk wilayah besar tempat dia mengawasi operasi militer. Rencana itu termasuk investasi USD1,6 miliar untuk sistem pertahanan rudal baru untuk Guam. Itu termasuk menghabiskan USD350 juta untuk memulai proyek pada tahun fiskal 2022.
Davidson menyebut pendanaan untuk sistem pertahanan udara dan rudal di Guam sebagai prioritas nomor satu. Bahkan, kata dia, dengan kapal perusak Angkatan Laut yang dikombinasikan dengan sistem Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) di Guam sekarang, sistem tersebut tidak sebanding dengan ancaman rudal dari China.
Menurutnya, berbagai peralatan itu tidak memberikan pertahanan 360 derajat, membuatnya lebih cocok untuk bertahan dari tembakan nakal dari Korea Utara daripada ancaman rudal yang lebih canggih dari China.
"Ada 170.000 orang Amerika yang tinggal di Guam, dan pertahanan mereka adalah pertahanan tanah air," katanya, yang menambahkan bahwa sekitar 22.000 anggota dinas militer, kontraktor sipil, dan anggota keluarga militer bermarkas di pulau kecil di Pasifik Barat itu.
Dia menambahkan jumlah personel Amerika Serikat di Guam akan bertambah. Amerika Serikat menginvestasikan miliaran dollar untuk menjadikan Guam sebagai pusat utama operasi militer di kawasan Asia-Pasifik.
Korps Marinir Amerika Serikat pada bulan Oktober mengaktifkan Camp Blaz di Guam, pangkalan baru pertama untuk layanan tersebut di Pasifik sejak 1950-an. Sekitar 5.000 Marinir dijadwalkan pindah ke sana dari Jepang dalam lima tahun ke depan.
Sekarang, kata Davidson, militer perlu melindungi aset tersebut.
"Kami harus mengembangkan pertahanan kritis orang-orang kami, platform kami dan inisiatif postur kami, dan itu dimulai di Guam," katanya, seperti dikutip Military.com, Jumat (5/3/2021).
Davidson mengatakan menempatkan sistem pertahanan udara baru di Guam tidak akan membuat pulau itu menjadi target, karena itu sudah salah satunya. Dia mengutip video Angkatan Udara China yang dirilis pada bulan September yang menggambarkan salah satu pembom jarak jauhnya melakukan simulasi serangan rudal di Guam.
"Apa yang ditunjukkan China kepada Anda, tidak hanya dalam video, tetapi juga dalam penyebaran di wilayah dengan mengelilingi Guam dan persemakmuran dan Marian Utara dengan kapal permukaan, dengan pembom berjalan di Laut Filipina, dan kapal selam...di sekitar area itu berarti ada ancaman 360 derajat," kata Davidson.
"China mencari tatanan dunia baru," imbuh dia. "Di mana kekuatan nasional China lebih penting daripada hukum internasional."
Para pemimpin militer telah memperingatkan bahwa investasi yang dipompa China untuk membangun militernya dalam beberapa tahun terakhir dapat membuat Amerika Serikat kalah di kawasan itu dalam satu dekade.
Mantan Sekretaris Angkatan Laut Kenneth Braithwaite menggambarkan keprihatinannya atas China seperti itu pada bulan Oktober lalu. "Apa yang kami lihat muncul adalah ancaman yang melebihi apa pun yang pernah ada dalam sejarah negara kami," katanya.
Menteri Pertahanan Lloyd Austin, dalam sebuah memo yang dikeluarkan untuk pasukan Amerika Serikat pada Kamis, mencantumkan rencana pengembangan dan kemampuan untuk menghalau China sebagai prioritas utama militer.
Davidson mengatakan China dapat "mencapai overmatch" di kawasan itu secepat tahun 2026.(Muhaimin)
Sumber : https://www.sindonews.com/

Jet Tempur F-35 Buatan Lockheed Martin AS Mahal tapi Bermasalah

radarmiliter.com - Komite Angkatan Bersenjata DPR Amerika Serikat (AS) mengatakan para pejabat harus menemukan cara untuk mengurangi kerugian Amerika Serikat pada program pesawat jet tempur siluman F-35 . Komite mengeluhkan program tersebut yang sangat mahal, tetapi mengalami masalah selama bertahun-tahun.
Ketua Komite, Adam Smith, mengatakan dia berharap para pejabat dapat menemukan cara untuk menghabiskan lebih sedikit uang untuk pesawat generasi kelima.
"Saya ingin berhenti membuang uang ke lubang tikus itu," katanya di acara Brookings Institution, seperti dikutip National Defense, Sabtu (6/3/2021).
Jet Tempur F-35
Jet Tempur F-35
Program tersebut merupakan akuisisi terbesar dalam sejarah Pentagon, dengan proyeksi biaya lebih dari USD1 triliun. Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Korps Marinir membeli berbagai varian pesawat, seperti sejumlah sekutu dan mitra AS.
Para pendukung platform yang selain stealthy [tersembunyi dari radar atau disebut siluman] juga dilengkapi dengan sensor canggih dan kemampuan jaringan data mengatakan itu akan menjadi aset penting dalam inventaris militer AS karena Amerika Serikat bersaing dengan musuh tingkat lanjut seperti China dan Rusia.
Namun, jet tempur yang hadir dengan banderol harga tinggi dan mengalami sejumlah masalah teknis selama bertahun-tahun ini juga mendapat banyak kritik, termasuk dari Smith.
Keputusan produksi tingkat penuh baru-baru ini ditunda lagi, sebagian karena masalah teknis dengan Joint Simulation Environment serta pandemi Covid-19.
Smith menggambarkan masalah program F-35 sebagai program "menyakitkan" untuk direnungkan, terutama mengingat biayanya. F-35A sekarang berharga sekitar USD80 juta per pesawat. Pejabat dan kontraktor utama Lockheed Martin telah bekerja untuk menurunkan biaya pengadaan serta pengoperasian dan pemeliharaan untuk program tersebut, yang telah turun secara signifikan.
"Apa yang akan saya coba lakukan adalah mencari tahu bagaimana kita bisa mendapatkan campuran pesawat serang yang paling hemat biaya," kata Smith. "Sebagian besar dari itu adalah menemukan sesuatu yang tidak membuat kami harus bergantung pada F-35 selama 35 tahun ke depan."
Smith menambahkan tujuan utamanya adalah membelanjakan dana secara lebih efektif di masa depan dan mengakui pentingnya memiliki armada yang akan memberikan keuntungan atas musuh seperti China dan Rusia.
“Dalam hal pesawat serang tempur, kami memiliki kebutuhan tertentu,” katanya.
Angkatan Udara baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan melakukan studi udara taktis untuk menentukan campuran dan jumlah pesawat yang tepat untuk armada 10 hingga 15 tahun dari sekarang, termasuk memeriksa F-35, serta sistem pesawat generasi keempat dan keenam di masa depan yang dikenal sebagai Next-Generation Air Dominance (NGAD).
Terlepas dari keberatannya, Smith mengatakan dia menyadari ada dukungan politik yang kuat untuk membeli platform dan akan sulit untuk memotong program tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir Kongres telah mengarahkan Pentagon untuk membeli lebih banyak F-35 daripada yang diminta.
Selain itu, kata Smith, karena F-35 diharapkan menjadi inti dari armada jet tempur, maka tidak layak untuk berhenti membeli platform sepenuhnya.
"Itu menyakitkan dan masalahnya adalah tidak ada jalan keluar yang mudah," katanya.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Jack Reed, baru-baru ini mengatakan dia prihatin tentang program tersebut tetapi mengatakan pemotongan program jet tempur tidak akan menjadi prioritas utama. (Muhaimin)

Tactical Ultrashort Pulsed Laser for Army Platforms, Senjata Laser Baru Bidikan Amerika Serikat

radarmiliter.com - Militer Amerika Serikat ingin mengembangkan sebuah senjata laser baru yang jauh lebih bertenaga daripada yang ada saat ini. Daya hancurnya diperkirakan hampir tiga kali lebih besar.
Keinginan itu terungkap dalam sebuah catatan untuk prospek senjata baru yang diunggah di laman web Small Business Investment Research (SBIR) Pentagon (Departemen Pertahanan AS). Disebutkan di sana senjata baru yang dimaksud adalah Tactical Ultrashort Pulsed Laser for Army Platforms.
Militer Amerika mempercayai senjata itu bisa seutuhnya membidikkan laser ke sebuah drone untuk menghancurkannya sekaligus memanggang sistem elektronik di dalamnya.
Ilustrasi
Ilustrasi
Kebanyakan senjata laser yang digunakan untuk militer adalah gelombang laser yang kontinyu, atau yang meledakkan targetnya dengan pancaran gelombang energi secara kontinyu. Laser dengan gelombang yang kontinyu membutuhkan ledakan itu karena mereka bekerja efektif seperti blowtorches.
Sinar laser akan memanasi permukaan targetnya misalkan sebuah drone hingga meleleh, menginduksi kegagalan aerodinamika dan membuatnya jatuh, atau hingga muatan bahan peledaknya atau bahan bakarnya meledak.
Masalahnya, kadang gelombang laser, kerap dalam satuan kilowatt, butuh fokus pada satu titik pada target selama beberapa detik untuk bisa berfungsi menghancurkan targetnya. Namun, Ultrashort Pulse Lasers akan menukar durasi itu dengan tenaga, menembakkan energi laser 1-terawatt dalam 200-femtosecond.
Sebagai ilustrasi, 1 terawatt itu setara 1 triliun watt dan 1 femtosecond ekuivalen dengan seperquadriliun second.
Tidak seperti senjata gelombang laser umumnya yang bekerja dengan prinsip sederhana yakni membakar, militer AS juga mengatakan sistem USPL bisa menetralisir ancaman dengan tiga mekanisme berbeda. Ketiganya adalah, masing-masing, melelehkan material dari target, membutakan sensor-sensor menggunakan broadband supercontinuum yang dibangkitkannya di udara, dan membangkitkan gangguan elektronik lokal.
Metode terakhir, menetralisir ancaman, sama seperti electromagnetic pulse (EMP) yang dihasilkan dari ledakan nuklir. Ini bisa menolong ketika senjata laser tak mampu membakar dan membuat jatuh target karena bisa melumpuhkan sensor-sensor yang diandalkan drone.
Sumber : tempo.co

Bukan Amerikat Serikat Lagi, China Diprediksi Bakal Jadi Penguasa Laut Dunia

radarmiliter.com - Di Tengah memanasnya konflik Laut China Selatan, Xi Jinping kembali membuat dunia internasional terkejut dengan rencana penambahan jumlah kapal angkatan laut yang diprediksi mencapai lebih dari 360 pada akhir 2020.
Sementara itu, disaat yang sama Amerika Serikat juga akan melakukan strategi penambahan jumlah kapal angkatan laut mencapai 297 hingga 355 buah.
Seperti yang dilansir dari CNN Internasional, jumlah angkatan laut China diprediksi akan melampaui kekuatan angkatan laut Amerika Serikat. Jika dilihat sejak 2015 silam, China memang telah membangun kekuatan militer angkatan laut mereka secara besar-besaran.
Berdasarkan data dari US Office of Naval Intelligence (ONI), lima tahun lalu China hanya memiliki 255 kapal perang angkatan laut, namun di akhir tahun 2020 angka ini bertambah secara signifikan mencapai 360 buah kapal.
Angkatan Laut China
Angkatan Laut China
Melihat angka tersebut China diprediksi juga akan memiliki kapal perang angkatan laut berjumlah 400 buah kapal pada 2025 mendatang. Dengan demikian, hanya dalam satu dekade China dapat menjadi negara dengan komando angkatan laut terbesar di dunia.
Saat ini china juga tengah membangun kekuatan militernya dengan menambah jumlah kapal selam, kapal induk, jet tempur, kapal amfibi, misil nuklir balistik, serta kapal pemecah es yang memiliki kekuatan yang mengerikan. Sejumlah kekuatan militer tersebut diprediksi akan memiliki kekuatan yang sama dengan Amerika Serikat, bahkan bisa jadi lebih kuat.
Meski demikian, perkembangan kemampuan militer angkatan laut Amerika Serikat saat ini masih belum bisa diprediksi, karena bagaimanapun dari sisi jumlah personel, Angkatan Laut milik negeri paman sam masih jauh lebih besar. Saat ini jumlah personel angkatan laut milik AS berjumlah 330.000 personil, jauh lebih banyak dibanding China yang memiliki 250 personel aktif.
Peralatan militer AS juga masih unggul dari berbagai hal, seperti memiliki kapal bersenjata yang lebih besar dan lebih berat, seperti kapal penjelajah berpeluru kendali yang memiliki kemampuan lebih unggul dari kapal milik China. Amerika Juga memiliki 9000 sel rudal peluncuran vertikal dimana China hanya memiliki 8000 buah.
Menurut Nick Child, seorang analis pertahanan, Amerika masih lebih unggul karena memiliki 50 buah kapal selam yang memiliki kekuatan nuklir yang memiliki daya jangkau serta daya tahan yang signifikan.
Sedangkan saat ini China memiliki 62 kapal selam, namun hanya tujuh yang memiliki kekuatan nuklir. Namun, menurut Nick, keunggulan yang dimiliki oleh China terletak pada patroli dan kemampuan menyisir kawasan.
Banyaknya kapal kecil yang dimiliki oleh China, serta jumlah milisi maritime yang ada bisa mengganggu ketentraman Washington yang saat ini tengah bergelut dengan masalah Pandemi. Bahkan, China yang berencana menaikkan anggaran militernya menjadi 6,8 persen bisa membuat Amerika Serikat semakin kebakaran jenggot.

05 Maret 2021

Kapal Perang Jerman Gabung Amerika Serikat dan Prancis di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Amerika Serikat memuji rencana Jerman yang akan mengirimkan kapal perangnya melintasi Laut China Selatan setelah sebelumnya Prancis melakukan hal serupa.
AS mengatakan pelayaran kapal perang di Laut China Selatan itu merupakan bentuk kebebasan bernavigasi di perairan internasional yang menjadi sengketa beberapa negara ASEAN dan China tersebut. Washington mendukung rencana Jerman itu sebagai bentuk dukungan terhadap "tatanan yang didasari hukum internasional."
Frigat AL Jerman Kelas Sachsen
Frigat AL Jerman Kelas Sachsen
"AS memiliki kepentingan nasional untuk menjaga perdamaian dan stabilitas, menghormati hukum internasional, perdagangan bebas tanpa hambatan, dan kebebasan bernavigasi serta hukum lainnya dalam memanfaatkan perairan tersebut," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri AS seperti dikutip Reuters.
Pemerintah Jerman mengatakan akan mengirim sebuah kapal militer jenis frigat yang akan berlayar di Asia pada Agustus mendatang termasuk melintasi Laut China Selatan. Kapal frigat itu akan menjadi kapal militer pertama Jerman yang melewati Laut China Selatan sejak 2002.
Para pejabat Jerman mengatakan kapal perang itu tidak akan lewat dalam batas 12 mil laut yang diklaim China dan negara-negara saingannya sebagai perairan teritorial di sekitar fitur yang diperebutkan di jalur air strategis tersebut.
"Kami menyambut baik dukungan Jerman terkait tatanan internasional di kawasan Indo-Pasifik. Komunitas internasional juga memainkan peran vital untuk menjaga kawasan maritim tetap bebas terbuka," kata jubir Kemlu AS tersebut.
Sementara itu, juru bicara Kemlu China mengatakan negara di dunia memang bisa menikmati kebebasan bernavigasi di perairan internasional.
"Namun, mereka tidak bisa mengambil itu sebagai alasan untuk melanggar kedaulatan dan mengusik keamanan negara lain yang memiliki perbatasan laut dengan perairan itu," katanya.
Laut China Selatan menjadi perairan rawan konflik setelah Beijing mengklaim hampir sebagian besar wilayah perairan itu yang bertabrakan dengan teritorial negara lain.
China juga telah mendirikan basis militer di pulau-pulau buatan yang telah dibangunnya di Laut China Selatan
Meski tak memiliki sengketa wilayah, AS telah menganggap klaim dan tindakan China di Laut China Selatan sepenuhnya ilegal.
Angkatan Laut AS secara teratur melakukan operasi "kebebasan navigasi" di mana kapal perangnya lewat di dekat beberapa pulau di Laut China Selatan. Beberapa negara sekutu tertarik mengikuti manuver AS itu.
Bulan lalu, Prancis mengatakan kapal selam dan kapal perang bertenaga nuklirnya akan berpatroli di Laut China Selatan untuk menekankan operasi kebebasan navigasi di kawasan itu.

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU