Radar Militer: PT PAL
Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan

25 Maret 2021

Duta Besar Perancis Kunjungi Galangan Kapal PT PAL Indonesia

radarmiliter.com - Duta Besar Perancis untuk Indonesia dan Timor Leste Olivier Chambard melakukan kunjungan kerja ke PT PAL Indonesia (Persero), Rabu (24/3/2021). Olivier diterima secara langsung Senior Executive Vice President PT PAL Indonesia (Persero) Laksda Weko Pamuji M.
Seperti dikutip dari laman Instagram PT PAL Indonesia, kunjungan itu diharapkan dapat mempererat dan meningkatkan kerja sama antara kedua negara.
Duta Besar Perancis Kunjungi PT PAL Indonesia
Duta Besar Perancis Kunjungi PT PAL Indonesia
"French Trade Commission Business dalam kesempatan tersebut memperkenalkan diri sebagai badan dalam organisasi Kedutaan Besar Prancis di Indonesia yang mempunyai misi untuk mendampingi perusahaan-perusahaan berbasis di Prancis," tulis PT PAL Indonesia.
"Selama ini Prancis merupakan salah satu negara pemasok komponen peralatan kapal dan proyek elektrifikasi energi. Kunjungan tersebut juga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bisnis dan pemahaman lebih lanjut tentang visi PT PAL Indonesia (Persero) di sektor maritim dan pembuatan kapal. Sehingga, PT PAL Indonesia (Persero) dapat menjadi partner bisnis strategis dengan Prancis."
Beberapa waktu lalu, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di bawah kendali Menteri Pertahanan Letnan Jendral TNI (Purn) Prabowo Subianto dikabarkan melakukan diskusi serius dengan konsorsium perusahaan galangan kapal asal Prancis Naval Group.


Seperti dilaporkan Janes, Desember 2020, Indonesia kini menjajaki pemesanan kapal selam kelas Riachuelo, yang merupakan modifikasi dari kelas Scorpene.
Kapal selam kelas Scorpene memang sudah dimiliki oleh negeri jiran Malaysia sebanyak dua unit. Namun, Naval Group selaku galangan kapal pembuat kapal selam ini, memastikan kapal selam Riachuelo, sudah mengalami berbagai perubahan dari Scorpene yang sudah pernah ada.

 Kapal selam Riachuelo, merupakan kerja sama antara Prancis dengan Brasil dalam proses transfer teknologi, saat Negeri Samba itu memesan 4 kapal selam dari Perancis.
Kapal selam Riachuelo telah memulai uji coba laut pada tahun 2019 untuk pengiriman pada tahun 2020. Pengiriman kapal selam 2, 3 dan 4 akan dilanjutkan setiap 12 hingga 18 bulan setelahnya.
Scorpene adalah kapal selam konvensional yang dirancang oleh Naval Group untuk pasar ekspor. Naval Group memang memberikan promosi dengan iming-iming transfer teknologi dalam pembelian kapal selamnya.
Sedikitnya ada 14 kapal selam Scorpene sudah dioperasikan dan dibangun di luar Prancis antara lain Angkatan Laut Chili sebanyak 2 unit, Angkatan Laut Malaysia sudah beroperasi 2 unit, Angkatan Laut India sebanyak 6 unit dan Angkatan Laut Brasil 4 unit.
Desain Scorpene yang dibuat Brasil bersama Prancis sudah mengalami modifikasi sesuai dengan kebutuhan spesifik. Scorpene Brasil atau Riachuelo sedikit lebih panjang untuk membawa awak yang lebih besar, juga hampir dua kali lipat dalam jarak patroli, dan mampu menempuh jarak yang lebih jauh.

Scorpene dirancang multiguna sebagai kapal selam samudra juga cocok untuk operasi perairan dangkal. Sehingga mampu diandalkan untuk berbagai misi seperti perang anti-permukaan dan anti-kapal selam, operasi khusus, kegiatan intelijen.
Scorpene adalah kapal selam konvensional yang dirancang oleh Naval Group untuk pasar ekspor. Naval Group memang memberikan promosi dengan iming-iming transfer teknologi dalam pembelian kapal selamnya.
Dikutip dari akun Twitter resminya, Chambard mengaku senang bisa berkunjung ke PT PAL Indonesia. Ia bahkan menyebut PT PAL sebagai perusahaan pembuat kapal dan teknologi kelas dunia.
"Kerja sama di masa depan dengan akan menghadirkan solusi dan teknologi kapal hijau," tulis Chambard. (Muhammad Iqbal)

18 Maret 2021

Serah Terima Kapal Selam KRI Alugoro-405

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah merampungkan pembangunan Kapal selam pertama buatan industri pertahanan dalam negeri PT PAL Indonesia bekerjasama dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan.
Kapal Selam yang diberi nama Alugoro-405 kemudian akan diserahterimakan oleh DSME kepada Kemhan, selanjutnya diserahkan kepada Mabes TNI dan berturut turut kepada Mabes TNI AL dan Pangkoarmada II selaku pengguna, Rabu (17/3) di PT PAL Indonesia, Surabaya.
Serah Terima Kapal Selam KRI Alugoro-405
Serah Terima Kapal Selam KRI Alugoro-405
Dalam prosesi penandatanganan Berita Acara Serah Terima Kapal Selam tersebut, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dalam sambutanya mengapresiasi hal ini sebagai tonggak historis di mana untuk pertama kalinya galangan kapal milik perusahaan nasional, PT PAL berhasil ikut serta dalam produksi kapal selam.
“Kita sadari bersama betapa pentingnya pertahanan kita. Kita sedang membangun kemampuan pertahanan kita. Bukan karena kita ingin gagah-gagahan. Bukan karena kita ingin mengancam siapapun. Tidak. Berkali-kali, turun termurun dari pendiri bangsa kita, kita tegaskan bahwa bangsa Indonesia cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan,” tegas Menhan Prabowo.
Di hadapan seluruh tamu undangan, Menhan mengatakan bahwa Indonesia harus memilki kekuatan yang cukup untuk menjaga kedaulatan, melindungi segenap tumpah darah, kesatuan dan keutuhan wilayahdari ancaman tentara negara asing. “Hari ini merupakan selangkah ke depan bagi kita semua untuk membangun tentara kita ke arah yang lebih kuat lagi,” tambahnya.
Melalui perencanaan strategis mengenai modernisasi alutsista, Menhan Prabowo sesuai amanah Presiden Jokowi telah memerintahkan bahwa seluruh industri pertahanan dalam negeri wajib diikutsertakan dalam proses peremajaan seluruh alat pertahanan negara.
Menhan Prabowo memaparkan bahwa alat pertahanan banyak yang sudah sangat tua dan sudah saatnya diremajakan. Untuk itu, peran dari industri pertahanan akan sangat menonjol.
“Kita harap peran serta, inisiatif, kerja keras teknolog-teknolog kita, sarjana-sarjana kita, cendekiawan kita, dari ahli-ahli kita. Kita harap semua bersatu untuk kerja keras,” tegasnya.
Pengadaan Kapal Selam Alugoro-405 merupakan salah satu program pembangunan kekuatan pertahanan khususnya Matra Laut. Sebelum Alugoro-405, Kemhan telah serahterimakan kapal selam pertama KRI Nagapasa-403 dan kapal selam kedua KRI Ardadedali -404 yang dibangun di Korea kepada TNI AL. Dengan telah diserahterimakannya Kapal Selam Alugoro-405 ini, Menhan Prabowo yakin bahwa kapal selam ketiga pesanan Kemhan tersebut dapat memperkuat Alutsista TNI khususnya di jajaran TNI AL.
Hal ini juga turut menjadi capaian membanggakan sekaligus meningkatkan deterrent effect bagi pertahanan negara Indonesia yang menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam. Pembangunan kapal selam ini mengikutsertakan proses Transfer of Technology kepada PT PAL Indonesia (Persero).
Hadir menyaksikan penandatangan Berita Acara Serah Terima Kapal Selam KRI Alugoro-405, Menteri Pertahanan, Minister for the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korsel Gang Eun-Ho, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid, Menteri BUMN yang diwakili, Dubes Korsel untuk Indonesia Park Tae-sung, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono, Irjen Kemhan Letjen TNI Ida Bagus Purwalaksana, Kabaranahan Kemhan RI Marsda TNI Yusuf Jauhari serta sejumlah pejabat Kemhan, serta beberapa pejabat perwakilan dari instansi terkait lainnya.

12 Maret 2021

Indonesia akan Pilih dari Empat Opsi untuk Penerus Fregat SIGMA 10514

radarmiliter.com - Para perencana pertahanan di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menentukan empat opsi desain untuk dipilih dalam program pengadaan kapal lanjutan untuk fregat berpeluru kendali kelas Martadinata (SIGMA 10514).
Dokumen dan informasi yang diberikan kepada Janes menunjukkan bahwa empat opsi desain yang terpilih adalah varian peningkatan dari desain SIGMA 10514 dari perusahaan Belanda Damen, kelas 30FFM dari pembuat kapal Jepang Mitsui, kelas Bergamini (FREMM) dari galangan kapal Italia Fincantieri, dan konsep Arrowhead 140 dari konsorsium yang dipimpin oleh Babcock.
Fregat Kelas 30FFM Mitsui Jepang
Fregat Kelas 30FFM Buatan Mitsui Jepang
TNI-AL mengoperasikan armada dua fregat kelas Martadinata rancangan Damen, KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan I Gusti Ngurah Rai (332), yang masing-masing resmi ditugaskan pada April 2017 dan Januari 2018.
Beberapa bulan setelah kapal pertama dalam kelas tersebut resmi ditugaskan, Panglima TNI pada waktu itu Jenderal Gatot Nurmantyo mempelopori program Kementerian Pertahanan untuk mengevaluasi kinerja kapal, dengan tujuan untuk mempercepat pengadaan tiga kapal lanjutan. Kelas Martadinata dimaksudkan sebagai pengganti fregat kelas Ahmad Yani (Van Speijk) yang ditransfer ke Indonesia dari Belanda pada 1980-an.
Fregat kelas Martadinata berukuran panjang 105,1 m, lebar 14 m, dan memiliki hull draft 3,7 m. Didukung oleh dua mesin diesel dan dua motor elektrik dalam konfigurasi combined diesel or electric (CODOE), kapal perang tersebut dapat mencapai kecepatan tertinggi 30 kt, dan jangkauan standar 4.000 mil laut pada kecepatan 18 kt. Senjatanya termasuk meriam Leonardo (Oto Melara) Super Rapid 76/62, Rheinmetall Oerlikon 35 mm Millennium Gun, Exocet MM40 Block III dan sistem rudal pertahanan udara VL MICA.
Sumber : janes.com

11 Maret 2021

Bagaimana Nasib Kerjasama Pembangunan Kapal Selam dengan DSME Korea Selatan?

radarmiliter.com - Kelanjutan proyek pembuatan kapal selam tahap II di dalam negeri masih menjadi misteri. Belum ada keterangan resmi mengenai pilihan Indonesia dalam penambahan proyek kapal selam. Pilihannya antara dikembangkan oleh industri dalam negeri seperti tiga proyek kapal selam PT PAL (Persero) bekerjasama dengan Korsel. Opsi kedua ada kemungkinan justru membelinya secara utuh.
Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan dan Kementerian BUMN mengadakan pertemuan dengan para perwakilan dari Thyssen-Krupp Marine Systems (TKMS), produsen kapal selam asal Jerman pekan ini. TKMS menawarkan proposal pengadaan kapal selam Diesel-Listrik (SSK) Tipe 214 kepada TNI Angkatan Laut.
KRI Ardadedali - 404
KRI Ardadedali-404 Kerjasama PT PAL dan DSME

Bila memang ada pengembangan dari dalam negeri, semestinya ada koordinasi dengan PT PAL dengan pemerintah. Namun, hingga kini PT PAL masih belum memberikan pernyataan.
"Maaf, kita belum ada komentar untuk itu," kata Kadep Humas PT PAL Indonesia (Persero) Utario Esna Putra kepada CNBC Indonesia, Selasa (9/3/21).
Sejauh ini, ada beberapa pilihan bagi Indonesia untuk menambah kapal selam anyar. Per Desember 2020, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dilaporkan berdiskusi dengan konsorsium perusahaan galangan kapal asal Perancis Naval Group. Seperti dilaporkan Janes, Indonesia tengah menjajaki pemesanan kapal selam kelas Riachuelo, yang merupakan modifikasi dari kelas Scorpene.
Scorpene adalah kapal selam konvensional yang dirancang oleh Naval Group (Perancis) untuk pasar ekspor. Naval Group memang memberikan promosi dengan iming-iming transfer teknologi dalam pembelian kapal selamnya.
Indonesia perlu mengambil keputusan dalam proyek besar ini agar jadwal rencana semula tidak meleset. Mulanya, Indonesia bakal membuat 3 kapal selam baru kerjasama lanjutan dengan Korsel. Dalam master schedule batch 2 dengan dibiayai oleh penyertaan modal negara tahun 2021 sebesar Rp 1,3 triliun.
Pemerintah sudah bekerjasama dengan perusahaan Korea Selatan (Korsel) Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), mengembangkan kapal selam tipe 209 Chang Bogo seperti pembuatan KRI Nagapasa 403 maupun KRI Ardadedali-404.
Proyek Kapal Selam ke-4 bakal dibuat lebih awal, yakni sekitar September 2021 mendatang. PT PAL Indonesia (Persero) bakal membuat dua section atau bagian, sementara empat section lainnya bakal dikerjakan DSME. Proyek ini ditargetkan selesai dalam waktu 4 tahun atau 48 bulan. Artinya, pada September 2025 Indonesia bakal menambah 1 kapal selam baru.
Pada Proyek Kapal Selam ke-5, Indonesia bakal membangun 4 section sementara 2 section lain dibangun di DSME Korsel. Proyek bakal dimulai pada April 2022 mendatang dan selesai Juli 2026.
Sementara Proyek Kapal Selam ke-6 bakal dimulai pada medio November 2022 dan selesai April 2027. Indonesia akan berperan dalam membuat keseluruhan section. (Ferry Sandi)

07 Maret 2021

Perwakilan TKMS Jerman Tiba di Jakarta untuk Diskusikan Kapal Selam Type 214

radarmiliter.com - Delegasi perwakilan dari pembuat kapal Jerman Thyssen-Krupp Marine Systems (TKMS) telah tiba di Jakarta untuk membahas potensi akuisisi kapal selam diesel-elektrik (SSK) Type 214 untuk TNI-AL.
Delegasi yang diketuai oleh Senior Vice President TKMS yang bertanggung jawab untuk wilayah timur ini menyelesaikan prosedur karantina hari terakhir pada 2 Maret, dan memulai diskusi dengan perwakilan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan Kementerian Pertahanan RI sehari kemudian, menurut narasumber yang dekat dengan diskusi yang sedang berlangsung tersebut.
Kapal Selam Type 214 TKMS
Kapal Selam Type 214 TKMS
Di antara hal-hal yang dibahas antara lain persyaratan operasional TNI-AL, pengaturan pembagian kerja yang dapat ditawarkan oleh TKMS kepada industri galangan kapal dalam negeri Indonesia, dukungan infrastruktur, dan persyaratan pembiayaan jika program pengadaan kapal tersebut terwujud.
Selain Jakarta, rombongan TKMS juga akan mengunjungi fasilitas produksi kapal selam PT PAL di Surabaya.
Kapal selam diesel-elektrik Type 214 dari TKMS adalah salah satu dari beberapa program yang baru-baru ini dimasukkan dalam 'Buku Biru' Kementerian Pertahanan, yang berisi daftar usulan pengadaan yang telah, atau sedang diteruskan ke Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk persetujuan pendanaan.
Penerusan usulan yang menguraikan kebutuhan hingga empat kapal selam Type 214 tersebut, diungkapkan dalam publikasi tahunan edisi 2021 untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pertahanan RI.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

26 Februari 2021

IDEX 2021 UEA: PT Pindad Ikut Serta pada Ajang IDEX 2021 di UEA

radarmiliter.com - PT Pindad (Persero) bersama dengan 3 industri pertahanan Indonesia, yaitu PT Len Industri, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia kembali mengikuti International Defence Exhibition (IDEX) yang diselenggarakan pada tanggal 21 - 25 Februari 2021 di Abu Dhabi National Defence Exhibition (ADNEC), Uni Arab Emirate. Direktur Bisnis Produk Hankam PT Pindad (Persero), Wijil Jadmiko, Direktur Strategi Bisnis, Syaifuddin; VP Pengembangan Bisnis, Yayat Ruyat dan Account Manager Ekspor, Risen Delta menjadi delegasi Pindad. Pameran internasional bergengsi ini menghadirkan 900 perusahaan dari 59 negara.

Indonesia Defence Industries
Indonesia Defence Industries

Di dalam pameran tersebut, Kementerian Pertahanan RI membentuk Paviliun Indonesia yang didalamnya terdiri dari BUMN industri pertahanan seperti PT Pindad (Persero), PT Len Industri (Persero), PT PAL (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero) serta beberapa perusahaan industri pertahanan swasta. Keikutsertaan perusahaan industri pertahanan Indonesia di IDEX merupakan salah satu tahap awal untuk dapat berperan aktif dalam rantai pasok global berkaitan dengan produk pertahanan.
IDEX adalah satu-satunya pameran dan konferensi pertahanan internasional di kawasan MENA yang mendemonstrasikan teknologi terbaru di sektor pertahanan darat, laut, dan udara. IDEX merupakan platform yang unik untuk membangun dan memperkuat hubungan dengan departemen pemerintah, bisnis, dan angkatan bersenjata di seluruh wilayah.
IDEX diadakan dibawah izin Presiden UAE, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. IDEX menampilkan perkembangan dalam sektor pertahanan seperti perkembangan teknologi militer, produk inovasi dan pengembangan pertahanan nasional. Dan saat ini, IDEX telah berkontribusi dalam perkembangan industri pertahanan baik industri lokal maupun internasional.
Dalam IDEX tahun ini, Pindad kembali memperkenalkan berbagai produk pertahanan andalan. Salah satunya senjata SS2 V5 A1, SPR-2, juga kendaraan tempur medium tank Harimau, Anoa dan Komodo. Pelaksanaan IDEX tetap dengan menjalankan protokol kesehatan Covid-19, mulai dari wajib menggunakan masker hingga tersedianya fasilitas untuk tes PCR di beberapa titik. (Sustiana Herru)
Sumber : pindad.com

20 Agustus 2020

PT PAL Amankan Kesinambungan Pekerjaan di Tengah Pandemi Covid-19

radarmiliter.com - Pandemi Covid-19 mengakibatkan perlambatan ekonomi global. JP Morgan memprediksi ekonomi dunia akan minus 1,1% pada tahun 2020, sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Produk Domestik Bruto (PDB) RI pada kuartal II tahun 2020 minus hingga 5,32 %. PT PAL Indonesia (Persero) sebagai pemain utama dalam pembangunan kapal dan produk maritim lainnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS)
Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS)
“Kami menyadari bahwa situasi pandemi ini tidak dapat dihindari, pandemi Covid-19 merupakan tantangan global yang mempengaruhi jalannya global supply chain proyek-proyek PT PAL Indonesia (Persero). Namun kami tetap memastikan kontribusi kami terhadap ketahanan nasional melalui penyelesaian proyek-proyek strategis seperti Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) yang nantinya akan dioperasikan oleh TNI AL,” terang Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) Budiman Saleh, Senin, (17/8/2020).
Dijelaskan, PT PAL Indonesia (Persero) saat ini sedang mengerjakan pembangunan Kapal BRS pertama TNI AL sekaligus telah mendapatkan kontrak pembangunan Kapal BRS kedua pada 16 Maret 2020 lalu.
“Bagi kami keamanan dan keselamatan seluruh karyawan serta mitra kerja menjadi prioritas. Namun keberlangsungan dan keberlanjutan bisnis PT PAL Indonesia (Persero) merupakan kunci pada saat ini untuk tetap survive di masa pandemi. Situasi pandemi global merupakan tantangan yang sangat signifikan terhadap supply chain perusahaan.”tegasnya.
Selain fungsi asasi mendukung operasi militer, lanjut Budiman Saleh, Kapal BRS juga memiliki kapabilitas operasi non militer seperti humanitarian assistance, tanggap darurat bencana, dan lainnya. Saat ini TNI AL mengoperasikan kapal Landing Platform Dock (LPD) KRI Semarang-594 produksi PT PAL Indonesia (Persero), yang difungsikan sebagai kapal BRS pada masa pandemi Covid-19. KRI Semarang-594 telah menjalankan sejumlah misi kemanusiaan sesuai dengan fungsinya seperti penjemputan 188 WNI Anak Buah Kapal Pesiar World Dream yang selesai menjalani observasi di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu menuju Dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta pada 14 Maret 2020. Selain itu, KRI Semarang-594 pernah menjalani misi “penjemputan” konsentrat hand sanitizer sebanyak 2.100 liter bantuan Pemerintah Singapura pada 8 April 2020.
Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) memaparkan seluruh proyek saat ini dikerjakan secara normal dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
"Kami juga melakukan kebijakan preventif seperti pembatasan kunjungan fisik eksternal, peniadaan kegiatan yang bersifat pengumpulan massa, serta peningkatan standar kebersihan lingkungan maupun personal.”ungkapnya.
Proyek-proyek yang dikerjakan PT PAL Indonesia (Persero) memiliki multiplier effect ekonomi yang besar. Dalam proyek pembangunan Alutsista maupun non-Alutsista turut melibatkan pekerja (tier 1) serta perusahaan pemasok komponen dan bahan baku kapal (tier 2) dengan kurang lebih terdapat 3000 karyawan yang terdiri dari karyawan organik dan karyawan mitra kerja. Selain itu, dampak positif dan manfaat juga akan dirasakan oleh tier yang lebih luas seperti penyedia jasa indekos serta pelaku UMKM di sekitar perusahaan. Sehingga roda perekonomian dapat tetap berputar.
Dampak positif seperti multiplier effect ekonomi tidak akan tercapai seandainya pelaksanaan proyek berada di luar negeri. PT PAL Indonesia (Persero) mengapreasi kepercayaan yang selalu diberikan oleh Pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan dan TNI AL dalam pembangunan proyek-proyek Alutsista. Hal tersebut sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo ketika melaksanakan Kunjungan Kerja dan Rapat Terbatas Kebijakan Pengembangan Alutsista Dalam Negeri di PT PAL Indonesia (Persero) pada 27 Januari 2020 bahwa bagi Kementerian atau Lembaga seperti Kementerian Pertahanan, Polri, Ditjen Bea Cukai, dan lainnya jika membutuhkan kapal dapat memesan ke PT PAL Indonesia (Persero), sehingga ada kepastian produksi tidak hanya untuk 5 tahun ke depan, namun 15 tahun ke depan.
"Upaya PT PAL Indonesia (Persero) memastikan kesinambungan pekerjaan adalah bagian dari kontribusi nyata dalam kebijakan Komite Pemulihan Ekonomi Nasional, dan turut memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan rebound 6,6% di tahun 2021 seperti dilansir oleh Lembaga pemeringkat internasional Fitch." pungkas Budiman Saleh. (Ermina Jaen)

08 Juli 2020

Rencana Pembuatan 3 Kapal Selam Tambahan Tergantung Menhan

radarmiliter.com - Pembangunan 3 kapal selam baru di Indonesia sudah direncanakan akan dibuat kembali sebagai fase kedua pengadaan kapal selam di bawah pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Sempat direncanakan pembangunan kapal selam ke-4, 5 dan 6 yang akan dibangun di PT PAL Surabaya.
Kontrak pengadaan kapal selam yang ke 4, 5, dan 6 sempat diteken pada 12 April 2019 oleh menteri pertahanan sebelumnya. Bagaimana dengan kebijakan menteri pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto saat ini?
Kapal Selam TNI AL
Kapal Selam TNI AL 
Sebelumnya dua kapal selam yaitu KRI Nagapasa-403 dan KRI Ardadedali-404 dikirimkan ke Kemenhan pada Agustus 2017 dan Mei 2018. Kedua kapal dibuat di galangan DSME, Geoje, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Sedangkan kapal selam ketiga Kapal Selam ALugoro-405 yang dibuat di PT PAL Surabaya sudah berhasil dibuat dan lolos tes menyelam, dan rencananya akhir 2020 akan diserahkan ke Kemenhan.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh sempat menyinggung soal nasib kontrak pengadaan kapal selam fase kedua sebanyak 3 unit, termasuk soal permasalahan anggaran.
"Pada 2020 ini kita fokus untuk menyelesaikan unit kapal selam ke 4, 5, dan 6, untuk itu kami berharap adanya kepastian tentang penambahan kekurangan dana PMN Rp 1,7 triliun," kata Budiman Februari 2020 lalu.
Selain akan memproduksi 3 kapal selam tersebut, PT PAL Indonesia masih akan memproduksi sekitar 6 kapal selam lagi, sehingga nantinya Indonesia punya 12 unit kapal selam buatan dalam negeri.
Rencana produksi kapal selam di Indonesia dalam jumlah besar sudah digariskan oleh Kemenhan sebelum era Menhan Prabowo. Dalam laporan tahunan Ditjen Potensi Pertahanan 2018 menunjukkan rencana tersebut
"Program Kapal Selam akan dilanjutkan ke tahap kedua, dengan pembuatan kapal selam ke-4 hingga ke-6. Pada tahap ini, proporsi PT. PAL dalam proses produksi diproyeksikan untuk semakin membesar, di mana Kapal Selam ke-6 sudah dibuat sepenuhnya di PT. PAL," jelas laporan itu.
Dari sisi PT PAL Indonesia selaku perusahaan pembuat, sejak awal sudah bersiap. Mereka menegaskan pengembangan kapal selam bagian dari rencana perusahaan, termasuk kapal-kapal lainnya.
"Perusahaan ke depan akan terus berinovasi mengembangkan berbagai tipe kapal perang, termasuk pengembangan lanjutan dari Kapal KCR 60 M, Kapal PKR, Kapal LPD 124 M, dan Kapal Selam Nagapasa Class," jelas PT PAL dalam laman resminya.(Ferry Sandi)

06 Juli 2020

PT PAL Indonesia Telah Mampu Layani Perbaikan Skala Berat (Overhaul) Kapal Selam

radarmiliter.com - Kemampuan Indonesia memproduksi/perakitan kapal selam oleh PT PAL Indonesia (Persero) jadi satu-satunya di ASEAN. Selain itu, PT PAL juga mampu melakukan bongkar pasang (overhaul) untuk perbaikan kapal selam secara mandiri.
PT PAL sukses memproduksi Kapal Selam Alugoro-405 dan lolos tes kedalaman. Hal ini mendapat apresiasi Presiden Jokowi Januari 2020 lalu. Saat Jokowi di PT PAL, tampak kapal selam KRI Cakra-401 yang sedang proses overhaul di galangan kapal PT PAL Surabaya.
Kemampuan overhaul ini masuk dalam laporan PT PAL 2020 terkait rencana-rencana perseroan dalam menghadapi bisnis perkapalan untuk ekspor dan dalam negeri.
Overhaul Kapal Selam
Overhaul Kapal Selam 
Dalam laporan terbarunya, Minggu (5/7) PT PAL menjelaskan pertumbuhan penjualan kapal niaga terus dipelihara dengan strategi optimalisasi "product mixed seperti kapal Bulker, Container dan Tanker, baik itu Chemical Tanker ataupun juga Gas Tanker.
Pasar dalam negeri untuk produk kapal niaga diarahkan pada program pengembangan model-model industri pelayaran nasional atau pelayaran perintis bagi penumpang dan barang (cargo).
Sedangkan arah pemasaran produk kapal perang/ kapal cepat/kapal khusus lebih difokuskan pada pasar dalam negeri baik untuk pemerintah pusat seperti Departemen Pertahanan, Kepolisian RI, Departemen Kelautan, Departemen Keuangan/Direktorat Jenderal Bea & Cukai serta Otonomi Daerah maupun swasta.
Sedangkan untuk pengembangan jasa pemeliharaan dan perbaikan (harkan), baik harkan kapal maupun harkan non kapal meliputi jasa harkan kapal tingkat depo dengan kapasitas docking sampai dengan 600.000 DWT per tahun, annual/ special survey dan overhaul bagi kapal niaga dan kapal perang, harkan elektronika dan senjata serta overhaul kapal selam.
"Peluang pasar terutama pasar dalam negeri, berasal dari TNI AL, swasta dan pemerintah," jelas PT PAL dalam laporannya.
Arah pengembangan produk rekayasa umum diarahkan pada pemeliharaan dan pengembangan posisi perusahaan selaku pemasok "sourcing internasional pada industri pembangkit listrik besar dunia, sedangkan produk modular dan EPC akan lebih difokuskan untuk pasar dalam negeri.
Untuk mendukung arah pengembangan perusahaan tersebut, telah dijalin kerjasama dengan Mitsubishi Heavy Industry dalam bidang rancang bangun boiler untuk pembangkit tenaga listrik, Wartsila untuk perakitan mesin diesel, AMEC Process & Energy untuk rancang bangun sistem turbin gas dan uap.
PT PAL mengklaim punya keunggulan produk yang telah diakui selama ini seperti produk kapal niaga sampai dengan 50.000DWT (Star-50).
Selain kemampuan produksi, proses produksi pun senantiasa ditingkatkan kualitasnya agar produk-produk tersebut bisa dirampungkan sesuai tenggat waktu yang dijanjikan. Implementasi Full Block Outfitting System merupakan upaya konkrit untuk mencapai hal tersebut.
Perseroan juga melakukan peningkatan metode produksi dengan penerapan Full Block Outfitting System, yaitu membangun Blok-blok yang telah dilengkapi dengan system piping, fitting dan tepat waktu dirakit dengan berat sampai dengan 300 ton per blok. Sehingga mempercepat masa pembangunan kapal sehingga waktu dan biaya produksi akan efisien dan dengan sendirinya akan meningkatkan daya saing. (Anisatul Umah)

23 Juni 2020

Ini Dia Strategi Bisnis PT PAL di Tahun 2020

radarmiliter.com - PT PAL Indonesia (Persero) di tengah pandemi Covid-19 tetap menjalankan produksi dan proyek-proyek yang sedang berjalan. Perusahaan optimistis dengan prospek bisnis galangan kapal, sebab selain fokus di kapal pertahanan perseroan juga membidik proyek lainnya
Adapun saat ini produksi dan pengerjaan proyek di PT PAL Indonesia (Persero) mengacu pada protokol kesehatan yang berlaku. Beberapa pengerjaan proyek strategis berasal dari pembangunan kapal seperti Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR) kelima dan keenam pesanan Kementerian Pertahanan.
KRI I Gusti Ngurah Rai-332
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 
Serta kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) pertama TNI AL serta produk-produk sektor energi dan rekayasa umum seperti Dual Fuel Barge Mounted Power Plant (BMPP) 150 MW. Selain pembangunan proyek baru, PT PAL Indonesia (Persero) juga memastikan proyek-proyek strategis lainnya.
"Seperti pemeliharaan dan perbaikan kapal kombatan, kapal niaga, maupun produk offshore seperti Single Point Mooring (SPM) tetap berjalan," terang Utario Esna Putra, Kepala Departemen Humas PT PAL Indonesia (Persero) kepada Kontan.co.id, Kamis (18/6).
Utario menjabarkan selama ini komposisi pendapatan perusahaan berasal dari produk Alutsista sebesar 77% dan produk non Alutsista sebesar 23% dalam lima tahun terakhir. Sejak berdiri sampai dengan tahun 2019 PAL telah membangun total 232 unit kapal, 86 unit diantaranya merupakan produk kapal perang.
Sedangkan untuk tahun 2020 ini manajemen mencatat, perusahaan tengah mengerjakan beberapa proyek pembangunan kapal diantaranya adalah Joint Section Kapal Selam-3, Overhaul KRI Cakra-401, Sewaco Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 M Kapal Ke-3 dan Ke-4, Platform & Sewaco Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 M Kapal Ke-5 dan Ke-6, Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) dan juga pada sektor energi sedang membangun Dual Fuel Barge Mounted Power Plant 60 MW.
"Industri galangan kapal saat ini terus berkembang selaras dengan program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia," sebut Utario. Sejalan dengan kebijakan pemerintah mengenai Poros Maritim, kata Utario, perseroan akan berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun ke belakang.
Lebih lanjut ia bilang, perusahaan juga menjalankan bisnis pembangunan dan MRO tidak hanya pada produk kapal namun juga sektor energi dan offshore. Meskipun saat ini PAL memang fokus dalam pemenuhan pesanan Kapal Kombatan baik dari Kementerian Pertahanan RI maupun TNI AL karena dari lima tahun terakhir kontribusi segmen kapal pertahanan cukup besar bagi pendapatan perseroan.
Soal target di tahun ini, menurut catatan Kontan.co.id, perusahaan pelat merah ini sempat memperkirakan pendapatan di tahun ini bisa mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 2,3 triliun. Manajemen saat ini belum dapat membeberkan target dan proyeksi bisnis untuk tahun 2020 di tengah kondisi pandemi ini.
Utario memaparkan, tentunya pasti ada penyesuaian target pendapatan dikarenakan pandemi ini, dimana melalui mekanisme revisi RKAP yang tentunya nanti akan melalui persetujuan Kementerian BUMN. Sekadar catatan pada 2019 lalu, perusahaan ini sudah mengantongi kontrak pembangunan kapal baru senilai Rp 6 triliun.
"Pada intinya, kami tetap konsisten mengerjakan target pekerjaan yang ada dengan tepat waktu," sebut Untario. Soal investasi atau anggaran belanja perusahaan di tahun ini, manajemen bilang akan diprioritaskan pada persiapan new normal.
Langkah-langkah taktis dan efisiensi juga akan diambil oleh PAL guna menyikapi tantangan pada masa pandemi, namun tidak akan berdampak pada proses produksi pembangunan kapal maupun energi yang ada.(Agung Hidayat, Editor: Handoyo).

Inilah Dua Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 Martadinata Class Milik TNI AL

radarmiliter.com - Menjalin kerjasama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda, PT PAL Indonesia mampu menghasilkan kapal perang cukup canggih guna menjaga kedaulatan laut Indonesia.
Kapal perang dalam kelas Martadinata, KRI Raden Eddy Martadinata-331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merupakan kapal perang jenis light frigate PKR 10514 SIGMA (ship integrated geometrical modularity approach) atau dapat disebut sebagai kapal PKR-2 (Perusak Kawal Rudal 10514).
Martadinata Class Milik TNI AL
Martadinata Class Milik TNI AL 
Kedua KRI ini merupakan kapal perang canggih yang dimiliki TNI AL saat ini. Karena telah dilengkapi dengan sistem senjata anti-serangan udara vertical launching system (VLS). Kapal ini dapat melaju hingga mencapai kecepatan 28 knot.
Kapal perag KRI yang dalam kelas Martadinata memang didesain untuk menjalankan berbagai misi tempur. Seperti peperangan anti-kapal permukaan, perang-anti kapal selam, perang anti-serangan udara, perang anti-kapal selam serta perang elektronika.
KRI Raden Eddy Martadinata-331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 juga dilengkapi dengan meriam utama OTO Melara 76mm Super Rapid Gun dan rudal Exocet MM40 Block 3 yang jarak jangkaunya bisa mencapai 180 - 200 kilometer.
Ada juga rudal anti-serangan udara VL Mica yang dirancang efektif dan dapat menyergap sasaran sejauh 20 - 25 kilometer dengan ketinggian 9144 meter. Kemudian dilengkapi pula dengan radar Terma yang mampu mengacaukan sensor radar musuh, hingga mengecoh frekuensi radio yang digunakan rudal permukaan.
Lalu ada pula torpedo A 244S, torpedo jenis ringan ini juga melengkapi persenjataan kedua KRI. Torpedo ini mempunyai kemampuan khusus untuk mengincar sasaran di perairan dangkal baik kapal selam musuh maupun kapal permukaan dan meriam close in weapon system (CIWS) Millenium 35mm buatan Oerlikon untuk menangkis serangan udara serta ancaman permukaan jarak dekat. (Febrika Indirawati)

14 Juni 2020

Indonesia Tandatangani Preamble Contract Frigat Varian Iver Huitfeldt Pertama

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menandatangani preamble contract (kontrak pembukaan) yang membuka jalan bagi Indonesia untuk mendapatkan frigat pertama-nya dari Denmark.
Kontrak tersebut ditandatangani pada 30 April lalu di hadapan perwakilan dari Kementerian Pertahanan, pembuat kapal BUMN PT PAL, dan PT Sinar Kokoh Persada, agen Indonesia untuk perusahaan Denmark Odense Maritime Technology (OMT).
Frigat Kelas Iver Huitfeldt
Frigat Kelas Iver Huitfeldt 
Di antara artikel yang tercakup dalam kontrak pembukaan itu termasuk pengaturan workshare (pembagian kerja) yang akan dilakukan setelah kontrak aktual untuk kapal pertama terwujud, kata sumber industri pertahanan yang mengetahui masalah tersebut sambil memberikan bukti dokumenter tentang peristiwa tersebut.
Indonesia sebelumnya dikabarkan berminat pada varian frigat kelas Iver Huitfeldt, dimana tiga kapal kelas tersebut dalam kedinasan Angkatan Laut Denmark, untuk kebutuhan dua kapal kombatan permukaan Indonesia.
Kapal frigat kelas Iver Huitfeldt disebut-sebut oleh pejabat Kementerian Pertahanan Indonesia sebagai salah satu kapal perang yang memiliki “kemampuan tempur yang andal, dan dapat beroperasi di zona ekonomi eksklusif Indonesia yang ekstrim."
Kelas Iver Huitfeldt mempunyai displacemet 6.600 ton pada muatan penuh, dan ditenagai oleh empat mesin diesel MTU 20V 8000 M70 dalam konfigurasi combined diesel and diesel (CODAD), yang memberikan kapal itu kecepatan tertinggi hingga sekitar 28 kt.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

19 April 2020

PT PAL Percepat Pengerjaan Kapal Selam Alugoro di Tengah Pandemi Virus Corona

radarmiliter.com - PT PAL Indonesia (Persero) terus mempercepat pengerjaan Kapal Selam Alugoro. Kapal selam karya anak bangsa ini telah berhasil menjalani tahapan uji Tactical Diving Depth (TDD) hingga kedalaman 310,8 meter di Perairan Utara Pulau Bali.
Kapal Selam Alugoro
Kapal Selam Alugoro
Pelaksana Tugas Kadep Humas PT PAL Indonesia (Persero), Utario Esna Putra, mengatakan pengerjaan kapal selam ini tetap dilakukan di tengah pandemi Virus Corona. Untuk saat ini, sesuai jadwal Kapal Selam Alugoro masih pada tahap SAT (Sea Acceptance Test).
"53 item uji coba SAT dilaksanakan sampai Juni. Meskipun di tengah keterbatasan dan kehati-hatian akibat wabah Covid-19, kami masih berkomitmen untuk menyelesaikan proyek-proyek yang ada," ujar Utario, Selasa (14/4).
Adapun TDD adalah tes kedalaman taktis bagi sebuah Kapal Selam pada kedalaman di bawah layer laut yang sulit dideteksi kapal atas air. TDD merupakan bagian dari 53 item Sea Acceptance Test (SAT) Kapal Selam Alugoro.
Tahapan TDD ini penting untuk uji kekedapan kapal. Terbukti kapal selam dapat mempertahankan kekedapan pada kedalaman 300 meter dengan tekanan lingkungan pada kedalaman tersebut sebesar 30 bar.
Kapal Selam Alugoro merupakan kapal selam ketiga dari Batch Pertama kerjasama pembangunan kapal selam antara PT PAL Indonesia dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan.
Keberhasilan pembangunan ini menjadikan Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam. Dalam pengerjaan joint section PT PAL Indonesia berhasil menyelesaikan dengan predikat zero defect.
Launching atau peluncuran serta pemberian nama kapal dilaksanakan pada 11 April 2019 di Dermaga Kapal Selam PT PAL Indonesia.
Setelah itu Kapal Selam Alugoro menjalani berbagai proses pengujian seperti Harbour Acceptance Test (HAT), SAT, dan direncanakan akan diserahterimakan kepada Kementerian Pertahanan untuk digunakan oleh TNI AL pada Desember 2020.
Sebelumnya Kapal Selam Alugoro telah berhasil melaksanakan Nominal Diving Depth (NDD) 250 meter pada 20 Januari 2020 lalu. Kegiatan SAT dilaksanakan di perairan utara Pulau Bali yang merupakan area latihan TNI AL serta memiliki kedalaman laut yang memadai.(Herru Sustiana-TSM)
Sumber : merdeka.com

16 April 2020

Kapal Rumah Sakit Terapung Buatan PT PAL Meluncur di Oktober 2021

radarmiliter.com - PT PAL Indonesia (Persero) tengah mengerjakan produksi kapal yang akan beroperasi sebagai Rumah Sakit Terapung. Rencananya, kapal ini akan meluncur pada Oktober 2021.
PAL merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini memproduksi kapal selam juga perang. Kali ini, TNI Angkatan Laut (AL) meminta perusahaan untuk memproduksi kapal rumah sakit terapung.
KRI Banjarmasin - 592
KRI Banjarmasin - 592 
Pelaksana Tugas Kepala Departemen Humas PT PAL Indonesia, Utario Esna Putra, mengatakan pengerjaan kapal tersebut hingga kini masih terus berjalan. Sesuai rencana, kapal ditargetkan bisa beroperasi efektif pada Oktober 2021.
"Yang sekarang sedang dibangun dari awal rancangan memang diperuntukkan berperan sebagai rumah sakit terapung. Pemesannya dari TNI AL," ujar Utario kepada Merdeka.com di Jakarta, Selasa (14/4/2020).
Utario mengatakan, desain dan fungsi kapal ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan kapal pada umumnya yang diproduksi oleh PT PAL Indonesia. Perusahaan juga akan menerapkan protokol khusus jika kapal ini nantinya sudah selesai dibangun.
"Nanti beroperasi di daerah yang dibutuhkan. Betul (menerapkan protokol khusus). Kapal ini direncanakan selesai di Oktober 2021," paparnya.
Adapun desain kapal ini sebagian besar mirip dengan KRI Banjarmasin. Namun nantinya, akan ada modifikasi desain agar kapal mampu menampung peralatan rumah sakit.
"Saat ini sedang dibangun dan sedang dalam tahap erection di graving dock. Sebelumnya di awal tahun 2019 PAL pernah menyelesaikan LPD Semarang, di mana merupakan kapal sekelas dengan KRI Banjarmasin, namun dimodifikasi untuk menampung perlatan rumah sakit," tandasnya.

03 April 2020

Indonesia Kaji Ulang Pembelian Kapal Selam Batch Kedua dari Korea Selatan

radarmiliter.com - Indonesia dikabarkan sedang mempertimbangkan kembali opsi-opsinya sehubungan dengan kontrak untuk batch kedua terdiri dari tiga kapal selam Type 209/1400.
Para pembuat kebijakan pertahanan Indonesia kabarnya tertarik untuk mengeksplorasi alternatif lain di tengah perkiraan menurunnya alokasi pengeluaran pertahanan di tahun-tahun mendatang.
KRI Nagapasa 403 TNI AL
KRI Nagapasa 403 TNI AL
Perencana pertahanan Indonesia telah mengadakan pertemuan untuk membahas pesanan Indonesia senilai KRW1,162 triliun (USD900 juta) untuk batch kedua terdiri dari tiga kapal selam diesel-elektrik (SSK) dengan Korea Selatan dan sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk program ini, termasuk pemutusan kontrak.
Dua sumber terpisah dari Kementerian Pertahanan Indonesia dan Markas Besar TNI-Angkatan Laut (TNI-AL) di Cilangkap telah mengkonfirmasi bahwa di antara hal-hal yang sedang dibahas saat ini termasuk adalah implikasi hukum dan keuangan apabila Indonesia membatalkan kontrak dengan pihak Korea Selatan yang diumumkan pada April 2019 lalu.
Indonesia menandatangani kontrak dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) untuk tahap kedua terdiri dari tiga kapal selam diesel-elektrik Type 209/1400 pada bulan April 2019. Kapal-kapal selam tersebut akan serupa dengan batch pertama terdiri dari tiga kapal selam yang ditandatangani pada Desember 2011.
Kontrak 2019 ditandatangani dengan dana yang dibiaya oleh Bank Ekspor-Impor Korea dan dijadwalkan selesai pada 2026. Di bawah kontrak ini, satu kapal akan dibangun di Surabaya sebagai bagian dari program transfer teknologi. Pengaturan kontrak batch kedua ini mirip dengan yang dilakukan dalam kontrak sebelumnya.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

24 Maret 2020

Kapal Selam Alugoro Berhasil Jalani Uji Quick Diving Depth

radarmiliter.com - Kapal selam Alugoro (405) telah berhasil menjalani tahapan uji Quick Diving Depth (QDD) di Perairan Utara Pulau Bali.
Kapal Selam Alugoro
Kapal Selam Alugoro  
Menurut media sosial Instagram PT PAL pada tanggal 23 Maret 2020, QDD kali ini turut ditinjau dan diikuti langsung oleh Kepala Tim Pelaksana (KaTimLak) KKIP Laksamana TNI (Purn) Sumardjono beserta anggota tim, Kadiv Kapal Selam Bintoro dan Kadiv Sekretaris Perusahaan Rariya Budi Harta.
Quick Diving Depth (QDD) adalah manuver yang dilakukan oleh kapal selam di mana kapal selam menyelam sesegera mungkin untuk menghindari serangan. QDD juga merupakan manuver standar untuk menghindari tabrakan.(Angga Saja-TSM)
Sumber : IG ptpal_indonesia

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU